Selir Kesayangan Suamiku!

Selir Kesayangan Suamiku!
BUKAN CINTA TAPI RASA KASIHAN


__ADS_3

BUKAN CINTA TAPI RASA KASIHAN!


"Assalamualaiku," seru suara dari balik pintu kamar rawat inap Sifa.


"Waalaikumsalam," sahut mereka.


"Untung aja ada yang datang, jadi aku tak perlu menjawab pertanyaan Sifa," batin Rio dalam hati.


Rio segera membukakan pintu untuk mertuanya yang datang.


"Selamat ya Nak!" rangkul Ustad Furqon.


"Terimakasih Bah," jawab Rio.


Segera Rio menyalami Umi Laila yang berada di belakang ustad Furqon.


"Bagaimana Nduk keadaanmu?" tanya umi Laila sembari memeluk putrinya.


"Selamat ya kau sekarang sudah menjadi seorang Ibu, ingat kau adalah madrasah pertama bagi anakmu! Jaga dan ajari dia yang baik- baik, ibaratnya dia kanvas kertas putih, ukir dengan tinta yang pilihan jangan asal melukisnya," sambung umi Laila.


"Iya Mi," jawab Sifa.


Persalinan ini berjalan lancar dan cepat. Tak butuh waktu lama, hanya satu setengah jam bayi Sifa dan Rio telah lahir. Sampa- sampai kedua orang tua Sifa kaget melihat putrinya yang sudah menimang cucu mereka.


"Besok pulang ke mana Nak Rio?" tanya ustad Furqon.


"Rencana saya tetap di Madiun, mungkin nanti sore Ibu saya datang Bah, jadi sementara biar Sifa di rawat Ibu kalau tak keberatan, karena saya masih ada bebeapa tanggungan pekerjaan Bah di sini," jelas Rio.


"Kau bagaimana Nduk?' tanya ustad Furqon.


"Bismillah Bah, Sifa akan ikut kata suami, jadi Sifa tetap di sini," putus Sifa.


Ustad Furqon hanya mengangguk. Walaupun hati kecilnya ingin sekali Sifa putrinya kembali ke Ponorogo sementara waktu setelah melahirkan. Karena dia kasihan jika Sifa yang baru pertama kali merasakan menjadi Ibu dan tak memiliki pengalaman apapun harus kesusahan mengasuh anaknya sendiri.


"Baik Nduk, jika itu memang keputusanmu! Benar surga seorang Istri itu adalah rido suaminya," nasehat ustad Furqon.


Mereka berbincang hangat, sesekali ustad Furqon dan umi Laila bergantian menimang Farhat.


Saat kembali ke Rumah sebagai orang tua baru, Rio dan Sifa harus beradaptasi menyesuaikan. Apalagi Farhat sering mengajak brgadang tengah malam, untunglah Maya sering membagikan tips mengasuh bayi pada Sifa. Hanya Maya- lah teman yang di miliki Sifa saat ini.

__ADS_1


Sore itu Rio sedang duduk di teras rumahnya. Ibunya Purwati membawakan sepiring gorengan mendoan hangat dan kopi manis untuknya.


"Kau sedang memikirkan apa to Le? Sepertinya kok serius sekali?" tanya bu Purwati.


"Ah tidak Bu, Rio hanya berangan- angan akan di bawa kemana rumah tangga ini," jawab Rio.


"Halah begitu saja kok di pikir, semua itu tak harus banyak di pikirkan, yang penting di jalani sambil di syukuri!" kata bu Purwati meninggalkan Rio sendiri.


Rio menerawang jauh ke depan, semakin ke sini dia menyadari satu hal. Bukan rasa cinta yang sering hadir seiring waktu, namun rasa kasihan pada istri Sifa.


"Mas?" panggil Sifa yang duduk di sampingnya tiba- tiba.


"Ada apa Dek?" tanya Rio yang cukup terkejut dengan kedatangan istrinya.


"Ndak papa, habisnya Mas melamun sendiri, apa ada yang mengganggu pikiran Mas Rio? Apakah ada masalah pekerjaan?" tanya SIifa.


Rio diam dan hanya menggelengkan kepalanya. Sifa mengelus tangan Rio perlahan.


"Mas mungkin jika Mas menceritakan sedikit masalah atau perasaan yang saat ini sedang Mas rasakan itu akan lebih baik bagi diri Mas sendiri, Sifa memang tak bisa berjanji membantu menyelesaikan masalah itu, tetapi setidaknya Sifa bisa menjadi pendengar yang baik sehingga Mas akan merasakan perasaan yang jauh lebih lega dan plong," rayu Sifa manja.


Rio hanya tersenyum sambil memandang Sifa sekilas. Ya, selama inii memang Rio tak pernah mengatakan cinta pada Sifa, karena hatinya tak pernah mencintai wanita itu.


"Terimakasih ya, maaf jika Mas belum bisa jadi suami yang baik untukmu," ujar Rio lirih.


"Ya Allah mengapa wanita sebaik ini tak mampu menggetarkan hatiku?" tanya Rio dalam hati.


"Assalamualaikum," teriak Dimas yang datang menghampiri mereka.


"Lagi mesra- mesraan ya? Aku ganggu ya? Jadi nggak enak nih!" sambung Dimas.


"Dek tolong buatkan kopi ya untuk Dimas!" perintah Rio.


"Duduk sini Mas Dimas, saya buatkan kopi dulu," kata Sifa.


"Siapppp! Tak merepotkan kan Mbak?" sahut Dimas.


"Halah wong cuma air saja lho bagaimana repotnya? Sampeyan duduk dulu sini!" ujar Sifa.


Dimas menghampiri kursi Rio.

__ADS_1


"Kenapa muka di tekuk? Baru juga jadi Bapak kemaren belum genap seminggu dah frustasi menangani anak begadang ya?" tanya Dimas.


Rio memandang ke arah Dimas. Ya, memang hanya Dimas yang betul- betu tahu dirinya lebih dari siapapun.


“Kenapa? Ada masalah di kerjaan?” tanya Dimas lagi.


“Aku menemukan lagi rasa itu Dim!” kata Rio dengan mata yang berbinar-binar.


Dimas tersenyum simpul. Dia paham apa yang sebenarnya terjadi. Lega rasanya.


“Tuh kan benar apa kataku Mas! Bukankah dari awal aku sudah katakan Mas, cinta hadir karena terbiasa! Apalagi sekarang ada Farhat diantara kalian, tentulah rasa itu akan semakin kuat," ucap Dimas percaya diri.


“Bukan dengan Sifa Dim, tapi wanita lain yang mampu membuatku jatuh cinta setelah Via,” ucap Rio lirih.


Senyum Dimas yang merekah, tiba-tiba memudar.


“Kau sedang bercannda kan Mas?” tanya Dimas setengah tak percaya.


"Apa aku pernah main- main soal seperti ini Dim? Aku mengatakannya pertama kali padamu, karena hanya kau lah yang paling mengerti aku selama ini, awalnya aku juga bingung dengan perasaanku sendiri, tapi memang begitulah adanya! Aku jatuh cinta pada wanita lainnya!" ucap Rio.


"Hahahaha! Kau gila Mas, tak bisa dipercaya" gumam Dimas.


"Ini Mas kopinya," kata Sifa yang datang sambil membawakan satu cangkir kopi susu panas.


"Tak masuk ke dalam dulu ya, silahkan di nikmati," sambung Sifa lagi.


"Repot sekali sih Mbak! Makasih yo Mbak," teriak Dimas.


"Siapa wanita itu Mas?" tanya Dimas.


"Perasaan kita tak bersama baru tiga sampai empat hari, itupun karena kau berada di Rumah Sakit selama dua hari dan aku sibuk seharian kemarin, kapan kau bertemu dengannya? Apa dia petugas Rumah Sakit Mas? Atau teman Mbak Sifa yang datang menjenguk?" cerca Dimas.


Rio hanya menggelengkan kepalanya.


"Lalu? Siapakah wanita itu Mas? Siapa wanita yang bisa membuat seorang Rio Gunawan jatuh cinta pada pandangan pertama! Apa dia berasal dari lingkungan sekitar kita?" tanya Dimas.


"Dia adalah....."


BERSAMBUNG

__ADS_1


Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author


Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono


__ADS_2