SELINGKUH BALAS SELINGKUH

SELINGKUH BALAS SELINGKUH
Pernikahan Ditunda Saja


__ADS_3

Alisa memasuki penthouse dengan hati yang hancur. Tak dapat ia pungkiri bahwa pertemuannya dengan Yogas memberikan dampak hebat pada dirinya. Pernikahan yang kandas karena orang ketiga dan menghadapi pernikahan baru suaminya. Sesak rasanya, tetap ia tak dapat membohongi relung hati terdalamnya.


Tegarnya ia di depan Yogas, menunjukkan sikap angkuh dan menindas. Berbanding terbalik dengan keadaan dirinya yang mendadak lemah tak berdaya.


Sikapnya pada Evan tadi karena ia tidak mau membuat Evan tahu tentang perasaannya sekarang. Evan sudah banyak menolongnya dan memberikannya kasih sayang.


"Astaga, kenapa aku jadi lemah seperti ini. Aku tidak boleh jadi wanita bodoh. Aku harus kuat, aku harus memperlihatkan kalau aku bahagia dengan duniaku sekarang." Alisa mengusap air matanya yang terus bercucuran, akan ada fase seorang wanita merasa berada di paling bawah dari kesakitannya.


"Balas dendam terbaik adalah tersenyum bahagia, bukan menangis tersakiti." Alisa tersenyum nanar, mengusap air matanya sampai tak berbekas lagi.


Dari balik pintu penthouse, ada Evan yang berdiri memaku. Tangannya kembali ia tarik, tidak jadi memencet bel. Memberikan ruang dan waktu untuk Alisa menyendiri. Melepaskan lelahnya sampai wanita itu merasa baik.


"Aku akan membiarkanmu sendiri dulu, Alisa."


***


"Mam, yakin mau bahas ini sekarang di saat pernikahan mereka akan digelar besok?" Renata tak berhenti bertanya ketika mobil sudah memasuki area perumahan rumahnya Yogas.


"Kalau nggak sekarang kapan lagi, Re? Jelas-jelas Naura hamil, apa nggak seharusnya nunggu sampai melahirkan? Mami nggak mau buat kesalahan, lagian kenapa juga orang tuanya Naura belum datang sampai hari ini. Orang tua macam apa mereka." Morena berapi-api menjelaskannya pada Renata.


"Hmm, by the way.. Evan juga salah ko Mi. Dia selingkuh sama istri orang," ucap Renata kemudian langsung menutup mulutnya begitu mendapatkan tatapan tajam sang ibu.


Morena dan Renata turun dari mobil mewah mereka. Yogas dan Ratna yang sedang duduk di bersantai di kursi teras, bergegas menyambut kedatangan mereka. Mempersilahkan mereka masuk.


Ratna mengeluarkan semua makanan yang ia punya, menyuguhkannya di meja demi menghormati Morena.


"Tidak perlu repot-repot Bu Ratna, kedatangan saya ke sini untuk membicarakan Naura."


Yogas dan Ratna saling bersitatap, ada perasaan tak enak karena nampaknya Morena sangat serius.


"Naura memangnya kenapa ya?" tanya Yogas.


"Begini, saya sebagai tantenya Naura. Ingin menanyakan apakah Naura memang sedang hamil?"


Yogas dan Ratna kembali bersitatap, keduanya salah tingkah harus bagaimana menjawabnya.

__ADS_1


"Maksud saya begini. Jika Naura memang hamil, alangkah baiknya bila pernikahan ditunda saja. Apa sebaiknya pernikahan ditunda saja sampai Naura melahirkan. Saya tidak mau ada kesalahan nanti karena Naura adalah keponakan saya."


"Bu Morena, Naura memang hamil. Kami memutuskan menikahkan mereka demi menjaga nama baik keluarga, keluarga saya dan keluarga anda juga. Mumpung perutnya masih rata, makanya kami mempercepat pernikahan ini." Ratna cepat-cepat menyanggah, terlebih Yogas sudah mengeluarkan uang banyak demi persiapan pernikahan. Ia juga ingin segera menikmati harta Naura yang banyak, dan bisnisnya di mana-mana.


"Mi, kalau eyang tahu Naura Hamil gimana jadinya?" bisik Renata.


Morena sempat tertegun.


"Apa statusmu dengan Alisa sudah jelas? Maksudnya apa kalian sudah bercerai?"


"Mereka sudah ber,-"


"Saya tau mereka belum bercerai, Bu. Jadi, saya tidak mau mengadakan pernikahan kalau ada seseorang yang tersakiti." Morena menyela perkataan Ratna.


'Ini juga demi Evan, aku tidak mau Evan menjalin hubungan dengan wanita beristri.'


Ratna terdiam, kebohongannya berhasil terendus Morena. Bak kehilangan muka di depan calon besan, betapa malunya.


"Saya sudah menandatangani surat perceraian kemarin, agar prosesnya lebih cepat," timpal Yogas. Terpaksa, ia melakukan itu. Melepaskan Alisa, meski berat ia tidak punya pilihan lain lagi.


"Begitu ya.. baguslah. Saya harap kamu gentle man. Karena mempoligami wanita itu akan menyakitkan salah satu pihak, jangan egois. Pikirkan perasaan orang lain."


Ratna terus mengibaskan tangannya karena gerah, dinginnya AC tak berpengaruh sedikitpun karena suasana hatinya yang terbakar amarah.


Di dalam mobil, Morena pun juga sama. Ia mengatai keluarga Ratna.


"Keluarga aneh, Mami heran kenapa Alisa bisa cinta dan mau nikah sama si Yogas itu. Jauh banget sama Evan, lagian tuh mertuanya Alisa kaya gimana gitu ya.. heran Mami." Bibirnya mengerucut karena kesal.


"Ya kebanyakan mertua kaya gimana sih, Mi. Kaya Mami sama eyang gimana?" sahut Renata.


Morena jadi kepikiran Titik, jika sampai Titik tahu Naura hamil duluan. Maka habislah riwayat Naura.


"Pernikahannya memang megah, tapi ada yang aneh nantinya. Mereka nggak nunjukkin buku nikah ke publik, karena Yogas belum resmi bercerai. Kan aneh, Mi."


"Kamu mikirin sampai sedalam itu, Re?" Morena tertawa kecil.

__ADS_1


"Ya aneh aja, Mi. Biasanya kan foto sambil nunjukkin buku nikah, udah sah remi gitu."


"Udahlah, jangan dipikirin. Pernikahan mereka memang aneh, mau nikah siri aja sampai megah gitu pestanya."


***


"Bisa secepat ini ya?" Evan memegang surat gugatan yang sudah Yogas tandatangani, sedikit lega karena perceraian antara Alisa dan Yogas akan bisa diproses lebih cepat.


"Mungkin pak Yogas berubah pikiran, Pak. Awalnya pak Yogas menolak saat pengadilan mengirimkan surat ini. Tapi, beliau menghubungi saya untuk mengirimkan ini ke pengadilan."


"Saya sangat berterima kasih sekali karena anda mau kerja sama dengan saya, tolong urus saja tanpa Alisa harus hadir di pengadilan." Evan menjabat tangan pengacaranya Yogas, dengan memanfaatkan pengacaranya Yogas akan memudahkan prosesnya tambah cepat.


"Sama-sama Pak Evan, saya akan berkoordinasi dengan pengacara anda."


Evan tersenyum puas, tinggal beberapa langkah lagi sampai palu hakim diketuk.


"Evan."


Evan menoleh namanya ada yang menyebut.


Faradita, wanita itu yang memanggilnya. Wanita itu tersenyum ramah pada Evan seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka pasca pertemuan mereka kemarin.


"Kamu?" Evan heran.


"Iya, ini aku. Aku sengaja datang ke sini karena kata eyang kamu, kamu sedang ada di sini. Oh ya Van, masalah kemarin aku nggak masalah ko. Aku maklum sikap kamu yang bilang kamu udah punya pacar. Eyang kamu udah jelasin semuanya sama aku, katanya itu cuma akal-akalan kamu aja demi bikin aku mundur."


Evan mengerjap tak percaya Faradita bisa mengatakan itu.


"Eyang bilang gitu?"


"Iya, eyang kamu. Eyang Titik. Jadi, aku nerima perjodohan ini, aku mau kita lanjut ke arah yang lebih serius. Aku mau nikah sama kamu, Evan."


"Maaf, Pak. Anda ada pertemuan penting dengan klien sekarang juga," ujar Hendra sedikir keras agar bisa didengar Faradita.


Mencium tanda bahaya di sekitar Evan, Hendra segera menyelamatkan Evan dari serangan dadakkan Faradita.

__ADS_1


***


Baru up lagi, jangan komen yang aneh-aneh ya...


__ADS_2