SELINGKUH BALAS SELINGKUH

SELINGKUH BALAS SELINGKUH
Diam-Diam Gagal Move On


__ADS_3

Naura berasa lega setelah pernikahannya lancar digelar. Kini dirinya sudah resmi menyandang status nyonya Yogas dan berada di posisinya sekarang bukanlah perkara mudah, ia harus menyingkirkan Alisa dengan segala cara.


Kamarnya telah disulap seperti layaknya kamar pengantin, taburan bunga bertebaran di atas ranjang. Lilin-lilin menyala indah, menambah suasana romantis kian terasa kental.


Naura menggandeng tangan Yogas memasuki kamar mereka, di rumah Naura yang tinggal dirinya sendiri. Sementara kedua orang tuanya tinggal di rumah mereka sendiri.


"Mas, aku nggak nyangka deh kita udah nikah aja." Naura menyandarkan kepalanya di bahu Yogas, sambil memandangi suasana kamar mereka.


"Aku juga nggak nyangka. Kamu pasti cape, kita istirahat aja ya." Diurainya pegangan tangan Naura, lantas Yogas membuka jas yang melekat di tubuhnya. Tubuhnya sangat lelah dan ingin segera istirahat.


Kening Naura mengernyit heran atas sikap Yogas yang terkesan tidak seperti biasanya.


"Mas, ini malam pertama kita loh sebagai suami istri," kata Naura menghampiri suaminya yang tengah membuka kancing kemeja.


Yogas hanya melirik sekilas, "Kita udah ngelakuinnya, dan bukan malam pertama kita Naura. Aku lelah, lagian masih ada hari-hari lain." Yogas berlalu ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan lekas mengistirahatkan tubuhnya.


Naura merasa geram, ia sedari tadi hanya diam tak bergeming duduk di sofa memperhatikan suaminya sampai lelap tertidur. Bibirnya menyunggingkan senyum miring, mencibir sikap Yogas barusan.


Tak terbersit sedikitpun di pikiran Naura, akan mendapatkan pengalaman seperti itu di malam pertamanya.


Keesokan paginya, Yogas seperti biasa bersiap-siap ke kantor. Melihat dirinya di depan cermin, sambil memasang dasi yang sudah melingkar di lehernya. Naura mengerjap, melihat tubuh jangkung suaminya dalam balutan kemeja rapi.


Cepat-cepat ia bangun, dan bangkit dari ranjang.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Naura.


"Ke kantor lah, memangnya mau kemana lagi." Yogas menjawabnya tanpa menoleh, tangannya terus memasang dasi yang sedikit lagi akan terpasang sempurna.


Dengan tangan bersedekap, Naura memperlihatkan sikap keberatan. Harusnya Yogas tahu kalau mereka adalah pasangan pengantin baru dan seharusnya menghabiskan waktu untuk berbulan madu. Sungguh Naura tak habis pikir, semuanya di luar yang ia bayangkan.


"Bukankah kita harusnya bulan madu, Mas?" Naura melayangkan tatapan tajamnya kesal.


Setelah dasi terpasang, Yogas mengambil sepasang sepatunya. Ia duduk dan memakainya.

__ADS_1


"Tidak ada bulan madu. Kita akan bulan madu nanti, jika aku ada waktu dan kantor mengizinkan," jawabnya setelah ia selesai dan siap untuk berangkat bekerja.


Yogas hanya ingin menghindar, ia hanya ingin sendiri. Setelah menikahi Naura dan menyandang status sebagai suami wanita itu, entah kenapa ada sesuatu yang kurang. Sesuatu yang tidak ada dalam hidupnya.


"Aku pergi dulu ya, jaga kandungan kamu. Jangan lupa makan." Yogas mengecup kening Naura, kemudian berangkat ke kantor tanpa mengindahkan mata Naura yang mulai mengembun.


Di kantor, Yogas terus melamun. Tidak ada pekerjaan yang ia sentuh sedari ia datang. Ia hanya duduk seorang diri dengan pikiran terus pada sosok Alisa. Sesekali ia menarik napas dalam-dalam, mengingat jadwal sidang yang harus ia hadiri esok hari.


Seketika semuanya berputar sangat cepat, di luar yang ia bisa. Hanya perasaan menyesal yang kini mengukung dirinya. Jangan sampai Naura tahu jika dirinya diam-diam gagal move on dari Alisa.


***


Amar memandangi penthouse mewah yang ditempati Alisa saat ini. Ada pertanyaan yang bersarang di pikirannya, dari mana Alisa mendapatkan uang sangat banyak hingga bisa tinggal di tempat untuk kaum elit tersebut.


Telinganya sangat panas terus direcoki hasutan Mira dan Shella, kalau Alisa jadi simpanan pria kaya. Secara gaji yang didapatkan Alisa tidak akan mampu membeli atau menyewa penthouse itu.


"Alisa." Amar hendak memulai pembicaraannya, hampir satu bulan Alisa pergi dari rumah setelah kejadian waktu itu.


Amar menarik napas sejenak, memilih kata-kata yang pas agar tidak menyakiti hati Alisa.


"Maafkan Ayah, Ayah hanya ingin tahu. Kamu di sini tinggal dengan siapa? Di tempat semewah dan sebesar ini. Apa fasilitas tempat ini tidak terlalu mewah, Nak?"


Seakan mengerti kemana arah tujuan pembicaraan Amar, Alisa tersenyum tipis.


"Sejujurnya tempat ini tidak Alisa sewa atau miliki. Penthouse ini Alisa tempati sementara, nanti Alisa akan cari tempat lain yang lebih kecil. Tempat ini milik atasan Alisa. Tapi, Ayah tidak usah berpikiran lain-lain. Alisa tidak macam-macam ko, Alisa bisa jaga diri Alisa."


Dalam hati Alisa merutuk dirinya yang harus berbohong, ayahnya tidak boleh tahu jika ia menjalin hubungan dengan Evan.


"Syukurlah, karena Ayah tau kamu tidak akan seperti itu. Jika kamu mau kamu bisa kembali ke rumah, daripada kamu sendirian di sini. Pasti sangat sepi," ujar Amar.


"Nggak Yah, biar Alisa cari tempat lain. Ayah tenang aja. Ayah jangan khawatir, walau sendiri Alisa tidak merasa sepi ko," tolak Alisa. Daripada ia harus tinggal dengan Mira dan Shella lagi, mendingan ia mencari tempat lain yang lebih membuatnya tenang.


"Hmm baiklah kalau memang begitu, terserah bagaimana baiknya aja." Amar mendesah pelan, inginnya Alisa ikut tinggal dengannya lagi.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong darimana Ayah tau kalau Alisa tinggal di sini?"


Untung saja Alisa belum berangkat ke kantor. Pagi-pagi ia mendapatkan panggilan dari Amar, ayahnya itu sedang berada di lobi apartemennya. Amar mengatakan ia tidak bisa masuk karena tidak memiliki kartu identitas dan izin khusus bagi siapa saja tamu yang hendak berkunjung. Mengingat keamanan di apartemen itu sangatlah ketat.


"Sebenarnya ada yang bilang sama ibumu, kalau kamu tinggal dengan seorang pria yang bukan suamimu. Belakangan Ayah baru tau kalau ternyata suamimu menikah lagi."


Binar kekecewaan itu nampak jelas sekali, membuat Alisa merasa bersalah.


"Siapa yang bilang sama ibu?"


"Entahlah, Ayah juga tidak tau." Amar melihat waktu di jam tangannya. Sudah waktunya putrinya itu bergegas berangkat ke kantor.


"Ayah harus pulang, lagipula kamu kan harus segera berangkat. Lain kali kita bertemu lagi." Amar berdiri, memakai lagi jasnya menutupi tubuhnya yang kian renta.


"Ya Ayah, Alisa akan sering-sering mengabari Ayah." Alisa mengantarkan Amar sampai naik mobil.


"Hati-hati, Yah."


Melihat mobil yang dikendarai ayahnya sudah menjauh, bahu Alisa terkulai lemas. Ia menunduk sejenak. Sedih rasanya mendapati kekecewaan di wajah sang ayah. Alisa tahu pasti ayahnya itu kecewa karena pernikahan Yogas dengan Naura kemarin.


"Alisa."


Alisa memutar tubuhnya, melihat Evan sudah berdiri tegap dengan postur tubuh sempurna.


"Pak-, em salah maksudku Mas Evan." Alisa salah tingkah sendiri begitu memanggil Evan dengan sebutan baru.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Evan kemudian tersenyum.


"Tadi ada ayahku datang. Barusan pergi. Apa ada sesuatu sampai datang ke sini dulu?" Menyadari Evan terus memandanginya, ia jadi tambah salah tingkah.


"Mulai sekarang kita berangkat barengan karena seperti ada yang kurang ketika aku sama kamu tidak sama-sama." Evan mengedipkan sebelah matanya pada Alisa, membuat Alisa melempar wajahnya ke arah lain.


***

__ADS_1


__ADS_2