SELINGKUH BALAS SELINGKUH

SELINGKUH BALAS SELINGKUH
Memastikan Kecurigaan


__ADS_3

Evan Iskandar : Hati-hati. Nenekku selalu punya cara untuk membuat kita berpisah. Salah satunya mengirimkan pria lain untuk mendekatimu.


Alisa mengulangi lagi membaca pesan yang barusan Evan kirimkan padanya diwaktu dirinya sudah hampir tiba dengan menaiki taksi online, karena mobilnya belum diambil setelah semalaman ditinggalkan di restoran.


'Apa maksud mas Evan pria yang dikirim itu adalah pak Mahes? Jika iya, seniat itu neneknya mas Evan untuk membuatku menjauh.'


Ponselnya berdering nyaring, memunculkan nama Evan di sana.


[Kamu udah sampai mana?]


"Emm, ini kira-kira lima menitan lagi udah mau nyampe, Mas," jawab Alisa melihat ke luar kaca mobil.


[Oh ya, aku juga udah mau sampai. Kamu udah baca pesanku kan?]


"Heem, udah, Mas. Apa pak Mahes orangnya?" tebaknya guna memastikan kecurigaannya.

__ADS_1


[Ya, benar. Makanya kenapa hubungan kita harus dirahasiakan sementara karna demi nenek tidak curiga kalau kamu takutnya memang demikian. Kalau kamu maupun aku siap hubungan kita dipublish.]


Alisa menggeleng, 'Tapi masa iya pak Mahes. Bukannya pak Mahes orang yang terlihat serius dan tidak akan mungkin terlibat hal-hal seperti ini,' batin Alisa memikirkan pesan Evan.


Alisa sudah sampai di depan rumah yang akan ia kontrak dan tempati selama 6 bulan. Sengaja ia menyewa selama 6 bulan dulu karena ingin merasakan apa ia nantinya betah atau tidak dengan membuat perjanjian dengan pemiliknya lebih dulu.


Sebuah rumah minimalis di kawasan perumahan yang tak terlalu jauh sebenarnya dari kantor. Tempat itu ia tahu dari iklan di instagram. Setelah pemiliknya mengantarkan kunci langsung, Alisa lantas masuk melihat-lihat seluruh ruangan di rumah itu.


"Sesuai dengan yang Ibu iklankan," ucap Alisa puas. Lagipula ia terlihat nyaman dan sepertinya akan betah, ia tidak terlalu menyukai rumah yang terlalu besar. Selain ia seorang penakut.


"Oh ya, Bu. Untuk meja makan dan peralatan dapur itu mau diambil aja atau gimana?"


"Kalau Mbaknya butuh tinggal pakai aja, saya ada di rumah. Lagian kalau diangkut udah nggak ada tempat. Sayangkan kalau disimpan di luar," jawab pemiliknya.


"Waah saya sih tidak keberatan karna saya tidak harus beli meja makan dan peralatan dapur. Makasih loh, Bu."

__ADS_1


"Sama-sama, Mbak. Semoga betah ya."


"Iya, Bu. Oh ya, saya transfer sekarang ya uang sewanya." Alisa menyerahkan ponselnya pada perempuan paruh baya di hadapannya. "Isi nomor rekeningnya ya, Bu."


Usai pemiliknya pergi, Alisa bersantai sejenak di kamar atas. Kamar yang akan jadi tempat tidurnya. Di dalam kamar itu hanya ada sofa panjang empuk dan bersih.


Untungnya sebelum pindah, pemiliknya membersihkan tempatnya lebih dulu dan mengecat ulang seluruh ruangan. Masih tercium sedikit bau cat.


"Malam ini aku harus tidur di sofa," gumam Alisa. Kopernya masih ada di dekat pintu kamar yang tertutup rapat.


Suasana di rumah itu terdengar senyap tanpa ada suara sedikitpun. Sayup-sayup matanya terpejam dengan sendirinya. Mungkin karena lelah dan butuh istirahat.


Sunyinya malam ia lewati begitu saja tanpa ia ingat sedikitpun. Raga dan jiwanya terlalu lelap sampai mimpi pun enggan datang.


***

__ADS_1


Aku up.. Masih ada yg baca ngga ya...


__ADS_2