
BIASANYA TAK BERDANDAN SEPERTI ITU
"Kenapa Mas tergagap?" tanya Sifa heran.
"Oh tidak Dek, Mas hanya sedikit kaget dengan kedatanganmu yang muncul mendadak," kilah Rio.
Sifa tersenyum manis.
"Maaf ya Mas, ini Sifa potongkan buah untukmu! Beberapa hari ini Sifa lihat Mas sibuk dengan laptopnya sampai tak sempat makan buah," kata Sifa.
"Meskipun Mas sibuk bekerja tetap utamakan kesehatan ya Mas," sambungnya.
"Sifa tak Ingin Mas kenapa- kenapa," lanjutnya.
Rio hanya diam dan tersenyum. Dia memakan buah semangka dan melon itu sambil fokus membuat RAB baru lagi. Entah apa alasannya hari ini rasanya pembawaan Rio bahagia. Emosinya tampak stabil dan lebih ramah memperlakukan istri. Sifa merasakan perbedaan suaminya, namun ia berfikir kehadiran Farhat- lah yang mengubah sikap Rio menjadi lebih hangat pada keluarga..
“Mas akhir-akhir ini kok seneng banget kenapa? Beda gitu hawanya! Ya ndak papa sih, Sifa seneng juga ngrasainnya cuma aneh aja! Mas sering senyum sendiri jadi geli kayak orang jatuh cinta pertama gitu lo Mas,” ucap Sifa.
“Enggak Ah! Perasaan kamu aja paling Dek! Kalau ada hal yang memang benar- benar membuat Mas seneng ya jelas ada! Itu dia alasan Mas seneng setiap harinya, karena sekarang ada anak Abi yang super gemas dan gembul ini!” sahut Rio sambil menciumi Farhat yang berada di gendongan Sifa.
“Oh iya Dek! Hampir saja Mas lupa mengatakannya padamu," kata Rio.
"Ada apa Mas? tanya Sifa.
"Begini, rencananya nanti Senin pagi Mas ada ketemu sama beberapa Vendor baru! Namanya Mas Aam, kamu bisa siapkan baju Mas?" tanya Rio.
"Mau di siapkan baju yang mana Mas? Kok tumben sekali Mas mau bertemu dengan Vendor sendirian?" tanya Sifa heran.
"Iya Dek, rasanya lebih baik saat ini Mas yang menemuinya sendiri! Bukannya apa- apa, Mas jutru kasihan dengan Dimas jika semua dia yang mengerjakan, ya meskipun Dimas tak pernah mengeluh secara langsung," jelas Rio.
"Akhir- akhir ini, Mas lihat beban kerjanya semakin banyak, jadi Mas berniat turun langsung menghandle beberapa Vendor ini, toh ini demi kebaikan perusahaan kecil kita, malah rencana Mas mau mengambil satu atau dua karyawan lagi jika semua sudah stabil,” ucap Rio menjelaskan alasannya.
Tak mungkin dia jujur pada Sifa ingin menemui wanita lain sehingga dirinya ingin pergi dengan penampilan dan dandanan yang lebih rapi. Apalagi wanita yang sekarang ini jelas telah berhasil menawan hatinya. Tapi satu sisi Rio juga tak ingin berbohong pada sang istri, jadi lebih bijaknya dia mengatakan alasan yang sebenarnya dengan menghapus penyebutan rekan wanita alias Gendhis.
Sifa mengangguk paham. Walaupun terbesit banyak pertanyaan di benaknya.
"Kok tumben sekali suaminya mau menemui vendor atau rekanan baru, bukankah biasanya semua urusan berkaitan dengan orang baru selalu Mas Dimas yang bertugas untuk menghandle semuanya?" batin Sifa dalam hati.
__ADS_1
“Biasanya Mas Dimas ikut juga to Mas? kok tumben Mas sendiri nanti? Apa Mas yakin tidak apa- apa bertemu banyak orang baru?" tanya Sifa sedikit khawatir.
Tidak terbesit di benak Sifa bahwa Rio akan mendua. Tetapi Sifa takut Rio gugup dan akhirnya memutuskan pulang tanpa menemui vendor itu. Kadang Rio memang suka semaunya sendiri jika tak cocok dengan suatu situasi atau orang lain. Rio lebih memilih untuk pergi diam- diam dari pada harus berpamitan.
“Dimas banyak kerjaan Dek, toh juga ketemunya sesama laki- laki! Jadi Mas pikir sanggup untuk menerima tawarannya, lagian setelah di pikirkan lagi sebagai pemilih usaha ini, Mas mau lebih terbuka sama orang Dek, tak terlalu menutup diri, bagaimana menurutmu?” tanya Rio.
“Alhamdulillah kalau Mas ada niatan ndak jadi pendiam lagi! Itu saja sudah bikin Sifa seneng, semoga kehadiran Farhat membawa lebih banyak perubahan baik untuk Mas kedepannya,” ujar Sifa.
"Amin, terimakasih ya Dek," kata Rio.
Hari yang di nantikan Rio tiba. Rio mengenakan celana jogger dan hem flanel panjang. Dia juga menyemprotkan parfum sedikit lebih banyak, entahlah Rio sendiri tak tahu mengapa ia melakukannya.
"Apakah ini terlalu berlebihan?" tanya Rio pada dirinya sendiri sambil berkaca memutar di depan lemari pakaian kamarnya.
Rasanya jiwa muda Rio kembali dan semua terjadi alami begitu saja. Jarang sekali Rio terlihat seperti itu. Sifa tersenyum melihat suaminya berkaca seperti itu. Bahkan bisa di bilang ini adalah pertama kalinya bagi Rio berpenampilan seperti itu.
Semenjak memutuskan untuk berhijrah Rio merubah penampilannya. Biasanya dia hanya mengenakan kurtan atau gamis panjang dengan celana kain.
“Mas ganteng kalau dandan seperti itu,” puji Sifa jujur memberikan penilaian pada suaminya.
Rio tersenyum tak menanggapi. Sifa keluar kamar dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Tak lupa dia menemani Rio sampai sarapan selesai dan mengantarkan suaminya sampai depan rumah.
“Waalaikumsalam Abi!” kata Sifa menirukan suara anak kecil sambil melampaikan tangannya pada Rio.
"Bi," panggil Sifa.
Rio menolehkan kepalanya.
"Ada apa Dek?" tanya Rio.
"Aku mencintaimu karena Allah, jaga hatimu ya Bi," kata Sifa.
Entah mengapa Sifa melakukannya. Biasanya dia tak akan begitu. Rio hanya tersenyum tak membalas ungkapan cinta sang istri. Rio berjalan menuju kantor sebelah rumahnya karena mobil terparkir di sana. Sebelum berangkat dia menyempatkan diri menemui Dimas.
“Assalamualaikum, Dimas mana May?” tanya Rio sambil melihat ke dalam, hanya terlihat Maya sedang bermain dengan anak Rendi.
Tak nampak Dimas ada di sana.
__ADS_1
“Tuh, di atas masih ada dan betah anggrem dalam ruang kerja! Tumben Bos dandan! Ganteng amat, mau kemana? Kencan ya? Mbak Sifa gak ikut?” tanya Maya lagi setelah tak mendapati Sifa istri Rio di belakang Rio.
“Mau nemuin orang, tuh di rumah sama Farhat! Main aja kesana! Nanti tak traktir gofood, tapi pakai uangmu dulu ya! Aku lupa tak membawa uang cash! Nanti pulang aku ganti! Sana temani Sifa dari pada sendirian sama Rendi,” kata Rio sambil naik ke atas menemui Dimas.
Terlihat Dimas sedang sibuk bekerja menghadap laptopnya.
“Serius amat!” olok Rio.
Dimas mendongakkan kepala. Dia memperhatikan penampilan Rio, dia sedikit heran. Biasanya Rio hanya mengenakan celana training dan kaos, tumben dia berdandan seperti ini.
“Mau kemana Bos? Ganteng amat!” ledek Dimas.
“Gak kamu, gak Maya semua bilang ganteng amat! Sebenernya aku ganteng dari dulu cuma males dandan aja! Takut banyak yang terpesona!" sahut Rio.
"Eh Dim, rencananya hari ini aku mau nemuin Mas Aam, pengenku langsung bahas kontrak kerja kita! Gimana menurutmu?” tanya Rio meminta pertimbangan sahabat sekaligus patner bisnisnya.
“Boleh, aku juga Free kok! Mau aku temenin? Sekarang?” cerca Rio.
“Gak usahlah, aku sendiri cukup! Aku juga ingin pintar meloby sepertimu,” tolak Rio.
“Tumben!” kata Dimas.
Rio hanya nyengir, kemudian berjalan keluar sambil bernyanyi. Dimas merasakan ada gelagat aneh pada sahabatnya, namun dia mencoba berpikir positif. Mungkin Rio memang ingin berubah.
"Mas?" panggil Dimas dari belakang berlari mengejar Rio.
"Kau tak sedang membohongiku kan?" tanya Dimas.
"Bohong apa Maksudmu?"
"Kau tak bertemu dengan Aam? Kau ingin menemuinya kan?" desak Rio.
"Eh! Sumpah demi Allah, aku hanya...."
BERSAMBUNG
Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author
__ADS_1
Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono