
"T-tidak mungkin!", tangan Ale bergetar hebat. Benda pipih yang ia pegang menunjukkan dua garis merah.
Gadis itu mulai linglung. Ia bingung harus melakukan apa sekarang. Bagaimana reaksi orang tuanya? Apa kata orang - orang? Apa kata teman - temannya? Dia masih umur tujuh belas tahun. Masih kelas sepuluh SMA. Selain itu, umurnya yang masih muda, apakah memungkinkan jika ia hamil dan melahirkan?
"Aku harus menemui Rama. Bagaimanapun, ia harus tahu hal ini"
Ale berniat untuk pergi ke apartemen Rama. Beruntung, semua orang rumah sedang pergi. Jadi Ale bisa pergi tanpa memberikan alasan seperti biasanya. Ya, sudah hampir dua bulan lamanya, Ale dijadikan budak oleh Rama. Disekolah, mereka seperti orang yang tidak saling kenal. Tapi, begitu keluar dari sekolah, mereka seperti pasangan yang sudah menikah. Rama memperlakukan Ale seenak hatinya. Bahkan Rama tak pernah memikirkan bagaimana Ale mencari alasan agar orang tuanya tak curiga. Ale yang biasanya tidak pernah membohongi orang tuanya, mulai sering membohongi Papa dan Mamanya hanya untuk menuruti kemauan Rama. Walau sudah banyak pengorbanan yang Ale lakukan, Rama tetap tak pernah memperlakukannya dengan baik. Tidak hanya menyakiti Ale secara fisik, Rama juga kerap menyakiti bathin Ale. Entah apa hubungan Rama dengan Rachel, namun keduanya sering terlihat mesra. Ale yang mulai memiliki perasaan pada Rama tentu saja terluka. Tidak ada orang yang suka melihat orang yang dicintainya bermesraan dengan wanita lain.
Menggunakan taksi online, Ale tiba di apartemen Rama pukul sembilan tepat. Ale langsung naik ke lantai sepuluh, ke unit apartemen Rama.
Klik
Pintu terbuka, namun suasana didalam terlihat sepi. Ale mencari Rama ke kamar, tapi Rama tidak ada disana. Tepat saat Ale akan menuruni tangga, terdengar pintu terbuka. Ale akan turun, namun urung saat tahu Rama datang bersama Rachel.
"Ram, kapan kamu akan meresmikan hubungan kita?"
Rama bungkam, ia hanya menatap Rachel tanpa berniat menjawab pertanyaan wanita itu.
"Ram, aku tahu, selama ini kamu hanya menjadikan Ale sebagai boneka balas dendammu. Kamu tidak pernah mempunyai perasaan padanya. Aku juga tahu, kamu sering menidurinya"
"Jangan campuri urusanku, Chel!"
Rachel mengalungkan tangannya ke leher Rama, "Dibandingkan dengan ****** itu, aku lebih dari segalanya Ram. Tinggalkan saja dia, toh kamu sudah berhasil mencapai tujuanmu"
Mata Rama tak sengaja melihat sepatu milik Ale. Ia yakin, Ale pasti melihatnya sekarang. Rama tentu tidak mau menyia - nyiakan momen ini untuk memanas - manasi Ale.
"Apa buktinya jika kamu menyukaiku?" tantang Rama
Mendapat tantangan seperti itu, tentu Rachel merasa senang. Ia mencium bibir Rama. Awalnya Rama tidak membalas, namun beberapa detik kemudian, keduanya larut dalam ciuman panas. Mereka asyik bertukar saliva tanpa memikirkan perasaan seorang gadis yang menangis tertahan dibalik tembok lantai atas.
Sadar sudah mulai terbuai, Rama segera menghentikan ciumannya. "Aku akan mengantarmu pulang!"
Rachel sedikit kecewa karena Rama mengakhiri kegiatan mereka. Namun ia juga merasa senang karena berhasil mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan.
Begitu pintu tertutup, Ale langsung luruh ke lantai. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Tangisan itu terdengar begitu pilu dan penuh kesedihan. Dunianya menggelap seketika. Mimpi - mimpi yang dulu menghiasai angan, pada kenyataannya, kini tidak bisa ia wujudkan. Ale kalah. Ia benar - benar kalah. Tidak hanya hatinya yang hancur. Tapi hidupnya sekarang juga ikut hancur. Harapan yang sempat ia bumbung melebur begitu saja bagai debu. Harapan tinggallah angan. Semua hanya mimpi yang tak pernah tersampaikan.
Ale sadar, selama ini Rama memang berniat menghancurkannya. Namun, apakah salah jika Ale berharap jika suatu saat Rama bisa membalas perasaannya? Setiap malam ia berdoa. Memohon pada Sang Pencipta untuk membukakan hati Rama. Tapi kejadian barusan membuat Ale sadar. Rama tidak pernah mencintainya. Dan sampai kapanpun, pria itu tidak akan pernah memiliki perasaan padanya.
Lelah menangis, Ale memutuskan pulang. Ia sengaja mengenakan masker untuk menutupi wajahnya yang sembab. Ale melangkah keluar apartemen Rama dengan langkah gontai. Beruntung ia masih kuat menyangga tubuhnya. Kepalanya terasa pusing, tubuhnya juga tidak enak. Mungkin efek kelamaan menangis tadi.
Ale kembali naik taksi online untuk pulang kerumah. Sepanjang jalan, gadis itu hanya merenung. Memikirkan bagaimana nasibnya kedepan. Apa yang akan terjadi setelah ini? Bagaimana nasib anak dalam kandungannya. Bagaimana pendidikannya. Dan banyak lagi yang ia pikirkan.
"Sudah sampai, Mbak"
__ADS_1
"Oh ... Iya pak"
Ale turun dari taksi kemudian mulai melangkah masuk kedalam rumah.
"Ma, Pa. Kalian sudah pulang?"
Ale terlihat linglung, ia bahkan tidak menyadari jika mobil Papanya berada di halaman rumah.
"Kamu darimana?!"
Deg
Nada keras dan serak yang terlontar dari bibir Papanya, membuat Ale menatap Papa Eza. Tatapan dingin dari pria itu membuat perasaannya tidak enak. Apalagi, sikap diam Mama Rose yang terlihat tidak biasa semakin membuat Ale ketar - ketir.
"Aku dari-"
"Ini punya siapa?!"
Deg
Jantung Ale berdetak cepat saat Papa Eza melempar testpeck ke hadapannya. Bagaimana bisa benda itu ada pada mereka?. Ah iya, ia baru ingat jika ia meninggalkannya dikamar mandi.
"JAWAB AL!! ITU PUNYA SIAPA?!!"
Bruk
Papa Eza ambruk ke lantai.
"Kenapa semua ini menimpa putriku! Kenapa!!"
Bug
Bug
Bug
Ia memukul lantai berkali - kali hingga tangannya terluka.
"YA ALLAH! JIKA AKU PUNYA DOSA DIMASA LALU. HARUSNYA AKU YANG AKU HUKUM!! KENAPA HARUS PUTRIKU!!", tangisan Papa Eza terdengar begitu pilu.
Melihat suaminya begitu hancur, Mama Rose memeluk suaminya, "Semua ini salahku. Semua salahku, Mas. Mungkin ini kar-"
"Tidak! Tidak, Sayang. Semua ini bukan salahmu. Ini salahku. Aku yang gagal menjaga putri kita. A-akulah yang gagal!"
__ADS_1
Melihat orang tuanya menangis, Ale hanya mampu tertunduk dalam tangisan. Ia menyesal. Ia merasa berdosa. Ia tidak hanya melukai hati dan perasaan kedua orang tuanya. Namun ia sudah mencoreng dan menghancurkan nama baik mereka.
"Ma-maafkan aku, Ma, Pa. Hiks ... Hiks .... Maafkan aku!"
"Katakan. Katakan siapa ayah dari bayi yang kamu kandung, Al. Katakan siapa dia!!!"
Ale menggeleng, hal itu membuat tangis Mama Rose semakin pecah. Papa Eza menghampiri sang putri, ia memegang bahu Ale begitu erat. Air mata masih membasahi pipi, tatapan pria paruh baya itu terlihat penuh luka.
"Katakan pada Papa siapa bajingan itu!!"
"A-aku tidak bisa mengatakannya" sesal Ale
"LIHAT PAPA, AL!! KATAKAN SIAPA BAJINGAN ITU! JANGAN MELINDUNGINYA. DIA HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS ANAK INI!!"
"AKU TIDAK BISA, PA. JANGAN PAKSA AKU MENGATAKANNYA!!"
"ALE!!
Plak
Mama Rose menatap tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menampar putrinya. Tubuhnya bergetar. Seumur hidup, ia tak pernah menyakiti anak - anaknya. Tapi hari ini, dengan tangannya sendiri ia menampar Ale.
Ale memegangi pipinya, ia tersenyum miris. "Mama menamparku?"
Mama Rose tertunduk, "Maafkan Mama"
Papa Eza memejamkan mata. Ini pertama kali terjadi prahara besar dalam keluarganya.
"Mama hanya ingin kamu mengatakan siapa ayah dari bayimu, Al. Mama tidak bermaksud menyakitimu" sesal Mama Rose
Ale menatap kedua orang tuanya, "Jangan paksa aku untuk bicara"
Gadis itu berlari menaiki tangga. Tangis Mama Rose semakin pecah melihat kepergian putrinya. "Aku tidak sengaja, Mas. Aku benar - benar tidak sengaja"
Papa Eza memeluk istrinya, "Aku tahu kamu tidak bermaksud menyakiti putri kita, Sayang"
Pyar
"Ale!!"
🌻🌻🌻
Kira - kira Ale kenapa ya?
__ADS_1