
"Kak, ada hal yang mau aku bicarakan denganmu", ucap Ale begitu mereka sampai di ruang musik
"Kita tidak punya banyak waktu untuk membicarakan hal - hal yang tidak penting. Perlombaan semakin dekat, jangan egois hingga mengabaikan acara penting ini demi diri sendiri!"
Ale menatap Rama tajam, "Bukankah kamu yang egois disini? Sejak awal aku sudah menolak untuk bergabung dengan Grenada!"
"Jika kamu menemukan seorang bintang, apa kamu akan menyia - nyiakannya saat kamu tahu dia bisa semakin bersinar!"
"Tapi kamu tetap tidak bisa memaksakan kehendakmu sendiri. Kamu juga harus memikirkan orang lain"
Rama menatap Ale, "Apa Rachel mengatakan sesuatu padamu?", tebaknya
Ali menghela nafas, "Kamu tidak bisa mengganti orang seenaknya sesuai dengan kehendakmu. Kalaupun itu harus dilakukan, setidaknya kamu harus membicarakannya dulu. Meminta pendapat anggota yang lain juga"
"Apa yang harus aku bicarakan? Lagipula, aku tahu apa yang terbaik untuk Grenada" Dan asal kamu tahu, sejak awal aku tidak pernah memilih Rachel sebagai teman duetku"
"Tapi kakak tahu betul bahwa Kak Rachel mengharapkan posisi itu dan kakak juga belum mencoba suara Kak Rachel. Kakak langsung memilihku tanpa meminta persetujuan yang lainnya"
"Aku tidak mau membuang-buang waktu untuk hal yang percuma. Lagi pula Rachel tidak cocok dengan perlombaan ini"
Ale merasa dongkol, berbicara dengan Rama sama dengan berbicara dengan batu. Tidak ada gunanya.
"Daripada kamu sibuk menggerutu, lebih baik kita latihan sekarang!"
Ale berdecak, "Kak, apa tidak bisa kita latihan besok pagi saja? Ini sudah sangat sore dan Papaku sebentar lagi akan menjemput"
"Lebih cepat kita latihan, lebih cepat pula kita pulang!"
Ale tak menyahut lagi. Perasaannya semakin dongkol dan kesal. Dia bersiap untuk bernyanyi kemudian mulai melantunkan lagu sesuai arahan Rama.
Entah sampai jam berapa mereka latihan. Yang jelas Ale yakin suasana di luar sekolah sudah sangat sepi dan sialnya lagi ponselnya kehabisan baterai, jadi dia tidak bisa menghubungi Papanya.
Ale sudah menyanyi lebih dari lina kali dan Rama masih memintanya mengulang lagi dan lagi. Tentu saja dia merasa sangat kesal.
__ADS_1
"Aku menyerah kalau kakak tidak bisa berbuat lebih manusiawi lagi. Sebaiknya aku keluar dari Grenada!"
Ancaman Ale membuat Rma menghentikan petikan gitarnya, "Baiklah kita latihan sampai di sini saja. Tapi jangan lupa besok kita berlatih kembali"
Tentu saja Ale merasa senang karena ia akan segera pulang. Sama dengan Ale, Rama juga bersiap-siap untuk pulang. Ale membuka pintu sayangnya pintu tidak bisa dibuka sepertinya pintu terkunci dari luar tentu hal itu membuat Ale panik.
"Kak sepertinya pintunya terkunci dari luar" ucapnya pada Rama
Rama yang baru saja berberes langsung menghampiri pintu. Ia mencoba membukanya. Tapi benar apa yang dikatakan Ale pintunya terkunci dari luar. Pemuda tampan itu segera mengambil ponselnya, tapi sayang rupanya ponselnya mati.
"Cepat hubungi seseorang untuk meminta bantuan" ucap Rama pada Ale
"Ponselku mati Kak", sahut Ale penuh sesal
Rama mengumpat. Tak ada pilihan lain selain berusaha membuka pintu itu sendiri. Dengan sekuat tenaga, Rama berusaha membuka pintu tersebut. Tapi pintunya tetap tidak bisa terbuka.
Ale yang memiliki ilmu beladiri berusaha membantu Rama dan mendobrak pintunya. Namun hasilnya sama, pintu yang terbuat dari besi di luarnya itu sama sekali tidak terbuka. Keduanya hampir kehabisan tenaga. Jadi mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak
"Apa kita akan terkunci disini sampai besok pagi?", tanya Ale lirih
Kini keduanya sama-sama diam, Sepertinya, mendobrak pintu itu bukan ide yang bagus. Tenaga mereka sudah menipis. Ale sendiri nampak sedikit putus asa. Selain ponselnya mati Ia juga merasa lapar.
"Apa di ruangan ini tidak ada makanan Kak?"
Rama menatap Ali kasihan. Pria itu berdiri kemudian mencari sesuatu. Jika beruntung mereka mungkin bisa menemukan makanan di sana. Tapi sepertinya nasib sial sedang menghampiri keduanya. Tidak ada makanan sama sekali. Tapi beruntung masih ada air mineral jadi setidaknya mereka tidak dehidrasi.
Ale berusaha menghidupkan ponselnya. Lebih tepatnya memaksakan hal yang tidak mungki. Terjadi. Namun ia berharap semoga ada keajaiban. Namun lagi-lagi kesialan menghampirinya. Ponselnya sama sekali tidak mau hidup begitupun dengan ponsel milik Rama
Melihat Ale yang tampak tidak nyaman, Rama mengambil jaket dari dalam tasnya, "Pakai ini" ucap Rama memberikan jaketnya pada Ale
"Terima kasih Kak"
Ale duduk di lantai di samping peralatan musik. Rama pun ikut duduk di samping Ale.
__ADS_1
"Sepertinya kita akan tidur di sini malam ini"
Ucapan Rama membuat Ale panik. Iya bisa membayangkan bagaimana khawatirnya seluruh keluarganya khususnya sang Papa
"Semoga Allah memberi kita pertolongan" harapnya
Rama menatap Ale, gadis itu terlihat sedikit kelelahan, "Kalau kamu lelah, tidurlah dulu. Aku akan berusaha membuka pintunya lagi"
Ale mengangguk pasrah. Selain lelah, rasa lapar membuatnya tidak berdaya. Ia menyandarkan badannya di dinding kemudian tak membutuhkan waktu lama Ale pun terlelap. Sementara Rama, ia masih berusaha membuka pintu tapi lagi - lagi usahanya sia-sia. Pintunya bahkan tak bergerak sedikitpun. Karena kelelahan juga, akhirnya Rama ikut duduk bersandar di samping Ale dan beberapa menit kemudian Rama pun ikut tertidur lelap
π»π»π»
Seperti dugaan Ale, saat ini Papa Eza sedang khawatir memikirkan di mana keberadaan putrinya. Ponsel Ale tidak bisa dihubungi. Pergi ke sekolah pun, satpam mengatakan semua siswa sudah pulang.
Akan melapor pada polisi, ini masih belum dua kali dua puluh empat jam. Tak mau berpangku tangan, Papa Eza segera menghubungi orang-orang suruhannya untuk mencari keberadaan Ale.
Mama Ros juga begitu khawatir. Perempuan paruh baya itu tak henti menangis memikirkan bagaimana keadaan putrinya sekarang. Sebagai anak, Gavriel dan Gabriel berusaha menghibur Mamanya.
"Kak Ale pasti baik-baik saja Ma. Lagi pula dia bisa beladiri. Dia juga makannya banyak. Siapa juga yang mau menculiknya"
Perkataan tak masuk akal Gabriel langsung mendapat tatapan tajam dari Gavriel. Bisa-bisanya di saat seperti ini ia malah bercanda Gabriel yang mendapat tatapan kakaknya langsung diam seketika.
"Jangan menangis Ma, Papa pasti akan berhasil menemukan kakak"
"Ini pertama kalinya Kakak kalian tidak pulang dan tidak ada kabar sama sekali
"Sudah coba telepon Kak Icha? Mungkin Kakak menginap di rumahnya"
Mama Rose terlihat lesu, "Kak Icha sedang ke rumah neneknya diluar kota. Dia hanya mengatakan tadi berpisah dengan kakak kalian di parkiran"
Gavril juga tampak begitu cemas, "Kita tunggu saja kabar dari Papa. Semoga ada kabar baik"
π»π»π»
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Pak Yanto sebagai tukang kebun sekolah membuka kelas-kelas dan juga ruangan-ruangan yang ada di sekolah Nusa Bangsa. Dan tentunya, Iya juga membuka ruang musik. Namun betapa terkejutnya Pak Yanto saat melihat dua orang perempuan dan laki-laki tidur berpelukan.
"Astaghfirullahaladzim! Apa yang kalian berdua lakukan disana?!"