Selir Kesayangan Suamiku!

Selir Kesayangan Suamiku!
SIFA SI MANTU KESAYANGAN MERTUA


__ADS_3

SIFA SI MANTU KESAYANGAN MERTUA


"Gendhis? Oh Gendhis, bukannya dia adalah..." ucap Maya sambil berpikir keras.


"Siapa May? Kau kenal?" tanya Dimas.


Maya menggelengkan kepalanya.


"Tidak Mas, perasaan gak ada yang namanya jawa banget kayak gitu di kajian," ucap Maya.


“Inget- inget kek May jangan geleng-geleng kek reog, temen kajian kamu kek, temen arisan, temen ghibah, temen facebook, atau teman apa gitu atau siapalah wanita yang bernama Gendhis bisa jadi nama panggilan, nama tengah, atau nama julukan!”


“Ndak ada mas, ngueyel sampean itu! Penyakit Ngeyel gak ada obatnya! Memang kenapa? datang tiba-tiba langsung bertanya nama wanita lain! Siapa gendhis Mas? Siapakah wanita itu?” tanya Maya sambil berdiri menghampiri suaminya.


“Gak papa May, aku hanya penasaran saja dengan nama itu” jawab Dimas sambil terus memikirkan nama Gendhis.


Dimas tak berani menceritakan lebih lanjut tentang Gendhis pada istrinya. Karena nama wanita itu pasti berhubungan dengan rumah tangga Rio. Meskipun Maya addalah itrinya, namun Dimas takut Maya keceplosan. Apalagi Maya dan Sifa bersahabat.


Dimas takut jika dugaannya salah tentang hubungan Gendhis dan Rio. Dia takut dianggap terlalu mencampuri urusan rumah tangga orang lain meskipun itu Rio sahabatnya. Maya menatap tajam ke arah Dimas suaminya.


“Hayo siapa Gendhis itu, jelaskan Mas! Jelaskan padaku isi hatimu! Apa dia calon wanita selingkuhanmu?” tanya maya sambil bernyanyi melemparkan bantal yang di pegangnya ke arah Dimas.


“Wong edan, jangankan selingkuh May! Punya istri kamu aja aku banyak bersyukur ada yang mau kok selingkuh lagi! Rumah aja masih di bayari Bos dan numpang, token sering bunyi tit tit, Istri sering ngreog kek barongsai juga, mau nambah istri bisa gila sejak dini aku!” jawab Dimas.


“Bagus Mas, kamu harus sering berkaca dan sadar diri, hanya aku yang mencintaimu sampai mati! Bersyukurlah kau mempunyai istri sepertiku Maya bukan estianti selalu percaya diri dan rendah hati, meyayangi suami dan anak sampai mati, rajin menabung untuk pergi haji,” kata Maya sambil tertawa.


Rio memutuskan untuk pulang ke rumah, ia melihat Ibu sedang menggendong Farhat, sedangkan Sifa duduk di sampingnya. Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati,


“Assalamualaikum Sholeh- nya Abi!” Kata Rio mencium Farhat, Purwati segera menepis Rio.


“Cuci tangan, kaki! Kebiasaan towel- towel anak bayi! Itu kran di depan tinggal di puter, lalu di nyalakan! Dibiasakan dari mana- mana cuci tangan kaki ganti baju, nanti sawan cucu Ibu! Kamu dari luar tak tahu ketempelan apa, banyak debu,” omel Purwati pada Rio.

__ADS_1


"Kau tak tahu anak bayi itu sensitif, jangan samakan dengan dirimu! Kalau sawan bagaimana?" sambung Purwati.


Sifa tertawa melihat Rio yang menekuk muka di omeli oleh ibunya seperti anak kecil sedang merajuk. Mereka masuk ke rumah untuk makan siang bersama, hari ini ibu memasak ayam bakar kesukaan Rio. Sifa memang tak begitu pandai memasak dan selama ini Rio tak pernah mempermasalahkannya. Rio bukanlah lelaki penuntut seperti kebanyakan suami lainnya. Purwati mengambilkan nasi dan ayam di piring untuk Sifa.


“Mantu Ibu harus makan banyak, Farhat pasti nyusu terus! Jangan nunggu Rio atau Ibu makan Nduk, menyusui butuh makanan yang lebih! Rio harusnya kamu lebih memperhatikan Sifa! Dia sedang berkorban untuk anakmu, jangan sampai kamu mementingkan urusanmu sendiri melupakan istri! Belikan stok makanan, camilan, dan buah untuk Sifa! Ibu ndak suka kalau kamu jadi lelaki yang hanya mau enaknya saja,” ujar Purwati.


"Saat malam hari dan bayi menangis bergantianlah dengan Sifa, jika Istrimu tertidur ya sudah jangan bangunkan! Kau kan bisa menghangatkan asi yang sudah Sifa sediakan di kulkas khusus itu, kasihan kalau kau bangunkan kepalanya akan sakit," sambung Purwati.


"Jaga Sifa menantu kesayangan Ibu, saat ibu kembali ke kampung nanti!" pesan Purwati.


Rio hanya mengangguk tak banyak bicara. Sifa senang mendengar semua perkataan mertuanya. Purwati memang menyayangi Sifa layaknya anak sendiri, begitupun Sifa tak pernah menganggap Purwati adalah mertua.


Selama ini Sifa memperlakukan layaknya Purwati selayaknya ibu kandung sendiri. Bukankah jika kita ingin di perlakukan baik harus melakukan yang baik pula? Hal ini yang membuat Sifa mampu bertahan dengan sikap Rio.


“Mas Rio juga harus makan juga, Abi Farhat capek kan kerja nyari uang buat kita kan, jadi tenaganya juga harus banyak,” kata Sifa sambil mengambilkan nasi ke piring Rio.


Purwati hanya tersenyum, hatinya bahagia melihat anak dan menantu akur seperti itu. Meskipun Purwati melihat Rio tak begitu tertarik pada Sifa lewat perluannya tetapi Purwati selalu berusaha berpiki positif. Apalagi dengan hadirnya Rio di tengah keluarga kecil mereka, pikiran itu berusaha di buangnya jauh- jauh.


“Assalamualaikum! Selamat Siang, Pak Aam! Apakah saya menganggu waktu njenengan?" tanya Rio.


"Oh tidak Mas Rio, bagaimana apa yang bisa saya bantu?" tanya suara di sebrang sana.


"Begini Pak Aam, untuk menindaklanjuti kerjasama yang akan kita jalani beberapa bulan ke depan nanti, apa saya bisa mendapatkan CV Bapak dulu untuk di pelajari? Sebelum kita taken bersama penandatangan company kita," ujar Rio.


"Baru nanti kita adakan perjanjian baru lagi!” sambung Rio.


“Bisa dong Mas Rio, panggil saya Aam saja agar lebih akrab!" pinta Aam.


"Begini saja, jujur kalau untuk company profile CV nya akan langsung saya kirimkan ke sampean ya! Tapi untuk kelengkapan berkas nanti bisa hubungi Mbak Gendhis, kebetulan selama ini dia yang handle administrasi CV Mas Rio, baik masalah pajak dan sebagainya,” kata suara di seberang.


Entah mengapa hati Rio bergetar kala di sebut nama Gendhis.

__ADS_1


“Mbak Gendhis yang kapan hari kita ketemu itu?” tanya Rio memastikan.


Jujur saja dia tak ingin banyak berharap. Tetapi Rio tak munafik jika menginginkan bahwa Gendhis wanita di warung itu- lah yang menghandle administrasi Aam.


“Iya Mas, gampanglah nanti kita atur untuk ketemu bertiga dulu biar Gendhis juga ndak kaget, jadi ada omongan di awal, bagaimana? Apa Mas Rio berkenan?" tanya Aam.


"Baik Mas Aam saya setuju," jawab Rio cepat.


Jika saja Aam sekarang berada di dekat Rio dia pasti tahu bahwa pria itu edang kegirangan sendiri. Rio sampai tak berhenti tersenyum sejak tadi.


"Jujur saja Mas Rio, untuk urusan administrasi saya ndak begitu paham Mas! Jadi agar urusan kita lebih cepat saya arahkan langsung ke bagian administrasinya saja, Apa Mas Rio keberatan kalau nantinya berhubungan terus dengan Mbak Gendhis?” tanya suara di Aam.


“Baiklah Mas Aam, saya pelajari dulu CV nya, baru kita ketemu ya! Paling tidak saya minta waktu untuk seminggu ini!” kata Rio sambil menutup telpon setelah mengucapkan salam penutup.


Rio tak dapat menyembunyikan perasaan senangnya, layaknya orang jatuh cinta pertama kali. Dia sering tersenyum sendiri.


"Gendhis, apakah kau bisa menjadi milikku selamanya?" gumam Rio sendiri.


"Siapa Gendhis Mas?" tanya SIfa yang datang membawakan buah potong untuknya.


"Hah?" tanya Rio terkejut.


"Mengapa kau kaget Mas? Siapa Gendhis itu? Kok Mas tadi menyebutnya," ucap Sifa.


"Em... eh..."


BERSAMBUNG


Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author


Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono

__ADS_1


__ADS_2