SELINGKUH BALAS SELINGKUH

SELINGKUH BALAS SELINGKUH
Jaga Jarak


__ADS_3

Alisa mematut dirinya di depan cermin. Hari ini adalah hari di mana ia akan menghadiri mediasi dengan Yogas. Memantapkan hati dan perasaannya agar tak terganggu akan godaan-godaan lain yang hinggap. Setelah sidang kelengkapan berkas yang ia ajukan sudah lengkap


Merasa sudah pas, ia mengambil tasnya dan juga dua buah koper yang sudah dimasukkan semua baju-bajunya ke dalam sana. Ia sudah memutuskan untuk keluar dari penthouse milik Evan dan sudah mencari tempat baru di sebuah perumahan. Cara itu lebih baik untuk menjaga jarak hubungannya dengan Evan. Setelah pertemuannya dengan Titik seminggu yang lalu.


Sudah seminggu juga ia tidak menghubungi Evan, menjaga tidak berkomunikasi dengan pria itu. Ada kalanya Evan datang ke penthouse, memintanya untuk bicara. Tapi, ia beralasan lelah dan ingin beristirahat.


Menyadari Alisa menjauhinya, Evan membiarkannya memberikan Alisa waktu untuk tenang.


Alisa duduk dengan anggun di ruang mediasi, di sana sudah ada Yogas. Didampingi petugas mediasi. Di dalam, Alisa nampak tegar, tidak ada raut penyesalan sedikitpun. Ia lakukan untuk menegaskan dirinya sudah mantap menggugat cerai.


"Dari pihak anda apakah masih ada keinginan untuk mempertahankan hubungan?" tanya seorang perempuan paruh baya itu pada Yogas.


"Masih. Saya sebenarnya masih ingin mempertahankan," jawabnya tegas.


"Saya tetap pada keputusan saya!" tegas Alisa setelah masa mediasi yang tidak memuaskan salah satu pihak yang tergugat.


Yogas mendesah berat ketika mediasi tidak menemukan titik terang, itu artinya proses sidah gugatan cerai Alisa tetap akan dilanjutkan.


"Kenapa kamu ingin mempertahankan rumah tanggamu?" kecam Ratna kesal setelah Yogas keluar dari ruangan.


"Siapa tahu Alisa ingin tetap bertahan dan berdamai dengan Naura," jawabnya membuat Naura yang ada di sana ikut kesal dan tidak mengerti apa yang ada dipikiran suaminya itu.


"Mas, kamu ko berubah pikiran?" Naura menggamit lengan Yogas di hadapan orang banyak. Hal itu membuatnya risih, menepis tangan Naura.


"Jaga jarak dulu, aku tidak ingin pihak pengadilan tahu kalau aku punya istri lagi. Hal itu akan membuatku susah untuk menyangkal semua gugatan Alisa nanti." Yogas berjalan lebih dulu ke mobilnya, diikuti Naura dan juga Ratna yang berjalan tergesa-gesa.


Naura duduk di sampingnya Yogas di jok depan. Suaminya itu sudah bersiap menyalakan mobil tanpa berniat menjawab pertanyaan Naura.


Mobil melaju pelan keluar dari parkiran pengadilan. Rasanya Naura sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak bertanya.


"Mas, kamu nggak berniat buat tidak kembali padanya kan?"


Yogas hanya diam, ia sama sekali tidak ingin membahas hal itu sedikitpun.


"Yogas, Naura nanya loh," kata Ratna dari jok belakang.


"Heem," jawab Yogas hanya berupa dehaman.

__ADS_1


Kembali suasana jadi sepi tidak ada yang bersuara lagi, baik Naura ataupun Ratna.


***


Sekembalinya dari pengadilan, Alisa kembali lagi ke kantor untuk bekerja. Di mejanya sudah banyak berkas yang harus ia periksa.


"Tok.. tok.. tok.." Alisa mendongak begitu pintu ruangannya ada yang mengetuk.


"Ya, silahkan masuk," sahut Alisa tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya.


"Selamat siang, Bu. Ada berkas yang harus anda tanda tangani," ujar Veny, sekretarisnya.


"Oh okay, saya lihat dulu ya. Silahkan duduk."


Veny memperhatikan Alisa yang tak biasanya, atasannya itu terlihat sedikit pendiam dan tak mengajaknya berbincang.


"Bu," kata Veny.


"Hem, iya?" Alisa menatap Veny yang sedang tersenyum ke arahnya.


Kening Alisa mengernyit, ia tidak tahu maksudnya Veny.


"Gosip apa, Ven?"


Veny tersenyum lagi, ia sebenarnya tidak enak jika harus bertanya. Tapi, ia juga tidak enak dengan gosip orang sekantor yang membicarakan atasannya itu. Bagi Veny jika gosip itu tidak benar, ia harus membela Alisa.


"Saya dengar anda mau bercerai, apa benar, Bu? Demi pak Evan?"


"Hah? Demi pak Evan?" Bukannya memjawab, Alisa malah terkekeh. "Nggak benar itu, Ven. Masa karena pak Evan. Saya dan pak Evan murni karena pekerjaan. Jika saya terlihat sama-sama dengan beliau, itu sama saja sepeti saya sama kamu. Kita bersama karena urusan pekerjaan bukan pribadi," jelas Alisa tanpa membuka statusnya dengan Evan.


Veny mendesah lega, pasalnya ia juga tidak percaya jika kabarnya seperti itu.


"Tuh kan apa yang saya bilang." Belum hilang rasa penasarannya, Veny harus dikejutkan dengan kedatangan Evan yang tiba-tiba ke ruangan manager keuangan di Merlion itu.


"Lis, sepertinya kita harus bicara," kata pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Alisa sama terkejutnya, ia juga tidak tahu jika Evan akan mendatangi ruangannya seperti ini.

__ADS_1


Veny lekas berdiri, ia sadar diri dan harus angkat kaki jika CEO tempatnya bekerja ingin bicara dengan Alisa.


"Maaf, Pak. Kita akan bicara nanti, saya baru saja akan memeriksa berkas yang diajukan sekretaris saya dulu."


Veny terpana dengan jawaban Alisa pada Evan, secara Alisa secara tidak langsung menolak Evan.


"Kita perlu bicara Alisa, kenapa kamu pergi dari penthouse? Kamu menjauhiku?"


Gleg,


Wajah Alisa merona mendengar itu, ia salah tingkah karena ada Veny di sana.


Alisa malah menoleh pada Veny, susah payah ia coba menutupi hubungannya dengan Evan. Malah Evan yang dengan gamblang membuka hubungannya tanpa malu dihadapan orang lain.


"Kita bicarakan ini nanti ya, Pak," pinta Alisa sedikit memohon.


Evan mulai sadar jika Alisa sebenarnya canggung karena ada Veny.


"Kamu, tolong kamu tinggalkan ruangan ini. Saya mau bicara dengan pacar saya!" titah Evan sedikit tegas pada Veny.


Veny tergugu, sungguh telinganya tidak salah dengar atas ucapan Evan barusan.


Mendapatkan perintah dari pimpinan tertinggi, Veny segera angkat kaki dan keluar dari ruangan Alisa.


Meninggalkan ruangan Alisa, banyak pertanyaan di benak Veny. Pasalnya ia mendengar sendiri Evan yang mengaku pacarnya Alisa.


"Astaga. Ini sulit dipercaya," kata sekretaris yang sudah lama mengabdikan dirinya di Merlion tersebut. Rasanya tetap saja panas meski Veny sudah meneguk air mineral dingin dan masuk ke tubuhnya itu. "Jadi gosip itu benar, bu Alisa pacaran sama pak Evan?"


Sadar atas ucapannya, Veny segera menutup mulutnya. Takut ada orang lain yang mendengar. Lagipula, ia harus menjaga nama baik Alisa sebagai atasannya. Jika tidak, Alisa bisa saja memecatnya dan menjadikannya gembel.


"Aku harus keep silent masalah ini, aku masih mau kerja di sini. Lagipula cicilanku masih banyak dan aku nggak boleh dipecat," gumamnya berkali-kali. Namun tetap awas mengamati pintu ruangan kerja Alisa.


Evan menatap Alisa penuh, perempuan itu sepertinya memang sedang menghindarinya. Terlihat dari Alisa yang kembali fokus pada pekerjaannya dan tidak menganggap Evan ada.


"Katakan padaku, apa yang membuatmu menjauhiku?" tanyanya dengan suara parau. Mendapatkan kenyataan Alisa menjauh saja hampir saja membuatnya menggila.


***

__ADS_1


__ADS_2