
Pagi-pagi setelah membuat sarapan dan mandi, Alisa memutuskan duduk di depan televisi. Romote ia ambil di atas meja, mencari saluran televisi yang disukainya. Sekedar untuk membunuh waktu.
Sesekali ingatan Alisa terbayang akan kemarin siang, tatapan Yogas padanya.
Tatapan pria itu menyimpan sembilu mendalam pada hubungannya dengan Evan. Sesekali Alisa menarik napas panjang, membiarkan pikiran itu lekas pergi.
"Ting.. tong.."
Suara bel berbunyi, Alisa menoleh ke arah pintu. Mengira sepagi ini Evan pasti yang datang.
Sesaat Alisa menegang, berdiri di hadapannya Morena. Alisa tetap bersikap sopan, meski kemungkinan besar Morena mendatanginya untuk memintanya menjauhi Evan.
"Apa kedatangan saya mengganggumu, Alisa?"
Alisa terkejut, dari nada bicara Morena. Nampaknya ibunya Evan itu biasa-biasa saja, di luar perkiraan yang ia bayangkan.
"Alisa, kenapa diam aja?"
"Ah.." Alisa menundukkan kepalanya sejenak, benar Morena memang bersikap biasa saja dan sekarang malah mengulas senyum padanya. Membuatnya terus menerka-nerka, ada apa Morena mendatanginya sepagi ini. "Saya hanya sedikit terkejut, Tante." Alisa tersenyum tipis, cukup canggung berhadapan dengan Morena.
Sekali lagi Morena terus memandangi Alisa, memikirkan sebenarnya seperti apa Alisa ini. Pasti selain cantik, Alisa mempunyai daya tarik yang kuat dan spesial sampai-sampai Evan membukakan pintu penthousenya lebar-lebar.
"Nggak usah terkejut, Alisa. Saya datang ke sini bukan buat marahin kamu ko, lagian saya nggak gigit. Jadi, santai aja ya. Apa saya nggak disuruh masuk ni." Morena tersenyum tipis.
"Astaga, maaf saking terkejut karena kedatangan anda. Maaf, Tante. Silahkan masuk." Alisa membuka pintu lebar-lebar.
Morena melenggang masuk ke penthouse milik Evan, sesaat pandangan Morena mengedar memperhatikan setiap detail interior yang dipilih Evan. Sudah cukup lama Morena tidak menginjakkan kakinya di sana. Mengingat kepergian Evan yang cukup lama di luar negeri.
"Kedatangan saya ingin bicara sama kamu, tentang Evan. Saya ingin tau kenapa Evan sampai berhubungan dengan kamu, padahal kamu dan suamimu belum bercerai kan?"
***
__ADS_1
Tangan kekar berotot itu terlihat bergerak mengangkat barbel, selama beberapa kali sampai keringat mulai bercucuran di seluruh tubuh yang hanya mengenakan kaos singlet tersebut.
Sudah tiga puluh menit Evan menghabiskan waktunya di ruangan gym, kegiatan yang sering ia lalukan di akhir pekan.
Setelah dirasa cukup, ia berhenti mengistirahatkan tubuhnya di kursi kayu sambil menatap Adinda yang sedang berenang bersama Renata.
Tak lupa Evan memeriksa ponselnya, mengingat sedari bangun tidur benda pipih itu luput dari pemeriksaannya. Termasuk pesan chat yang ia kirimkan pada Alisa semalam hanya berubah warna centang biru, artinya pesannya hanya dibaca tanpa dibalas.
Beberapa kali Evan menghubunginya, tapi tetap tidak ada jawaban.
"Kemana dia?" gumam Evan.
Daripada mengira-ngira tak jelas, Evan membuka fitur rekaman di penthousenya yang dilengkapi dengan CCTV. Diceknya area depan pintu, selama beberapa menit hingga terlihatlah seorang wanita yang sangat Evan kenal sedang berdiri di depan pintu.
"Mami?" Evan mengerjap tak percaya, Morena mendatangi penthousenya. "Astaga, Mami. Jangan sampai Mami bikin ribut di sana."
Evan mempercepat rekaman, sampai di mana Morena dan Alisa duduk berhadapan.
Evan takut setelah Morena berbuat sesuatu pada Alisa, Alisa akan berubah padanya.
Tanpa menunggu, Evan memutuskan bergerak ke penthousenya. Masih dengan kaos singlet dan celana training joggernya ia melajukan mobilnya sekencang mungkin.
Evan tidak ingin menambah luka pada Alisa lagi, Evan ingin melindungi wanita itu dari serangan orang-orang yang ingin berbuat jahat.
Evan tak tahu apa jadinya jika ia sampai terlambat mencegah aksi Morena. Malah Evan sudah berencana akan tetap memilih Alisa jika Morena sampai menghalangi hubungan mereka.
Rasanya Evan sudah gila dan ingin cepat sampai, mencegah Morena untuk tidak berkata-kata yang dapat menyakiti Alisa.
Di penthouse, Alisa sedang membuatkan minuman untuk Morena. Hatinya yang tak tenang ikut menerka-nerka, selain ingin mengorek masalah rumah tangganya dengan Yogas, apalagi yang ingin ibunya Evan itu ketahui.
Sampai Alisa lupa tidak menambahkan gula pada teh untuk Morena, saking gugupnya karena pasti Morena termakan ucapan Ratna kemarin.
__ADS_1
"Kedatangan saya bukan untuk menghakimimu, Alisa. So calm down, okay?"
Senyuman itu sedikit mengikis ketakutan Alisa akan Morena yang akan memarahinya atau memberikannya teguran untuk menjauhi Evan.
"Jadi, kamu kapan akan mengurusi surat perceraian kamu?"
Mendadak Alisa membeku, "Jadi, Tante tidak termakan ucapan mertua saya kemarin?" tanya Alisa takut-takut.
Morena menutup mulutnya, kemudian tertawa.
"Saya rasa Evan tidak akan mungkin menceburkan dirinya pada lubang masalah. Benarkan, Alisa?"
"Maksud Tante?"
"Saya tidak mau Evan menjalin hubungan dengan wanita bersuami. Kamu paham kan Alisa?"
Alisa tahu pasti Morena tidak ingin Evan jadi perbincangan orang lain karena kabar perselingkuhannya. Tapi, entah kenapa, Alisa merasa Morena lebih baik daripada Ratna. Morena terlihat lebih sopan, pembawaannya lebih tenang. Bahkan baru berbincang sebentar saja sudah membuat Alisa nyaman.
Alisa tidak tahu harus berkata atau menjawab pertanyaan Morena seperti apa. Yang jelas, Morena tidak boleh tahu jika ia meminta pada Evan untuk balas dendam. Alisa tidak mau melibatkan banyak orang.
"Apapun jawabanmu, di sisi lain saya sangat bersyukur karena Evan mau menjalin hubungan lagi dengan wanita. Setelah bertahun-tahun menutup dirinya. Dan saya juga saya sudah tau mengenai hubungan Naura dengan suami kamu. Saya jujur tidak tau mengenai hal itu, saya meminta maaf mungkin kamu merasa saya juga sama karena mendukung hubungan mereka. Saya sebagai tantenya Naura hanya dimintai tolong untuk menggantikan orang tuanya yang tidak bisa pulang. Saya juga sangat prihatin karena Naura yang sudah di luar batas." Morena menundukkan kepalanya, merasakan pasti hati Alisa teramat sakit.
"Sebagai orang tua, saya juga minta sama kamu dan Evan untuk bisa menjaga diri. Hubungan dengan suami atau istri orang tidak dibenarkan di manapun. Jadi, segera urus perceraianmu. Maka saya tidak akan melarang kalian berhubungan." Morena menatap mata teduh itu, berharap Alisa dapat mengerti dan tidak tersinggung dengan perkataannya.
Evan berlari sekencang mungkin begitu selesai memarkirkan mobilnya. Ia sudah tidak sabar ingin menghentikan Morena. Pasti saat ini Alisa sedang menangis karena ucapan Morena.
Begitu keluar dari lift dan melihat pintu masuk penthousenya terbuka lebar, Evan segera mempercepat langkahnya.
Sesaat Evan memaku begitu melihat Alisa dan Morena duduk berhadapan. Sesekali Alisa terlihat tersenyum manis pada Morena, begitupun juga Morena tersenyum lepas pada Alisa. Seolah pada keduanya tidak ada masalah yang terjadi.
***
__ADS_1
Barunup niiih... ayo like dan komen nya.. ya