
Brak
Ale menatap pintu kamar mandi yang ditutup dengan keras. Pelakunya adalah Rachel dan kawan - kawannya.
"Kalo nggak bisa jaga, seenggaknya jangan ngerusak aset sekolah!"
Rachel mendekat ke arah Ale, gadis remaja yang menyukai Rama itu langsung menekan rahang Ale "Loe tahu? Loe punya salah apa sama gue?"
"Gue merasa nggak punya salah apapun!", Ale menepis tangan Rachel
"Loe sadar? Loe punya banyak kesalahan sama gue. Baru gue tinggal dua hari, loe semakin bertingkah ya!"
"Oh, gue paham. Loe pasti merasa tersaingi karena Rama lebih milih gue sebagai partner duetnya kan?" tebak Ale
"Arrgg!!" Ale meringis saat Rachel tiba - tiba menarik rambutnya, gadis cantik itu segera memukul lengan Rachel. Dan benar saja, tangan Rachel langsung terlepas dari kepalanya, "Jangan karena senior, loe bisa seenaknya ya. Gue bisa aduin ini ke BK!"
"Cih! Aduin aja kalo berani! Loe pikir gue takut? Kita lihat, siapa yang bakal dipercaya sama mereka. Loe ... Atau gue!"
Rachel menatap kedua temannya, Dea dan Jeslin. Keduanya seolah paham dengan lirikan mata ketua geng mereka. Dea dan Jeslin maju hendak memegangi tangan Ale, sayang, sekali lagi Ale bisa menepisnya.
"Sialan! Pinter juga loe ngeles ya!"
"Kalo kalian nganggap bisa ngebully gue sama kayak anak - anak lainnya. Kalian salah besar!"
"Cih, sombong!", Rachel hendak menampar Ale, sayangnya, Ale lebih dulu menarik tangan gadis itu hingga Rachel meringis kesakitan. Jangan ragukan kemampuan bela diri anak Papa Eza dan Mama Rose ini. Ale dengan mudah membalas perlakuan Rachel. Dia mendorong Rachel hingga menabrak Dea dan Jeslin
"Gue peringatin ya! Kalo loe merasa tersaingi dan menginginkan posisi gue. Ngomong sendiri sama Rama! Atau ... Perlu gue yang ngomong?"
Rachel berdecak sambil memegangi tangannya, "Gue peringatin! Jauhi Rama, atau loe bakalan terus berurusan sama gue!"
"Oke. Gue bakalan jauhi Kak Rama. Tapi kalau dia sendiri yang minta gue jauhin dia. Kalau nggak, gue nggak akan nurutin kemauan loe!"
Rachel mengepalkan tangan, "Loe beneran cari ribut sama gue! Gue pastiin hidup loe nggak bakalan tenang! Dan gue akan bales perlakuan loe hari ini!"
"Gue tunggu!"
Setelah kepergian Rachel dan antek - anteknya, Ale menghela nafas. Sebelum menerima tawaran Rama, Ale sudah tahu hal ini akan terjadi. Rachel tidak akan membiarkannya hidup tenang setelah Ale berhasil menggeser posisinya
"Al, loe di dalam?" teriak Icha dari luar kamar mandi
"Gue di dalam, Cha" sahut Ale bergegas keluar
Ale membuka pintu kamar mandi, dia bisa melihat raut khawatir di wajah sahabatnya itu. "Loe nggak papa kan? Kok lama banget di kamar mandinya?"
__ADS_1
"Gue sakit perut tadi. Makanya agak lama" sahut Ale sekenanya
"Loe bikin gue khawatir tahu nggak! Ya udah kalau gitu ayo kita balik ke kelas sebentar lagi jam masuk nih"
"Sorry Cha, tadi beneran mules"
"It's oke. Yang penting loe baik - baik aja"
Ale dan Icha berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke kelas mereka. Tak sedikit yang memperhatikan keduanya. Bagaimana tidak, Ale adalah sosok gadis yang sangat cantik. Tentu banyak yang mengaguminya
"Al, tadi loe dicariin Kak Rama" ucap salah seorang teman kelasnya
"Oh, oke"
Icha memperhatikan raut wajah sahabatnya, "Kenapa loe liatin gue kayak gitu?"
Icha tersenyum, "Kayaknya loe makin deket sama Kak Rama ya?"
"Kita deket cuma karena ekskul"
"Iya sih. Tapi bisa jadi nanti loe bakalan semakin deket sama dia"
"Guru datang woy!"
Semua siswa langsung terdiam,
"Baik, Pak"
Setelah kepergian Pak Yanto si guru piket suasana kelas menjadi sedikit riuh tentu Mereka senang jika ada jam pelajaran kosong.
"Al, ke kantin yuk? Tadi kan loe belum sempat makan siang" ajak Icha
"Gue mau ke perpus aja deh Cha. Loe mau ikut nggak?"
"Loe tau sendiri kan, gue ini males banget kalau disuruh baca. Jadi sorry ya Al, lebih baik gue tiktok-an aja deh daripada ikut loe ke perpus"
"Oke deh, kalau gitu gue jalan sendiri aja"
Ale berjalan keluar kelas, jarak perpus yang tidak begitu jauh dari kelasnya membuatnya lekas sampai menuju ke ruang baca tersebut. Begitu sampai di perpus, Ale segera mencari buku novel yang ada di jajaran rak buku paling ujung.
Suasana perpus terlihat sepi, tentu saja karena memang sekarang masih jam pelajaran. Hanya ada beberapa siswa yang mungkin juga sedang jam kosong yang berada di perpus. Ale memilih duduk di bangku pojok tak jauh dari rak buku novel kemudian mulai membacanya.
"Loe senang baca novel ya Al?"
__ADS_1
Ale menatap Kamil yang tiba-tiba saja datang sambil membawa sebotol minuman untuknya, "Terima kasih Kak"
Kamil hanya tersenyum "Kamu belum jawab pertanyaanku loh. Kamu suka novel?"
"Ya, aku memang suka novel"
"Pasti kamu suka genre romantis kan?" tebak Kamil
Ale mengangguk, "Mungkin karena usiaku masih remaja jadi aku menyukai hal-hal yang berbau romantis" sahutnya kemudian
Kamil mengamati Ale beberapa saat, "Kenapa Kakak liatin aku terus? Kakak nggak berniat cari buku?"
Kamil terkekeh "Aku kemari memang untuk mencarimu. Dan asal kamu tahu, aku tidak terlalu suka baca buku"
"Hahaha, ternyata ada juga orang yang tidak menyukai buku selain Icha. Kalian sepertinya akan menjadi pasangan yang cocok"
Raut wajah Kamil yang tadinya ceria berubah sedikit sendu, "Kamu nggak bermaksud untuk menjodohkan aku dengan sahabatmu itu kan?"
"Siapa tahu saja Kakak tertarik dengannya"
Kamil tersenyum, "Aku sudah lebih dulu tertarik pada seseorang"
Ale terdiam, dari tatapannya saja ia sudah paham siapa orang yang Kamil maksud. Jujur, inilah yang Ale takutkan. Tidak ada pertemanan antara pria dan wanita yang benar-benar murni. Pasti ada salah satu yang akan memendam rasa.
"It's oke Al. Jangan terlalu dipikirkan apa yang baru saja aku bicarakan. Santai saja"
"Kak, aku..."
"Rupanya kamu di sini! Aku sudah mencarimu kemana-mana. Ternyata kamu mojok berduaan di sini!", seru Rama yang tiba-tiba datang entah dari mana
"Ram, gue sama Ale baru aja di sini. Gue nggak mojok seperti yang lo katakan"
"Oke, bagus kalau gitu. Karena Ale harus ikut gue latihan!"
"Biasanya lo nggak ngebet banget ngajak anak buah lo latihan seseering ini. Kenapa Gue merasa lo berbeda sama Ale?"
Rama menatap Kamil dingin, "Loe tahu kan, kalau bulan depan itu ada perlombaan dan ini paling penting untuk Grenada! Jadi gue harap loe nggak ngehalangin Ale untuk latihan semaksimal mungkin"
Kamil tersenyum kecut, "It's okay. Nggak masalah kok. Ale bisa pergi sama loe"
Ale menatap Kamil tak enak hati, "Maaf ya Kak. Aku harus latihan dulu"
"It's oke, Al. Nggak masalah kok. Kamu latihannya yang bener ya, biar nggak sering-sering diajak latihan sama Rama"
__ADS_1
Rama pergi lebih dulu kemudian disusul oleh Ale
Setelah kepergian keduanya Kamil menghela nafas, "Kenapa kita harus mencintai gadis yang sama Ram?"