
DARAH SAKSI CINTA!
Rio mengangguk, benar apa yang Dimas katakan. Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya. Rio mendekati Sifa, dia membelai pelan rambut Sifa dan malam ini Rio putuskan melakukan apa yang harusnya di lakukan sejak mereka menikah sebulan lalu.
"Sifa maafkan suamimu ini Dek," bisik Rio lirih.
Sifa hanya menganggukkan kepala, akhirnya malam ini dia bisa menjadi sosok istri yang sempurna.
"Allâhumma innî as'aluka khairahâ wa khairamâ jabaltahâ alaih! Wa a'ûdzubika min syarrihâ wa syarrimâ jabaltahâ alai," doa Rio sambil meniupkannya ke ubun- ubun kepala Sifa.
"Mas aku mencintaimu karena Allah," kata Sifa.
"Aku persembahkan semuanya untukmu, kesucian yang ku jaga dan pertahankan selama ini untuk suami yang halal di dunia dan insyaallah di akhiratku juga, sebagai bukti kesucian diri," sambung Sifa.
Rio mencium rambut Sifa, dia turun ke mata lentik itu. Sifa dan Rio memang baru pertama melakukannya. Semua di lakukan dengan cepat dan grusa- grusu. Malam itu hanya menyisakan noda darah kepedihan yang sebenarnya membuat Sifa sedikit trauma melakukannya.
"Ya Allah, mengapa sakit sekali ya," ujar Sifa yang kesusahan berjalan ke kamar mandi.
Perih bercampur sakit rasa hati SIfa, mengigat pertempuran tadi. Rio tampak tak peduli padanya. Dia hanya memasukkan dan mengeluarkan tanpa pernah menanyakan bagaimana keadaan dan perasaan Sifa.
"Tak apa, yang penting sekarang aku sudah sempurna menjadi Istri, Mas Rio lelaki yang benar- benar aku cintai semenjak masa SMA, kini kami benar- benar telah menyatu," ujar Sifa dalam hati.
Genap enam bulan sudah Rio dan Sifa berumah tangga, sejak malam itu Rio berubah lebih mendekatkan diri ke Allah. Sifa membimbing Rio perlahan. Akhirnya mereka memutuskan untuk membeli sebuah rumah di samping kantor mereka dulu dengan bantuan kedua orang tua Rio.
“Alhamdulillah, Allahuakbar!” teriak Sifa dari belakang.
Rio berlari mendekati wanita itu.
“Dek? Kenapa?” Rio panik melihat istrinya berteriak.
Sifa berlari memeluk Rio sambil membawa benda pipih seperti termometer.
“Aku hamil Mas, Alhamdulillah ya Allah," teriak Sifa bahagia.
Mendengar kabar kehamilan itu langsung Rio terduduk, bersujud syukur.
"Terimakasih ya Allah kau kabulkan doa kami!"
Gegas Rio menelpon ibu dan bapak, juga Dimas. Mereka bahagia atas kehamilan Sifa, bahkan Maya datang membawa bayinya yang masih merah untuk menginap di rumah mereka.
"Stttt! Diamlah ini cara biar kalian belajar menjadi orang tua," ujar Maya.
Saat hamil Sifa tak pernah menyusahkan. Sifa selalu melakukan semuanya sendiri dan mandiri. Terkadang meminta bantuan jika Rio sedang tidak sibuk. Sifa sangat mengerti keadaan Rio.
Rejeki datang berlimpah saat kehamilan Sifa, beberapa kali Rio mendapatkan tander besar untuk EO dan Trip, berkat doa Sifa. Entahlah seolah rejeki datang mengucur deras dari Allah ke keluarganya.
"Dim apa rumah ini untuk kantor saja ya, jadi di rombak!" kata Rio.
"Bisa sih Mas, agar kelihatan bonafit!" ujar Dimas.
Sifa tidak mempermasalahkan keuangan, dia juga tidak pernah menuntut nafkah lahir berlebihan. Semua keuangan satu pintu pada Rio. Walaupun terlihat harmonis sebenarnya Rio kadang merasa kosong dan hampa di hatinya. Meskipun mereka sudah menjalin rumah tangga cukup lama, Rio sama sekali tidak bisa mencintai Sifa.
"Ya Allah Semoga dengan kehadiran calon buah hati ini, mampu membuat aku jatuh cinta pada Sifa," doa Rio dalam hati.
Rencananya hari ini Dimas dan Rio akan pergi bersam. Mereka akan menemui vendor EO baru yang akan menjadi rekanan bisnis mereka.
__ADS_1
“Dim berangkat jam berapa?” tanya Rio.
“Habis ini aja Bos, tapi aku gak bisa ikut! Soalnya Rendi sakit! Gimana dong?” tanya Dimas.
“Gak papa aku sendiri, lelaki kan? Kalau perempuan aku gak mau!” kata Rio.
“Laki-laki kok, namanya Pak Aam! Dia dah sharelok, aku kirim ke sampean ya,” ujar Dimas.
Rio mengangguk menunggu pesan Dimas. Setelah melihat alamat yang di berikan, gegas Rio masuk ke mobil dan berangkat menemui lelaki bernama Aam. Tak butuh waktu lama mereka bisa bertemu, karena Aam memang sudah datang lebih dulu dari pada Rio.
Mereka mengobrol cukup lama tentang kesepakatan dan kerjasama yang akan merek lakukan untuk beerapa proyek ke depan. Tak terasa jam makan siang hampir terlewat saking asiknya pembahasan.
"Mas Rio kita makan dulu yu, di sebelah ada kantin kompleks kantor masakannya lumayan enak," ajak Aam.
"Mari Pak," sambut Rio tak keberatan.
Rio dan Aam berjalan kaki ke warung dekat kantor.
"Mau pesan apa Mas Rio?" tanya Aam.
"Di sini yang enak rawonnya, ala- ala surabaya begitu, aku mau pesan itu, sampean sekalian?' tanya Aam
"Boleh Pak," jawab Rio.
Rio dan Aam memilih menu rawon untuk makan siang kali ini.
“Hey Mas!” teriak seorang wanita yang berada di belakang Rio.
Aam tampak melambaikan tangan pada sosoknya.
Rio menundukkan pandangannya langsung dan menangkupkan tangan.
“Oh iya lupa, temen Mas Aam mah alim- alim orangnya ya! Tuh sama Samuel mau makan rawon, katanya kangen makan rawon sini!” ucap Gendhis sambil tertawa.
Tak sengaja saat mengangkat wajah mata Gendhis dan Rio saling bertatapan, jantung Rio berdetak lebih cepat. Rasa ini, rasa yang telah lama tak lagi Rio rasakan. Bahkan dengan Sifa istrinya sendiri.
Beberapa detik Rio terkesiap membeku.
“Heh Mas, malah bengong gitu lihatnya? Kenapa? Naksir ya?” kata Gendhis itu sambil tersenyum.
"Senyum itu, ceria itu, ramah itu, seperti wanita yang ku kenal dulu, aku menemukan sosok Via pada gadis di depan ini," kata Rio dalam hati.
“Ngawur kamu, mas Rio dah nikah malah mau punya anak!” tegus Aam.
“Yahhh, telat deh aku! Padahal aku pengen tobat lo mas, nikah sama seorang Ustad gitu cita- citaku, tak kira sampean jomblo, tiwas (terlanjur) seneng dan mau tak lamar!” ujar Gendhis tertawa.
Rio hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Gendhis. Dia menundukkan pandangannya untuk mengontrol gejolak rasa yang ada di hati, sungguh wanita yang membuat Rio tertarik, supel, ramah, dan ayu.
Wajah khas dan kulit langsat wanita jawa. Rambut terurai panjang, tinggi semampai, mengenakan pakaian yang simpel hanya kaos oblong polos warna putih dan celana jeans panjang memberikan kesan casual tertutup tapi tetap seksi.
"Ah sungguh indah ciptaan Allah, mengapa aku baru bertemu dengannya sekarang?" tanya Rio dalam hati.
"Bulu mata Gedhis lentik meskipun aku yakin itu pasangan bulu mata palsu tak seperti milik Sifa, namun mengpa wanita ini mampu dengan mudah beradaptasi dengan orang baru? ini wanita kriteriaku berbeda dengan Sifa yang keibuan dan pendiam, astagfirulloh, apakah aku terpesona atau jatuh cinta?" tanya batin Rio.
Mereka mengobrol ringan lalu. Tak lama datang lelaki menghampiri Gendhis dan duduk di sebelahnya, mungkin suami atau kekasih Gendhis pikir Rio. Hati Rio sangat penasaran, dia ingin tahu siapa sebenarnya Gendhis.
__ADS_1
"Ya Allah, Bolehkah aku mencintainya?" tanya Rio dalam hati.
Di tengah makan HP Rio berbunyi, ternyata dari Dimas. Lelaki itu mengabarkan Sifa masuk rumah sakit karena ketubannya pecah.
"Astagfirulloh! Baik Dim, titip Sifa sebentar ya! Oke aku akan bergegas menuju sana sekarang juga," kata Rio.
"Pak Aam, Mbak Gendhis, Mas, maaf saya harus pamit sekarang karena Istri saya mengalami pecah ketuban, sepertinya akan melahirkan! Mari saya permisi dulu ya," pamit Rio.
"Assalamualaikum," sambungnya sambil setengah berlari.
Rio bergegas pamit. Sekali lagi Rio menyempatkan mencuri pandang pada Gendhis, sebelum mobilnya melaju pergi meninggalkan kompleks perkantoran itu.
Farhat Furqon Gunawan, nama anak laki-laki pertama Rio dan Sifa. Meskipun sampai saat ini Rio masih belum bisa sepenuhnya mencintai Sifa tapi kesabaran Sifa yang membuat Rio bertahan. Malam ini di rumah sakit, Rio menatap mata lentik itu, sungguh dia tak bersalah, dia hanya korban keegoisan Rio.
"Mengapa kau menatapku seperti itu Bi?" tanya Sifa.
Semenjak anak mereka lahir beberapa jam lalu Sifa memutuskan memanggil Rio dengan sebutan Abi, agar Farhat nanti terbiasa. Begitupun Rio memanggil Sifa dengan panggilan Umi.
"Tidak, Abi hanya terharu saja! Terimakasih ya Dek, kau telah memberikan anak padaku, memberikan seorang bayi sholeh yang akan menjadi generasi penerus kita, ya kan Nak," kata Rio.
"Rasanya melihatmu berjuang melahirkan Farhat tadi sempat membuatku berpikir untuk tak memiliki anak lagi Dek," sambung Rio.
"Kenapa memang Mas? Sifa malah ingin punya anak banyak," rengek Sifa.
"Aku tak tega melihatmu kesakitan seperti itu, palagi darahmu berceceran sebanyak itu," jawab Rio.
"Mas tahu kan sekarang mengapa surga berada di bawah telapak kaki Ibu?" tanya Sifa.
"Ya aku paham sekarang, karena perjuangan melahirkan tidaklahh mudah," sahut Rio.
"Tapi aku ikhlas Mas melakukannya," kata Sifa.
"Sama- sama Bi, Ana Uhibbuki Fillah," sambung Sifa.
Rio hanya tersenyum tak menjawab perkataann Rio. Memang selama ini Rio tak pernah mengatakan cinta ataupun sayang pada istrinya, karena bagi Rio pantang mengucapkan itu semua jika tidak benar- benar merasakannya. Bagi Rio sama saja membohongi istrinya lebih dalam. Sedangkan SIfa berpikir memang watak Rio yang pendiam sehingga membuatnya kesulitan mengatakan atau mengungkapkan rasa kasih sayang.
"Dek maafkan Mas ya, jika masih banyak kekurangan! Semoga Mas bisa lebih baik ke depannya," ujar Rio.
Sifa mengangguk, dia ingin sekali menggoda suaminya.
"Mas bolehkah Sifa meminta satu permintaan sebagai kado melahirkan?" tanya Sifa.
"Tentu, Mas akan lakukan selama itu bisa," kata Rio.
"Tolong ambilkan Hp Sifa Mas di meja," perintah Sifa.
Rio mengambilkan Hp istrinya. SIfa membuka kamera di Hpnya, dia merekam Farhat bayi mereka.
"Sholeh Umi, hari ini kau akan menjadi saksi pertama kalinya Umi menanyakan langsung pada Abimu, Bi apakah Abi mencintai Umi?" tanya Sifa sambil mengarahkan kamera menyorot wajah Rio.
"Aku... Aku...."
BERSAMBUNG
Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author
__ADS_1
Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono