
PANGGIH
“Mas, bangunlah,” suara wanita terdengar lembut membangunkan tidur Rio.
Dia segera bangun mengumpulkan kesadarannya, setelah mengucek mata terlihat gadis muda itu duduk di pinggir ranjang.
“Maaf ya Mas, Sifa membangunkan sampean (kamu)! Ibu yang menyuruh! Sudah siang, sampean sholat subuh dulu! Habis ini Sifa mau make up di kamar ini boleh Mas?” tanya Sifa meminta izin.
Rio hanya mengangguk tak menjawab. Dia bergegas mandi dan sholat di kamar Purwati ibunya, ingin rasanya Rio tidur barang lagi karena semalam suntuk bergadang tapi Purwati masuk.
“Keluarlah, temui orang-orang dan ajak sarapan! Ndak ilok gak baik Le, kamu tuan rumah malah tidur!” perintah Purwati.
Rio bangun dengan malas dan beranjak ke depan. Siang ini acara resepsi yang akan di lakukan dengan mengusung tema adat jawa.
Yâ nabî salâm ‘alaika, Yâ Rosûl salâm ‘alaika
Yâ habîb salâm ‘alaika, sholawâtullâh ‘alaika
Anta syamsun anta badrun, anta nûrun fauqo nûrin
Anta iksîrun wa ghôlî, anta mishbâhush-shudûri
Suara gending dan srokal sholawatan khas lagu temu manten mulai di nyanyikan. Rio berjalan diapit oleh Ibu dan Bapak dengan menggunakan baju adat jawa. Dari dalam rumah Rio tampak iring-iringan pengantin perempuan yaitu keluarga Sifa menggunakan pakaian adat jawa tanpa menangggalkan cadarnya, di sampingnya tampak Umi Laila dan Ustad Furqon mengamitnya.
Dua bocah kecil membawa kipas tangan berada di depan Sifa, sedangkan di belakang nampak dua remaja berpakaian adat jawa yang biasa di sebut sebagai Domas membawa kembar mayang yaitu dua rangkai bunga yang memiliki kesamaan bentuk, isi, dan wujudnya simbol cita-cita, harapan, serta kemauan. Berbentuk gunungan dari daun kelapa muda atau janur dibuat menjadi beragam bentuk menyerupai keris, burung, bunga, ular, dan kincir. Tanda melepas masa lajang.
"Nanti jangan kalah cepet melempar sirihnya!" bisik Purwati pada Rio.
Selanjutnya prosesi berlanjut upacara balangan gantal. Balangan artinya melempar, sedangkan gantal artinya daun sirih yang diisi dengan bunga pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau diikat dengan menggunakan benang lawe. Upacara ini dilakukan dari arah berlawanan.
“Cepet le lempar buntelan yang di berikan perias tadi,” perintah Purwati.
Reflek Rio melemparkan gulungan sirih ke arah Sifa lebih dulu, begitupun sebaliknya Konon siapa yang melempar dan mengenai sasaran dahulu dialah yang mendominasi dalam rumah tangga nanti. Tak berhenti disitu, masih adalagi prosesi ranupada yang berasal dari dua kata yaitu ranu berarti air dan pada artinya kaki. Perlengkapan yang di pakai untuk ranupada terdiri dari gayung, bokor, baki, bunga sritaman dan telur. Perias menuntun Sifa mengambil telur ayam kemudian di sentuhkan di dahi Rio bergantian di dahinya tiga kali. Lalu telur ayam di pecahkan di kaki Rio dan Sifa membasuhnya dengan air bokor.
Pembasuhan ini di percaya dapat mencerminkan wujud bakti istri kepada suami agar rumah tangga bahagia dan harmonis. Di lanjutkan dengan upacara selimut slindur. Pada tahapan ini ustad Furqon dan umi menyelimuti Rio dan Sifa dengan kain sindur lalu berjalan pelan-pelan menuju tempat duduk pengantin.
"Mas pelan- pelan," pinta Sifa yang kesusahan berjalan menggunakan jarik dan kebaya jawa.
__ADS_1
Setelah sampai pelaminan mereka melakukan banyak sekali prosesi. Di mulai dari Pangkon, ustad Furqon memangku Sifa dan Rio, sambil memegang dan menepuk-nepuk bahu keduanya. Prosesi ini memiliki makna bahwa kedua mempelai telah "ditanam" agar menjadi pasangan yang mandiri. Ustad Furqon berbicara pada mereka,
“Bebahagialah ya Le, Nduk! Kalian beratnya sama! Artinya mulai sekarang kalian berdua posisinya sama- sama rata sebagai anak Abah!”
Sungguh trenyuh hati Rio mendengar perkataan lelaki yang kini resmi menjadi Abah atau bapak mertua. Upacara selanjutnya yaitu Kacar Kucur atau Tampa Kaya yang melambangkan bahwa suami berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada istri.
Rio mengucurkan kantong tikar anyaman yang berisi beras kuning, kacang, kedelai, uang logam dan kembang telon seperti bunga mawar, melati dan kenangan kepada Sifa. Di lanjutkan dengan Dulangan atau Dhahar Kalimah maknanya melambangkan kerukunan yang serasi antara suami dan istri. Sifa membuka sedikit cadarnya dari samping.
"Mas lewat sini," pinta Sifa.
Rio paham maksud Sifa menyuruhnya menyuapi dari samping. Agar wajahnya tak terekspose.
“Bismillah,” ucap Sifa lirih.
Kemudian dengan tangan bergetar Sifa mencoba menyuapi Rio. Sungguh pertama kali dalam hidup ada wanita yang menyuapi Rio selain ibunya Purwati. Terakhir Sungkeman atau Pangabekten sebagai wujud bahwa kedua mempelai akan patuh dan berbakti pada orangtua mereka.
Pada prosesi ini, kedua mempelai bersembah sujud kepada kedua orangtua untuk memohon doa restu serta memohon maaf atas segala khilaf dan kesalahan. Rio mendengar ustad Furqon berulang-ulang membacakan doa untuk kami saat sungkeman.
“Bârakallâhu likulli wâhidin minnâ fî shâhibihi. Allahumma innî as' aluka khairahâ wa khaira mâ jabaltahâ 'alaihi wa a'ûdzu bika min syarrihâ wa min syarri ma jabaltahâ 'alaihi," gumam ustad Furqon.
“Terimakasih ya le, sudah membahagiakan Ibu hari ini!. Terimakasih mengabulkan permintaan ibu,” bisik Purwati.
Air matanya membasahi wajah Rio. Kemudian bergantian Rio sungkem ke bapaknya Suhadi.
“Jadilah laki-laki bertanggung jawab, pendam semua masalahmu! Perlihatkan bahwa rumah tangga kalian bahagia di hadapan semua orang Le,” pesan Suhadi.
Rio mengangguk sambil menahan tangis. Perkataan bapaknya memiliki makna sangat dalam. Rahasia antar lelaki yang hanya di ketahui Rio dan Suhadi.
Setelah prosesi yang melelahkan akhirnya sampailah pada acara bebas. Ustad Furqon dan umi Laila sudah pamit beberapa saat setelah acara inti selesai. Rio tak mengundang banyak tamu karena teman yang tidak banyak.
Dimas dan Maya terlihat berbaur diantara banyaknya tamu, Rio memilih pergi ke kamar. Sifa sedang membersihkan riasan di bantu seorang perias, Rio memutuskan untuk ganti baju.
“Mas, sampean mau makan? Sifa ambilkan ya?” tawar Sifa.
“Makanlah dulu kalau lapar, aku nanti aja!” jawab Rio beranjak keluar menemui Dimas.
Acara selesai sampai magrib, semua merasa puas walaupun lelah. Purwati tampak bahagia meskipun gurat kelelahan dan kurang tidur tampak jelas di wajahnya.
__ADS_1
“Le, ajaklah istrimu makan bersama-sama! Mumpung ada Dimas dan Maya,” perintah Purwati.
Rio mengangguk memanggil Sifa di kamar. Ternyata dia tampak membaca Al-quran. Mengetahui Rio datang dia berhenti membaca.
“Ada apa mas?” tanya Sifa.
“Ayok makan, sudah di tunggu!” kata Rio.
Dia melepas mukena yang di pakai, mengganti dengan hijab panjang tak lupa mengenakan cadarnya. Semua orang sudah berkumpul mengitari meja. Terlihat banyak menu terhidang sisa hajatan, lapis daging, sate tukri, mie becek, sayur lombok, dan ayam.
“Manten baru klemar-klemer, makan yok laper!” ejek Dimas.
“Mbak Sifa sini sini, duduk sampingku!” ucap Maya menimpali.
“Namaku Maya mbak, itu yang ganteng sendiri meskipun agak botak dan wajahnya boros kayak ninja dua tak suamiku! Namanya Mas Dimas tercinta, ini di perut Dimas junior akibat perbuatan Dimas senior!” kata Maya.
Semua orang tertawa mendengar celoteh Maya.
“Besok aku harus balik ke Madiun Bos, kerjaan menumpuk!” pamit Dimas.
“Carilah rumah kontrakan atau perumahan lain Rio, tak baik kalian masing- masing sudah berumah tangga tetapi satu rumah! Pamali,” kata Suhadi.
“Iya pak, biar kontrakan di tempati Dimas dan Maya saja, nanti aku cari yang lain dekat situ," ujar Dimas.
Mereka makan bersama. Setelah makan Sifa kembali ke kamar, membersihkan kamar. Sifa mengganti pakaiannya dengan gamis panjang.
"Mas kita melakukannya sekarang?" tanya Sifa.
Rio menoleh.
"Aku......."
BERSAMBUNG
Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author
Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono.
__ADS_1