
Hari sudah gelap saat Evan kembali ke rumah bersama Morena. Tak terasa sudah seharian mereka berdua menghabiskan waktu bersama dengan Alisa.
Cukuplah sampai membuat Evan bahagia karena apa yang ditakutkannya perlahan memudar, Morena bisa menerima Alisa dengan syarat yang tentunya sudah Morena ajukan.
Evan dan Morena memaku melihat Titik yang sedang menikmati makan malam bersama suami, anak dan cucunya. Tatapan Titik yang penuh tanya, seketika segera Morena jawab tanpa harus mertuanya itu tanyakan.
"Kami baru saja pergi bersama, kami tidak tau kalau ada Eyang di sini." Morena sedikit canggung, menyapa Titik dengan menyalaminya. Begitupun Evan mengikuti apa yang Morena lakukan.
"Kalian berdua?" tanya Titik heran.
"Iya, Eyang. Tumben Eyang mendadak datang, apa ada pertemuan keluarga?" Evan mengambil tempat di sebelah Titik. Bersikap biasa saja tanpa rasa intimidasi yang diberikan Titik.
"Eyang akan tinggal beberapa minggu di sini, Evan."
Evan melirik Reyhan, ayahnya. Begitupun Morena juga ikut melirik suaminya. Mereka berdua heran, karena biasanya Titik akan menginap paling lama dua atau tiga hari saja.
"Kalian tidak senang Eyang menginap di sini?" tanya Titik khususnya pada Evan.
Kepala Evan menggeleng, diikuti bibirnya yang mengulas senyum. Menandakan dirinya sama sekali tidak keberatan.
Mustahil Evan mengatakan keberatan pada Titik.
Pada eranya Titik seorang keluarga ningrat yang menikah dengan Iskandar. Kakek buyut Evan, menambah daftar panjang para keluarga bangsawan negera ini. Jadi, tidak heran jika titik sampai sekarang dihormati sebagai sesepuh keluarga.
Renata ikut berdebar-debar menunggu berita yang akan disampaikan Titik, mengenai perjodohan untuk Evan. Ia sangat yakin Evan akan menolak dengan keras.
Titik yang selalu memaksa dan Evan yang tidak mau mengalah, menyebabkan keduanya selalu bertolak belakang.
"Evan." Titik lebih dulu bersuara.
Evan melirik sang nenek, menunggu apa lagi yang akan neneknya tersebut sampaikan.
__ADS_1
"Sebagai penerus keluarga, alangkah baiknya kamu tidak lama sendiri." Titik menjeda.
Ditunggunya reaksi Evan yang hanya menautkan kedua alisnya.
"Eyang akan memperkenalkan kamu sama cucu dari sahabat Eyang."
"Tapi,-"
Sang nenek memberi isyarat agar Evan tak menjeda dan membiarkannya melanjutkan perkataannya sampai selesai.
"Kamu harus memulai rumah tangga lagi, tentunya harus lebih hati-hati memilih pasangan. Eyang tidak mau kamu sampai salah lagi seperti dulu, makanya kali ini Eyang yang akan pilihkan. Cukup kamu datang ke restoran yang akan jadi tempat kalian bertemu. Eyang sudah putuskan."
Evan menelan ludahnya susah payah, seperti itukah yang dimau neneknya. Sulit Evan terima.
"Om Evan kan udah punya pacar Eyang Uti." Celoteh Adinda hampir saja membuat Renata tersedak.
Seingat Adinda waktu bertemu dengan Evan dan Alisa di restoran.
"Kali ini habislah Evan, Mi," bisik Renata yang duduk di samping Morena.
"Eem bukan pacar, Ibu. Tapi, teman dekat. Mereka bersahabat cukup dekat, sampai-sampai Alisa tau kandidat seperti apa pasangan yang cocok untuk Evan." Tak ada jalan lain untuk Morena selain berbohong, karena lambat laun Morena akan tahu hubungan Evan dan Alisa. Sedangkan Titik tidak boleh tahu Evan menjalin hubungan dengan istri yang masih bersuami.
Titik sangat menjunjung tinggi moral dan nilai yang harus dijunjung keluarga Iskandar. Sampai ada yang salah melakukan kesalahan, Titik tidak akan segan memberikan hukuman.
"Benar itu Evan?"
Morena memberikan Evan isyarat, supaya Evan mengiyakan saja dan membuat Titik berhenti bertanya.
Usai makan malam bersama, Evan mendatangi Morena. Dari ekspresi Evan, Morena tahu putranya itu menyimpan kesal mungkin karena pernyataannya yang tadi.
"Kamu mau marah sama Mami karena ucapan Mami tadi sama eyang kamu?" Morena mendesah pelan.
__ADS_1
"Mami tidak harus mengatakan kalau Alisa dan aku hanya berteman dekat. Konteksnya akan berbeda, Mi?" Evan berdecak kesal tak segera mengalihkan pandangannya dari Morena.
"Demi status Alisa. Kamu mau eyangmu tau kalau kamu jadi selingkuhan istri orang?" bisik Morena berhati-hati, jangan sampai ada orang tahu perihal hubungan Evan.
Lambat laun terdengar suara dari lantai bawah dengan tawa hangat dan obrolan santai. Evan melebarkan telinga coba menangkap suara siapa gerangan di sana. Tanpa berkata-kata lagi, Evan lantas keluar dari kamar Morena untuk melihat siapa orang-orang yang bertamu di malam ini.
Mata Evan coba menangkap dua sosok manusia yang tidak dikenalnya. Seorang wanita paruh baya dan pria yang juga seumuran dengan ayahnya tersebut. Keduanya tidak Evan kenali, selain sang nenek yang menyambut dengan hangat.
Dari lantai atas Evan terus menerka-nerka, sebenarnya apa yang sedang Titik rencanakan dengan mengundang kedua orang itu.
Beberapa menit kemudian, Evan sudah duduk menemani Titik berhadapan dengan dua orang tadi setelah Titik memerintahkannya untuk turun.
"Evan, ini Pak Haryanto dan istrinya Bu Erna. Beliau ini adalah orang tua dari Faradita, wanita yang akan dikenalkan sama kamu."
Evan mengalihkan pandangannya pada kedua orang itu, kini ia mengerti kenapa ada dua orang tak dikenal hinggap di rumahnya. Tak lain untuk merencanakan pertemuannya dengan kandidat yang akan neneknya pilihkan.
Jujur, jika bukan karena menghargai sang nenek. Evan enggan duduk bersama hanya demi membahas masalah calon pasangan. Jika ia bisa dan mengenyahkan norma kesopanan, ia akan menolak tanpa harus menunggu aksi neneknya lebih banyak lagi.
Evan akui berat jika berhadapan dengan Titik, karena Titik adalah orang tua. Pikirannya mendadak melayang pada Alisa, andaikan waktu berputar ke belakang, ia inginnya mengulang memilih Alisa jadi pasangannya. Mungkin tidak harus melewati kandasnya hubungan.
"Kabarnya Nak Evan ini adalah CEO dari Merlion ya? Kalau benar betapa hebatnya, darah pak Reyhan mengalir deras dalam diri Evan." Haryanto tiada henti berdecak kagum, sambil memandangi Evan. Berharap Evan bisa menyambut hangat perkenalannya malam ini.
"Benar Om, saya CEO di Merlion. Tanpa papi saya, saya juga bukan apa-apa di sana." Evan sadar diri, hampir empat tahun lebih mewakilkan Merlion ke tangan orang-orang kepercayaannya dan hanya memantaunya dari jauh.
"Sangat merendah sekali Nak Evan ini. Ngomong-ngomong selain karier bagus, hidup mapan, apa lagi yang Nak Evan ini tunggu. Masalah rumah tangga yang kandas hanyalah masalah biasa yang lumrah terjadi. Jangan sampai membuat Nak Evan ini jadi trauma atau malah menyendiri terlalu lama. Bagaimana kalau Nak Evan berkenalan dengan anak kami, Faradita. Dia juga masih sendiri, lulusan bisnis luar negeri juga loh."
Mendengar ucapan Erna yang terang-terangan semakin membuat Evan mengerti, bak penjual yang sedang menjajakan dagangannya. Tak lain kata-kata Erna untuk menggiringnya menuju gerbang perkenalannya dengan soson Faradita yang sama sekali tidak dikenalnya.
***
Maaf, aku baru up...
__ADS_1