Selepas Luka

Selepas Luka
Kagum


__ADS_3

"Gila! Loe hebat banget Al" seru Icha, sahabat Ale sejak sekolah dasar.


Ale memutar bola matanya malas, "Biasa aja deh, Cha"


"Bestie gue emang nggak kaleng - kaleng! Keren!" ucapnya sambil mengacungkan jempolnya


"Ck. Lebay. Kayak nggak pernah denger gue nyanyi aja!"


"Suaranya Aleysha emang nggak perlu diragukan lagi. Dari dulu sampai sekarang numero uno!"


Ale menggandeng lengan Icha, sekarang jam istirahat dan cacing - cacing dalam perut Ale sudah mulai berdemo sejak tadi. "Jangan muji terus. Kantin yuk. Gue laper"


"Kuy lah!"


Keduanya berjalan beriringan menuju ke kantin. Dan tak sedikit siswa yang memperhatikan Ale. Semua karena hukuman dari Rama bisa diselesaikan dengan baik oleh gadis itu. Menyanyi di depan Aula, awalnya banyak yang menatapnya remeh. Namun saat mendengar Ale bernyanyi, ratusan pasang mata justru menatapnya kagum, tak terkecuali Rama. Alhasil, sekarang Ale mulai jadi idola baru dihari pertamanya sekolah.


"Mau pesen apa?"


"Mi ayam baso aja deh" jawab Ale


"Oke, loe cari bangku dulu. Gue yang pesen"


Ale duduk dibangku agak belakang, selain bangku depan memang sudah penuh, tujuannya adalah makan dengan tenang.


"Bentar lagi pesanan datang" ucap Icha


Kantin mendadak heboh dengan kedatangan para most wonted sekolah. Berbagai pujian meluncur begitu saja dari bibir para siswa, termasuk Icha


"Gila! Mereka damagenya nggak ada otak!"


"Jangan terlalu memuji sesama manusia. Berlebihan banget!" cibir Ale


Icha berdecak. Sejak dulu Ale memang tak pernah tertarik dengan yang namanya lawan jenis. Padahal, banyak yang mendekati dan terang - terangan menyukainya. Namun semua di tolak dengan alasan fokus belajar dan mengejar cita - cita. Padahal sejatinya, Papa Eza yang terlalu posesif dan melarang keras Ale dekat dengan pria manapun.


"Kita udah SMA Al. Menurut gue, wajar kalo loe mulai suka sama lawan jenis. Masalah Papa Eza, bisalah loe atasi sendiri. Misalnya backstreet"


"Loe kayak nggak kenal bokap gue aja. Apapun yang ada hubungannya sama gue dan sekecil apapun itu, pasti bakal ketahuan"


"Silahkan pesanannya" ucap Bu Kantin


"Terima kasih, Bu"


Icha menyesap es teh kesukaannya lalu menatap Ale, "Zaman sekarang, pinteran malingnya Al. Lagian nih ya, coba loe liat meja depan sana"


Ale menatap kumpulan pria yang disebut cogannya SMA Nusa Bangsa. "Terus?"


Icha menepuk jidatnya, "Noh liat, yang paling ganteng namanya Rama. Dia ketua osis kita. Orangnya dingin dan cuek tapi hampir satu sekolah mengidolakan dia. Selain ketua osis, dia juga ketua Grenada, ekskul musik sekolah kita. Kalo yang disebelahnya, namanya Kamil. Waketos kita. Orangnya lebih ramah daripada Rama. Dia itu kapten basketnya Nusa Bangsa. Satunya lagi Devan, anteknya mereka. Devan terkenal sedikit playboy tapi selalu gagal dapetin cewek yang dia suka. Nah, sebelahnya lagi Eros, si paling dingin setelah Rama. Dan yang kayak ulet itu, namanya Rachel. Dia itu naksir Rama udah dari jaman SMP, tapi cinta bertepuk sebelah tangan gitu. Michel juga bintangnya Grenada"

__ADS_1


"Penting banget loe jelasin soal mereka. Tapi maaf ya Cha, gue nggak tertarik!"


"Ck si Ale. Loe keterlaluan banget ya. Mulut gue ampe berbusa ngejelasin semuanya. Seenggaknya ada satu gitu yang bikin loe tertarik. Kampret emang loe!"


"Lah, gue nggak nyuruh loe ngejelasin semuanya. Lagian, loe tahu kan, gue sekolah itu cuma fokus sama belajar dan mengejar cita - cita. Jadi-"


"Sorry ganggu. Boleh gabung kan?" ucap seorang pria yang tiba - tiba ikut duduk dibangku mereka. Jika Icha merasa panas dingin dengan kedatangan Kamil, Ale justru terlihat biasa saja


"Hai. Kenalin, gue Kamil" ucapnya menatap Ale


"Ale"


"Nama loe unik"


Ale menyantap makanannya tanpa menghiraukan Kamil.


"Gue Icha, Kak. Sahabatnya Ale. Salam kenal Kak Kamil"


"Oh, Ok. Salam kenal juga", Kamil kembali memperhatikan Ale. "Suara loe bagus banget. Loe bisa masuk Grenada. Gue yakin-"


"Sayangnya saya nggak tertarik"


Kamil menatap Ale tersenyum, Ale memang beda dari gadis lainnya. Dan jujur, Kamil kagum melihatnya.


Sementara dibangku lain, Rama dan teman - temannya tampak memperhatikan mereka.


"Kamil gercep ya. Baru kali ini gue lihat dia ngedeketin cewek" seru Devan


"Iri bilang boss! Siap - siap aja Chel, kayaknya posisi loe bakalan keganti sama dia" Eros memprovokasi


Rachel menatap Eros tajam, "Mata loe rabun. Bagusan gue kemana - mana lah! Sialan emang loe!"


"Tapi suara dia lebih bagus dari suara loe. Dan gue pastiin dia bakalan masuk Grenada" ucap Rama kemudian beranjak dari kursinya. Rachel mengepalkan tangan, tidak. Dia tidak posisinya diambil anak baru itu, apalagi kedekatannya dengan Rama.


Gue harus bikin dia nolak masuk Grenada! Bathin Rachel


🌻🌻🌻


Sudah jam empat sore. Semua siswa baru saja berhamburan pulang. Namun Ale masih setia berdiri didepan sekolah menunggu jemputannya. Sesekali, gadis itu mengecek ponselnya.


"Tumben Papa lama banget. Apa telepon Mang Urip aja ya. Tapi Mang urip pasti lagi jemput Gagap"


Ale masih menunggu meski semua siswa sudah pulang. Gadis itu berdecak, hampir setengah lima tapi Papanya tak kunjung datang.


Mungkin ini saatnya gue ngerasain yang namanya pulang sekolah sendiri. Naik busway sepertinya nggak terlalu buruk. Kalau gue berhasil pulang dengan selamat, seenggaknya Papa bisa sedikit percaya kalau gue udah bisa jaga diri sendiri.


Ale melangkahkan kakinya sedikit cepat. Hari sudah mulai sore, ia harus bergegas agar tidak ketinggalan busway. Begitu sampai di halte, Ale tampak sedikit gugup sambil menunggu bus yang datang. Lima menit berlalu, akhirnya bus yang tunggu datang dan Ale segera masuk kedalam. Hanya ada beberapa penumpang dan jujur, Ale sedikit takut karena ini pertama kalinya dia naik kendaraan umum, sendirian pula.

__ADS_1


Ale turun disalah satu halte yang dekat dengan arah rumahnya. Sudah mulai petang, gadis itu mengecek ponselnya. Sayang, ponselnya mati.


"Nggak apa - apa, Al. Udah deket dari rumah juga. Loe hanya perlu berjalan beberapa meter lagi"


Belum juga melangkah, ia melihat beberapa anak sekolah yang sedang nongkrong. Perasaannya mulai tidak enak, namun Ale harus segera pergi agar lekas sampai dirumah. Meski memiliki sikap cuek dan dingin, namun jika harus melawan beberapa pria, jelas Ale tak akan bisa.


"Wih, ada cewek cakep nih!" seru salah satu dari mereka. Ale berusaha cuek, dia berjalan semakin cepat. Namun salah satu dari mereka justru menarik tangannya, "Buru - buru amat, Neng. Kenalan dulu napa"


"Jangan ganggu! Minggir"


"Wih, galak. Menarik nih" pemuda itu akan menyentuh pipi Ale namun


Bug


Satu tendangan berhasil Ale daratkan di perut pemuda itu


"Sialan. Bisa bela diri juga loe. Semakin menarik!"


Pemuda itu menatap temannya, seolah memberikan kode pada mereka untuk membantunya. Kini, Ale dikelilingi oleh para pemuda itu. "Sekarang kita lihat, apa loe bisa ngelawan kita - kita, hm?"


Bug


Bug


Bug


Tiga orang pemuda langsung tersungkur saat seseorang menendangnya dari belakang.


"Brengsek, siapa yang-" ucapanya terhenti saat melihat siapa yang menendangnya


Rama menyeringai, "Ga punya harga diri loe semua berani keroyokan ngelawan satu cewek aja!"


Mereka menatap Rama dengan takut, "Sorry. Kita awalnya cuma-"


"Pergi dari sini!" usir Rama cepat


Para pemuda itu langsung kabur mendengar ancaman Rama. Pria itu menatap Ale yang tampak ketakutan. "Meski punya beladiri, nggak seharusnya loe pulang sendirian! Gimana kalo mereka semua berhasil nyelakain loe!" bentak Rama


Ale menatap Rama, "Makasih udah nolongin gue!"


Deg


Mata itu membuat Rama terpesona. Tatapan Ale membuat hati Rama berdegup kencang.


Brensek, kenapa dengan jantung gue! Umpat Rama dalam hati


"Loe mau pulang bar-"

__ADS_1


"Papa!"


Deg


__ADS_2