
Evan terus memperhatikan Alisa yang duduk tenang memandangi jalanan yang mereka lewati. Senyum wanita itu terlihat mengembang sesekali kemudian redup lagi. Entah apa yang bercokol dalam pikirannya saat ini.
Mengingat ia harus bilang pada Alisa tentang masalah Titik. Neneknya itu ingin bicara dengan Alisa dan mengundang wanita itu ke rumah untuk makan malam. Rencana yang tidak buruk, ya mungkin saja Titik punya rencana lain.
"Nanti malam eyang ngundang kamu buat makan malam. Kamu bisa kan?" tanyanya masih fokus mengendari mobilnya.
Sejak mengenal Alisa, Evan mendedikasikan dirinya menyetir mobil sendiri tanpa sopir. Sudah bisa ditebak jika Evan tidak ingin diganggu.
"Oh ya?" Alisa mengerjap, sedikit heran.
"Heem. Gimana? Kalau kamu mau, nanti aku jemput."
Alisa memikirkan masak-masak undangan Titik yang mencurigakan itu. Jika ia tolak, alhasil wanita lanjut usia itu akan mengecapnya lain-lain. Jika ia terima, ia harus siap atas semua hal yang telah Titik rencanakan. Dilema memang, hubungannya dengan Titik tidak sedekat itu. Ia juga belum mengenal wataknya Titik seperti apa.
"Bolehlah, Mas. Nanti malam aku akan datang memenuhi undangan eyang." Ucapan Alisa mantap membuat Evan tersenyum lebar.
***
Di kediamanan Iskandar, Titik bak jadi mandor memerintahkan asisten rumah tangga menyiapkan masakan istimewa untuk makan malam nanti. Masakan terenak ala restoran mewah.
Melihat ibu mertuanya sesibuk itu membuat Morena cukup senang. Mungkin langkah awal yang baik bagi hubungan Evan dan Alisa.
"Apa eyang benar-benar ngundang Alisa, Mi?" bisik Renata tak yakin, mengingat watak Titik yang tak mudah mencair. Terakhir sikapnya di pernikahan Yogas masih memperlihatkan aura permusuhan yang kental.
"Mami juga sebenernya nggak yakin. Tapi Evan bilang kita harus terlihat tidak mencurigakan. Entahlah Mami bingung dengan keduanya." Morena mendesah berat memperhatikan keadaan dapur dari ambang pintu.
Menjelang pukul 7 malam, semua makanan sudah terhidang di meja makan dengan sempurna. Titik sudah bersiap menunggu kedatangan Evan dan Alisa di meja makan. Menunggu keduanya dengan antusias.
Morena mewanti-wanti agar Evan menjemput Alisa tepat waktu, jangan sampai perubahan baik ini akan mengurangi kesan Titik.
"Apa dandanan aku berlebihan, Mas?" tanya Alisa ketika mereka berdua sudah turun dari mobil. Dress hitam tanpa lengan dengan aksen turtle neck putih ini sangat cantik di tubuh Alisa, ditopang stileto warna hitam menambah Evan berdecak kagum saat pertama menjemputnya tadi.
Kesempatan ini digunakan Alisa untuk membuat kesannya tersendiri di keluarga Iskandar. Terutama di depan Titik.
"Cantik," bisik Evan. "Aku jadi ingin," katanya lagi.
Langkah Alisa terhenti sejenak memandang sebentar wajah Evan.
__ADS_1
"Ingin apa, Mas?" tanyanya dengan kedua alis tertaut.
"Ingin makan kamu." Bibirnya mengulum senyum ketika Alisa mendaratkan cubitan di pinggang Evan.
"Bisa aja kamu, Mas."
"Tapi suka kan?" Alisa menyudahi gombalan Evan dan menggamit lengan pria itu memasuki rumah Iskandar.
Melewati beberapa ruangan hingga akhirnya sampai di ruangan makan. Semua keluarga sudah menanti, termasuk Reyhan yang baru saja tiba di rumah.
"Selamat malam semuanya," sapa Alisa, kemudian duduk setelah Evan menarik kursi untuknya.
"Malam Alisa."
Senyum Titik mengandung makna, makna yang sulit ditebak. Hanya dirinyalah yang tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Terima kasih sudah mau datang," kata Titik.
"Saya yang seharusnya berterima kasih karena sudah diundang datang," sahut Alisa sopan.
"Tentu saja, karena aku mengundangmu ada sesuatu hal. Kamu tahu kan kalau Evan sudah aku kenalkan dengan Faradita? Aku ingin tahu bagaimana tanggapanmu tentangnya? Apa kamu juga menyetujui jika Evan dan Faradita bersama?"
"Bu," ucap Morena. Mungkin Titik hanya sedang bercanda.
"Apa maksud, Eyang?" tanya Evan dengan mata tajamnya menaut di kedua mata Titik.
"Lah, bukannya Alisa sudah tahu ya? Dia kan datang sama kamu waktu perkenalanmu dan Faradita kemarin-kemarin. Eyang rasa mana mungkin wanita yang masih bersuami berhubungan dengan pria lain. Apalagi pria itu adalah cucuku sendiri. Keluarga Iskandar. Jadi, Eyang kira kalian hanya berteman biasa kan?" Suaranya sinis dan cukup melukai harga diri Alisa.
Alisa memilih diam, apalah dirinya yang memang salah dengan statusnya yang masih terikat dengan pernikahan. Keluarga lain pun juga akan melakukan hal yang sama dengan Titik.
"Bu, kenapa kita tidak makan dulu. Sayang semua makanan ini." Reyhan mencoba menetralisir keadaan di rumah.
Rahang Evan sudah mengeras, ia sungguh jadi tidak enak hati pada Alisa. Andaikan Titik hanya ingin mempermalukan Alisa, sudah pasti dirinya tidak akan mengajak Alisa.
"Cara Eyang sangat tidak bermutu. Aku sudah salah mengira kalau Eyang orang baik." Evan berdiri, bersiap mengajak Alisa pulang.
"Mau kemana kamu?" tanya Titik sengit.
__ADS_1
"Bukan urusan Eyang!" jawabnya tak kalah sengit. "Ayo kita pulang. Maafkan orang yang hatinya kotor itu." Sengaja Evan mengeraskan suaranya agar dapat Titik dengar.
"Maaf.. maaf karena saya sudah merusak acara malam ini." Alisa menundukkan kepalanya lantas mengikuti permintaan Evan.
Keduanya berjalan bersama keluar dari rumah, dengan tangan Evan yang tertaut kuat pada tangan Alisa. Memberikannya kekuatan agar tak terpedaya ucapan Titik barusan.
Merasa harga dirinya direndahkan oleh cucunya sendiri, Titik tak terima.
Napasnya memburu karena kesal yang ditahan-tahan. Tangannya mengepal di bawah meja.
"Aku akan membuatnya tahu diri, siapa dirinya bagi Evan." Titik mendorong kursi yang ditempatinya dan bergegas menyusul Evan.
"Bu, Ibu mau kemana?" tanya Reyhan ikut berdiri.
"Jangan hentikan aku!" ancamnya menunjuk Reyhan. Kemudian keluar dari rumah.
"Pi, susul cepetan." Morena kelihatan tidak sabar takut jika Titik akan menyakiti Alisa atau Evan.
Begitu Alisa masuk ke mobil, muncul Titik dari dalam. Berteriak menghentikan Evan.
"Jika kamu pergi dengan dia, sama saja kamu tidak menganggap aku sebagai eyangmu."
Evan sampai mendesah, ia memutar tubuhnya melihat Titik di teras rumah.
"Eyang, secara tidak sadar Eyang sudah kembali mengusik hidupku. Apa belum cukup?"
Melihat perseteruan diantara keduanya, membuat Alisa keluar lagi dari mobil. Ia tidak ingin Evan berseteru gara-gara dirinya.
"Mas, kata eyang memang benar. Aku masih terikat pernikahan. Aku tidak pantas ada di sini, membuat nama baik keluarga ini jadi tercemar."
"Syukurlah kalau wanita itu sadar diri. Maka jangan permalukan dirimu Evan. Kamu masih bisa mendapatkan wanita lain yang kamu mau. Berapapun yang kamu inginkan," desis Titik memandang rendah Alisa.
"Bu, sudahlah. Tidak pantas kita membicarakan ini. Biarlah Evan memilih pasangannya sendiri," ujar Morena.
"Tapi tidak dengan wanita beristri. Apa kata orang kalau ada yang tahu mereka pasangan selingkuh?" katanya berapi-api.
"Sebentar lagi pengadilan akan memutus perceraiannya. Setelah itu aku akan menikahinya, direstui atau tanpa restu eyang!" Evan mantap mengajak Alisa meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
Melihat Evan yang kian menjauh, Titik berdecak kesal. Ia marah karena ternyata Evan lebih memilih Alisa daripada mendengarkan kata-katanya.
***