
Usai ditemukan berduaan didalam ruang musik, pihak sekolah segera menghubungi orang tua Rama dan orang tua Ale. Kedua murid tersebut baru saja dimintai keterangan. Beruntung didalam ruang musik terdapat CCTV. Dan berdasarkan bukti tersebut, keduanya memang dinyatakan terjebak secara murni tanpa adanya unsur kesengajaan. Pak Yanto selaku penjaga sekolah meminta maaf karena kemarin langsung mengunci pintu ruang musik tanpa mengeceknya terlebih dahulu. Atas insiden ini, Rama dan Ale diperbolehkan pulang untuk beristirahat dirumah. Bukan tanpa alasan, kedua wajah mereka terlihat sedikit pucat. Tentu saja karena keduanya tidak makan sejak kemarin siang.
"Saya sungguh meminta maaf atas kejadian ini, Pak Eza. Atas keteledoran staf sekolah, putri Bapak jadi terkurung disekolah", ucap Kepala sekolah pada Papa Eza
"Sebenarnya saya marah, Pak. Saya semalaman belum tidur karena mencari keberadaan putri saya. Mamanya juga tak henti menangis karena putri kami tidak ada kabar sama sekali. Tapi karena semua ini bukanlah unsur kesengajaan, maka saya memakluminya. Yang terpenting, putri saya tidak kenapa - napa. Dan saya berharap, kejadian seperti ini tidak terulang lagi"
"Terima kasih banyak atas pengertian Anda, Pak Eza. Saya berjanji, kejadian ini tidak akan terulang kembali"
"Kalau begitu, bolehkan saya membawa putri saya pulang?"
"Tentu saja. Hari ini Ale bisa beristirahat dulu dirumah"
"Ayo Sayang, kita pulang. Mama sudah cemas menunggumu dirumah"
Ale bersalaman dengan kepala sekolah kemudian pamit pulang. Bersamaan dengan Papa Eza dan Ale yang hendak keluar dari ruang kepala sekolah, ia berpapasan dengan Inara dan Salim
"Loh, Eza?" ucap Ayah Salim cukup terkejut
"Salim ... Inara. Kalian?"
"Kami orang tua Rama" sahut Bunda Inara
Papa Eza menatap sosok pemuda yang tadi terjebak bersama putrinya. Pemuda tampan dengan sorot mata dingin itu rupanya anak dari mantan istrinya, Inara.
"Kalau tidak sibuk, kita bisa mengobrol setelah ini" pinta Salim
Papa Eza tersenyum, "Tentu saja. Aku tunggu diluar kalau begitu"
🌻🌻🌻
Usai menjemput putranya, Ayah Salim dan Bunda Inara juga ikut pergi dari sekolah. Dan seperti janjinya tadi, Papa Eza menunggu mereka di parkiran sekolah.
"Kalau kalian tidak keberatan, mampirlah kerumah. Rose pasti senang bertemu kalian lagi"
__ADS_1
Bunda Inara menatap suaminya, Ayah Salim mengangguk, "Tentu. Kamu bisa jalan lebih dulu. Kami akan mengikutimu dari belakang"
Papa Eza segera masuk kedalam mobil dengan putrinya. Diikuti mobil Ayah Salim dibelakangnya.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka tiba di salah satu rumah yang berada di kawasan perumahan elit. Mama Rose tampak menunggu di teras, begitu mobil Papa Eza datang, wanita itu segera berlari ke arah mereka.
"Sayang, kamu tidak apa - apa?" tanyanya pada sang putri
"Aku baik - baik saja, Ma"
Mama Rose memperhatikan mobil lain yang baru memasuki halaman rumahnya, ia menatap suaminya seolah bertanya. Namun Papa Eza hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Kak Ina!"
"Apa kabar, adikku?"
Mama Rose menghampiri Kakak tirinya. Sedetik kemudian mereka saling berpelukan dan menumpahkan kerinduan.
"Akhirnya kita bertemu lagi. Aku sangat merindukan Kakak"
"Sayang, sebaiknya kita masuk dulu" ucap Papa Eza
"Ah, iya. Ayo silahkan masuk"
Mama Rose menyambut dengan hangat kedatangan Inara dan Salim. Jujur saja, ia sangat merindukan mereka. Hubungan mereka begitu rumit dulunya. Namun, setelah kejadian pahit yang terjadi dimasa lalu, hubungan mereka membaik karena saling memaafkan. Silaturahmi terus terjalin, sampai beberapa tahun lalu mereka hilang kontak karena Ayah Salim dipindahtugaskan keluar kota.
"Aku tidak menyangka, kita bisa bertemu lagi setelah sekian tahun tidak bertemu"
"Mungkin ini sudah takdir Allah. Kita bahkan dipertemukan dengan cara yang tak terduga"
Para orang tua menatap anak - anak mereka.
"Rose, bisakah kamu meminjamkan kamar untuk Rama? Dia pasti tidak nyaman tidak mandi sejak kemarin"
__ADS_1
"Rama bisa mandi dan berganti pakaian dikamar si kembar. Kamarnya ada di lantai atas, bersebelahan dengan kamar Ale", ucap Mama Rose, "Al, antar Rama ke kamar twins"
"Iya, Ma"
Rama mengikuti Ale menuju ke kamar atas. Melihat jika para orang tua asyik mengobrol, bukannya ke kamar si kembar. Rama malah ikut masuk ke kamar Ale.
"Kak, kenapa kamu masuk ke kamarku?!"
"Kamu tidak penasaran, bagaimana orang tua kita bisa saling mengenal?"
Ale diam, ia juga tak tahu bagaimana kedua orang tua mereka bisa saling kenal. Dan melihat keakraban mereka, mereka terlihat bukan seperti teman, tapi seperti keluarga.
"Mungkin mereka dulunya teman"
Jawaban Ale membuat Rama tersenyum sinis, "Teman?" tanya Rama dingin, "Apa kamu tahu? Papamu dan Bundaku, mereka pernah menikah!"
Deg
Jantung Ale berdetak kencang. Benarkah apa yang dikatakan Rama padanya? Bagaimana bisa Papanya pernah menikah dengan wanita lain, sementara yang Ale tahu, Papa dan Mamanya terlihat selalu romantis dan harmonis.
"Tidak mungkin, Kakak jangan mengarang cerita!"
"Aku bisa memberikan semua buktinya kalau kamu mau! Atau ... Kamu bisa bertanya langsung pada Papamu!"
Ale kembali terdiam. Gadis cantik itu tampak berfikir keras. Benaknya di penuhi tanda tanya. Papanya pernah menikah dengan wanita lain. Lalu bagaimana ia bisa bertemu dengan Mamanya? Kenapa Papanya bisa bercerai? Apa mungkin?
"Mamamu adalah perusak rumah tangga orang!" bisik Rama
Ale mendorong Rama begitu keras, "Itu tidak mungkin! Mamaku wanita baik - baik!" sahut Ale tak terima,
"Lalu bagaimana Papamu dan Bundaku bisa bercerai?!"
Ale menatp Rama, "Mereka bercerai bisa saja karena tidak cocok. Banyak hal yang bisa memicu sebuah perceraian. Kalau Papaku dan Bundamu tidak berjodoh, kamu tidak bisa menyalahkan Mamaku!"
__ADS_1
"Memang banyak hal yang bisa memicu sebuah perceraian. Tapi ... kamu harus tahu fakta ini, Al. Mereka bercerai karena kehadiran orang ketiga. Mamamu! Mamamu yang sudah merusak rumah tangga bahagia mereka!!", Rama menatap Ale dengan senyum remeh, "Orang yang kamu sayangi itu ... tidak lebih dari seorang pelakor!