Selir Kesayangan Suamiku!

Selir Kesayangan Suamiku!
BIMBANG


__ADS_3

BIMBANG


"Tapi Pak, Ibu hanya ingin Sifa," ujar Purwati lirih.


“Doanya saja ya bu,” hibur Rio.


Terlihat Purwati hanya mengangguk meskipun tampak sedikit guratan kecewa di wajahnya. Setelah berpamitan dengan Ibu dan bapak, Rio pun mengendarai mobil perlahan kembali ke Madiun.


Dari jauh Rio melihat Dimas sedang menelpon seseorang, sedangkan istrinya Maya menyiram tanaman harmonis sekali pasangan suami istri.


"Apakah aku akan mengalaminya juga dengan Sifa? Namun hatiku ragu dan bimbang! Apakah aku bisa mencintainya? Tapi jika bukan dengan Sifa lantas aku menikah dengan siapa? Di Madiun aku sama sekali tidak mengenal wanita, fokusku hanya untuk bekerja dan mengembangkan usaha! Belum ada yang membuat hati ini bergetar seperti Via dulu, mungkin karena terlalu pendiam tak mudah bergaul dengan semua orang yang menyebabkan aku masih bergelut dengan masa lalu," kata Rio dalam hati.


'Tin' Rio mengklakson mobilnya tanda kedatangan. Dimas melambaikan tangan pada Rio sambil melanjutkan pembicaraan di telponnya, Maya berlari kecil menuju mobil Rio.


“Yeay oleh-oleh! Ibu bawakan apa Mas Bos?” tanya Maya.


Maya memang seperti adik Rio sendiri. Turun dari mobil Rio langsung membuka bagasi belakang, Maya membantu Rio menurunkan makanan dari Purwati, hidungnya kembang kempis mecium aroma masakan yang menguar sedap.


“Soto nih, sama sate tukri! Asik makan enak gausah masak! Pahh angetin dong satenya! Laper!” perintah Maya ke suaminya Dimas.


“Hidungmu May, mambu ae panganan enak (tahu saja makanan enak)! Jangan bawa berat-berat eman kandunganmu! Bawa sate aja, lainnya tak bawakan!” perintah Rio.


Dia tak tega melihat Maya kepayahan membawa semua barang bawaan. Hanya Maya satu-satunya wanita selain Via yang bisa membuat Rio akrab tanpa ada silsilah kekeluargaan. Tak lama Dimas menghampiri Rio.


“Gimana boss? Alhamdulillah trip lancar abis telp sopir nih! Bos mending kita nanti cari TL (Tour Leader) deh jadi biar kayak biro jasa profesional Atau mau gandeng EO lain untuk sementara, biar jadi batu loncatan kita," saran Dimas.


Rio mengangguk setuju.


"Sebenarnya sudah lama aku terfikir gagasan itu Dim! Namun aku masih bimbang karena kurang relasi di sini," ujar Rio.


"Gampanglah Bos, nanti kita cari sambil jalan!" sahut Dimas.


Rio masih memikirkan semua perkataan ibunya tentang Sifa. Dia sangat tahu bahwa ibunya memiliki pendirian dan hati yang teguh. Seberapapun usaha Rio untuk membuatnya lupa tentang perjodohan ini pasti akan sia-sia, Ibunya pasti akan menagihnya setiap menelpon. Setelah berganti pakaian Rio menuju dapur mencari Dimas, hanya ada Maya sedang asik makan soto sambil melihat HP nya.


“May, Dimas mana?” tanya Rio.


“Tuh minum es di depan, sampean mau? Tak buatin tapi tak makan dulu ya,” Maya menawari.

__ADS_1


“Gorengin nangka sekalian ya May, yang di bawakan ibu tadi! Sudah mateng itu! Kamu bisa ndak bukanya? Kalo ndak bisa aku bantu! Lagian kapan selesai makanmu jika sambil main Hp! fokuslah makan dahulu,” omel Rio.


“Iya bawel amat kek Mas Dimas! Saingan ya bawelnya? Ketimbang ngupas doang bisa, gampang! Dahlah nanti aku buatin! Ke depan sana! Ngrusuhi mas Rio nih!” ucap Maya sambil mengusir Rio.


Rio berjalan mencari Dimas ke depan, dia terlihat asik dengan HP nya memaikan game Mobile Legend. Rio menarik kursi disebelahnya, membiarkan dia menyelesaikan game sambil memandang ke arah tanaman yang akhir-akhir ini di tanam Maya. Berbagai bunga kamboja, anggrek, bougenvil tumbuh subur di pekarangan rumah membuat pikiran lebih dingin dan adem ketika memandangnya.


Pikiran Rio melayang, bagaimana dia harus menjawab permintaan ibunya. Rio takut andai tetap menikah akan menyakiti hati Sifa jika tak bisa mencintai wanita itu selamanya. Tetapi Rio juga tak sanggup melihat wajah kecewa ibunya kesekian kali. Karena baru kali ini ibunya memohon kepada Rio.


“Bos! Bos! Woy Bos, diem aja di panggil! Nglamun apa? Kesambet nanti,” tegur Dimas.


Rio tersentak kaget dari lamunannya. Nampak Dimas sudah menyelesaikan permainanya dan meletakkan Hp di samping laptop.


“Aku bingung Dim,” kata Rio.


“Kenapa? Sudah ketemu sama calonnya?” tanya Dimas.


Rio mengangguk pelan.


“Cantik? Sampean terpesona? Kesambet? Kenapa diem sih?” desak Dimas karena sangat penasaran.


“Boro-boro Dim bisa lihat wajahnya! Wong kulitnya warna apa saja aku tk tahu! Dia bercadar dan memakai baju panjang!" ujar Rio.


"Oh ya kau ingat pas kajian tentang jodoh itu?" tanya Rio.


"Ustad tua yang gaul itu?"


"Hm ya betul! Ternyata dia anak Ustad itu," kata Rio.


“Bagus to Mas malahan! Hijrahmu bisa maksimal gak setengah-setengah lagi! Lagian Ibu kok bisa dapet sih calon seperti itu? Nemu dari mana ya?” tanya Dimas lagi.


“Katanya langganan beli ganongan, dia mondok buat oleh-oleh khas indonesia ke teman-temannya luar negeri! Apalagi dia anak Ustad juga, jadi kepincut deh Ibuku,” sahut Rio.


“La terus masalahnya apa? Belum lihat wajahnya kan sampean?”


“Kata Ibu suruh tuker biodata, kemarin ketemu juga dia diem aja! Lah aku diem, dia diem sama-sama pendiem to! Lagian aku ragu Dim, apa bisa aku mencintainya? Dia sangat berbeda dengan Via, aku pengen pasangan yang supel! Bukan hanya cantik, tapi dia bisa membuatku ceria, membayangkan memiliki istri pendiam saja aku sudah merinding,” kata Rio.


Dimas mengambil segelas es teh lalu meminumnya.

__ADS_1


“Sampai kapan sampean mau terus terbayang masa lalu? Cobalah dahulu! Jika belum mencoba tidak ada yang tahu kan? Jangan Via kau jadikan patokan sebagai wanita idolamu Mas! Salah, keujung dunia pun kau tak akan menemukannya!” tegur Dimas.


Mereka saling diam, hanyut dalam pikiran masing-masing.


“Every body how are you! Nangka goreng ala chef Maya bukan estianti! Nikmat tiada tara siap untuk di nikmati” teriak Maya menganggetkan mereka berdua yang asik melamun.


Maya datang membawa sepiring nangka goreng yang masih mengepulkan asapnya. Rio tersenyum, sungguh Dimas dan Maya pasangan yang konyol.


“Heh Maya KW cepet usap perutmu, amit-amit jabang bayik ojo nurun anak putuku mbah” ucap Dimas sambil memeragakan tangganya mengusap perutnya yang buncit.


Rio hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua. Rumah selalu ramai jika ada mereka berdua. Mereka mengobrol ringan sampai terdengar adzan tiba, Rio berpamitan pada mereka untuk sholat terlebih dahulu.


"Ya Allah, Ya Robb, Tuhanku yang Esa, di atas sajadah merah ini aku bersimpuh, memohon memantapkan hati ini agar jalan yang ku pilih tidak salah! Entahlah meskipun aku gamang namun tetap ku jalankan saran ibu dan Dimas untuk mencoba mengenal Sifa lebih dalam! Semoga Engkau mempermudah jalannya! Amin," doa Rio dalam sujudnya.


Meskipun hati Rio masih ragu namun tidak ada salahnya untuk mencoba. Setelah puas bermunajat hampir seminggu. Rio memutuskan membuat CV dirinya.


Rio membuka laptop di atas meja kerja. Mulai mengetik biodata, di lengkapi dengan foto seperti melamar pekerjaan. Besok rencananya dia akan pulang ke Ponorogo membawa biodata ini, semoga mampu membuat ibu bahagia.


"Ya Allah, aku meniatkan semua demi orang tua," ucap Rio.


Rio mengendarai mobil melaju ke arah jalan rumahnya. Suhadi nampak sedang mengelus ayam jago peliharaannya di latar pekarangan rumah.


"Assalamualaikum, Pak!" seru Rio setelah turun dari mobil.


"Waalaikumsalam, kau pulang mendadak? Ada apa?" tanya Suhadi.


"Mau menyerahkan biodara lamaran Pak," jawab Rio.


"Apa kau benar- benar yakin?" tanya Suhadi.


"Pikirkanlah lagi Le," sambung Suhadi.


"Memang kenapa Pak?" tanya Rio.


"Menurut hitungan jawa kau dan Sifa akan......"


BERSAMBUNG

__ADS_1


Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author


Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono


__ADS_2