
PERMINTAAN PURWATI
"Bu, Rio ingin segera pulang karena ada beberapa hal yang perlu Rio handle, bagaimana jika kita lnjutkan kapan- kapan saja? Dimas sudah menghubungiku sejak tadi Bu!" bisik Rio.
Purwati mengangguk dan segera mengajak Suhadi berpamitan pada ustad Furqon. Purwati tak ingin membuat Rio merasa tak nyaman. Jadi sebisa mungkin dia akan menuruti semua permintaan anak lelakinya itu agar Rio mau menjalankan perjodohan ini.
Pulang dari rumah ustad Furqon Purwati tampak gembira sekali, dia tersenyum sepanjang jalan menceritakan tentang Sifa. Purwati seolah-olah tak kehabisan kata dan pujian untuk menggambarkan sosok Sifa menantu idamannya. Bahkan saat mereka mampir makan di Sate Tukri Purwati tetap membahas tentang Sifa.
"Pokoknya menurut Ibu ya Le, tak ada wanita yang lebih baik dari pada Sifa yang patut di jadikan menantu, sejak pertama kali melihatnya Ibu sudah merasakan perasaan yang berbeda," kata Purwati.
"Sudahlah Bu, jangan terlalu berlebihan begitu, tak baik!" tegur Suhadi risih melihat istrinya bertingkah seperti itu.
"Bapak itu seperti Rio, ndak peka!" ejek Purwati.
"Bu ingatlah semua yang tergesa-gesa dan kesusu itu tidak baik! Lagian kita juga baru mengenal keluarganya dan bertemu langsung hari ini," kata Suhadi.
"Ya tidak to Pak! Orang kita sudah seringkali ketemu dengan Sifa saat membeli oleh-oleh kerajinan tangan yang kau buat, mosok sampeyan lupa?" eyel Purwati.
"Ya beda to Bu! Itu kan hubungan penjual dan pembeli, sedangkan saat ini konteksnya sudah berbeda yaitu kita melamar atau ingin mengenal dan memintanya untuk Rio! Ini juga baru pertama kali kita bertemu dengan keluarga Sifa, jadi tak usahlah kesusu jika memang jodoh pasti Gusti Allah memberikan jalannya sendiri! Jodoh itu sudah tertulis di lauful Mahfud, Jadi kau jangan mendahului kehendak Gusti!" tegur Suhadi.
"Ya bukan begitu Pak, mumpung kesempatan sudah ada di depan mata! Coba Bapak pikir kapan lagi seorang anak ustadz yang cukup terkenal di kota kita, wanita itu juga dari keluarga terpandang baik agama dan akhlaknya, kesempatan emas loh Pak! Tak datang dua kali, selagi bisa di manfaatkan harusnya kita bisa memanfaatkannya dengan baik!"
__ADS_1
"Alah Mboh, susah ngomong sama Ibu!" Kata Suhadi meninggalkan Purwati.
Dari Ibunya- lah Rio tahu ternyata beberapa kali Sifa pernah bermain ke rumah mereka saat dia di Madiun. Meskipun Sifa mondok dia tetap berusaha melestarikan budaya daerah dengan caranya sendiri. Dari Purwati juga Rio mendengar Sifa sering memesan beberapa kerajinan seragam jathil, dan ganongan sebagai cenderamata untuk temannya dari luar negeri, karena di pondok itu terkenal dengan pertukaran pelajar luar negeri.
Rio hanya tersenyum menanggapi ocehan Purwati kali ini, melihat ibunya bahagia ada kepuasan tersendiri di hati Rio. Malam ini Rio dan Sifa bertemu untuk pertama kali sebagai pengenalan satu sama lain, jika cocok ustad Furqon meminta Rio menuliskan biodata lengkap untuk bertukar dengan Sifa.
“Bu, aku besok pagi berangkat ya kasihan Dimas kerja sendiri,” pesan Rio pada Purwati.
Purwati mengangguk paham. Dia tak lupa memesan sate kering dengan bumbu terpisah untuk Dimas dan Maya besok.
"Ah soto ayam kampung," kata Rio senang.
Dia sarapan semangkok soto ayam buatan ibunya lalu bersiap kembali ke Madiun. Purwati tampak sibuk menyiapkan makanan, satu rantang besar soto, sate ayam tukri, dan nangka hasil panen depan rumah berhasil masuk ke dalam mobil meskipun Rio sedikit menggerutu.
Meskipun sudah bekerja tetap saja Purwati sebagai seorang Ibu memperlakukan Rio seperti anak kecil.
“Doakan ya Bu, hatiku masih bimbang! Jujur saja aku sama sekali tak tertarik dengan Sifa! Dia bukan tipikal yang Rio inginkan untuk menjadi istri Bu,” ucap Rio jujur.
Meskipun Rio tahu ini akan menyakiti hati Ibunya. Setidaknya Rio tak ingin memberikan harapan lebih padanya. Purwati hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya,
“Apa lagi le yang mau kamu cari? Dia wanita baik, sholehah, mengerti agama, bibit, bebet, bobotnya juga jelas! Cinta itu gampang, bisa tumbuh sendirinya! Lawong bapak sama ibu dulu menikah tanpa cinta ketemu sekali yo jadi karena di paksa Mbah Putrimu!" kata Purwati.
__ADS_1
"Nyatanya sampai sekarang rumah tangga adem ayem, malah ada kamu! Cinta itu bisa tumbuh karena bersama, ojo sok nolak le (jangan gampang menolak wanita)! Eleng, wong kakekan milih tebu oleh e boleng (Ingat orang yang terlalu pemilih dapetnya pasti jelek)," sambung Purwati.
"Kesempatan tak datang dua kali jadi jangan sia- siakan yang ada di hadapanmu! Menyesal itu belakangan! Niatkan semua untuk ibadah dan menyenangkan orang tua, Insyallah semua akan dipermudah,” lanjut Purwati.
"Bu! Jangan memaksakan kehendak seperti itu! Yang menikah dan menjalani rumah tangga itu Rio bukan dirimu! Jangan kau samakan keadaan dulu dengan sekarang! Biarkan Rio menentukan jalan dan langkah hidupnya, jangan memberatkan langah anak! Terbaik untukmu belum tentu baik untuk Rio," tegur Suhadi yang risih karena istrinya terlalu memaksa Rio menerima perjodohan ini.
"Sudah diamlah! Bukankah tadi kau dengar sendiri dari anakmu bahwa dia masih ragu, biarkan Rio mempertimbangkan semuanya, menikah itu bukanlah sekedar menyatukan dua kepala tapi lebih dari itu! Ada dua keluarga besar di belakang mereka, latar belakang keluarga kita dengan Ustadz Furqon sangat berbeda!" kata Suhadi.
"Yo justru itu Pak yang membuatku senang sama Sifa, Ibu memiliki harapan besar Sifa bisa membawa perubahan yang baik untuk Rio kedepannya," ujar Purwati.
"Apa menurutmu anakmu ini kurang baik? Wis berangkatlah Rio tak usah mendengarkan apa kata Ibumu! Carilah uang sebanyak-banyaknya, menikah itu bukan sekedar cinta semua membutuhkan biaya! Jika kau jadi lelaki kaya dan mapan maka wanita akan datang mencarimu, gampangnya ngomong kau bisa memilih wanita seperti apa yang kau inginkan dan terbaik menurut dirimu sendiri, kebahagiaanmu kau tentukan sendiri! Bukan ditentukan Bbapak atau Ibumu camkan itu baik-baik!" nasihat Suhadi
"Insya Allah semua ucapan Bapak dan Ibu akan menjadi pertimbangan Rio kedepannya, doakan ya Pak, Bu, semoga langkah yang Rio ambil tidak salah dan tidak menyakiti kalian," ucap Rio.
"Wis sana ndang berangkat daripada Ibumu terus membahas tentang Sifa, Sifa, dan Sifa! kuping Bapak risih rasanya," perintah Suhadi.
"Tapi Pak...."
BERSAMBUNG
Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author
__ADS_1
Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono