Selepas Luka

Selepas Luka
Mengakui Semua Kesalahan


__ADS_3

"Ram! Apa yang terjadi? Siapa yang memukuli kamu sampai seperti ini?" tanya Bunda Ina khawatir.


Begitu menerima telepon dari rumah sakit yang mengabarkan jika Rama mengalami insiden dan pingsan di parkiran Mall, Bunda Ina dan Ayah Salim segera pergi kerumah sakit.


"Kita bisa melaporkan hal ini pada pihak berwajib"


Rama menggeleng, "Semua ini terjadi karena salahku", Ayah Salim tidak mengatakan apa - apa lagi. Dia paham watak Rama, jika putranya mengatakan ini salahnya, artinya Rama pasti telah melakukan kesalahan besar hingga berakhir disini.


Bunda Ina menatap sang putra dengan mata berkaca - kaca, "Apa yang kamu sembunyikan dari Bunda, Ram?"


Rama tidak menjawab, ia menatap langit - langit dengan pandangan kosong. Ayah Salim memilih duduk agak jauh dari keduanya. Ia berfikir, mungkin mereka butuh waktu bicara dari hati ke hati sebagai ibu dan anak.


"Bunda sudah lama merasa bahwa sikapmu berubah", Bunda Ina mengusap wajah putranya yang penuh dengan luka, "Kamu berubah sejak tujuh tahun yang lalu",


Mata Rama bergerak gelisah saat mendengar penuturan Bundanya. Apakah Bunda tahu apa yang sebenarnya terjadi?


"Apa yang kamu sembunyikan dari Bunda? Kenapa Bunda merasa ada hal besar yang kamu tutupi dari kami"


Mata Rama mulai memanas. Dosa dan kejahatan yang ia lakukan tujuh tahun lalu kembali membayangi benaknya. Apakah Sudah saatnya Ia mengakui semua kesalahan pada kedua orang tuanya.


"Bunda"


Bunda Ina mengangguk, "Katakan jika kamu sudah siap menceritakannya pada kami"


Rama tak mampu lagi menahan air matanya. Tangisan itu terdengar pilu dan penuh kesedihan. Bunda Ina yang melihat putranya menangis dan keterpurukan semakin yakin jika telah terjadi sesuatu yang besar. Sebagai seorang ibu, nalurinya mengatakan jika kesalahan yang Rama buat kali ini sangatlah fatal. Sejak kecil, Rama tak pernah menangis. Terjatuh dengan kepala robek dan mendapat jahitan saja, Rama sama sekali tak menangis. Tapi hari ini, tangis putranya pecah.


Ya Allah, kesalahan apa yang sudah putraku perbuat hingga ia sampai menangis seperti ini?


Ayah Salim mendekati istri dan putranya, "Katakan ada apa sebenarnya, Ram"


"A-aku ... Aku sudah membuat kesalahan besar, Yah, Bun. A-aku sudah menghancurkan hidup seseorang"


Deg


Jantung Ayah Salim dan Bunda Ina sama - sama berdetak kencang. Rama dididik menjadi anak disiplin dan bertanggung jawab sejak kecil. Lantas, bagaimana bisa mereka lengah dan tidak mengetahui jika putra mereka telah melakukan kesalahan besar. Menghancurkan hidup orang lain. Kalimat yang Rama ucapkan terdengar mengerikan ditelinga mereka. Dan tentu saja, itu adalah kesalahan yang teramat sangat fatal.


"A-apa yang sudah kamu perbuat, Ram? Dan hidup siapa yang sudah kamu hancurkan?" lirih Bunda Ina

__ADS_1


"Aku ... Aku telah menodai Ale. Bahkan karena perbuatanku, Ale mengandung anakku. Dia sudah besar, Yah, Bun. Anakku sudah besar!"


"RAMA!!!"


Bug


Bug


Bug


Tak peduli meski keadaan Rama terlihat lemah dan mengenaskan. Ayah Salim justru memberikan pukulan bertubi - tubi.


"Yah, tenanglah" lirih Bunda Ina


"SIAPA YANG MENGAJARIMU MENJADI PRIA BAJINGAN, HAH!! BAGAIMANA BISA KAMU MELAKUKAN HAL YANG HINA SEPERTI ITU!!! JADI INI? JADI KAMU YANG MEMBUAT MEREKA PERGI!!" teriak Ayah Salim emosi


Jujur, ia sangat kecewa mengetahui Rama melakukan hal memalukan ini. Ia tak pernah mengajari Rama menjadi pria bajingan. Bahkan, kerap kali ia berpesan pada Rama, jika suatu saat ia menemukan wanita yang ia cintai. Rama harus memperlakukannya dengan baik. Menghormati dan menghargai serta tidak mempermainkannya juga tidak menyakiti hati wanita tersebut. Tapi apa yang terjadi? Rama membuatnya kecewa.


Bunda Ina hanya bisa menangis, ia begitu kecewa pada Rama. Pantas saja kontak Rose dan Eza tidak bisa dihubungi. Jadi inilah alasan keluarga Rose memutus kembali hubungan silaturahmi diantara mereka. Jelas saja, hati orang tua mana yang tidak sakit hati jika putrinya dipermainkan bahkan dihancurkan masa depannya.


"Aku minta maaf, Yah, Bun. Aku bersalah"


Rama mengangguk, "Aku sedang berusaha meminta pengampunan pada mereka, Yah"


Ayah Salim tertawa sinis, "Masih bagus mereka tidak membunuhmu tadi! Kamu pantas dibunuh!"


"Yah!", lirih Bunda Ina, ia menatap putranya yang tak berdaya, "Kenapa kamu tega berbuat sehina itu, Ram?"


Rama kembali sesegukan, "A-aku terbawa dendam, Bun. Aku bahkan-"


"DENDAM APA? MEREKA BAHKAN TIDAK MELAKUKAN KESALAHAN APAPUN PADA KITA!!" teriak Bunda Ina. Ia tak mampu lagi menahan sesak dalam dadanya.


"Oma-"


Deg


Bunda Inara menatap sang putra. Ia kembali menerawang pada kenangan belasan tahun silam. Saat dimana Mamanya sekarat dan berada dirumah sakit. Bukan ingin ditemani olehnya selaku anak. Mamanya malah meminta Rama yang menemaninya. Jadi ini alasannya.

__ADS_1


Bahkan disaat - saat terakhirnya, Mama berhasil menghasut Rama untuk membalas dendam. Ya Allah, Mama


Ayah Salim yang seolah tahu apa yang istrinya pikirkan, segera menggenggam tangan Bunda Ina.


"Kita harus menemui Eza dan keluarganya. Kita harus memohon pengampunan mereka"


"Iya, Yah"


Ayah Salim menatap tajam putranya, "Kami akan meminta maaf pada mereka. Tapi kami tidak akan memintakan maaf untukmu. Terserah mereka mau memaafkanmu atau tidak! Yang jelas, kamu harus bertanggung jawab! Tebus semua kesalahan yang kamu buat meski harus menukarnya dengan nyawamu! Ingat, Ram! Jangan berhenti dan menyerah sampai kamu menerima maaf dari mereka!"


🌻🌻🌻


Meski sebenarnya belum diizinkan pulang oleh dokter, Rama tetap memaksa untuk pulang. Ia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Ale. Jalannya tidak akan mudah dan Rama tahu betul akan hal itu. Namun, tekadnya sudah bulat. Benar kata Ayahnya, meski harus menukarnya dengan nyawa, Rama harus siap dan bersedia.


Mereka langsung pergi kerumah Ale dari rumah sakit. Rama duduk dibelakang, sementara Ayahnya yang menyetir mobil. Selama perjalanan, Rama terus berdoa. Semoga suatu saat maaf itu bisa ia dapatkan.


Meski harus meminta maaf setiap hari, aku akan melakukannnya, Al. Tidak peduli seberapa berat rintangan yang harus kuhadapi, aku janji. Aku akan menebus semuanya.


Saat mereka baru tiba didepan rumah Ale, kebetulan, mereka melihat mobil pemilik rumah akan keluar. Ayah Salim dan Bunda Ina segera turun dan menghampiri mobil tersebut.


"Nak ... Bisakah kita bicara sebentar?" pinta Bunda Ina pada Ale.


"Ada hal yang ingin kami sampaikan" tambah Ayah Salim


Ale terlihat enggan, tanpa bertanyapun, ia tahu tujuan kedatangan mereka. Ale melirik ke samping, wajah Gav terlihat tidak bersahabat sama sekali.


"Maafkan saya, Tante. Tapi kami sedang terburu - buru" sahut Gav


Bunda Ina menatap seorang bocah kecil yang begitu mirip dengan putranya. Ternyata benar, Rama memang sudah memiliki anak. Ya Allah, hati Bunda Ina terasa remuk. Cucunya sudah sebesar ini dan Rama tidak ikut andil sama sekali membesarkan putranya.


"T-tolonglah, sebentar saja"


"Tante, saya minta maaf. Saya benar - benar sedang ada urusan penting" kali ini Ale yang berbicara


"Tapi-"


"Bun, sudahlah. Mungkin kita bisa datang lain waktu" ucap Ayah Salim. Raut kekecewaan tergambar jelas diwajah Bunda Ina. Namun ia tak bisa berbuat apa - apa selain pasrah. Wajar jika Ale marah, kesalahan Rama memang sangatlah besar.

__ADS_1


Ale menatap kedua orang itu, "Katakan pada putra kalian. Tidak perlu berusaha keras untuk meminta maaf dan bertanggung jawab. Karena aku dan putraku, tidak membutuhkan dia!"


Deg


__ADS_2