Selir Kesayangan Suamiku!

Selir Kesayangan Suamiku!
ANAK BUKANLAH JAMINAN BAHAGIA


__ADS_3

ANAK BUKANLAH JAMINAN BAHAGIA


"Dia adalah wanita yang benar- benar bisa menghipnotisku ketika pertama kali bertemu," jawab Rio.


"Kau tahu Dim, aku sampai hafal benar apa aja yang di pakai wanita itu! Rambutnya hitam panjang, tawanya sangat renyah, badannya tinggi semampai, Hpnya Iphone 11 dengan case warna merah blink- blink, hanya dengan memakai kaos oblong putih dan celana jeans panjang wanita itu mampu mempesonaku Dim, sayang kami tak sempat mengobrol lama," sambung Rio.


Dimas mengamati semua gerak gerik Rio. Ya, benar! Sahabatnya sedang di mabuk cinta sama seperti kejadian puluhan tahun lalu. Dimas tak menyangka saat seperti ini justru Rio menemukan wanita idaman lainnya.


"Gila kau Mas!" ucap Dimas berlalu tanpa meminum kopi yang telah di buatkan SIfa.


Dimas kehabisan kata- kat. Dia sangat tahu bagaimana watak Rio, yang Dimas takutkan adalah Rio nekat untuk mendapatkan cintanya. Nyadirnya Fatih malaikat kecil Rio dan Sifa tak mampu membuat Rio jatuh cinta pada istrinya.


Selama ini Sifa sebenarnya menyadari apa yang terjadi, tetapi Sifa selalu berusaha membuat Rio jatuh cinta dengan segenap jiwa. Maklum saja, Rio adalah cinta pertama Sifa sejak duduk di bangku SMA. Sikap pendiam Rio menjadi daya tarik sendiri bagi Sifa.


"Entahlah Mas, aku harus beryukur atau bersedih dengan sikapmu yang sangat pendiam ini," kata Sifa pada Rio.


Lagi Rio hanya diam dan tersenyum. Bibir itu selalu terkunci rapat. Biarlah mungkin memang watak suaminya seperti itu.


Selama menikah Sifa tak pernah mendapati Rio bermain api dibelakangnya hingga dia menyimpulkan memang Rio memiliki watak seperti itu. Rumah tangga mereka berjalan harmonis layaknya pasangan lain, Sifa memang bukan wanita penuntut. Dia selalu berusaha menjadi yang terbaik versinya untuk Rio, berusaha melayani dan memanjakannya. Hanya sajadah dan buku harian usang sahabatnya sebagai pelipur lara yang di derita. Setiap malam diatas sajadah kamarnya lah dia menangis menumpahkan semua gundah gulana di hatinya,


“Ya Rabb! Bukakanlah pintu hati suami hamba agar dia mencintai hamba! Jadikanlah hamba Istri yang selalu di rindukan siang malam, bimbinglah suami hamba agar senantiasa berjalan sesuai perintah-Mu! Bimbing aku agar menjadi ibu terbaik untuk putra hamba Fatih ya Allah! Lembutkanlah hati kami sekeluarga Ya Allah, Robbanaa aatina fiddunya hasanah, wafil aakhirati hasanah waqinaa 'adzaa bannaar, Amin!" doa Sifa setiap sujudnya.


Pernah Rio sekali menawarkan jasa baby sister untuk membantunya, namun Sifa memilih agar ibu mertuanya membantu merawat Fatih dengan alasan agar mertua dekat dengan cucu.


"Tidak Mas, rasanya Sifa tak akan nyaman jika serumah dengan orang asing, lebih baik rasanya jika Ibu saja yang menemani dan membantu Sifa sementara, bagaimana?" tanya SIfa.


"Baiklah kalau memang itu keinginanmu Dek! Aku akan bilang pada Ibu,' jawab Rio.


Tentu Ibu Rio dengan senang hati membantu merawat cucu pertamanya. Sifa wanita cerdas dia berfikir mendapatkan hati Ibunya baru anaknya. Seperti pesan Umi Laila.


‘Selama Rio memperlakukannya dengan baik, mertua baik, semua kewajiban terpenuhi, maka Sifa harus banyak bersyukur dan mengurangi mengeluh atas sikap Rio yang dingin, mungkin memang sudah wataknya suamimu begitu," kata umi Laila waktu itu.


Itulah yang menjadi patokan Sifa dalam berumah tangga selama ini.


Tak lelo, lelo, lelo ledung, Cep meneng ojo pijer nangi.


Putuku sing bagus rupane, Yen nangis ndak ilang baguse.


Tak gadhang biso urip mulyo, Dadiyo ptrio utomo.


Ngluhurke asmane wong tuwo, Dadiyo pendhekaring bongso.

__ADS_1


Suara Purwati mengalun indah mendayu- dayu, dia sedang menggendong dan menenangkan Farhat cucunya di depan rumah. Memang dari awal Sifa tak keberatan jika ibu mertuanya mendendangkan kidung jawa untuk bayinya, selama itu doa baik.


“Bu, ini teh sama sarapannya! Ada jenang grendhul kesukaan njenengan,” kata Sifa menaruh makanan di meja kecil teras depan rumah.


Maya biasanya akan keluar juga jika mendengar Ibu Purwati menyanyi, tumben hari ini tidak kelihatan.


“Ya nduk, matursuwun terimakasih ya! Kamu memang mantu terbaik! Maaf ya jika Rio seperti itu, dia plek ketiplek sama bapaknya! Ndak banyak omong, sabar- sabarlah jadi istrinya ya Nduk! Ibu yakin Sifa bisa,” puji ibu Purwati.


Sifa mengangguk mantap. Setahun lebih hidup bersama membuat sedikit banyak hafal watak suaminya memang sangat pendiam dan tertutup.


Di kantor sebelah rumah, Dimas membuatkan kopi untuk Rio, banyak pertanyaan yang ingin di tanyakan Dimas pada lelaki di hadapannya itu. Baru hari ini waktu yang tepat, setelah acara aqiqoh anak Rio dan kerepotan lain. Rio masih asik dengan laptopnya membuat beberapa rancangan kegiatan, interery, dan RAB perjalanan.


“Minum dulu Bos,” Kata dimas menyodorkan secangkir kopi panas.


Rio meletakkan di meja. Dia masih asik dengan kegiatannya.


“Aku mau ngomong sama sampean, tapi sebagai teman! Bukan Bos dan karyawan,” pinta Dimas.


Rio menatap Dims, sorot mata Dimas memang mengatakan bahwa mereka ingin mengatakan hal serius. Rio menghentikan aktivitasnya, saat seperti ini tentu Dimas membicarakan hal penting bukan main- main.


“Ada apa Dim? Mukamu serius sekali,” kata Ri sambil meniup kopi panas.


“Siapa dia?”


"Mas mengapa kau hanya Diam? Aku sungguh- sungguh ingin mengetahui wanita itu," tegur Dimas yang melihat Rio terdiam dan termenung.


"Aku juga tak tahu pasti dim," kata Rio.


Mungkin Gendhis bukanlah wanita yang suka bermain sosail media, meskipun rasanya mustahil ada orang seperti itu saat ini. Atau Gendhis menggunakan nama lain di kontak media sosialnya sehingga pencarian atas namanya tak ditemukan. Sebenarnya Rio ingin sekali bertanya pada Aam namun diapun tak berani. Padahal wajar sebenarnya menanyakan anak buah pada atasan, Rio bisa beralasan untuk hubungan kerja agar lebih mudah atau lainnya. Tetapi sungguh Rio tak berani melakukannya.


“Aku kenal?” tanya Dimas.


Rio menggelengkan keala.


“Bertemu dimana?”


“Tempat makan!” jwab Rio.


“Sampean tau namanya? Alamatnya? Saling berhubungan?” cerca Dimas.


“Gendhis! Hanya itu yang aku tahu! Kami sekali bertemu itupun tak sengaja,” kata Rio memberikan informasi.

__ADS_1


Dimas tertawa, dan menganggap semua ini lucu. Apakah Rio benar- benar jatuh cinta pandangan pertama, di jaman seperti ini rasanya jatuh cinta sekali bertemu tidaklah mungkin. Mengingat banyak wanita cantik hasil tangan dokter yang bertebaran di luar sana.


“Sampean ini aneh Mas, ndak tau alamatnya hanya tahu namanya, ketemupun sekali kok bisa jatuh cinta! Eleng inget Mas sampean ada Mbak Sifa sama Farhat!” tegur Dimas.


“Bukankah kamu tau aku tidak pernah mencintai Sifa? Kalau masalah Farhat tentu saja aku mencintai dan menyayanginya karena dia adalah anakku kandung! Walau dia terlahir dari seorang yang tidak aku cintai tapi ini berbeda kasus, aku mencintainya karena darah daging,” kata Rio.


Dimas sedikit terkejut dengan pernyataan Rio meskipun dia sudah menduganya, dia melanjutkan menyeruput kopi panasnya.


“Edan, gila sampean!" sindir Dimas.


"Kalo ndak cinta kenapa bisa ada Farhat? Kurang apa sih Mbak Sifa, Mas?" tanya DImas.


"Istri penurut seperti itu lo Mas, memang semua hak sampean, sampean yang menjalankan hidup cuma aku ndak mau sampean salah jalan sebagai teman mengingatkan mumpung belum terjadi jauhilah dan jangan sampai terjadi! Penyesalan selalu belakangan Mas!” lanjut Dimas.


“Apa aku pernah bermain-main tentang perasaan Dim? Kau lebih mengenalku dari siapapun termasuk Sifa dan Ibuku! Wajar Farhat lahir, aku laki-laki Dim, berdua dengan wanita di kamar hampir setahun munafik kalau aku tak punya hasrat," ujar Rio.


Dimas terdiam menggelengkan kepala lalu keluar ruangan sambil berkata.


“Semoga ini hanya sesaat yo Mas,”


Dimas mengenal Rio lebih dari 20 tahun, sejak TK mereka selalu bersama-sama sehingga membuatnya begitu memahami Rio lebih dari siapapun. Percakapan dengan Rio tadi membuatnya sedikit khawatir dengan nasib rumah tangga Rio. Rio memang tak mudah jatuh cinta, namun sekali mencintai wanita dia akan mencintai terlalu dalam. Bahkan cenderung bodoh dan rela melakukan apapun demi wanita yang di cintainya.


"Ya Allah, aku harus bagaimana? Langkah apa yang harus aku lakukan?" gumam Dimas sendiri.


Masih teringat dengan jelas di benaknya bagaimana masa lalu Rio dengan Via kekasihnya semasa SMA cinta pertama Rio sahabatnya. Saat Rio menikah Dimas berharap menjadi awal yang baru bagi sahabatnya. Namun ternyata salah, sosok Sifa yang di anggap wanita sholehah bahkan Maya yang seorang perempuan menilai Sifa bidadari dunia.


Semua kenyataan itu tak lantas mampu mengetuk pintu hati Rio. Memang Sifa memiliki sifat yang keibuan dan sabar, Dimas kira itu cukup membuat Rio takhluk. Ternyata semua salah, di balik diamnya Rio ternyata menyimpan cinta pada wanita lain.


"Siapakah sosok Gendhis itu sebenarnya? Dimana Rio bertemu dengan wanita itu?" batin Dimas.


Sejuta pertanyan berkecamuk dalam benak Dimas. Seingatnya dia tidak ada teman bernama Gendhis, circle Rio tak lebih luas darinya harusnya dia lebih tahu siapa Gendhis. Dimas berjalan ke kamar, menemui Maya istrinya yang sedang menyusui buah hati mereka.


“May, Mas mau tanya! Temanmu ada yang namanya Gendhis?” tanya Dimas.


Maya satu kajian dengan Sifa istri Rio harunya mereka saling mengenal jika sosok Gendhis memang benar berasal dari lingkungan kami.


"Gendhis? Oh Gendhis, bukannya dia adalah..."


BERSAMBUNG


Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author

__ADS_1


Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono


__ADS_2