
MATINYA RASA CINTA RIO.
"Kau salah paham Rio, sebenarnya aku bekerja sebagai pemandu lagu tidak lebih," ujar Via.
"Aku bukan lelaki bodoh!" ucap Rio.
"Rio, dengarkan aku! Logikanya sekarang aku harus bekerja apa? Nenek sakit, adikku butuh biaya sekolah Rio, huhuhu" isak Via.
Rio membalikkan badan. Dia merangkul wanita di hadapannya. Entah setan mana yang merasuki Via sehingga dia memilih jalan menjadi wanita pemandu lagu di salah satu tempat karaokean kota Ponorogo.
"Sampai kapan kau akan bekerja di sini?" tanya Rio mengajak Via membeli minuman di indomaret dekat club malam tempatnya bekerja.
"Setelah semuanya stabil, aku janji akan segera meninggalkan tempat ini Rio! Via janji, bahkan Via masih menjaga kesucian yang Via miliki, seperti janji kita dulu, Via akan menunggu Rio untuk datang dan menikah!" kata Via.
Rio sempat bertahan dengannya, karena sangat mencintai wanita itu dengan tulus. Namun ternyata lingkungan membuat pengaruh dan pola pikir Via berubah. Via terlalu dalam masuk dunia itu, sampai pertemuan terakhir mereka.
“Lupakan aku, kamu tak akan sanggup menebusku ke mami! Andaikan kamu sanggup membawaku keluar dari sini, kamu pengangguran Rio! Tak mungkin bisa mencukupi kebutuhan hidupku!” cemooh Via.
Kata-kata itu masih jelas berdengung di telinga Rio. Dia menatap gadis di depannya. Gadis itu bukanlah Via yang selama ini di kenalnya. Wajah dan penampilannya berubah. Semua seperti wanita asing yang masuk dalam kehidupan Rio. Tampilannya sekarang vulgar dengan make up menor, Rio kehilangan Via yang penuh kesederhanaan dulu.
"Lupakan aku Rio," pinta Via sebelum meninggalkan Rio yang termenung menatap kepergian gadis itu.
Hanya Dimas yang mengerti kisah ini, selanjutnya Rio tak pernah lagi jatuh cinta. Hati Rio telah mati. Separuh hidup Rio hanya untuk mengendari motor berkeliling indonesia dan naik gunung.
"Kau tak akan bisa menghidupiku, kau pengangguran Rio!" kata- kata Via selalu menghantui pikiran Rio.
Rio melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
"Brak!"
Sebuah truk yang memotong arah menabrak motor Rio. Dia mengalami kecelakaan yang hampir membuat kakinya diamputasi. Kejadian itu menyadarkan Rio bahwa hidup terlalu berharga jika hancur karena Via.
Sejak mendapat kesempatan hidup kedua Rio mulai berbenah, menyelesaikan kuliah di bantu Dimas, dan mendekatkan diri pada Allah.
"Ingatlah lelaki pezina untuk wanita pezina, perbaiki diri dulu insyaallah kau akan mendapatkan jodoh terbaik versi- Nya!" ucap Ustad Furqon pengisi kajian hari ini.
Rio memang mulai rutin mengikuti kajian-kajian bersama Dimas. Melihat begitu banyak perubahan pada Rio, kedua orang tuanya merasa senang. Mereka memberikan modal untuk Rio membuat bisnis trip dan biro wisata. Sampai akhirnya di suatu sore ketika Rio duduk di pelataran rumah, Purwati datang membawa sepiring pisang goreng dan kopi susu kegemarannya.
“Dimakan le,” kata Purwati.
Rio mengangguk, kopi buatan ibu memang tiada tandingnya.
“Dimas sudah menikah ya le, kamu kapan? Ibu ingin sekali melihatmu menikah! Apalagi kamu anak satu-satunya yang kami miliki, apakah Bapak dan Ibu berkesempatan melihat momen itu ya?” tanya Purwati.
Rio terdiam, Purwati ibunya memang tidak pernah meminta apapun kepada Rio, pernyataan ibunya terdengar begitu berat. Purwati mengusap pelan tangan Rio anaknya.
“Ibu memiliki calon yang cocok denganmu, meskipun ibu ini istilahnya orang abangan yang tidak terlalu memahami agama islam tetapi calon yang ibu pilihkan sholehah! Putri dari kyai, siapa tau bisa membantu jalanmu mendekatkan diri pada Gusti Allah! Tak perlu dijawab sekarang le, pikirkanlah matang- matang, Ibu tak ingin memaksamu tetapi Ibu berharap kau setidaknya mau menemui wanita itu,” ucap Purwati beranjak pergi masuk ke dalam rumah.
Percakapan sore itu sempat membuat Rio mulai berfikir tentang pernikahan.
"Besoklah jika sempat akan ku tanyakan pada ustad yang mengisi kajian! Toh usaha open trip yang ku buat sedang naik daun, dalam seminggu bisa memberangkatkan rombongan sampai 3x dengan tujuan destinasi yang berbeda! Mulai Bromo, Dieng, Bali, Bandung, namun kadang kali aku merasa di kota ini Trip ini kurang berkembang, apakah aku pantas menikah?" tanya Rio dalam hatinya sendiri.
__ADS_1
Rio berencana untuk mencari kontrakan di kota sebelah, karena kota itu lebih maju dan memiliki UMR yang lebih tinggi dibanding kota tempat tinggalnya. Rencana ini sudah Rio sampaikan ke Dimas dan istrinya, mereka sangat setuju. Bahkan akan ikut jika Rio mencarikan rumah yang di jadikan kantor dan tempat tinggal sementara untuk mengembangkan bisnis mereka.
"Dim, sepertinya tak salah memang aku memilih kamu, rupanya kau pandai meloby perusahaan dan instansi-instansi daerah! Berarti tinggal aku yang mencarikan hotel, bus, dan anggarannya, bagaimana?" tanya Rio pada Dimas.
"Sip itu Mas, jujur saja jika masalah administrasi aku tak sanggup! Kau tahu sendiri aku kurang teliti dan sembrono," jawab Dimas jujur.
Dengan modal bismillah mereka bertiga merintis usaha di kota sebelah. Tak terasa dua tahun sudah mereka merintis usaha di kota pecel ini, perlahan trip yang mereka kelola mulai di kenal. Beberapa kali kami memberangkatkan instansi pemerintah juga perusahaan-perusahaan daerah ini.
"Alhamdulillah! Mas Dimas! Mas Rio! Lihat ini! Lihat!" teriak Maya sambil kegirangan membawa hasil tes uji coba kehamilan.
"Ada apa?" tanya Rio.
"Apa sih May?" ujar Dimas.
"Lihat! Garis dua, Maya Hamil!" teriak Maya kegirangan.
"Alhamdulillah," Dimas langsung bersujud syukur
"Selamat ya Dim, May, sudah jangan lonjak- lonjak seperti itu! Mas ngeri May!" tegur Rio.
Ya, kini Maya istri Dimas tengah mengandung buah hati pertama mereka. Kehadiran Maya sangat menguntungkan bagi Rio, karena adanya Maya membuat rumah sekaligus kantor ini selalu rapi dan lebih irit pengeluaran, karena Maya rajin memasak dengan uang anggaran yang di sediakan.
Pagi itu dimas menghampiri Rio yang sedang membuat RAB untuk trip besok.
“Bos, Ibumu tadi menghubungiku! Dia menanyakan bagaimana tentang calon yang beliau pilihkan," ucap Dimas.
Rio tersentak kaget, dua tahun berlalu ternyata ibunya masih menunggu jawaban perjodohan itu. Rio tetap memilih diam.
Memang pendapat Dimas kali ini tak salah juga pikir Rio.
“Besoklah aku pulang ke Ponorogo, kamu handle ya Dim! Aku akan membicarakan ini dengan Ibu,” kata Rio.
Dimas membuat gestur tubuh hormat, Rio tertawa. Dia memang sahabat yang paling mengerti.
Dari jauh Purwati terlihat menyapu pelataran rumah, sore hari memang beliau terbiasa menyapu dan membakar sampah. Di usianya yang tidak lagi muda garis kecantikan masih terpancar jelas diwajahnya. Bapak Rio mungkin berada di sanggar seperti biasa, melatih para pemuda yang ingin belajar seni Reog. Mobil memasuki pekarangan, Rio melihat senyum ibunya.
“Mlebuo le (Masuklah), tak selesaikan ini sebentar,” perintah ibu.
Rio masuk ke rumah, memang tiada yang berubah selama ini. Rio menuju kamar, tetap tertata rapi meskipun dia hanya pulang sebulan sekali. Ibunya selalu membersihkan dan mengembalikan ke tempat semula.
"Kamar inlah saksi bagaimana aku pernah berjuang untukmu Via," gumam Rio lirih.
Perlahan Rio merebahkan diri, teringat sebelum sampai ke rumah tadi dia sempatkan bertemu dengan ustad yang dulu sempat membimbingku berhijrah pasca kecelakaan. Masih terngiang pesan beliau.
‘Temuilah wanita yang di maksud ibumu Mas, apabila wanita ini pandai membaca Al-quran, menyayangi ibumu, berpakaian sopan, mengerti agama, nikahilah! Pilihan orangtua tidak akan pernah salah! Apalagi pilihan seorang ibu! Tidak ada ceritanya bahwa ibu akan menjerumuskan anaknya! Setelah menemuinya, sholatlah istikharoh, mantapkan hati dan niatmu’
Rio menyampaikan niatnya menemui wanita itu pada ibunya. Saat itu ibu Rio tengah asik menggoreng bakwan di pawonan atau kompor tradisional dari tanah liat yang menggunakan kayu bakar.
"Bu, boleh Rio ngomong?" tanya Rio.
"Ngomong ya ngomong saja to Le, kok kayak sama siapa saja kamu itu," kata Purwati sambil asik menuang adonan bakwan ke wajan berisi minyak panas.
__ADS_1
“Bu, aku ingin bertemu wanita itu! Tapi Rio tidak berjanji langsung cocok ya bu, doakan saja semoga awal pertemuan nanti bisa menjadi awal yang baik,” ucap Rio.
Purwati langsung menengok ke arah Rio. Matanya berbinar bahagia, seulas senyum terlukis di wajahnya.
“Alhamdulillah, makasih ya le, ibu seneng banget! Pak, Pak nanti ayok ke rumahnya Ustad Furqon, Si Rio anakmu mau Pak ketemu dengan wanita itu,” kata Purwati berteriak lari ke arah belakang meninggalkan bakwan yang di gorengnya.
Sungguh baru kali ini Rio melihat ibunya bahagia.
"Maafkan Rio ya bu, jika selama ini Rio acuh pada permintaanmu," bisik Rio lirih.
Malam harinya dengan mengendarai mobil sendiri, Rio dan kedua orang tuanya pergi ke rumah ustad Furqon teman ibu. Rumahnya satu kota tetapi beda kecamatan dengan Rio, perjalanan memakan waktu 30 menit. Mereka turun dari mobil, Suhadi berjalan terlebih dahulu sedangkan Rio membantu Purwati menurunkan buah tangan yang telah di persiapkan.
“Assalamualaikum” teriak Suhadi di depan pintu rumah ustad Furqon.
“Waalaikum salam,” pintu terbuka, menampilkan sosok yang memiliki wajah teduh, menggunakan kaos oblong dan sarung tampak sangat sederhana tapi berwibawa.
“Masyaallah, Pak Suhadi dan Ibu, bagaimana kabarnya? Sugeng nggeh (baik kan)?” tanyanya sambil mempersilahkan keluarga Rio masuk ke dalam rumah.
“Alhamdulillah Pak Ustad, pangestunipun berkat doa panjenengan (kamu),” kata Suhadi.
"Bukankah dia Ustad yang mengisi kajian beberapa hari lalu?" tanya Rio dalam hati.
Rio memandang sekeliling ruang tamu, semua tertata apik dan rapi. Tampak foto keluarga yang terpajang di buffet kecil, semuanya bercadar kecuali ustad Furqon dan anak kecil laki-laki mungkin anaknya,
“Ini Mas Rio ya?” tanya ustad Furqon.
Rio hanya mengangguk dan tersenyum.
"Sepetinya kita pernah bertemu ya?" tanya Ustad Furqon.
"Iya Ustad, beberapa kali saya ikut kajian njenengan," jawab Rio.
“Masyallah! Pantaslah wajahnya tak begitu asing," kata ustad Furqon.
"Sifa sering sekali bercerita tentang Nak Rio lo! Kalian dulu pernah sekolah di SMA yang sama, tetapi beda tingkat, kalau tidak salah Sifa anak saya kelas satu Mas Rio kelas tiga! Mungkin Mas Rio ndak kenal kali ya, Sifa ini pendiam sekali sama kayak sampean (kamu),” jelas ustad Furqon.
Rio hanya diam dan tersenyum, entahlah siapa Sifa itu, Rio tak begitu paham. Bapak dan ustad Furqon mengobrol membahas tentang seni reog daerah mereka, tak lama kemudisan keluarlah wanita bercadar membawa nampan berisi empat gelas teh dan dua toples makanan. Dia menyuguhkan di hadapan mereka. Rio mengamati gerakan tangannya, sungguh lembut. Dia tak banyak bicara, semua tertutup rapat bahkan tangannya, Rio tak bisa melihat warna kulitnya, hanya mata mereka saling memandang.
“Ini Sifa Mas Rio, putri kami! Dia baru saja menamatkan pondoknya di Temboro Magetan,” sambung ustad Furqon.
“Nak Sifa, tidak lupa kan sama Ibu? Nah ini bapaknya Mas Rio namanya Pak Suhadi, kalau Mas Rio sudah kenal kan?” tanya Purwati.
Rio tak bisa melihat bagaiaman ekspresi wajah Sifa. Hanya matanya yang terlihat, dia mengangguk.
"Apa ini wanita pilihan ibuku? Sungguh berbeda dengan kriteriaku mencari pasangan yang supel karena aku pendiam! Tapi mantu seperti inilah yang di inginkan ibu! Apa yang harus ku lakukan?" tanya Rio dalam hati.
"Bu, Rio ingin....."
BERSAMBUNG
Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author
__ADS_1
Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono