
Resepsi pernikahan megah berjalan sangat lancar sebelum kedatangan Alisa dan Evan.
Kedatangan Alisa dan Evan mengundang banyak mata memandang dan menarik perhatian banyak orang. Gaun yang Alisa kenakan jadi pusat perhatian utama karena menampilkan banyak lekukkan itu, membuatnya terlihat cantik dan mempesona. Mengalahkan cantiknya ratu di pesta pernikahan tersebut.
Ratna dan keluarga besarnya tidak mengira Alisa akan datang bersama Evan, menggamit tangan pria itu begitu mesra. Layaknya pasangan kekasih, walaupun mereka pasangan kekasih selingkuhan. Tidak ada bedanya sama saja.
Mengira Alisa akan datang dengan wajah sedih, justru sangat berseri-seri dan berbinar. Tak ada beban. Biarlah dalam hatinya berkata lain, yang penting orang tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang.
Yogas memaku menatap Alisa berjalan ke arah pelaminan. Alisanya sangat cantik dengan gaun berhiaskan swarovski, berkilauan. Memancarkan kecantikannya kian bertambah. Menambah penyesalan Yogas kian kentara. Yogas membatin, menyesali telah menduakan Alisa demi memilih Naura. Nyatanya perasaannya pada Naura hanya sebatas penasaran saja.
"Kamu siap, Alisa?" bisik Evan tanpa meliriknya.
"Sangat siap, aku sudah siap membuat mereka malu."
Tiba di hadapan Yogas, Alisa menyalami Yogas. Malah tanpa Yogas sangka, Alisa memberikan kecupan di pipi kiri Yogas.
Jujur, tindakan Alisa berhasil membuat Evan dan Naura cemburu. Bedanya, Evan hanya menahannya. Sedangkan Naura menarik tangan Yogas, agar Alisa sadar Yogas adalah suaminya juga.
"Alisa, kamu maunya apa sih? Kamu mau bikin aku malu? Kamu masih mau sama suami aku?" desis Naura kesal.
"Malu? Kenapa harus malu? Harusnya kalian dong yang malu. Mas, kamu nikah bisa-bisanya nggak ngundang aku. Padahal kita belum resmi bercerai loh. Berarti pernikahan kalian ini siri gitu?"
Yogas berkeringat dingin karena Alisa berbicara keras, membuat para tamu yang hadir menatap ke arah pelaminan.
"Jaga ya mulut kamu!" ancam Naura tak tinggal diam. "Mas, aku juga nggak bakalan diam ya lihat hubungan kalian berdua. Aku bakalan aduin sama eyang." Tatapan Naura menumbuk iris mata Evan.
"Silahkan kalau kamu bisa. Lakukan saja!" balas Evan tak ambil pusing. Tidak peduli ancaman Naura atau sikap Titik nanti.
"Sayang, kayaknya udah cukup deh kita di sini. Aku malas ngadepin pasangan muka tembok kaya mereka. Kita turun aja yuk," ajak Alisa, memancing-mancing demi memanasi Yogas.
Melihat tangan Yogas mengepal, Alisa tersenyum tipis. Setidaknya pria itu terpengaruh dengan kehadirannya saat ini.
"Alisa, jangan bikin malu kami." Ratna yang berdiri tak jauh dari kursi pelaminan menggeram kesal, cukup sudah merasa dipermalukan Alisa bersama Evan.
__ADS_1
"Jadi Yogas belum resmi bercerai sudah nikah lagi?"
"Istrinya juga sudah gandeng pria lain? Wah hubungan macam apa itu?"
Mendengar tamu berkasak-kusuk dan mampir di telinganya, Ratna semakin kesal. Ia menajamkan matanya menyuruh Alisa segera turun dari pelaminan.
Evan menggamit tangan Alisa menuruni pelaminan, setelah dirasa cukup permainan mempermalukan keluarga mempelai.
Begitu turun dan berniat ke luar dari ballroom, tanpa sengaja Evan dan Alisa bertemu dengan titik. Titik menatap keduanya tajam, seakan meminta penjelajasan.
"Siapa dia? Apa dia adalah wanita yang Naura ceritakan itu?" Suaranya datar dan dingin, cukup menusuk.
Alisa mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Evan, kehadiran Titik ternyata mampu mengintimidasinya.
Morena yang melihat Titik berhadapan dengan Evan dan Alisa, bergegas menghampiri mereka bertiga. Supaya bisa meredam hal yang tak diinginkan hingga pada akhirnya orang lain dapat mencium adanya perselisihan.
"Namanya Alisa, Eyang. Oh ya, aku belum mengenalkannya pada Eyang. Aku juga ingin sekalian bilang, aku tidak tertarik pada Faradita. Aku akan menikahi Alisa."
Raut wajah Titik berubah tak kala Evan dengan santainya berkata seperti itu. Tidak mempedulikannya sebagai orang tua.
"Ck." Titik berdecak kesal, masih menatap Evan dan Alisa bergantian. "Dari mana kamu dapatkan wanita ini?" tanyanya, sambil melengos pergi kembali duduk di tempatnya semula.
"Kamu lapar?" tanya Evan pada Alisa.
"Ya, aku lapar. Tapi, sayangnya aku tidak bernafsu jika makan di sini. Maaf, Tante.. Aku harus jujur," jawab Alisa sedikit kikuk di hadapan Morena.
"It's okay, Sayang. Van, ajak Alisa makan. Kasihan dia," kata Morena.
"Aku akan mengajakmu makan di restoran lain. Ayo. Mam, aku ajak Alisa dulu."
Morena mengangguk membiarkan Evan membawa Alisa, itu lebih baik demi menghindari pertikaian. Hingga Morena bisa bernapas lega.
***
__ADS_1
Sebuah restoran Italia jadi tempat di mana Evan dan Alisa makan malam bersama. Suasana restorannya tidak terlalu ramai pengunjung.
Alisa begitu lahap menikmati makanan yang dipilihkan Evan. Entah karena lapar atau sedang nafsu karena pernikahan Yogas. Terpenting Evan senang karena Yogas sudah menikahi Naura, jalannya mendapatkan Alisa kian leluasa dan bebas.
Selama makan tidak ada yang bersuara, keduanya fokus pada makanan yang tersaji hingga selesai menikmatinya sampai habis.
"Lega?" tanya Evan begitu Alisa selesai menyeka mulut.
Alisa mengedikkan bahu, menyimpan bekas lap kembali ke atas meja.
"Lega, lega karena setidaknya aku bisa mempermalukan mereka. Setelah ini, aku tidak ingin ikut campur urusan mereka lagi. Aku ingin fokus dengan diriku."
Bibir Evan menyungging, mendengarkan Alisa menyebut dirinya dengan kata 'aku' bukan 'saya' seperti biasanya, membuatnya merasa Alisa kian bertambah dekat dan mengikis hubungan personal kerja di saat sedang berdua. Evan menyukai itu.
"Aku akan mendukungmu, apapun itu."
Alisa memandang Evan, pria itu begitu sangat tampan dengan stelan jas formal warna hitam sepadan dengan gaun yang dikenakannya yang juga berwarna hitam. Otot kekar Evan nampak jelas dari jas yang dikenakannya.
Alisa jadi menelan ludahnya sendiri, teringat ciuman kemarin waktu mereka berdua berada di hotel. Andai kewarasan Evan hilang, mungkin mereka berdua sudah khilaf making love sebelum waktunya.
Rahangnya yang tegas, sorot matanya yang tajam membingkai wajah tampannya kian sempurna.
'Kemana aja aku, sampai melewatkan maha karya indah ciptaan Tuhan yang satu ini.'
Di balik hatinya yang pedih, Alisa bersyukur bisa terlepas dari Yogas yang tak setia. Mungkin Tuhan punya caranya sendiri memberikan kebahagiaan untuk setiap hambanya. Mempertemukannya dengan pria sebaik Evan.
Alisa hanya berdoa, semoga memang kelak Evan juga bisa memberinya kebahagiaan tanpa menduakannya. Menepati janjinya untuk menjaganya.
Evan tersenyum tipis, kala mengingat kembali pertemuannya dengan Alisa. Andai kecelakaan itu tidak ada, mereka berdua tidak akan duduk bersama saat ini.
"Kenapa tersenyum sendiri?" selidik Alisa memicingkan matanya curiga.
"Nggak, aku cuma salut sama kamu. Kamu ternyata bukan tipikal wanita yang terpuruk dan menangisi keadaan. Kamu strong dan kamu tau caranya bikin diri kamu happy itu seperti apa. Kalau orang lain mungkin akan menangis sedih diselingkuhi bahkan ditinggal nikah suaminya. Kamu unik, Alisa."
__ADS_1
***