
Jatuh Cinta
"Sumpah aku akan bertemu dengan Pak Aam, kau bisa konfirmasi sendiri dengannya nanti," sahut Rio.
"Ya sudah kalau begitu, hati- hati di jalan," kata Dimas.
Kekhawatiran Sifa tentang suaminya juga dirasakan oleh Dimas. Sebagai sahabat Dimas mengenal Rio mendalam, ia merasakan Rio memang sedang jatuh cinta. Sama seperti saat Rio tergila gila dengan Via.
Kali ini Dimas tak bisa berbuat banyak, Rio selalu berada di kantor bersamanya, jarang sekali Rio keluar tanpanya. Itu yang membuat Dimas tak tahu siapa wanita yang mampu membuat Rio tergila-gila.
"Cantik sekali," gumam Rio melihat Gendhis dari jauh sedang mengobrol dengan Aam.
"Selamat pagi, maaf ya kalau telat dan menunggu lama," kata Rio.
"Oh tak masalah Mas Rio, mari duduk," ajak Aam.
Rio menatap Gendhis sekilas lalu menunduk. Dia melihat wanit itu berdandan sangat cantik, natural. Rambut gelombang dengan warna pirang, bulu mata lentik. Dia hanya mengenakan setelan hitam, tampak elegan. Mereka membahas beberapa poin penting untuk meeting kali ini.
"Mas Rio tuh ganteng lo sebenarnya kalo pakai baju casual begini," puji Gendhis.
"Heleh! Awas Mas Rio dia hanya merayumu," ledek Aam.
Rio tersenyum simpul melihat kelakuan dua orang yang baru saja di kenalnya itu.
"Eh balik dulu ya! Aku ada janjian dengan orang lain," pamit Gendhis.
"Hati- hati ya," seru Aam sambil melambaikan tangannya.
"Loh Mbak Gendhis naik itu?" tanya Rio bingung melihat Gendhis naik motor sport.
__ADS_1
"Hahahah! Iya Mas Rio, jangan kaget ya dengan kelakuannya yang unik," kata Aam.
Gendhis membunyikan klakson di hadapan mereka dan menggeber gas tanda pamit. Dia tampak cantik memakai helm teropong, motor CBR 250 CC QS SP merah.
"Aku tampaknya tambah jatuh cinta dengannya," batin Rio.
Bayangkan memiliki hobi yang sama dengan pasangannya. Mereka mengendarai motor bersama di tengah hujan. Sangat indah bukan. Setelah berbasa basi sebentar Rio segera pamit pulang. Dia langsung menunjukkan berkasnya ke Dimas untuk di kelola.
"Assalamualaikum," teriak Rio saat memasuki kantor.
"Waalaikumsalam," jawab Arga anak buahnya yang baru.
“Seneng amat tu muka! Udah ketemu sama Aam?” tanya Dimas.
Rio mengangguk pelan. Dia mengambil kursi duduk di depan Dimas memudahkan mereka duduk berhadpan.
“Mulai saat ini biar aku yang handle masalah vendor. Kamu fokus aja pengembangan travel. Biar kita jalan sama-sama, masalah administrasi nanti Arga, kita cari satu orang lagi untuk bagian kantor. Bagaimana menurutmu?” tanya Rio.
"Aku berencana membeli satu bus yang seat medium, bagaimana menurutmu?" tanya Rio.
"Buat apa? Enak ngrental aja, kita tak usah memikirkan biaya perawatan dan service. Fokus kita hanya untuk layanan," Dimas menolak usul Rio.
"Baik jika menurutmu begitu, lalu kita kembangkan lagi saja nambah satu karyawan bagian meloby lapanagan untuk Dinas," tawar Rio.
“Nah gitu dong, kita jalan sama-sama. Gak dari dulu aja kenapa sih? Dari pada kau membeli unit kendaraan dan terlalu resiko, aku lebih setuju kau memiliki banyak karyawan,” kata Dimas.
Kemarin Aam memberikan kontak WA Gendhis ke Rio untuk memudahkan pengurusan secara administrasi. Rio tersenyum memandangi nomer yang sudah tersave dengan nama belakangnya Wijaya. Ini Rio lakukan agar istrinya dan Dimas tidak curiga, apalagi HP Rio memang tak pernah memakai password.
Ingin sekali langsung menelponnya, tapi apa daya dia tak memiliki keberanian lebih, akhirnya dia memutuskan mengirim pesan.
__ADS_1
[Selamat siang Mbak Gendhis, saya Rio dari biro jasa Bakti Mulia yang akan mengadakan kerjasama dengan biro Pak Aam. Apakah bisa dikirim berkas CV dan pajaknya untuk saya pelajari?]
Dua jam sudah Rio menunggu balasan pesan itu dengan gelisah, namun Gendhis tak kunjung membalas.
[Selamat sore bapak, baik saya kirim ya. Untuk informasi yang tidak jelas nanti bisa dikomunikasikan ya Bapak, kita fleksibel kok]
Rio tersenyum mendapatkan pesan itu, pilihan kata yang dipilih juga mencerminkan bahwa dia pekerja profesional, nomornya juga telah di save oleh Gendhis. Rio membuka foto profil Gendhis.
“Cantik dan pintar,” gumamnya sambil mengamati foto Gendhis.
Dalam foto itu terlihat gambar Gendhis dengan background sebuah resto mewah di lantai atas. Dia menggunakan dress sabrina dengan bahu terbuka yang jenjang memerkan kulitnya yang putih sangat kontras dengan gaunnya berwarna merah, kalung berwarna putih, jam tangan putih, sementara tangannya berpegangan dengan fotografer yang mengarahkan kamera ke wajahnya yang tertutup tipis rambut panjang menambah kesan seksi.
“Wanita ang sangat unik. Seksi, glamour, maskulin, menjadi satu! Ah ya, dia tampak cantik saat tersenyum,” ujar Rio pelan sambil memandang foto Gendhis.
Tanpa Rio sadari Dimas memperhatikannya dari belakang. Dimas melihat wanita yang berada di layar Hp Rio, apakah wanita itu yang membuat Rio jatuh cinta. Siapa wanita itu? Mengapa dia tak mengenalnya ya.
“Ekhm, ini to yang membuatmu puber kedua?" tanya Dimas mengagetkan Rio.
Rio buru-buru menyimpan hp di sakunya, dia terdiam bingung akan memberikan alasan apa.
“Siapa dia? Anak mana?” cerca Dimas.
"Apa sih, bukan! Sana, sana!" usir Rio
“Kerja, kerja!” perintah Rio menyudahi obrolan sore itu, ia tak ingin Dimas mengetahui dulu sampai dia merasa yakin Gendhis akan di dapatkannya.
Kehilangan Via dulu membuatnya trauma kehilangan cinta-nya lagi. Dia tak ingin terburu- buru menyatakan cinta pada Gendhis. Dia juga tak ingin ada orang yang tahu hubungannya termasuk Dimas.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author
Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono