
SAH!
"Kamu hanya bisa mencoba mencintai calon istrimu Le! Meskipun saat ini kamu tidak mencintainya, selama dia baik agamanya, buatlah rumah tanggamu bahagia meskipun hatimu tidak” ucap Suhadi sambil menyalakan rokoknya.
Mereka memang jarang mengobrol santai, tapi baru kali ini secara mengejutkan Suhadi mengungkapkan cara berfikirnya. Apakah ini artinya rumah tangga kedua orang tuanya tak cukup bahagia? Entahlah hanya Tuhan yang tahu.
"Wehhhh! Bu Purwati sama Pak Hadi sekalinya dapet mantu anak kyai," olok seorang tukang cuci piring.
"Iya lo, rasanya memang pantes sih! Wong Mas Rio yo alim bukan penganut abangan kayak kamu!" sahut ibu- ibu lainnya.
Ramai suara ibu-ibu saling gojlokan di samping kamar Rio sudah mulai terdengar. Tenda terop sudah mulai terpasang di pelataran rumah Suhadi membuat rumah joglo itu tampak begitu megah. Hari ini akan ada tradisi membuat jenang yaitu makanan khas yang terbuat dari tepung beras atau tepung ketan lalu dimasak dengan santan dan ditambahkan gula merah atau gula putih.
Makanan khas itu menjadi simbol doa, harapan, persatuan, dan semangat masyarakat Jawa saat acara-acara tertentu dan jadah makanan dari beras ketan putih yang dipadukan dengan kelapa parut kemudian dihaluskan dengan cara di tetel dalam wadah hingga menghasilkan tekstur yang padat. Kedua makanan ini menjadi sajian khas masyarakat jawa khususnya jawa timur sebagai jajan meja saat becekan atau bancakan.
Pernikahan Rio dan Sifa akan diadakan secara besar- besaran, karena Suhadi salah satu orang yang dituakan di Desa. Selain itu ini adalah bubakan atau mantu pertama keluarga mereka. Di lanjutkan dengan tradisi punjungan yaitu memberi makanan beserta lauk pauk siap santap kepada keluarga, sanak kerabat, tetangga, dan orang yang di tuakan atau di hormati sebagai ganti undangan untuk memberi tahu akan adanya hajatan bisa berupa pernikahan, atau kirim doa leluhur hari ini akan dilakukan.
"Assalamualaikum Ibu," teriak Maya melihat Purwati.
"May, Alhamdulillah aku bisa mantu," ujar Purwati memeluk Maya haru.
"Selamat ya Bu!" seru Maya.
Dari pagi Dimas dan Maya sudah sibuk. Mereka akan menginap beberapa hari di rumah Rio. Melihat perut Maya yang besar sebenarnya membuat Rio iba. Tetapi Maya tampak sangat antusias dengan pernikahan ini.
"Sudah May istirahat sana," bujuk Rio.
__ADS_1
“Udahlah Bos aku kuat, kapan lagi bisa seperti ini! Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu dan IbuPurwati sebagai rasa terima kasihku dulu! Lagian aku seneng kok ngelakuin ini Mas! Tau sendiri dulu aku sama Mas Dimas cuma ijab di KUA aja! Di rumah syukuran terop biasa, lagian Mas Rio kan dah tak anggep kakakku, biar Maya yang handle semua,” kata Maya.
"Tapi kalau kau merasa lelah istirahat ya May, jika tak nyaman berada di sini kau bisa memakai kamarku sebentar," pesan Rio.
"Iya bawel Ah! Sana manten ndak boleh keluyuran!" usir Maya.
Trenyuh Rio mendengar pernyataan Maya. Beruntung Dimas mendapatkan wanita pengertian seperti dia.
Pagi ini diantar Dimas, Bapak, dan kerabat lelaki lain mereka menggunakan mobil menuju kediaman Sifa. Di rumah Sifa nampak lebih sederhana tak ada hiasan terop atau dekor selayaknya pernikahan adat Jawa. Hanya ruang tamu yang disulap dengan dekor kecil bertema putih dengan hiasan bunga-bunga yang sederhana namun cantik. Ini dilakukan karena memang akan diadakan akad saja. Untuk resepsi di gelar sekali di rumah Rio seperti permintaan Purwati. Dua kali Rio harus mengulang akad karena salah menyebutkan nama, sampai akhirnya.
“SAH!!!!!!!!!!!” teriakan itu menyadarkan status Rio sekarang berganti menjadi seorang suami dari Sifa. Wanita yang resmi dipersunting yang baik secara agama dan negara. Semua terjadi begitu saja tanpa Rio tahu apa artinya.
Ya nabi salam 'alaika, Ya rasul salam 'alaika!
Ya habib salam 'alaika, Shalawatullah 'alaika!
Sifa menuju arah Rio, mereka duduk bersama untuk menandatangani berkas- berkas pencatatan sipil dan KUA. Sampai saat sesi penyerahan mahar, Sifa hendak mencium tangan Rio. Dengan ragu Rio mengulurkan tangan ke Sifa. Perasaan antara terharu, senang, sedih, takut bercampur menjadi satu.
"Apakah wanita ini benar- benar jodohku?" tanya Rio pada dirinya sendiri terbesit seberkas keraguan di hati.
Selesai akad Rio pulang kembali ke rumahnya. Besok akan diadakan acara resepsi dan temu manten. Rio seperti boneka, dia hanya mengikuti semua kehendak ibunya karena ingin membahagiakannya. Bahkan mahar, seserahan semua Purwati yang mengatur. Rio layaknya patung tak bernyawa, tinggal di gerakkan saja.
“Apalagi yang kamu pikirkan, Mas? Aku perhatikan sejak tadi kau tercenung sendiri di sini,” tanya Dimas yang datang membawakan secangkir kopi panas.
“Entahlah Dim, aku bingung! Sampai saat ini aku tidak menemukan cinta untuk Sifa! Bukan karena dia tak cantik, bukan pula karena akhlaknya tak baik! Semua yang di diri Sifa itu sempurna untuk kategori seorang istri Solehah! Tapi mengapa aku tak bisa menemukan getaran cinta saat memandangnya?" tanya Rio.
__ADS_1
“Jangan berkata seperti itu Mas, mungkin belum! Perlahan saja, nikmati semua prosesnya! Minum dulu lalu istirahat! Acara besok masih panjang, jangan sampai kau sakit saat malam pertama!” ujar Dimas.
"Semoga ini memang benar seperti dugaanmu ya Dim! Semoga aku bisa mencintainya seperti aku jatuh cinta pada Via," ucap Rio lirih.
Mereka melihat para bapak dan sinoman sedang berjoget mengikuti acara campursari yang sengaja di tanggap keluarga Rio. Semua orang bergembira ria dalam acara pesta. Anak- anak tampak memakan cemilan yang tersedia di atas meja dan menonton para sinden yang sedang berjoget tayub dengan bapak mereka.
Hal seperti ini wajar terjadi di desa mereka. Bagaimana Rio harus memperlakukan Sifa besok? Dapatkah Rio menjadi suami yang bertanggung jawab? Sanggupkah Rio memberikan cucu untuk ibu?
Bersambung................
NB :
Eleng, wong kakekan milih tebu oleh e boleng \= Pepatah bahasa jawa yang memiliki artian jika terlalu menjadi orang pemilih maka akan mendapatkan yang buruk.
Mambu \= mencium/ membau
Ngrusuhi\= Mengganggu
amit-amit jabang bayik ojo nurun anak putuku mbah \= Mantra berbahasa jawa biasanya dipakai untuk orang hamil agar jabang bayi yang dikandungnya tidak meniru hal-hal buruk orang disekitarnya.
mantu geden \= Pernikahan besar-besaran
gemblakan \= Pasangan Gay
BERSAMBUNG
__ADS_1
Untuk melihat Visual tokoh bisa follow ig/ titok/ fb author
Secilia Abigail Hariono/ @secilia_hariono