SELINGKUH BALAS SELINGKUH

SELINGKUH BALAS SELINGKUH
Kamu Adalah Milikku


__ADS_3

Evan sudah tak enak hati berada di posisinya sekarang. Ia memutuskan untuk keluar dari mobil dan menyerahkan kunci mobilnya ke petugas valet yang ada di sana.


"Selamat malam, Pak. Apa anda sudah memesan tempat?" tanya seorang pramusaji yang menahan Evan di pintu masuk.


"Belum, saya belum memesannya."


"Kalau begitu mari saya tunjukkan tempat untuk anda. Kalau boleh tahu untuk sendiri apa dengan orang lain?"


Evan sudah gusar, ia mengambil dompetnya di belakang saku kemudian mengambil dua lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada pramusaji itu.


"Bawa saya di mana tempatnya Mahes, saya ingin ke tempatnya." Evan mengedarkan pandangannya mencari seisi tempat itu yang dilihatnya tidak ada Mahes dan Alisa.


"Tapi, Pak." Pramusaji itu mengikuti langkah Evan dan mau tak mau daripada Evan membuat keributan dan membuat pengunjung lain tak nyaman, akhirnya pramusaji itu menunjukkan tempat dengan reservasi atas nama Mahes.


"Ini, Pak tempatnya." Sebuah room private di mana Mahes dan Alisa berada.


Evan memandang tempat yang tinggi itu lamat-lamat, "Okay, tinggalkan saya." Pramusaji itu mengangguk patuh dan segera angkat kaki dari sana.


Tangan Evan ingin mengetuk pintu itu, namun urung dilakukan dan memutuskan untuk membuka pintunya tanpa permisi.


Dua orang yang duduk berhadapan di dalam menatap tak percaya siapa yang datang. Terutama Mahes yang tersenyum smirk.


"Rupanya anda datang Pak Evan." Mau tak mau Mahes harus menyambut kedatangan Evan yang tak diundang, ia berdiri seraya mempersilakan Evan untuk duduk bersama.


"Maaf, Pak Mahes. Kedatangan saya ke sini untuk menjemput pacar saya." Evan melirik Alisa yang membatu di tempat. "Sayang, kenapa kamu tidak menjawab telponku?" Evan bergerak meraih tangan Alisa dan menariknya keluar dari ruangan.


Alisa tak bisa membantah, ia menyambar tasnya dan mengikuti Evan.


"****! Sial dan sial, kenapa dia datang di saat aku sudah berhasil dengan rencana ini!" maki Mahes berulang-ulang.


*


Evan menarik Alisa sampai ke halaman depan restoran, hujan masih saja turun dengan setia.


"Jelaskan sama aku kenapa kamu bisa pergi berduaan sama Mahes?" cecar Evan penasaran.

__ADS_1


"Aku hanya mengikuti ajakan pak Mahes. Hanya makan malam aja apa ada yang salah. Lagipula beliau itu adalah atasanku juga, Mas."


Evan menggeleng tak percaya, "Aku nggak suka liat kamu berduaan sama dia!"


"Kenapa Mas? Toh hanya makan malam biasa," bantah Alisa.


"Kenapa? Dia itu punya sesuatu terselubung sama kamu, Alisa."


"Mas ini berlebihan. Aku mau masuk lagi ya?"


"Nggak! Kamu harus pergi dari sini. Kita akan pergi sama-sama. Biar mobil kamu besok ada yang ngambil." Evan menggenggam tangan Alisa.


Petugas Valet datang membawa mobil Evan dan memarkirkannya tepat di depan halaman restoran.


"Mas, jangan gini dong. Nggak enak diliat orang lain." Alisa coba menepisnya, sayang Evan terlalu kuat menggenggam tangannya.


"Kamu lebih mentingin perasaan orang lain daripada perasaan aku sendiri, Alisa?" Evan menatapnya tajam, saat itu membuat Alisa tak berani membantahnya lagi.


Alisa patuh dan masuk ke mobil tanpa bertanya atau melawan. Ia duduk di samping kemudi di mana Evan duduk.


Mobil Evan bergerak maju memecah hujan Ibu Kota yang semakin deras.


"Maaf," kata Evan.


Alisa menoleh ke sampingnya, disambut Evan yang juga menatapnya.


"Maaf, buat?"


"Aku kaya maksa kamu, Alisa. Karena aku nggak suka liat kamu sama pria lain. Aku cemburu," aku Evan.


Jujur Alisa membatu, tercekat dan tak bisa bicara. Walaupun ia tahu perasaan Evan padanya. Tapi, malam ini ia merasa Evan sangat berbeda. Perasaan Evan lebih dari apa yang diucapkannya kemarin-kemarin.


"Mas, bukannya kamu harus nikahin perempuan lain? Kamu nggak bisa bikin aku baper kaya gini loh." Coba dinetralkannya perasaannya yang membumbung tinggi. Siapa yang tak terbawa perasaan sama orang yang disukai dan menyatakan bahwa dirinya sedang cemburu.


"Hei, apa aku terlihat sedang membuatmu baper? Its real, Alisa. Aku memang cemburu kalau kamu sama pria lain. Lagian aku sudah putuskan sama nenek, aku nggak akan nikahin Faradita. Aku maunya nikahin kamu." Evan terang-terangan mengakui perasaannya, ia tidak ingin keduluan dengan pria lain dalam mendapatkan Alisa.

__ADS_1


"Mas, plis.. jangan seperti ini. Aku kaya kesulitan napas kalau kamu terus seperti ini." Alisa membetulkan duduknya lurus memandang jalanan di depan.


Bukannya berhenti, Evan malah menghentikan mobilnya di lajur bahu kanan jalan. Lamat-lamat ia menatap Alisa dalam pencahaan terbatas.


Evan memiringkan tubuhnya dan tubuhnya condong pada Alisa.


"Aku nggak pernah main-main dengan perasaan aku, Alisa. Aku bukan sedang merayumu, memberikanmu harapan palsu atau sebagainya. Aku hanya sedang menikmati perasaanku saja, perasaan yang aku rasakan sama kamu sebagai pemiliknya di sini." Tunjuknya tepat di dadanya sendiri.


"Tapi, Mas. Akan ada yang coba menentang hubungan ini dan aku nggak mau terulang yang kedua kalinya. Aku ingin hubungan ini berjalan semestinya, normal tanpa ada yang menentang. Aku lelah dengan masalah rumah tanggaku dulu." Alisa tertunduk, jujur dengan perasaannya.


"Kamu mau aku gimana? Aku siap melakukan apapun untukmu." Diraihnya tangan Alisa yang terasa dingin. "Kamu mau hidup sama aku? Kita akan hidup bersama tanpa embel-embel keluargaku dan kita akan memulainya dari nol lagi, kamu mau?"


Alisa menggeleng dan menolak, "Aku nggak mau jadi alasan kamu menentang keluargamu sendiri, Mas. Aku tidak mau."


"Lalu? Kamu maunya apa?"


"Aku bingung," jawabnya jujur.


"Baiklah, kalau begitu aku yang akan memutuskan. Kita akan berhubungan tanpa ada yang tau, sampai kamu siap. Apalah hubungan pura-pura kita kemarin hanya segelintir orang yang tau. Aku tidak mau keduluan orang lain dan kehilangan kamu."


"Tapi, Mas. Ini resikonya berat, aku nggak mau kamu terkena imbas karena maksa hubungan sama aku."


"Trust me, Alisa. Semuanya akan baik-baik saja, sampai hubungan kita diketahui orang lain. Terutama keluargaku. Aku pastikan kamu aman dan tidak akan ada yang berani menyakiti kamu."


Alisa mendesah, memejamkan matanya rapat-rapat. Percuma dirinya menolak karena Evan selalu punya cara membuatnya luluh dan tak membantah.


"Kamu percaya bahwa dari kepura-puraan akan lahir sebuah cinta sungguhan? Itulah yang aku rasakan, Alisa." Evan meraih tengkuk Alisa, mencium bibirnya bahkan ********** penuh gairah.


Mendapatkan ciuman mendadak, membuat Alisa membatu. Ia terbelalak dan hanya menerima bibir Evan yang ******* bibirnya tanpa henti.


Evan menarik diri, menyapu bibir bawah Alisa yang basah karena ulahnya.


"Mulai sekarang, kamu adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan siapapun mendekati kamu."


***

__ADS_1


Hollaa.. aku balik lagi..


up suka-suka hihihi..


__ADS_2