
DOSA TERINDAH
"Aku ingin memiliku malam ini dan selamanya, aku tak akan memaksa, biarkan semua berjalan seperti air yang mengalir! Aku ingin kau sadar satu hal Gendhis bahwa aku datang membawa cinta bukan nafsu untuk memiliki dirimu," bisik Rio di telingan Gendhis.
Tubuh Gendhis menggelinjang. Bulu kuduknya berdiri mendapat perlakuan seperti itu.
"Apakah aku berdosa jika melakukan ini dengan suami orang Mas?" tanya Gendhis.
""Ya, tentu saja berdosa! Tapi bukankah sebagai manusia kita sama- sama pendosa? Hanya saja cara kita yang berbeda," ujar Rio.
Mereka saling bertatapan beberapa saat. Gendhis melihat sorot mata lelaki sholeh dan pendiam itu nampak teduh. Rasanya mata ini seperti berbicara bahwa dia akan aman jika bersamanya.
Gendhis merasakan ada sesuatu yang dingin menyentuh bibirnya. Ya, Rio mulai mengecup bibirnya, Gendhis mulai memejamkan mata. Menikmati sentuhan dingin dan getaran aneh yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.
Dinginnya AC hotel rupanya tak mampu meredakan hawa panas di antara mereka. Yang awalnya hanya mulai kecupan kini Rio memeluknya. Gendhis terdiam, pelukan itu semakin kencang. Rio melepaskan kecupannya.
"Bolekah aku mendapatkan yang lebih? Aku tak akan memaksanya jika kau belum siap," kata Rio.
"Mas, kita mulai pelan- pelan ya, bukankah masih banyak waktu yang bisa kita habiskan untuk bersama- sama?" tanya Gendhis.
"Ya, mulai detik ini akan ada banyak waktu yang bisa ku habiskan denganmu! Aku janji itu," ucap Rio.
Mereka saling berpandangan. Suasana syahdu kota Jogja membuat dua insan manusia itu terbawa larut dalam perasaan. Kecupan itu perlahan mulai berubah menjadi pangutan antar bibir. Tangan Rio yang tadinya memeluk pinggang Gendhis berubah menjadi usapan lembut. Rio mulai meciumi belakang telinga Gendhis. Menjilat leher jenjang wanita itu, mencoba menghirup aroma tubuh yang tersisa.
"Ahhhhh!" desah Gendhis.
Rio menghentikan cumbuannya pada Gendhis. Dia takut tak dapat lagi menahan gairah dan nafsu untuk menyetubuhi wanita yang di cintainya itu. Rio ingin melakukan hal itu dengan rasa suka sama suka, bukan karena terpancing nafsu semata.
“Tidurlah! Aku berjanji tidak akan menyentuhmu malam ini! Tapi gak janji kalau malam-malam lain!” ucap Rio sambil mentowel hidung Gendhis.
Gendhis tersenyum, hendak berjalan menuju tempat tidur. Dengan sigap Rio menggendongnya.
"Mas turunkan aku," pekik Gendhis.
"Diamlah, kalau kau terus bergerak kita bisa jatuh berdua! Kau kan sugar baby- ku jadi akan ku perlakukan kau layaknya bayi," kata Rio.
Gendhis mengeratkan pelukannya ke leher Rio.
__ADS_1
"Mas tahu apa yang aku pikirkan sekarang?" tanya Gendhis.
Rio menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tuhan aku tahu jika lelaki yang menggendongku ini adalah suami orang, maka izinkan aku meminta dia menjadi milikku malam ini! Jika Tuhan ingin memisahkan kami besok saja, karena aku ingin bersamanya," lanjut Gendhis.
Rio menidurkan Gendhis di kasur. Dia membaringkan diri di sebelah wanita itu, mereka saling berhadapan.
"Mengapa kau berdoa seperti itu? Apakah kau tak menginginkan bersamaku lagi?" tanya Rio.
"Ya, aku hanya menginginkan dirimu malam ini, karena aku tahu jika aku terus berdoa memintamu untuk menemaniku di malam- malam yang lain itu artinya aku terlalu terbawa perasaanku sendiri," kata Gendhis.
Rio merentangkan tangannya. Gendhis berpindah tidur di dengan bantal tangan Rio.
"Kau tahu Mas, setiap aku melihatmu maka gambaran sosok suami impianku ada padamu," lanjut Gendhis.
"Benarkah?" tanya Rio.
"Ya, lelaki yang sholeh, pintar mengaji, menjaga pandangannya! Semua kriteria lelaki itu ada padamu, apakah penilaianku terhadapmu akan mulai berubah malam ini?"
"Tidak, memang benar aku lelaki seperti itu," tegas Rio.
"Kau tahu jawabannya hanya ada satu," ujar Rio.
"Apa itu?"
"Karena wanita di depanku adalah orang yang aku cintai! Wanita di depanku ini sanggup membuat aku tergila- gila sampai memilih meninggalkan anak istri, bahkan yang lebih dahsyatnya godaan wanita di depanku ini tak bisa ku tolak meskipun aku tahu ini akan mendatangkan banyak dosa," kata Rio.
"Kau tahu, bersamamu malam ini rasanya seperti mimpi! Aku berpikir mungkin tak akan bisa jatuh cinta lagi setelah rasa itu mati, tetapi nyatanya salah! Setelah puluhan tahun aku tak mengenal cinta, malam ini aku benar- benar bisa merasakan cinta yang sebenarnya! Cinta yang pernah aku rasakan dulu," sambung Rio.
Rio mendekap tubuh Gendhis.
"Tidurlah Gendhis! Tidurlah Sayang, aku tak akan membiarkanmu sendiri lagi," lanjut Rio.
Gendhis memejamkan mata dalam dekapan tubuh Rio. Biarlah malam ini akan menjadi rahasia antara mereka. Selanjutnya akan terjadi apa Gendhis tak sanggup memikirkanny, sampai tak terasa Gendhis tertidur memeluk tubuh kekar Rio.
"Vi, lihatlah aku telah menemukan pengganti dirimu setelah kau hilang sejak peristiwa itu, lihatlah Vi aku bisa merasakan cinta dengan wanita ini, meskipun dia bukan istriku!" gumam Rio lirih.
__ADS_1
Rio menciumi wajah Gendhis berkali- kali. Rasanya masih seperti mimpi mereka bisa tidur bersama malam ini. Alarm ponsel Gendhis berbunyi.
"Ah... sudah pagi," Gendhis menggeliatkan badannya.
Merentangkan kedua tangan sambil mengerjapkan mata. Dia mengingat- ingat apa yang terjadi tadi malam.
"Sudah bangun sayang?" tanya Rio.
"Kau sudah bangun Mas? Dari tadi?" tanya Gendhis.
"Aku tak bisa tidur lebih tepatnya, semalaman bersamamu di kamar ini membuatku harus ke apotik k24 malam- malam," ujar Rio.
"Mas ngapain ke apotik? Ada yang sakit?"
"Ya aku lelaki norma Baby! Bayangkan melihatmu tidur pulang dengan paha menempel ke badanku, apa tak membuat kelelakianku bergejolak," kata Rio.
"Hanya malam ini saja aku memberimu kesempatan tidur nyenyak saat bersamaku," sambung Rio.
Gendhis tersenyum. Dia berjalan ke kamar mandi untuk bersiap. Setelah selesai semua memakai handuk kimono Gendhis berjalan ke luar. Rio sedang duduk di balkon, Gendhis berjalan menghampirinya.
"Kau mau menggodaku?" tanya Rio.
Gendhis tak menjawab, dia duduk di pangkuan Rio. Aroma wangi sabun menguar dari tubuh Gendhis. Membuat Rio reflek menggigit pelan leher itu.
"Ah! Sakit Mas, mengapa engkau sangat bernafsu sekali melihatku?" ucap Gendhis.
"Jangan membuatku ingin memakanmu! Salah sendiri menggodaku dengan pakaian seperti itu!" tegur Rio.
"Mas sepulang dari sini apa kau masih mencitaiku? Apa kau akan memperlakukanku seperti ini lagi atau menghilang seperti biasanya? Kadang aku bingung apakah kamu mempunyai kepribadian ganda?" tanya Gendhis.
"Mengapa dalam satu tubuh lelaki ini memiliki dua karakter yang berbeda, kadang dia menjadi seorang ustadz yang sangat aku idolakan! Rio yang alim, pendiam dan selalu menjaga pandangan! Tapi sekarang dia berubah menjadi sosok Rio sangat ganas!" ejek Gendis.
"Mengapa sekarang engkau diam Mas? Jawablah pulang dari Jogja kau akan perlakukan aku seperti apa? Menjadi Rio yang pendiam atau yang ganas?"
"Em..........."
BERSAMBUNG
__ADS_1
Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author
Secilia Abigail Hariono/ @secilia_harion