
Persiapan pernikahan Yogas dan Naura sudah hampir sembilan puluh persen. Tinggal menghitung hari menuju dua hari lagi, meski pernikahannya hanya siri dan masih menunggu gugatan cerai yang sudah Alisa layangkan pada Yogas.
Naura sudah tidak bisa lama menunggu, takut perutnya akan terlihat semakin membuncit.
"Tok.. tok.. tok..." Suara pintu rumah diketuk keras-keras.
Naura terkesiap kaget, pagi sekali sudah ada tamu yang berkunjung ke rumahnya.
"Siapa?" tanyanya begitu membuka pintu, tak berapa lama rona wajahnya berubah ketakutan melihat dua orang pria bertubuh kekar memandangnya dengan seringaian. "Kalian?"
"Ya, kami. Kami diperintahkan bos kami untuk menagih uang. Mana bayarannya? Ini sudah jatuh tempo." Salah satunya menengadahkan tangan pada Naura.
"A-aku belum punya uangnya. Aku janji nanti akan membayarnya setelah acara pernikahanku. Tinggal dua hari lagi, setelah itu akan datang. Jadi, jangan datang ke sini." Tak disangka-sangka anak buah seorang rentenir yang meminjamkan uang padanya sampai datang menagih, padahal uang simpanannya sudah habis tak bersisa.
"Awas jika kamu bohong lagi apalagi kabur!" katanya memperingatkan.
Naura benar-benar ketakutan walau kedua orang tadi sudah pergi.
"Aku harus dapat uang secepatnya, tapi darimana aku dapat seratus juta. Aku tidak mau mereka datang di acara pernikahanku." Naura sangat cemas, keringat dingin mulai bercucuran. Ia benar-benar tidak bisa berpikir, baru kemarin ia dikasih uang dari Yogas dan tidak enak jika harus memintanya lagi. Bisa-bisa Yogas akan penasaran padanya.
***
"Bapak mau ngajakkin saya ke mana memangnya?" Mobil Evan berhenti di restoran hotel bintang lima yang telah diatur Titik sebelumnya.
"Ngajakkin kamu kenalan sama wanita yang eyang mau kenalin. Aku mau dia mundur perlahan, aku mau dia tahu kalau aku sudah punya pilihan sendiri." Evan berdiam diri sebentar, sebelum akhirnya mereka berdua keluar dari mobil.
Evan terus menggamit tangan Alisa, tidak ingin barang sejenakpun melepaskannya. Sesekali Alisa melirik pria jangkung di sebelahnya itu dengan seksama dan untuk beberapa detik tidak membuang pandangannya.
Pagi sekali Evan sudah datang ke penthouse, meminta Alisa membantunya. Hanya untuk menemaninya duduk di sebuah restoran tanpa harus banyak bicara. Cukup hanya sebagai pendampingnya saja.
__ADS_1
Alisa ikut berdebar karena secara tidak langsung ia bertemu dengan wanita yang dipilih keluarganya Evan. Sedikit membuat hatinya tercubit sakit, bercampur penasaran seperti apa wanita yang katanya sudah menunggu Evan di dalam itu.
"Jangan panggil aku 'Bapak'. Panggil aja layaknya pasangan lain, okay?" Evan tersenyum tipis diikuti kedipan matanya yang membuat pipi Alisa merona.
"Iya, Bae." Hanya mengeluarkan kata-kata itu, serasa jantungnya meloncat keluar. Evan sudah berhasil membuatnya kembali ke masa-masa muda penuh gairah dan cinta, masa pubertas di masa-masa itu.
Faradita, wanita yang akan dikenalkan pada Evan melihat kedatangan Evan dan Alisa yang tak pernah melepaskan tangan. Alis Faradita menaut heran, bukankah pria yang akan dikenalkan padanya itu seorang duda single. Lalu kenapa datang-datang membawa pasangan.
Faradita, pilihan Titik. Katanya selain cantik, bisnis woman, terlahir dari keluarga terpandang dan pintar memasak itu hampir saja dengan kebayakan wanita di luaran sana menurut pandangan Evan. Hanya melihat sekilas sudah bisa membuat Evan menarik kesimpulan dari Faradita, sama-sama hanya melihat pria dari sisi kemapanannya.
"Kamu Evan kan?" tanya Faradita terheran-heran. Siapa lagi kalau bukan pria yang dikenalkannya dan duduk satu meja dengannya sekarang.
"Benar. Pasti kamu Faradita?"
Alisa yang merasa jadi orang ketiga, mendadak canggung dan serba salah. Harusnya ia memberikan ruang privacy pada Evan dan wanita itu untuk berbicara berdua.
"Benar, aku Faradita. Kata eyangmu,-"
Faradita menganga tak percaya, seperti itukah mulut seorang Evan yang katanya sangat baik dan sopan malah terkesan blak-blakan menolaknya.
Apa ada yang salah dengan pembicaraan orang tuanya. Apa mereka tidak salah mengenalkan duda hight quality yang ternyata semenyebalkan itu.
Faradita menarik napas sebelum dirinya berniat untuk meninggalkan Evan. Hanya wanita bodoh mungkin yang mau bertahan dengan pria yang jelas-jelas tidak menginginkannya. Apalagi pria itu membawa serta pawang, untuk apalagi jika bukan untuk mengusirnya.
"Van, maaf ya. Temenku pada ngajakkin aku ketemuan, aku udah sanggupin buat ketemu. Lain kali kita bertemu lagi, okay?" Sebelum Evan menjawab, Faradita sudah lebih dulu berdiri dari tempatnya dan secepat kilat kabur meninggalkan restoran tersebut.
Evan sudah yakin, hanya dengan usaha yang tidak terlalu tinggi ia bisa mengenyahkan wanita pilihan Titik. Hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Titik tidak mencampuri urusannya lagi.
Selepas Faradita pergi, Evan tertawa lebar menertawakan wajah Faradita yang pucat masai. Bak mayat hidup. Sesekali membuat orang lain mengerti bahwa apa yang diinginkan tidak selamanya didapatkan dengan mudah.
__ADS_1
Evan memandangi Alisa yang duduk dengan elegan. Pakaian yang dikenakannya juga terlihat anggun dan menawan, sangat berkelas. Apa saja yang dikenakannya terlihat serasi tanpa ada yang kurang.
"Maaf ya karena aku secara langsung udah manfaatin kamu," ucap Evan tak berhenti-berhenti berdecak kagum dalam hati.
"Apa saya buka jasa sewa pinjam pasangan aja ya, Pak?" Alisa tertawa lebar-lebar, mengingat film drama yang sering ditontonnya.
"Lis, jangan panggil aku 'Pak'. Kamu udah lupa?" tanya Evan setengah kesal.
"Nggak sih, cuma agak canggung aja. Anda itu atasan saya, mana bisa saya panggil yang lain."
"Kamu lupa hubungan kita? Aku bukan sekedar atasanmu, hubungan kita udah lebih dari ini."
Alisa mengerjap begitu Evan semakin mendekatkan wajahnya, sejurus kemudian Alisa mendorong dada Evan agar menjauh. Demi menghindar dari tatapan pelayan restoran pada keduanya.
"Malu, mereka lihat ke arah sini." Alisa berbisik, menjaga jarak.
"Mereka lihat ke sini karena kita tidak memesan makanan, coba kamu pilih. Kita makan dulu di sini," ujar Evan tersenyum geli.
Alisa ikut tersenyum, menyadari tingkah Evan yang terang-terangan di tempat umum.
"Setelah ini aku ajak kamu ke hotel ya. Aku mau kamu menemaniku."
Kening Alisa mengernyit dalam, mendengar kata hotel membuatnya membayangkan kegiatan apa yang akan mereka lakukan di sana.
"Astaga." Tanpa sadar Alisa menepuk keningnya sendiri, sudah terlalu jauh sampai membayangkan ke arah sana.
"Kamu membayangkan apa?" Evan menyelidik tajam, kemudian menyeringai menggoda Alisa.
***
__ADS_1
Tadinya aku gak up.. lagi baper.
***