
Malam Pertama?
"Tidurlah! Aku tidak akan menyentuhmu!" ujar Rio.
Sifa terdiam mendengar jawaban suaminya. Mungkin memang benar Rio suaminya ingin mereka berkenalan dulu, berpacaran sesudah menikah dan halal. Sebagai pengantin baru Sifa dan Rio berbulan madu, seminggu sudah Rio menikahi Sifa, pekerjaan selama ini murni tanggung jawab Dimas.
Tradisi pengantin baru yang menikah di Jawa, biasanya seminggu ini pengantin akan di rak keliling keluarga. Rio di ajak berkeliling ke rumah saudara Sifa. Mereka di perkenalkan sebagai anggota baru keluarga, begitupun Sifa.
Waktu terus berjalan, tepat hari ini sebulan sudah mereka menikah. Rio rutin memberikan nafkah lahir untuk belanja sebagai bentuk tanggung jawabnya pada istri. Tapi Sifa menolak. Dia hanya meminta uang jika perlu. Jika kebutuhannya habis maka ia meminta tolong mengantarkan belanja sekalian jalan- jalan dan Rio yang akan membayarkannya.
"Mas saja yang bawa keuangannya, Sifa takut malah boros jadinya," ujar Sifa.
Meskipun demikian sampai detik ini Rio belum menunaikan kewajiban memberikan nafkah batin ke Sifa.
"Maafkan aku Fa, aku belum bisa melakukannya," ujar Rio.
Sifa hanya mengangguk pasrah. Sampai malam itu saat kami di rumah Abah hanya berdua, Sifa bertanya.
“Mas, boleh Sifa bertanya?” tanya Sifa.
Rio mengangguk, tumben sekali dia bersikap seperti itu.
“Apa sampean memiliki cinta yang lain?” tanya Sifa.
Rio tersentak agak kaget mendengar pernyataan Sifa. Dia menatap mata itu, mata indah dengan bulu mata lentik.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu Fa?" tanya Rio heran.
“Sudah sebulan lebih kita berumah tangga, bahkan tidur bersama! Kenapa sampean tidak pernah memberikan hakku?” tanya Sifa lagi.
“Hak apa?” tanya Rio bingung
“Nafkah Mas,”
“Bukankah selama ini Mas selalu memberimu uang tetapi kamu menolak? Lalu sekarang kamu menuduh Mas memiliki cinta lain karena tidak memberimu nafkah?” tanya Rio heran.
“Bukan itu Mas, untuk nafkah lahir memang Mas Rio memenuhinya, lebih dari cukup malahan! Sifa berterimakasih untuk itu! Tapi nafkah batin? Kenapa Mas tidak pernah melakukannya?” gumam Sifa lirih.
Rio terdiam tak dapat menjawab. Tidak munafik sebenarnya melihat Sifa tertidur dengan wajah ayu timbul hasrat untuk memiliki sepenuhnya. Tetapi hati Rio masih ragu, dia takut menyakiti wanita itu karena melakukannya tanpa cinta. Memang di sini tak sepenuhnya salah Sifa, Rio- lah yang terlalu pengecut hingga membiarkan Sifa terlibat dalam drama semu ini pernikahan ini.
__ADS_1
“Apa aku tak cantik Mas? Apa kurang Sifa Mas? Apa Mas sakit?” tanya Sifa lagi.
“Tidak dek, kamu cantik! Dan Mas sehat, cuma belum waktunya! Nanti Mas akan memberikan semua nafkah itu, tapi tidak sekarang ya! Bersabarlah! Aku ingin melakukannya berdasarkan cinta,” ujar Rio lembut sambil mengelus rambutnya.
Raut kecewa tergambar jelas di matanya. Hp Rio berbunyi, satu pesan masuk dari Dimas.
[Bagaimana? Isi belum? Sudah liburannya woy! Kerja!]
[Aku tak sanggup Dim, aku belum menyentuhnya]
Send.
Hari ini Rio memboyong Sifa ke Madiun. Purwati membekali mereka dengan banyak barang.
"Bu? Apa ini tak berlebihan?" tanya Sifa.
"Westo Nduk! Ndak papa, dari pada kamu nanti kebingungan di sana belanja!" tegas Purwati.
Purwati membawakan mereka berbagai macam kebutuhan pokok, buah, dan sayur. Purwati meyayangi Sifa, mereka bukan lagi seperti mertua dan menantu tapi bagaikan ibu dan anak kandung.
Rio tersenyum melihatnya. Perlahan mobil melaju meninggalkan kota reog menuju Madiun, sampai gang depan Rio melihat Dimas sedang memberhentikan gerobak bakso di depan rumah. Mobil memasuki garasi.
“Assalamualaikum,” ucap Rio sambil turun dari mobil.
“May! Maya! Sini! Ini Mas bawakan makanan,” teriak Rio.
“Sebentar Mas!” teriak Maya dari dalam.
Dimas nampak membawa nampan berisi empat mangkok bakso.
“Makan Bos, Mbak Sifa ikut ndak?” tanya Maya tampak keluar dari rumah.
Perutnya makin membesar tak menghalangi kelincahan wanita itu.
“Eh Mbak Sifa juga ikut ya!" pekik Maya.
Sifa hanya mengangguk.
“Cepetan Mbak, genjot terus biar anak kita nanti sekolahnya bareng,” kata Maya.
__ADS_1
“Doakan ya Mbak, kita sudah ikhtiar! Semoga saja lekas isi seperti sampean (kamu),” ujar Sifa.
Sifa mencoba menutupi keadaan rumah tangga mereka yang sebenarnya. Dimas menatap mata Rio dengan tajam. Rio hanya menunduk tak berani menatap wajah Dimas. Mereka menghabiskan sore mengobrol di teras, sementara Rio akan tinggal di sini sampai dapat rumah yang sesuai.
“Sudah melakukannya?” tanya Dimas setelah Sifa masuk ke dalam membereskan kamar.
Rio menggengkan kepala.
“Nunggu apalagi? Engkau terlalu banyak pertimbangan sih Mas! Terjebak dalam pemikiran-pemikiran sulitmu sendiri, sekarang aku tanya apa yang membuatmu seperti ini?” tanya Dimas.
“Entahlah Dim, aku belum yakin! Rasanya aku takut melakukan hal itu karena tak berdasarkan cinta dan hati, aku tak ingin melibatkan Sifa lebih dalam lagi, aku takut jika melakukannya dan membuat dia menjadi tak perawan lagi!” ujar Rio.
“Jangan tertipu bujuk rayu setan, ini hampir sebulan lebih! Jangan kau siksa dia Mas! Bagaimanapun juga statusnya adalah istrimu! Halal bagimu untuk melakukannya! Sampai kapan lagi kau akan menunda? Kasihan, lakukanlah jika ikhlas akan di permudah! Wanita juga memiliki perasaan, aku bicara seperti ini sebagai sahabatmu! Jangan mau di mengerti, cobalah untuk mau mengerti juga,” kata Dimas.
Nasehat Dimas kali ini sungguh mengusik hati Rio. Dia mencoba mengingat-ingat lagi semua perlakuan yang dia lakukan pada istrinya. Untunglah Sifa bukan tipe istri yang suka mengumbar keburukan suami.
"Apa aku seegois itu? Ya Allah ampunilah hamba!" kata Rio dalam hati.
Setelah membahas beberapa pekerjaan dengan Dimas, Rio memutuskan untuk tidur. Ternyata Dimas sudah menemukan rekanan untuk EO yang akan mereka gandeng. Rencananya mereka akan meneliti company profile tersebut baru menentukan langkah selanjutnya.
Rio masuk kamar, dia lihat Sifa sedang menulis di bukunya. Memang Sifa suka menulis, entah apa yang dia tulis Rio tak begitu memperdulikannya. Rio tak pernah melarang semua kegiatan yang Sifa lakukan selama itu tak mengganggu dirinya sendiri. Jika dipikir-pikir lagi sangat egois bukan?
“Belum tidur Fa?" tanya Rio.
“Nunggu Mas,” jawab Rio lirih.
Malam ini Sifa memakai daster hitam. Sungguh wanita di depan Rio ini cantik, lembut, dia selalu melayani keperluan Rio seperti ibunya. Berdosa sekali selama ini Rio mengacuhkannya.
“Maaf ya!” kata Rio.
“Untuk apa Mas?” tanya Sifa.
“Membuatmu menunggu terlalu lama,” gumam Rio.
“Apakah sekarang aku mendapatkan hak- ku?” tanya Sifa berharap pada Rio.
Apakah malam ini akan terjadi malam pertama Sifa dan Rio?
BERSAMBUNG
__ADS_1
Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author
Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono