SELINGKUH BALAS SELINGKUH

SELINGKUH BALAS SELINGKUH
Rencana Terselubung


__ADS_3

"Eyang, kapan Eyang datang?" Renata sedikit terkejut begitu mendapati Titik Iskandar yang tak lain adalah neneknya mendadak berada di rumah.


Titik tidak menyahut, ia membelokkan dirinya melewati Renata dan masuk ke rumah. Sangat tenang tapi tatapannya begitu dingin menusuk. Renata merasa kedatangan neneknya kali ini tidak biasa.


Biasanya Titik datang akan mengabarkan lebih dulu dan Morena akan mengirimkan sopir untuk menjemput ke Bogor.


Terpaksa Renata mengikuti Titik dari belakang, berjaga-jaga jikalau neneknya itu mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Seluruh penjuru rumah tidak luput dari perhatian Titik, ia seperti sedang mencari-cari sesuatu.


"Di mana Evan?" tanya Titik pada Renata.


Renata juga tidak tahu di mana Evan, ia juga tidak melihat mobilnya Evan di halaman rumah.


"Emm mungkin Evan sedang keluar, Eyang. Eyang mau minum apa? Biar Renata yang ambilkan," tanya Renata pada sesepuh keluarga Iskandar yang masih tersisa.


"Teh hijau seperti biasa. Nenek akan tunggu di sini aja sampai Evan pulang. Mamimu juga tidak ada di rumah?"


Renata menatap ke atas, seingatnya Morena juga tidak ada di rumah.


"Mami juga keluar tadi pagi-pagi. Sebentar ya, Renata ambilkan Eyang minum." Renata secepat kilat bergerak ke dapur, membuatkan makanan dan jangan sampai neneknya itu menunggu terlalu lama.


Semunya sangat menghormati Titik dan tidak ada yang berani membantah kata-katanya.


Secangkir teh hijau sudah disimpan di atas meja, takut-takut Renata menatap Titik yang terlihat sinis. Menerka ada apa gerangan yang membuat Titik seperti itu.


"Apa Evan sudah punya pacar lagi?" Titik tiba-tiba bertanya seperti itu.


Renata jadi teringat pada Alisa yang berkenalan dengannya kemarin di restoran.


"Hari minggu seperti ini pasti Evan bersama seorang wanita. Duda seperti dia menghabiskan akhir pekan seorang diri kan nggak mungkin." Titik mengembuskan napad panjangnya, bersiap untuk berkata-kata lagi. "Sementara sebagai duda, dia tidak boleh sembarangan dekat dengan wanita lain. Orang akan mengecapnya sebagai pria tidak baik, Eyang khawatir dia akan sulit mendapatkan wanita baik-baik," jelas Titik wajahnya menyimpan tanda tanya besar yang tidak Renata ketahui.


"Ah, Eyang nggak usah khawatir. Walaupun Evan duda, dia banyak yang mau loh, dia banyak yang ngejar. Dia kan duda kaya, mapan, tampan, berprestasi. Kurang apa lagi coba?" Renata tertawa, tapi bibirnya langsung mengatup diam begitu hanya tatapan mata dingin yang didapatnya dari sang nenek.

__ADS_1


"Untuk itu kedatangan Eyang untuk mempertemukan Evan dengan wanita pilihan Eyang. Udah waktunya Evan memikirkan dirinya sendiri, rumah tangga yang harus dia bangun. Dia sudah harus memiliki anak dan hidup bahagia." Titik memandang jauh ke arah tatapannya tersebut. Mengharap akan kebahagiaan yang datang merajut kehidupan sang cucu tersayang.


***


Alisa duduk diam tak bergeming, ditemani Morena dan juga Evan yang baru saja datang.


Evan memandangi Alisa seakan meminta jawaban apa yang telah wanita bicarakan dengan sang ibu.


Menyadari Evan bertatapan dengan Alisa, Morena berdehem menyadarkan keduanya. Alisa yang salah tingkah, berhasil membuat Morena tergelak.


"Evan, kamu baru olah raga langsung ke sini? Niat banget kamu ngeliatin otot tubuh kamu itu," sindir Morena.


Sindiran Morena hanya ditanggapi Evan dengan anggukkan kecil.


"Ah, Pak sebentar ya. Saya buatin minuman dulu."


Entah dorongan dari mana Evan mengikuti langkah Alisa dengan cepat hanya demi memastikan ibunya tidak berani berbuat macam-macam.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Evan cemas.


Alisa mengerjap, "Maksudnya?" tanya Alisa tak mengerti.


"Mami, Mamiku nggak bikin kamu kenapa-napa kan? Apa yang Mami katakan sama kamu? Apa yang kalian bicarakan?" cecar Evan tak sabar.


Alisa melirik ke arah pintu masuk dapur, takut-takut Morena tiba-tiba datang dan mendengarnya bicara.


"Tante Morena hanya tidak mau kita berhubungan,-"


"Apa? Mami bilang gitu? Kamu jangan termakan ucapan Mami dulu, Alisa." Evan menyela, cemas jika Alisa memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka.


"Nggak.. dengar dulu. Tante Morena ingat saya segera mengurus perceraian saya. Jika tidak, Tante tidak ingin kita berhubungan."


Refleks, Evan mengulurkan tangannya menyentuh wajah lembut Alisa.

__ADS_1


"Kali ini aku setuju sama Mami, segera percepat percaraian kamu. Karena aku memutuskan untuk membuat hubungan kita serius, Alisa."


Mendadak tubuh Alisa meremang, sentuhan tangan Evan di wajahnya membuatnya bagaikan tersengat listrik. Semuanya karena perkataan Evan yang ingin menjalin hubungan serius dengannya.


Alisa merasa seperti mendapatkan durian runtuh, di samping rencananya ia juga bisa menarik Evan serius dengannya.


Sementara di kediaman Iskandar, Titik seakan sedang sidak ke kamar Evan. Mencari-cari sesuatu yang dapat ia jadikan bukti jika Evan tengah memiliki pacar.


Laci nakas, laci walk in closet dan tas Evan jadi sasaran pencarian Titik. Renata yang sedari tadi menemani Titik hanya berguman-gumam tak jelas, dan tak mengerti sebenarnya apa yang sedang Titik cari. Kenapa hanya kamar Evan saja, kenapa tidak semua kamar.


"Sebenarnya Eyang nyari apa?" Renata memelankan suaranya demi tidak membuat Adinda yang tengah bermain di kamar ikut mengusik kegiatan aneh Titik. Karena jika Adinda masuk, Titik akan sedikit rewel karena sering menyuruh Adinda mengisi hari minggu dengan belajar.


"Eyang cari benda-benda yang biasa pria pakai. Evan itu kan pria kesepian dan udah lama puasa. Kamu ngerti kan?"


Kening Renata mengernyit dalam, sungguh ia sangat tidak mengerti apa kata-kata Titik.


"Kamu nggak ngerti, Re?"


Renata menggeleng polos.


"Eyang cari alat pengaman atau film-film yang Evan punya. Eyang nggak mau Evan menyalurkannya ke hal-hal seperti itu. Jika sampai Evan punya, Eyang akan mempercepat perjodohan Evan dengan wanita pilihan Eyang. Kamu ngerti kan sampai sini?"


Renata dibuat menganga dengan perkataan Titik. Kalaupun Evan mau, Evan bisa menyalurkannya pada wanita bayaran secara Evan mampu secara materi. Renata menggeleng tak percaya, kenapa bisa pikiran neneknya bisa sedangkal itu.


Di lantai bawah, Naura baru saja tiba. Ia sedang membuat minuman di dapur, berniat menunggu Titik di lantai bawah saja. Alih-alih ikut menemani Titik di kamar Evan. Hanya akan membuat rencana terselubungnya diketahui orang lain. Jangan sampai orang rumah tahu jika ia yang telah memberitahukan Titik jika Evan menjalin hubungan dengan istri orang.


Sebisa mungkin Naura berdusta, mengatakan dirinya akan menikah dengan seorang pria yang sudah bercerai. Tanpa mengungkap bahwa calon suaminya adalah suami Alisa. Bisa-bisa, Titik akan berbalik menyerangnya dan membuat statusnya jadi rumit.


Dalam hati Naura bersorak senang, ia akan membuat Alisa tidak akan menjadi bagian dari keluarga Iskandar.


***


Baru up nih... buruan like dan komen ya... Muuuaacchh...

__ADS_1


__ADS_2