Selepas Luka

Selepas Luka
MPLS (Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah)


__ADS_3

"Papa ... Aku terlambat!!" teriak seorang gadis sembari menuruni tangga. Rambutnya di kepang dua dengan baju putih dan rok hitam, khas murid baru.


Aleysha Namira Triyoga, merupakan putri pertama pasangan Fahreza Triyoga dengan Rose Anastasya Malik. Gadis yang biasa di sapa Ale itu hari ini mulai memasuki masa SMA.


"Ayo Pa, aku tidak punya waktu banyak" serunya sambil mencomot roti bakar buatan Mamanya


"Sayang, kamu duduk dulu kalau makan. Nanti bisa tersedak" tegur Mama Rose


"Aku terburu - buru, Ma"


"Ck, tidak mencerminkan gadis yang baik" cibir Gavriel, salah satu adik kembarnya


Papa Eza tampak menyeruput kopinya, kemudian berdiri. "Sayang, aku pergi dulu" pamitnya tak lupa mengecup pipi sang istri


"Hati - hati dijalan"


"Tentu. Oh ya, Gavriel dan Gabriel nanti berangkat dengan Pak Urip ya"


"Beres Pa"


"Ayo cepetan, Pa"


"Iya ... Iya"


Papa Eza berjalan cepat menuju ke mobil dimana putrinya sudah lebih dulu duduk disamping kursi kemudi.


"Papa ngebut ya? Mepet nih waktunya"


Papa Eza menatap sang putri, "Lagian, kamu juga sih. Kenapa sampai telat bangun"


Ale berdecak dalam hati, dia bukan telat bangun. Dia bahkan bangun jam lima pagi. Lalu apa yang membuatnya kesiangan? Jawabannyan adalah seragam yang dibelikan Papanya. Jika saja ukuran seragam itu pas dengan tubuhnya, Ale akan langsung turun dan sarapan dengan hikmat tanpa harus menyumpal roti bakar terburu - buru ke dalam mulut. Sayangnya, ukuran seragam yang Papanya belikan lebih mirip pakaian orang - orangan sawah. Teramat besar hingga membuat pakaian itu kedodoran ketika dipakai. Alhasil, Ale harus bersusah payah membuat penampilannya terlihat pas. Hingga membuatnya lupa waktu dan berakhir kesiangan.


"Lain kali aku minta Mama saja yang membelikanku seragam" gerutunya


Papa Eza malah terkekeh. Tentu saja. Ia memang sengaja membeli pakaian oversize untuk putrinya. Bukan tanpa alasan tentunya. Di usia Ale yang masih enam belas tahun, gadisnya itu tumbuh diatas rata - rata gadis pada umumnya. Ale memiliki dada yang besar, jika ia berpakaian pas bodi, maka akan terlihat sangat menggoda. Sebagai seorang Papa, tentu Eza akan menjaga putrinya dengan sangat baik. Zaman sekarang, pergaulan remaja sudah sangat mengkhawatirkan, **** bebas dan pacaran tanpa batasan sudah merajalela. Eza hanya takut Ale akan dimanfaatkan dan dipermainkan oleh pria. Jadi sebisa mungkin, Eza menghindari semua itu.


"Kamu tahu betul apa alasan Papa melakukan semua itu"


"Tapi aku tahu batasan kok, Pa"


Papa Eza mengusap rambut putrinya, "Kamu putri satu - satunya di keluarga kita. Tentu Papa akan menjaga kamu dengan sangat baik" Ale tersenyum, Papanya memang selalu berlebihan. Padahal Ale sudah besar dan bisa menjaga diri.


Perjalanan menuju ke SMA Nusa Bangsa tak membutuhkan waktu lama. Mobil yang dikendarai Ayah Eza tiba didepan gerbang sekolah.


"Ingat pesan Papa. Jangan berteman dengan teman cowok. Jangan mau didekati cowok yang kelihatannya cuma mau memanfaatkan kamu. Dan-"


"Ale tahu" potong gadis itu, "Ale udah telat. Kalau gitu, Ale masuk dulu"


Papa Eza menghela nafas, "Hati - hati Sayang"

__ADS_1


Ale mengangguk lalu keluar dari mobil setelah bersalaman dengan Papanya. Gadis itu melambaikan tangan lalu berlari masuk ke dalam.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan keduanya sejak dalam mobil. Pemuda itu menyeringai, "Akhirnya kita bertemu!"


🌻🌻🌻


Ale berlari ke arah lapangan dimana semua siswa baru berkumpul disana.


"Hei ... Loe yang telat! Sini loe!!" seru seorang senior


Ale menghela nafas lalu berjalan ke arah senior perempuan yang tadi memanggilnya.


"Nama!!"


"Ale"


"Kayak merek minuman!", ucapnya meledek, "Loe tahu ini jam berapa?! Nggak punya jam loe dirumah?!!" bentaknya


"Maaf Kak. Tadi jalanan macet" jawab Ale sedikit beralasan


"Alasan aja loe!!!"


"Kalau Kakak udah lama tinggal di Jakarta, Kakak pasti tahu kalau jam segini jalanan padat!"


"Berani ya Loe ngejawab gue!! Gue pastiin Loe bakal dapet hukuman berat!!"


"Ada apa ini?" tanya seorang pria


Kamil, sang wakil ketua osis menatap Ale sekilas, "Loe telat?!" tanyanya santai


"Kalau udah tahu, kenapa masih nanya!" jawab Ale memutar bola matanya malas


Rachel dan beberapa anggota osis lainnya menatap Ale tak percaya. Jujur saja, Rachel merasa Ale sok sekali.


"Urus dia, Mil! Gue malas sama cewek yang sok banget!"


Kamil bersedekap dada, "Oke, karena loe telat. Jadi loe harus dihukum!",


Melihat ekspresi Ale yang biasa saja, Kamil merasa kagum. Selama ini, tidak ada berani acuh padanya. Nyatanya pagi ini ada satu gadis yang berbeda dengan gadis lainnya.


"Loe lihat cowok yang di pojok sana?" tanya Kamil. Ale mengangguk, "Loe samperin dia. Terus kasih bunga ini sama dia" Kamil memberikan bunga mawar kepada Ale.


"Kakak nyuruh aku nembak cowok itu? Nggak! Aku nolak ya!!"


Kamil tersenyum, "Lo punya hak apa buat nolak hukuman dari gue?"


Ale berdecak, "Kolot banget ngasih hukuman!"


Kamil hampir saja menyemburkan tawanya jika saja tak banyak yang melihatnya. Walau bagaimanapun, dia harus jaga image sedikir. "Udah, loe samperin dia. Oh ya, namanya Rama"

__ADS_1


"Hm" sahut Ale lalu pergi ke arah Rama


Dengan langkah malas, Ale menghampiri cowok yang bernama Rama itu. Begitu tiba didepannya, Ale langsung menyodorkan bunga mawar itu untuk Rama. "Untuk Kak Rama!"


Rama cukup terkejut mendapat bunga dari gadia itu. "Gue nggak suka bunga! Jadi bawa pergi aja!" tolaknya


"Jangan ge er ya. Saya juga nggak berniat ngasih sama Kakak. Saya hanya menuruti perintah Kakak itu!" tunjuk Ale pada Kamil


Kamil berlagak tak melihat Rama, membuat sang ketua osis berdecak.


"Terima bunganya, biar aku bisa gabung sama yang lain!" pinta Ale


"Loe maksa banget ya! Rama bilang nggak mau ya nggak mau!" Rachel tiba - tiba datang merebut bunga itu dari tangan Ale


"Santai sedikit bisa kan? Jangan nyalahin aku lah. Salahin temen Kakak yang ngasih perintah!"


Rachel berdecak sebal, "Kamil sialan!! Ya udah, sana loe!!"


Diam - diam, Rama memperhatikan Ale. Baru kali ini ada murid yang tidak tertarik padanya.


Rama Alendra Salim, merupakan ketua osis di SMA Nusa Bangsa. Memiliki paras yang sempurna membuat Rama menjadi most wonted SMA Nusa Bangsa. Banyak siswi yang tergila - gila padanya. Bahkan hanya berpapasan saja, bisa membuat siswi histeris. Selama dua tahun sekolah disini, belum ada satupun yang tak terpesona pada Rama. Tapi pagi ini, seorang murid baru dengan terang - terangan tak tertarik pada idola SMA Nusa Bangsa itu.


"Tunggu!" cegah Rama saat Ale mulai berjalan


"Ram, mau ngapain kamu manggil dia?" tanya Rachel tak suka. Ya ... Bukan rahasia lagi jika keduanya dekat. Rachel memang menaruh perasaan lebih pada Rama. Jadi, dia jelas tak suka jika Rama memperhatikan wanita lain.


"Apa lagi sih, Kak?" tanya Ale malas


"Sok banget loe ya!!", Rachel jadi semakin tak suka mendengar nada sok yang Ale lontarkan, ia hendak menghampiri Ale, namun ditahan oleh Rama


"Loe urus anak - anak. Biar dia sama gue!"


Rachel berdecak mendengar perintah Rama, "Tapi Ram-"


"Denger kan apa yang gue bilang?"


"Ck, Oke!", jawab Rachel lalu pergi


Kini Ale berhadapan dengan Rama, pemuda tampan itu bersedekap dada sembari menatap Ale. "Loe nggak tahu siapa gue?"


"Emang penting tahu siapa Kakak?"


Rama menyeringai, sepertinya Ale bukanlah wanita yang mudah didekati.


"Gue tahu loe telat. Jadi, sebagai hukumannya, Loe harus nyanyi di depan aula!"


"WHAT!!!"


🌻🌻🌻

__ADS_1


Bab 2, semoga kalian suka.


Ohw ya, cerita ini menggunakan alur mundur ya. Bercerita tentang awal mula Rama dan Ale dulu


__ADS_2