Selepas Luka

Selepas Luka
Gadis Yang Berbeda


__ADS_3

"Papa!"


"Papa kan sudah bilang! Jangan pulang dulu! Kamu nggak papa kan?" tanya Papa Eza khawatir


"Aku nggak papa, Pa"


Rama yang melihat interaksi anak dan Ayah itu, segera pergi meninggalkan mereka.


"Maafkan Papa yang lama jemput kamu. Janji ya Sayang, lain kali jangan nekat pulang sendiri. Kamu nggak tahu bagaimana paniknya Papa saat kamu sudah nggak ada disekolah tadi"


"Maaf, Pa. Aku janji hal ini nggak akan terulang lagi"


Papa Eza tersenyum, "Ya sudah ayo kita pulang"


Tanpa mereka tahu, sejak tadi Rama melihat keduanya. Ada rasa yang tak bisa Rama jabarkan. Pemuda itu segera menghidupkan motornya begitu mobil yang membawa Ale pergi.


Tak membutuhkan waktu lama, Ramapun tiba dirumah. Pemuda itu melangkah dengan langkah santai.


"Abang sudah pulang?" tanya Inara, sang Bunda, "Tumben agak telat"


Rama tersenyum, "Tadi masih muter - muter cari angin dulu"


Bunda Inara menghampiri anak pertamanya, "Jangan muter - muter cari angin. Cari cewek juga. Kamu kapan mau ngenalin pacar kamu ke Bunda?"


"Jangan tanya putramu begitu, Sayang. Siapa juga yang mau sama kanebo kering modelan begini" celetuk Salim, Ayahnya


"Tapi putraku tetap yang paling tampan"


Ayah Salim memeluk Bunda Inara, "Kamu sudah dewasa, Ram. Sampai kapan kamu mau menempeli wanitaku!"


Rama memutar bola matanya malas. Ayahnya selalu saja suka drama. "Dasar bucin!" ucapnya lalu melangkah menaiki tangga


"Ish, dia kan jadi ngambek. Jangan suka menggoda putramu, Yah"


"Biar dia cari pacar, Bun. Masak dia nggak mau menikmati masa sekolahnya. Kaku sekali"


"Kaku begitu juga turunan kamu"


Ayah Salim tergelak, "Iya juga sih. Semoga dia nanti menemukan perempuan yang baik seperti kamu"


"Amin"


Rama yang melihat kehangatan kedua orang tuanya ikut tersenyum.


"Aku bahagia karena Bunda menemukan orang yang tepat. Tapi luka masa lalu Bunda tetap harus kubalaskan!"


🌻🌻🌻


Sudah seminggu para siswa menjalani aktivitas mereka sebagai murid pada umumnya. Pelajaran yang diberikan guru, menjadi rutinitas mereka sekarang.


Namun berbeda dengan Rama, pemuda itu justru sering memperhatikan Ale diam - diam


"Sayang banget si Ale nolak masuk Grenada. Padahal gue yakin, kalau dia masuk ekskul kita, Grenada akan makin bersinar. Secara, suaranya bagus banget" seru Eros


"Kalo Rachel dengar ucapan loe ini, dia bakalan ngamuk" jawab Devan


"Lah, salahnya dimana? Kan yang gue omongin emang bener"


Rama sama sekali tak tertarik dengan perdebatan kedua sahabatnya. Yang ia pikirkan sekarang adalah Ale. Gadis itu terus saja menolak masuk Grenada. Jika biasanya banyak siswa yang ia tolak karena memang tak memenuhi kristeria, Ale justru yang menolaknya.


"Ram! Woy, loe mau kemana?" panggil Eros

__ADS_1


"Ck. Kenapa juga tuh anak?!"


"DB paling" jawab Eros asal


"DB apaan?!"


"Datang bulan, dodol!"


"Anjrit!!", Keduanya ngakak bersama


Sementara, sang ketos yang mereka bicarakan tengah berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke salah kelas yang ada di lantai dua. Kedatangan pemuda paling tampan di SMA Nusa Bangsa itu membuat para siswa kelas X histeris. Tanpa basa - basi, Rama langsung masuk ke kelas X Ipa 1. Tatapannya langsung tertuju pada Ale yang duduk dibangku tengah.


"Gue mau bicara sama loe"


Sumpah demi apa. Suara Rama terdengar seksi meski terkesan dingin.


"Al ... Kak Rama ngomong sama loe" bisik Icha


"Tapi saya merasa tidak ada yang perlu dibicarakan dengan Kakak" sahut Ale enggan


Rama menyeringai, "Gue tunggu pulang sekolah di parkiran. Kalo loe nolak, loe akan tahu apa yang bisa gue lakukan!", Rama meninggalkan kelas Ale setelah mengatakan pesannya.


"Keren banget loe Al bisa dideketin sama ketos" puji teman sekelasnya


"Al. Loe barusan di ajak kencan sama Kak Rama. Sumpah demi apa coba?" heboh Icha


"Loe budek apa gimana? Dia cuma ngajak ketemuan!"


"Sama aja. Ketemuan adalah awal dari kencan"


"Serah!" jawab Ale malas


"Siang Bu!"


Jam pelajaran kembali di mulai. Sayangnya, sejak kedatangan Rama tadi, Ale jadi tak bisa berkonsentrasi. Dia bertanya - tanya, sebenarnya apa tujuan Rama mengajaknya bertemu sepulang sekolah.


Selama satu setengah jam, nyatanya Ale masih tak bisa berkonsentrasi.


Tet .....


"Yey!" teriak para murid


"Oke. Jam pelajaran sudah selesai. Jangan lupa kerjakan tugasnya dan kumpulkan besok pagi. Sebelum pulang, silahkan berdoa terlebih dahulu"


"Baik Bu"


Murid - murid begitu antusias saat jam pelajaran telah usai. Begitupun dengan Ale dan Icha.


"Loe mau gue temenin, apa jalan sendiri?"


"Apaan sih, Cha. Gue mau langsung pulang aja"


"Ish! Gimana sih loe. Kan Kak Rama ngajakin ketemuan. Lagian kalaupun loe menghindar, jangan lupa kalau parkiran itu ada didepan!"


Ale berdecak, benar juga yang di katakan sahabatnya itu.


"Loe beneran nggak mau ketemuan sama Kak Rama?" tanya Icha serius


Ale menatap bestienya, "Males Cha. Palingan juga soal Grenada"


Icha mengangguk, "Menurut gue sih, Al. Nggak ada salahnya juga loe masuk Grenada. Secara nih ya, suara loe bagus banget. Loe bakalan terkenal satu sekolahan kalau gabung di sana"

__ADS_1


Ale memutar matanya malas, "Masalahnya, gue males ikutan ekskul. Waktu SMP udah banyak ekskul yang gue ikutin. Jadi sekarang, gue beneran mau fokus sama pelajaran. Loe tahu kan? Kalau ekskul bisa nyita banyak waktu"


"Iya sih. Tapi sayang banget kalo di lewatin"


Ale menghela nafas berat, "Entahlah Cha. Gue sebenarnya males banget. Tapi ga tahu deh"


"Saran gue nih, loe coba dulu deh. Kalau nggak cocok, tinggal cabut"


Ale tersenyum, "Kayaknya sih, boleh juga ide loe"


"Nah, gitu dong. Itu baru sahabat gue. Ya udah yuk pulang"


"Kuy lah"


Keduanya berjalan beriringan ke luar kelas. Mereka harus melewati koridor untuk sampai didepan. Saat hampir sampai di parkiran, mereka bisa melihat Rama yang bersandar di atas motornya.


"Loe nggak mau gue temenin?"


"Ga usah deh. Lagian loe udah dijemput juga kan"


"Ya udah, kalo gitu gue duluan dulu. Semangat Al, semoga sukses"


Ale berdecak mendengar kata semangat dari Ale


"Loe sengaja lama biar gue nunggunya lama kan?"


Belum apa - apa Rama sudah memprotesnya, "Kan dari awal saya sudah nolak. Kalau nggak mau nunggu, kan bisa pulang dari tadi"


Rama bersedekap dada, "Ini salinan pendaftarannya bisa loe simpen. Dan selamat datang di Grenada" ucap pemuda itu menyeringai


"Maksudnya apa?" Ale menerima lembaran yang Rama berikan, matanya membola saat ada nama beserta tanda tangannya di formulir pendaftaran Grenada, "Apa ini? Saya nggak pernah merasa ikut ini dan tanda tangan formulir ini! Ini namanya penipuan!"


"Loe lupa kemarin leo sendiri yang tanda tangan"


Deg


Ale mengingat jika kemarin ada salah satu temannya yang minta tanda tangannya. Dia mengatakan jika formulir itu adalah kelengkapan data murid baru. Karena terburu - buru, Ale langsung menandatanganinya tanpa membaca terlebih dahulu


"Tetep aja ini namanya penipuan!"


"Leo nggak bisa nolak karena udah tanda tangan. Jadi, selamat bergabung dengan keluarga besar Grenada. Oh ya, jangan lupa besok latihan sepulang sekolah"


"Aku nggak mau!" Ale menatap Rama tajam, "Ternyata begini ya, kelakuan ketua osis yang jadi idola sekolah. Cih! Nyatanya dia nggak lebih dari seorang penipu!"


Rama menatap Ale intens, "Harusnya loe bersyukur karena gue undang langsung. Tidak banyak orang yang punya kesempatan seperti ini!"


"Cowok gila! Ini namanya pemaksaan"


Bukannya marah, Rama justru tertawa, "Kalau loe takut sama bokap loe. Gue bisa izinin langsung sama dia"


"Loe pikir, loe kenal bokap gue?!"


Rama mendekat ke arah Ale hingga jarak di antara keduanya hanya beberapa senti saja. Dan tahukah kalian, jantung Ale berdetak tak nyaman berada sedekat ini dengan seorang pria


"Gue bisa kenalan sama dia. Gue tahu dia selalu antar jemput loe"


"Kamu memang nggak waras!"


"Haaha. Terserah loe mau bilang apa. Yang jelas, jika loe nolak, gue bakalan datengin bokap loe dan ngaku sebagai cowok loe!"


Ah sial!!!

__ADS_1


__ADS_2