
"Baiknya kita harus seperti ini, Pak. Hubungan ini salah karena saya masih terikat hubungan pernikahan. Saya harap Bapak mau mengerti."
Evan menyugar rambutnya ke belakang. Bertepatan dengan itu ponselnya yang berada di dalam saku celana kainnya berdering, kemudian ia merogoh dan mengeluarkan benda pipih itu.
"Iya, Mi?"
Alisa tahu tanpa melihat siapa yang menghubungi Evan adalah Morena tanpa melihatnya langsung.
"Van, kamu bisa kan malam ini pulang ke rumah dan bicara sama nenekmu?" Suara Morena cukup bisa terdengar oleh Alisa tanpa menekan tombol pengerasnya.
"Malam ini nggak bisa, Evan ada janji dengan Alisa. Sudah ya, Mi.. Evan lagi sibuk." Diakhirinya sambungan itu dan benda itu kembali dimasukannya ke dalam saku.
Evan kembali bersitatap dengan Alisa yang juga sedang menatapnya.
"Kita bicara, kita selesaikan masalah kita yang aku sendiri tidak tahu apa kita ada masalah." Dari suaranya Evan terdengar frustasi. Siapa yang tidak bingung tiba-tiba dihadiahi 'jaga jarak' dari orang spesial.
"Saya cukup tahu diri siapa saya, Pak. Semua yang dikatakan nenek anda itu benar. Saya tidak mau mencoreng nama baik anda dengan hubungan kita ini."
Evan bergetar menatap wajah cantik Alisa yang sekarang terlihat sangat serius.
"Aku akan meluruskannya dan setelah kamu bercerai, aku ingin hubungan kita diperjelas!" tegas Evan dengan penekanan dalam nada bicaranya. Tangannya bertumpu satu pada meja guna bisa melihat Alisa lebih dekat.
Alisa tercenung dengan kalimat yang diucapkan Evan padanya, sejujurnya hatinya juga menginginkan hal yang sama. Tapi, apalah daya keadaan yang membuatnya harus menahan diri.
Alisa mengukir senyum, coba menahan diri agar tidak terbuai cukup dalam dan bisa bersikap profesional.
"Sekali lagi saya mohon maaf, saya sedang banyak pekerjaan, Pak. Kebetulan saya lagi mengkroscek laporan untuk meeting bulanan kita." Secara halus Alisa mengusir Evan dan Evan tahu itu.
"Kamu bisa off hari ini. Aku Ingin bicara sama kamu!"
Alisa membelalak kaget begitu tangan Evan menarik dirinya untuk keluar dari ruangannya, tidak ada barang lain yang bisa Alisa bawa kecuali ia menyambar tasnya di atas meja.
Kejadian itu sontak membuat sekretaris Alisa menatap tak percaya, mirip adegan sinetron yang dilihatnya di televisi.
__ADS_1
Jujur Alisa risih jika kedekatannya dengan Evan tercium orang sekantor dan hanya akan menimbulkan gosip panas.
"Aku tahu kamu pasti risih jika lewat lobi," ujar Evan ketika mereka berdua masuk ke lift. Evan menekan tombol lift turun menuju basement, cukup membuat Alisa bernapas lega.
Tangan Evan masih setia memegangi tangan Alisa tanpa ingin melepasnya, hingga mereka berdua sampai di basement membawa Alisa menuju mobilnya yang terparkir di sana.
"Masuklah," kata Evan seraya membukakan pintu mobil.
Alisa mengangguk patuh menuruti perintah Evan.
Tanpa kata Evan melajukan mobilnya keluar dari area basement. Belum ada kata yang terucap dari bibir Alisa selain menunggu untuk melihat kemana Evan akan membawanya pergi.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, raut wajah Evan yang serius ketika menyetir mengurungkan niat Alisa untuk bicara. Terlihat kening Evan yang mengerut dalam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Evan baru memberhentikan mobilnya di depan sebuah gedung tak terpakai, cukup membuat Alisa bergidig ngeri memikirkan apa yang akan Evan lakukan dengan menbawanya ke gedung tua yang belum selesai dibangun itu.
"Aku tidak tahu harus membawamu ke mana. Kita bicara di sini," kata Evan melepaskan seatbelt untuk memudahkannya bergerak.
Evan menatap wajah cantik Alisa yang sekarang terlihat lebih tirus dari pertama ia melihatnya. Mungkin karena masalah rumah tangga perempuan itu yang membuat berat tubuhnya berkurang sedikit.
"Aku akan bicara jujur sama kamu, jujur aku suka sama kamu. Aku sayang kamu, Alisa. Bukan sekedar kepura-puraan kita sebagai pasangan berselingkuh saja, tapi aku ingin lebih. Aku ingin kamu."
Alisa tercenung, ia sangat menyukai pria jujur dan apa adanya terlihat keren dan gentleman. Alih-alih pria yang memendam perasaannya saja.
"Apa anda lupa kalau nenek anda menjodohkan anda dengan perempuan lain?"
"Ck." Evan berdecak kesal. "Bisa tidak membahas yang lain dulu?"
"Karena itu masalahnya, Pak. Masalahnya anda dijodohkan dengan perempuan lain dan juga nenek anda tidak menyukai saya!" tandas Alisa dengan nada setengah meninggi.
Evan berkali-kali menggusah wajahnya kasar. Kenapa Alisa tidak peka dengan perasaannya.
"Tolong, kita memang harus menjauh. Saya tidak layak untuk pria terhormat seperti anda." Dengan kepala menunduk Alisa mengatakannya. Rasa percaya dirinya mendadak hilang, menguap begitu saja.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau menjauh darimu! Aku akan menunggumu sampai urusan perceraianmu selesai. Dan kita akan bersama-sama." Evan mengangkat dagu Alisa ke atas hingga mereka berdua bisa bersitatap.
"Tolong mengerti, Pak. Jangan buat situasi ini sulit, keadaan saya sudah sulit dan jangan dipersulit lagi. Saya tidak bisa bersama anda." Mendadak dadanya bergemuruh setelah mengatakan itu. Sesak rasanya tidak bisa jujur dengan perasaannya sendiri, merasa terkukung.
"Kamu serius dengan permintaanmu? Karena kalau kamu serius, aku tidak akan memintamu lagi untukku."
Alisa tercenung, ada jeda cukup lama sebelum dirinya menjawab.
"Saya sangat serius. Tolong jauhi saya."
***
Evan diguncang perasaannya sendiri, hatinya remuk redam serasa tak berbentuk. Tak terasa sudah dua minggu berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Alisa. Pertemuan yang membuat hubungan mereka benar-benar berjarak.
"Pak meeting untuk sekarang sudah siap. Para manager sudah berada di ruangan meeting." Hendra melaporkannya seraya sudah siap membawakan berkas yang diperlukan nanti.
Evan mengangguk lemah, ia bangkit berdiri bersiap untuk menuju ruangan meeting. Tiba-tiba langkahnya terhenti, kemudian ia mendengus pasrah. Pertemuannya dengan Alisa kembali akan terjadi.
Semuanya mengarah pada Evan yang baru saja menjejakkan kakinya di ruangan meeting. Tak terkecuali Alisa yang juga menatapnya, tak lama hanya beberapa detik saja.
Meeting bulanan yang sering diadakan tiap awal bulan itu dipenuhi beberapa menager dari tiap divisi yang juga sudah siap dengan laporannya masing-masing.
Meeting dibuka oleh Evan yang memaparkan keinginannya agar dibulan berikutnya ada kenaikan dalam penjualan. Berikutnya dilanjutkan oleh Alisa yang memulainya dari manager keuangan Merlion.
Evan tak hentinya menatap Evan, sayang Alisa seperti tidak ingin bersitatap dan terkesan menghindar.
'Aku tahu kamu menghindari tatapanku, Alisa.' Batin Evan gemas. Ia membuktikan kata-katanya untuk tidak mengejar Alisa lagi. Buktinya sudah dua minggu ini ia dan Alisa tidak bertemu ataupun Evan yang tidak menemui Alisa, begitupun sebaliknya.
'Tolong, jangan menatapku seperti itu.' Teriak Alisa dalam hatinya, tahu jika Evan tengah memperhatikannya saat ini. Tahu meski mereka tidak saling menatap, cukup hati saja yang merasakan.
***
Part ini bikin Evan dan Alisa menjauh, maaf ya lama up nya. Lagi garap cerita di sebelah..
__ADS_1