
Evan mengajak Alisa ke hotel yang menyatu dengan restoran tempat mereka sekarang. Menunggu apa yang akan Evan perlihatkan selanjutnya padanya. Langkah Evan terhenti di ballroom, menyuruh Alisa juga menghentikan langkahnya di sana.
"Kenapa di sini?" tanyanya heran. Melihat banyak orang sedang bekerja mendekor tempat itu.
"Karena tempat ini adalah tempat untuk suami kamu menikahi Naura," jawab Evan tanpa melihat ke arah Alisa.
Alisa tergugu mendengar kata pernikahan suaminya. Masih ada bentuk kekecewaan yang ia rasakan, rasa belum puas membuat Yogas terpuruk.
"Kamu akan datang denganku. Sebagai pendampingku," kata Evan melirik Alisa.
Itu berarti mereka berdua akan datang bersama, menunjukkan hubungan mereka ke hadapan orang banyak dan terutama keluarganya Evan. Alisa mendadak bergeming, apakah ia siap untuk hal sebenarnya.
Mendadak, Alisa merasa kepalanya berputar. Bersikap baik dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa, membuatnya lelah.
"Alisa, kamu kenapa?" Begitu melihat Alisa memegangi kepalanya dan tertunduk membuat Evan khawatir. Evan lantas memapah Alisa keluar dari ballroom, meminta resepsionis untuk secepatnya menyiapkan kamar.
Kamar president suite telah dipersiapkan, Evan menyuruh Alisa beristirahat sampai keadaannya membaik. Sementara Evan menemani Alisa di sana.
'Apa dia seperti itu karena pernikahan suaminya?' Evan tak henti-hentinya menerka, membaca sikap Alisa yang mendadak berubah.
'Aku akan buat kamu melupakan dia selamanya,' desis Evan dalam hati. Berjanji akan melakukan itu demi mendapatkan Alisa.
Dalam diam, Alisa terus memikirkan masa lalu yang telah ia lewati bersama Yogas. Membangun rumah tangga mereka dari nol, membeli rumah, mobil dan menginvestasikan harta mereka bersama. Bayangan itu membuatnya sesak, karena perselingkuhan suaminya membuatnya hancur berantakan.
Satu jam berlalu, Alisa merasa dirinya sudah membaik. Ia bangkit berdiri dari ranjang berukuran king size itu. Meraih ponselnya yang disimpannya di atas meja nakas.
"Kamu udah baikkan?" Evan sudah berdiri di hadapannya, kemudian pria itu berlutut memperhatikan wajah Alisa dari jarak dekat.
"Udah baikkan, tadi saya merasa sedikit pusing. Sekarang udah tidak lagi."
"Lis, kamu mau kan keluar dari bayang-bayang suami kamu? Kamu mau kan menjalin hubungan yang lebih serius denganku?" Evan mengulurkan tangannya menyentuh wajah Alisa. Memindai mata dan turun ke bibir.
"Saya,-"
"Cup."
__ADS_1
Sebuah kecupan ringan di bibir Alisa berubah jadi ciuman panas. Bibir Evan terus menyusuri setiap rongga mulut Alisa tanpa terlewatkan, berakhir menjadi decapan saling menginginkan dan mendamba. Jujur Alisa merasa dirinya ikut terbawa suasana. Menikmati setiap jengkal yang Evan berikan padanya.
"Kamu masih mau di sini atau pulang?" lirih Evan menyudahi kewarasannya, khawatir tidak bisa mengontrol dirinya berbuat jauh.
Alisa tersipu malu, mengaitkan rambut panjangnya ke belakang telinga.
"Kita pulang aja ya," jawab Alisa.
Evan tersenyum tipis, ia berdiri lantas bersiap segera pergi meninggalkan kamar suite itu.
Alisa buru-buru menyambar tasnya, tidak ingin larut dan tergoda lebih lama oleh pesona duda tampan seperti Evan.
Keduanya keluar dari kamar, begitu melangkahkan kakinya di batas pintu. Tanpa sengaja Evan dan Alisa bertemu dengan Yogas.
Yogas menatap keduanya nanar, dengan segala pikiran buruk yang bersarang di otaknya.
"Kalian habis ngamar?" tanya Yogas berapi-api, napasnya naik turun tak rela menghadapi kenyataan istrinya bersama pria lain.
"Kalau iya kenapa?" balas Alisa, kemudian menggamit tangan Evan mesra. Menmpilkan kemesraannya demi membuat hati Yogas panas.
Evan hanya mengikuti alur yang dimainkan Alisa, ikut memperhatikan air muka Yogas yang sudah memerah karena emosi.
"Lepaskan dia!" titah Evan pada Yogas. "Jika kamu menyakitinya atau mengancamnya, aku tidak akan segan melayangkan gugatan padamu. Pasal perbuatan tidak menyenangkan terhadap Alisa.. walaupun dia belum resmi bercerai darimu." Evan mendesis ikut kesal
Menghela napas sejenak, Alisa melepaskan tangannya dari cekalan Yogas.
"Cepatlah tanda tangani surat perceraian dari pengacaraku. Aku sudah mengirimkannya bukan?"
"Aku belum menerimanya," jawab Yogas dengan amarah yang tertahan. Coba menenangkan diri agar ia tidak menimbulkan masalah. Cukup masalahnya dengan Alisa hampir menyerang konsentrasinya pada pernikahan jadi tidak fokus.
"Kalau belum maka aku akan menyuruh pengacara mengirimkannya lagi padamu. Pastikan segera tanda tangani sebelum sendiri yang akan memaksamu."
Yogas kembali dikejutkan atas sikap Evan yang menarik Alisa hingga berakhir dalam pelukan pria itu. Semakin lama darahnya semakin mendidih.
"Harusnya kamu bersyukur bisa terlepas dari jeratnya. Pria seperti dia yang sudah melepaskanmu berhak menderita." Evan menyeringai, puas melihat wajah Yogas yang kian meradang.
__ADS_1
"Makasih, Sayang. Makasih karena sudah hadir dalam hidupku. Makasih karena tidak menduakan aku."
Tangan Yogas terkepal, rasanya dirinya sudah tidak tahan dan ingin segera pergi mendengar Alisa berkata-kata seperti itu. Jauh dari Alisa yang dikenalnya, semakin berani dan tak bisa ditebak.
"Lebih baik kita pergi sebelum tercemar toxic seperti dia."
"Alisa, kamu jangan pergi tetap denganku!" Yogas menahan Alisa tetap diam.
Alisa berdecak kesal, rasa sabarnya sudah tidak ada lagi untuk nama Yogas. Semua hanya tinggal kenangan pahit.
"Kita sudah berbeda jalan, Mas. Aku kira kamu rumah tempat aku kembali, tapi ternyata bukan. Aku baru sadar kamu hanyalah tempat aku membuang kenangan pahit yang kita lewati, layaknya tempat sampah."
Yogas tergugu, dari mana Alisa belajar kata-kata menyakitkan seperti itu.
Keterkejutannya kian bertambah, ketika Evan merangkul pundak Alisa begitu mesra, membawanya pergi dari hadapannya. Berani menunjukkan kemesraannya pada orang lain, dikiranya Alisa hanya sedang memanasinya, tapi Yogas melihat hubungan keduanya alami seperti pasangan asli.
Sampai di lobi hotel, Alisa mengurai pelukan Evan. Memberi mereka jarak.
Evan mengernyit dalam, begitu melihat Alisa yang menjauh.
"Saya akan pulang sendiri," kata Alisa semakin membuat Evan tak mengerti.
"Aku akan mengantarmu," timpal Evan menolak keinginan Alisa.
"Saya bisa pulang sendiri," balas Alisa tidak ingin dibantah.
Evan tidak bisa berbuat banyak saat Alisa tetap menolaknya, wanita itu memang keras kepala dan sepertinya sedang ingin menyendiri. Membiarkan Alisa menyetop taksi setelah berpamitan lebih dulu dengannya.
Cepat-cepat Evan mengambil mobil, mengikuti taksi yang ditumpangi Alisa dari belakang. Memastikan bahwa Alisa pulang ke penthouse. Memastikan wanita itu baik-baik saja.
Demi memastikan Alisa selamat dan tidak menghabiskan waktunya pergi ke tempat lain.
Evan sangat tahu Alisa tengah memikirkan pertemuannya dengan Yogas barusan. Semua yang dilakukannya dengan Alisa tadi demi menyakiti hati Evan.
Memunculkan sebuah tanya di hatinya, apa memang Alisa masih mencintai Yogas?
__ADS_1
***
Tadinya gak up karena lagi capek.. tapi aku ingat kalian pasti nungguin.. hihihi..