
ASYIFA FURQON POV 1 (KHUSUS SIFA)
-DALAM NOVEL INI PENULIS MENGHADIRKAN CAMPURAN POV 1 DENGAN TOKOH SIFA❤️-
Sebatas Kata Andai,
Andai aku seperti mereka, tentu tak akan hati ini nelangsa,
Dengan mudah bibir ini mengucap cinta layaknya pujangga pada setiap pria,
Andai aku seperti mereka, mungkin kita akan bersama sejak lama,
Tahukah engkau rasanya mencinta hanya di hati saja? sangat nestapa,
Andai aku seperti mereka, tentu Tuhan akan murka padaku juga,
Katanya mendekati zina berdosa, apakah menganggumimu sama?
Tak perlu kau tahu siapa aku, hanya melihatmu dari jendela kelas saja aku bahagia,
Tak perlu kau membalas cintaku, hanya mendengar suaramu saja hatiku gembira,
Tak perlu kau menghampiriku, cukup kau diam, kau menerima, dan merasakan semuanya,
Biarlah aku yang melayani, mencintai, tersakiti, apapun itu asal bisa bersama selamanya.
Sifa, Ponorogo, 2-Juni-2003
Asyifa Furqon nama yang di berikan Abah. Aku tersenyum membaca catatan harian saat duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas). Teringat lelaki itu mengambilkan kerudung saat aku di bully waktu ospek dulu, dia tak banyak bicara namun langsung bertindak.
"Pakailah!" perintahnya.
Hanya kata itu yang terucap dari mulutnya namun bisa membuat dadaku bergetar tak karuan. Lelaki itu Rio Gunawan yang sekarang menjadi suamiku. Seperti cerita telenovela bukan kisah cintaku?
Banyak lamaran datang silih berganti sejak aku menyelesaikan mondokku di temboro. Tapi aku tolak semua pinangan itu, bahkan julukan perawan tua dan murka Abah pernah aku rasakan demi dia. Demi mununggu kedatangannya.
"Allah, lelaki seperti apa yang kau inginkan Sifa?" tanya Abah di tengah malam saat aku menolak pinangan pria lagi.
Aku hanya sanggup terdiam tak berani menyanggah.
__ADS_1
"Laki- laki mana yang kau inginkan Nduk?" tanya umiku juga.
"Sifa hanya tidak mencintainya Bah, Mi!" jawabku.
Ya, Aku memang tak pernah merasakan jatuh cinta lagi setelah mengenal sosoknya. Seolah hati ini tertutup untuk lelaki lain. Sosok Rio yang pendiam, cerdas, juga menjaga jarak dengan wanita lain merupakan nilai lebih dimataku.
"Lihatlah Fa, kenapa ya Mas Rio selalu pendiam? Padahal kalau di pikir- pikir lagi dia cukup tampan lo," ujar sahabatku Dini di bangku SMA dulu.
"Itulah Din yang membedakan Mas Rio dengan kakak tingkat lainnya, kalau yang lain mah dah caper ini itu sama adik kelas, tetapi dia berbeda, benar bukan?" tanyaku.
Dini mengangguk setuju. Rio dua tingkat di atasku, itulah yang membuatku hanya sanggup mengagumi tanpa berani mengungkapkan apa yang ku rasakan. Tetapi namanya selalu ku sebut dalam setiap doa di sepertiga malam.
Abah berpesan saat kami membicarakan masalah cinta masa SMA,
“Nduk, Abah dan Umi melarangmu berpacaran, menonton konser, apalagi keluar ke pasar malam bersama teman-temanmu bukan berarti Abah tak menyayangimu. Percayalah hanya Abah lelaki yang akan menjaga dan mencitaimu dengan tulus,”
“Umi juga sependapat dengan Abah, jangan malu berhijilbab meskipun sendiri, menutup aurat wanita itu wajib, Nduk! Jika kamu mengikuti trend sekarang kasihanilah Abah dan Umi saat di akhirat mempertanggungjawabkan didikan kami,” kata Umi.
Memang saat itu wanita menggunakan jilbab masih jarang, bisa dihitung dengan jari. Terkadang aku iri melihat teman-teman berganti model rambut. Dengan tetap menunduk aku bertanya pada Abah.
“Apa itu artinya Sifa tidak boleh berkencan Bah?” tanyaku dengan polos.
“Abah tak pernah melarang kamu jatuh cinta nduk, itu hal yang wajar di usiamu saat ini. Namun mengelola cinta itu yang penting! Jangan sampai kebablasan apalagi LKMD Lamaran Keri Meteng Disik, hamil duluan itu aib yang ditanggung seumur hidup oleh perempuan. Anaknya tidak berhak memperoleh wali ayahnya, tak berhak mendapatkan warisan. Kasihan kan!” kata Abah, aku hanya sanggup mengangguk.
“lalu bagaimana Bah cara mengelola cinta di usia Sifa agar tidak salah jalan?” tanyaku.
“Sholat nduk, perbanyak istigfar. Setan membujuk manusia agar mendekati zina. Jika memang kamu mencintai laki-laki doakan dia. Mintalah dia kepada pemiliknya, siapa pemiliknya? Allah nduk. Mintalah dia pada Allah di setiap sujudmu! Insyaallah kalian akan dipertemukan Allah dengan cara yang lebih indah dan halal” Ucap Abah.
Aku tersenyum mendengar nasehat Abah. Mulai saat itulah aku selalu menyebut nama Rio Gunawan dalam setiap sujud di sepertiga malam. Lelah? Tentu saja. Apalagi saat kelulusan dan tak ada kemajuan tentang perkenalan kami, aku hampir putus asa.
Saat itu aku berfikir lagi, Allah ingin aku meminta lebih untuk mendapatkan dia. Bukankah lelaki istimewa perlu diperjuangkan? Selama ini tak pernah sekalipun aku mendengar dia bertukar surat dengan wanita. Berbeda dengan temannya Dimas yang menjalin hubungan dengan teman seangkatan.
"Apakah aku masih bisa bertemu dan melihatmu meskipun kita sudah tak satu sekolah SMA?" gumamku di pagi hari saat melihat Rio melintas di depan ruang kelas.
Setelah lulus SMA, aku tak pernah lagi mendengar nama Rio Gunawan. Abah juga menyuruh kuliah dan mondok di Magetan, hingga aku sejenak bisa melupakan Rio beberapa tahun. Qodarulloh, saat ingin memberikan cendera mata asli Indonesia pada Wardat sahabatku yang berasal dari Yaman informasi tentang Rio muncul kembali.
Waktu aku berunding dengan Abah, kira-kira cenderamata apa yang cocok di berikan untuk Wardat.
"Bah, besok lusa Wardat akan kembali ke Yaman. Sifa hendak membelikan kenang- kenangan yang abadi untuknya, enaknya apa ya Bah?" tanyaku pada Abah.
__ADS_1
"Bagaimana kalau sesuatu yang mencirikan negara dan daerah kita saja Nduk! Kita kan asli ponorogo dan Indonesia jadi memberikan oleh- oleh khas yang tak habis di makan lebih baik. Seperti hiasan begitu tapi yang tak terlalu besar, hingga muat masuk koper!" usul Abah.
"Ganongan Bah?" tanyaku.
"Jangan, itu akan merepotkan. Bagaimana kalau satu set pakaian tradisional penari Jathilan. Baju penari itu bisa di tata rapi ketika di lipat dalam koper, nanti sampai Yaman biara di pajang dalam pigura," jawab Abah.
"Benar Bah, Sifa rasa itu ide yang sangat bagus," ujarku senang.
Aku menyetujui ide Abah, kemudian mencari pengrajin baju Jathilan karena ingin menyematkan bordir bertuliskan namaku dan Wardat agar lebih berkesan.
"Di mana ya Bah tempat membeli baju tapi yang bisa custom nama begitu?" tanyaku bingung.
"Abah pernah mengisi kajian di daearah Jambon Nduk, banyak pengrajin di sana!" jawab Abah.
Setelah mendapar rekomendasi Abah, aku pergi ke desa pengrajin kesenian reog. Aku pergi dengan diantar adikku Hafiz. Karena aku tak bisa mengendarai motor ataupun mobil.
Kami berdua mengendarai motor kesana. Setelah beberapa kali bertanya pada warga desa, akhirnya aku melihat rumah joglo dengan pendopo dan pelataran yang luas. Aku berfikir pasti itu rumah sesepuhnya, karena sekarang jarang rumah tradisonal yang masih bertahan dengan apik kecuali rumah adat atau orang yang dituakan.
“Assalamualaikum, “ ucapku masuk perlahan ke pendopo.
Keluarlah ibu setengah baya dengan rambut di gelung dan berdaster.
“Waalaikum salam, Monggo pinarak silahkan duduk! Ada perlu apa ya?” tanya ibu itu.
Setelah menyampaikan maksud kedatanganku, ibu itu menyambut lebih ramah. Beliau juga memanggilkan suaminya yang berada di belakang rumah. Belakang rumah mereka sentra pengrajin *dadak merak dan *ganongan.
"Loh sampean putra dan putrinya Abah Furqon yang mengisi tabligh akbar itu?" tanya ibu itu.
"Enggeh Bu, iya benar saya putrinya! Nama saya Sifa ini adik saya Hafiz," jawabku memperkenalkan diri.
"Masyallah, beruntungnya saya! Kenalkan nama Ibu Purwati dan ini suami saya Suhadi," ujar Purwati ramah.
Aku mengobrol lumayan lama dengan bu Purwati. Sampai akhirnya sepakat mengambil barang dengan harga yang di tentukan. Saat berpamit pulang kami lewat rumah belakang bu Purwati. Aku melihat ada foto keluarga di dalamnya.
"Bu, Maaf apakah dia Rio?" tanyaku gugup.
"Loh iya dia anak Ibu Rio, tapi sayang sekali dia sedang tak ada di rumah. Nak Sifa mengenalnya?" tanya Purwati.
"Eh, em saya.....
__ADS_1
BERSAMBUNG