SELINGKUH BALAS SELINGKUH

SELINGKUH BALAS SELINGKUH
Terbakar Api Cemburu


__ADS_3

Evan menatap layar ponselnya yang berubah gelap. Gusar ia sendiri dan tak lama ia sudah terhubung dengan Titik Iskandar, "Aku ingin bicara sama Nenek kalau aku tidak mau dijodohkan dengan Faradita. Aku memilih perempuan yang aku sukai dan aku tidak ingin hidupku diatur oleh Nenek lagi!"


Dari ujung telepon sana, terdengar Titik yang sedang tertawa. Tentu saja menertawakan Evan, "Kamu bikin Nenek tambah pengen segera menikahkanmu dengan Faradita. Jangan coba membantah Nenek!" ancamnya kini terdengar serius.


"Dan Nenek harus tahu, jangan coba menekanku dengan segala ambisi Nenek. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa Nenek perlakukan semau Nenek!" Diakhirinya sambungan telepon tersebut, kali ini Evan tidak akan tinggal diam. Ia sudah memikirkannya matang-matang, kalau perlu ia akan angkat kaki dari Merlion.


Setelah setengah jam lalu pembicaraannya dengan Alisa harus diakhiri karena Alisa yang kembali lebih dulu dengan menaiki taksi online, cukup membuatnya berada dititik tak nyaman.


Beberapa kali Evan menyugar rambutnya ke belakang, mencoba hal apa lagi yang bisa meyakinkan Alisa jika ia sangat serius dengan permintaannya.


"Kamu benar-benar sedang mengujiku, Alisa," gumam Evan, kemudian ia menyalakan mesin mobil dan pergi dari area itu.


Alisa yang sudah berada di ruangannya kembali coba mencerna kata-kata Evan yang jelas-jelas meminta dirinya. Bukannya meragukan hanya saja hubungannya dengan Evan tidak akan berjalan lancar jika ada salah satu pihak yang tak menginginkannya. Sebenarnya ia sudah lelah dengan semua kontradiksi yang pernah ia lalui bersama Yogas dulu. Sangat tak nyaman sekali rasanya bila salah satu anggota keluarga tidak menyukai bahkan menginginkan perpisahannya, apalagi masalah itu timbul dari mertuanya sendiri.


Lama ia tercenung memikirkan masa lalu, perlahan memorinya kembali pada masa-masa pernikahannya bersama Yogas. Ia mendesah pelan, melirik waktu di arlojinya. Sepulangnya dari kantor, ia sudah berencana akan menempati rumah kontrakan minimalis yang sudah disewanya kemarin. Tinggal ditempati saja dan membawa barang-barangnya ke sana. Alih-alih memilih apartemen untuk ditempati, ia lebih memilih rumah biasa.


"Dengan cara apa aku menjauhinya ya?" Alisa memejamkan matanya guna memikirkan cara ampuh membuat Evan menjuah perlahan namun pasti.


"Tok.. tok.. tok.." Suara ketukan pintu membuatnya terhenyak. Ia mendongak, menatap pintu lebar di ruangannya itu. "Bu, ada Pak Mahes ingin bertemu," kata Veny yang memberitahukannya.


"Pak Mahes?" Alisa menaikkan alisnya. "Pak Maheswara?" tanyanya memastikan, masalahnya ia dan orang yang ingin bertemu tersebut jarang-jarang datang ke ruangannya melainkan dirinyalah yang mendatangi ruangan Mahes. Secara jabatan Mahes yang seorang direktur keuangan yang jabatannya berada di atasnya dan berhubungan dengan pekerjaannya juga.


Alisa segera berdiri, keluar dari kursinya untuk menyambut kedatangan Mahes.


Tubuh Mahes yang tegap tinggi muncul dari balik tubuh Veny yang lebih rendah darinya. Mahes tersenyum begitu memasuki ruangan Alisa.


"Silahkan duduk, Pak," ucap Alisa sopan.

__ADS_1


Mahes mendudukkan bokongnya di sofa ruangan Alisa yang tidak terlalu besar dari ruangannya. Sejenak memindai ruangan Alisa ke seluruh penjuru.


"Apa kedatangan saya mengganggu? Kamu sedang sibuk?" tanya Mahes langsung menatap Alisa yang duduk di sofa single sebelahnya.


"Kebetulan saya tidak terlalu sibuk, Pak. Pekerjaan saya sudah hampir selesai, tinggal menunggu jam pulang saja." Alisa tersenyum canggung karena ini pertama kalinya ia bicara di luar bahasan serius. Jarang sekali dirinya dengan Mahes terlibat acara basa-basi.


"Sebenarnya ada bahasan tentang pekerjaan yang ingin saya bicarakan sama kamu. Jika kamu tidak ada acara, saya mau ngajakkin kamu makan malam sekalian bicara di sana. Gimana? Kamu bisa kan?"


Alisa mendesah dalam hati, bagaimana ia menolak jika Mahes yang memintanya. Jikapun Evan yang memintanya untuk bicarapun ia akan menuruti perintahnya jika memang berhubungan dengan pekerjaan.


Dan resiko jika ia menerima ajakan Mahes, tentu saja ia harus menunda pulang cepat dan terlambat membenahi barang-barangnya nanti.


"Boleh, Pak. Kita mau makan malam di mana? Biar nanti saya yang pilihkan," ujar Alisa.


Mahes menggeleng, "Nggak usah, saya sudah pilihkan. Kita makan di restoran Jepang saja ya, biar lebih santai gak kaku dan serius." Mahes tersenyum lebar, tentu saja Alisa ikut tersenyum.


"Okay, nggak masalah. Nanti saya tunggu di basement saja ya, biar mobil kamu ikutin mobil saya," kata Mahes terdengar bersemangat.


Alisa berpikir positif, mungkin saja memang ada hal penting yang harus Mahes bicarakan dengannya. Tidak mungkin Mahes mengajaknya untuk hal-hal pribadi yang di luar pikiran.


***


Tak sengaja Evan melihat mobil Alisa keluar dari tempat parkirnya, ia yang baru saja akan masuk ke dalam mobilnya memperhatikannya beberapa saat. Tak lama suara klakson mobil lain terdengar seperti sedang memberikan kode pada Alisa, dugaannya tak salah Alisa menyahutnya dengan suara klaksonnya juga.


Mobil Mahes keluar lebih dulu, diikuti mobil Alisa di belakangnya.


"Bukannya itu mobilnya Mahes? Kenapa mobil Alisa sangat rapat, mau kemana mereka?" Tak terasa olehnya Evan yang mengeratkan pegangannya pada kemudi terbakar api cemburu. Tak terima jika memang Alisa dekat dengan Mahes. "Mahes sama Alisa," imbuhnya.

__ADS_1


Evan langsung tancap gas, melajukan mobilnya cukup cepat guna menyusul mobil Alisa. Ia berdoa supaya dugaannya salah, mengira Alisa bersama Mahes.


Hujan mulai turun, tidak terlalu deras hingga ia bisa terus memantau kemana laju mobil Alisa.


Sampai tibalah Alisa membelokkan mobilnya ke restoran mewah, matanya juga membelalak begitu di depan mobil Alisa terdapat mobil Mahes. Tak salah dugaan Evan meski doanya harus pupus mengenai Alisa yang tak bersama Mahes.


Muncul segala dugaan jika Alisa berhubungan dengan Mahes dan itulah alasan Alisa menjauh darinya.


Evan memukul kemudinya berkali-kali, darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.


"Kamu ngapain sama dia, Alisa? Kamu mau aku seret keluar dari sana, hah?" Evan bertambah kesal karena Alisa tak kunjung menjawab panggilannya.


Untuk saat ini, Alisa memang memasang mode senyap di ponselnya. Ia lakukan karena tidak ingin terganggu, terutama oleh Evan yang bisa menggoyahkan keinginnya untuk tetap bersama pria itu.


Di dalam restoran, seorang parmusaji mengantarkan Mahes dan Alisa ke tempat yang sudah direservasi.


"Silahkan, Alisa." Alisa tak menyangka kalau Mahes sendirilah yang mau repot-repot menarik kursi untuknya, memperlakukannya bak pasangan.


"Saya jadi canggung jika anda memperlakukan saya berlebihan," ucap Alisa apa adanya.


"Hem, saya sangat senang bila memperlakukan seperti ini pada perempuan yang sudah sepantasnya dilayani dengan baik." Mahes berkata dengan lancar.


Mendengar ucapan Mahes, Alisa menebak jika sebenarnya ada hal lain Mahes rencanakan untuknya.


***


Up abis sahur.. Jangan lupa tap like dan komen sebanyak-banyaknya ya...

__ADS_1


__ADS_2