
Rama, mahasiswa angkatan 2008. kampusnya adalah salah satu kampus terbaik di wilayahnya, pula pencetak banyak lulusan cum laude; sekolah tinggi ilmu manajemen,. memiliki anak muda seperti Rama di daftar mahasiswanya, barangkali adalah bukan yang diinginkan. Dari semester ke semester, Fakultas terus mendapatkan protes demi protes dari mahasiswanya itu, baik kepada birokrasi maupun protes kepada dosen-dosen di kelas.
Pilihan Rama yang kerap melawan dan menolak main aman, membuatnya mendapat cap sebagai ikon mahasiswa urakan dan tak bermasa depan, pula otomatis membuatnya menjadi pribadi yang tak mengasikkan untuk dijadikan kawan di jurusan ekonomi yang orang-orang melabelinya dengan nama; kampus borjuis
Oktober 2009
Dari gunung sindoro, setelah sempat ke sanggar UKM Teaternya untuk meletakkan carrier dan mengambil daypack berisi buku kuliah, Rama langsung menuju PI dan masuk kelas ekonomi makro. Sesampai di kelas, Rama memaku kakinya usai melewati pintu. Satu kelas melihat Rama yang sedang mendongak ke arah jam di dinding. Di bawah jam itu, Bu Ani memicingkan matanya.
Rama tahu ia melebihi batas toleransi waktu masuk kelas, karenanya ia siapkan dirinya untuk diam. Tidak ada pilihan lain, mengikuti cara main ibu Ani adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan jalan agar dapat mengikuti kelas.
"Boleh saya ikut kelas,bu?" Rama putuskan untuk memulai dialog. Akhirnya ada juga kata disana. Tidak hanya Rama, seisi kelas menanti apa yang akan segera terjadi selanjutnya, sebab jangankan notifikasi ponsel atau derit kursi-kursi, bunyi hembusan nafaspun seolah benar-benar tidak ada.
__ADS_1
"Kamu mau kuliah?" kata bu Ani dengan senyum sinisnya yang kental. Tatapannya menggerayangi Rama dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gesture bu Ani, membuat siapapun yang ada di sana sadar bahwa itu adalah semacam kokangan mantap, yang cepat atau lambat pasti akan menjadi sebuah serangan yang meletus dari seorang yang Rama sebut; dosen feodal.
"Menurut kalian..." Bu Ani mencari dukungan kelas. "si Rama ini mau kuliah apa mau kemping?" riuh tawa seisi kelas pecah, ketegangan mereka lega. Tawa demi tawa mendukung bu Ani."Orang tua susah payah mencari uang untukmu kuliah, kamu nya...."
"maaf, saya kuliah dengan biaya sendiri," Rama menyela. kelas mendadak kembali hening. pintu terbuka. Tak bisa, Bunga dan Rais, ketua dan pengurus HMJ kampus itu datang terlambat juga. Dengan wajah patuh nan meminta pengampunan, keduanya menundukkan kepala, meminta ijin mengikuti kelas.
Bunga Indurasmi. Mahasiswa asal Bandung, melalui jalur prestasi ia masuk ke kampus tersebut pada tahun yang sama dengan Rama,2008. Dengan indeks prestasi yang nyaris sempurna; 3.9, kampus seakan tidak salah memberikan beasiswa penuh kepada seorang terbaik di kampus itu. Berkebalikan dengan Rama, Bunga adalah potret populer bagi banyak pihak. Kecantikan, kepintaran, dan kepatuhannya adalah alasan kenapa laki-laki, perempuan, perusahaan, anak-anak, orang tua, dan banyak lainnya selalu ingin mendekatinya.
"terus kalau sudah biaya sendiri boleh masuk kuliah terlambat, rambut acak-acakan, kalung, gelang, celana sobek-sobek, kemeja gak di kancing, dan semua keurakan mu ini?" bu Ani kembali kepada Rama. Ia semakin menjadi sejak Rama berani menjawab statement nya. "dan kamu masih bisa bilang bahwa kamu mau kuliah?"
"Tidak sekalian anda komentari kuku tangan saya?" Rama putuskan untuk melawan. Ia akui kesalahannya perihal terlambat masuk kelas, namun ia tidak terima argumen lain di luar itu. "kalau ingin mendandani saya, jadi saja guru SD, jangan dosen. sebab kuliah itu transfer ilmu, bukan pembentukan karakter ala-ala SD hingga SMA. Anda tidak punya hak untuk membentuk penampilan saya!"
__ADS_1
"kamu ! keluar !" Bu Ani kahabisan kata. hanya pengusiranlah jurus andalannya saat ia merasa ditelanjangi bulat-bulat oleh mahasiswanya sendiri.
"Bagaimana bisa anda melakukan itu? anda tidak punya hak mengusir saya hanya karena penampilan saya di luar standar yang bisa memuaskan anda. Tidak bisa.!"
"kamu terlambat. saya punya hak dan aturan untuk tidak menyertakanmu di kelas," kata Bu Ani. kali ini ia sudah bangkit dari tempat duduknya, " keluar !" tertebak, Rama diusir dari kelas tanpa argumentasi yang dapat diterima.
Rama keluar.kebisuan kelas tercipta kembali beberapa saat.
belum juga tenang nafas bu Ani, tiba-tiba Bunga berdiri dan berjalan ke arah pintu. ia berdiri menahan langkahnya di tempat yang sama dengan saat tadi ia memohon untuk masuk. Bunga membelakangi pintu, lalu membungkukkan badannya ke arah Bu Ani.
"Maaf ,Bu. saya juga terlambat.permisi," kata Bunga sebelum akhirnya ia melangkah meninggalkan kelas.
__ADS_1