Sepasang Melawan

Sepasang Melawan
GERBANG "selalu ada titik dimana sesuatu bermula"


__ADS_3

November 2009.


Parkiran Basement Kampus


Bunga ke kampus lagi untuk pertama kalinya sejak Bunga yang sakit dan dianggap lari dari masalahnya. Seusai mematikan mesin motor, ia rasakan betul bunyi degup jantungnya semakin mengencang dan menulikan telinganya pada suara-suara lain di basement. Setelah terdiam berdiri beberapa saat, ia tarik nafasnya dalam-dalam, pundaknya naik, ia hembuskan nafasnya kencang. Bunha mulai melangkah meninggalkan basement untuk menuju lantai tiga. Dalam setiap langkahnya yang berat, pikiran Sekar terus mengajaknya menerka-nerka tentang apa yang akan terjadi padanya hari ini di kelas. ‘Bu Ani, mahasiswa, HMJ, beasiswa, semua, seluruh kampus, apa yang akan mereka semua lakukan padaku,’ batinnya.


“Ssst…”


Suara desis menghentikan langkah Bunga. Seseorang mendekat dari belakang. Bunga memejamkan mata, ditebaknya dalam hati,


yang di belakangnya itu pasti seorang yang akan memberinya kata-kata yang tajam dan menyakitkan.


“Ini… biar tenang,” kata seorang tersebut.


Bunga membalikkan badannya. Rama berdiri di belakangnya mengulurkan sebuah mp3 portable lengkap dengan headsetnya.


“Gak usah dengerin kata orang,” kata Rama sambil lebih dekat menyodorkan mp3 di tangannya. “Nanti di kelas balikin lagi,“ lanjutnya sambil berlalu setelah Bunga menyambut tawarannya.


“Rama,” panggilan Bunga menghentikan langkah Rama. “Bareng,” kata Bunga lagi sambil berjalan cepat menyusul Rama.

__ADS_1


Mereka pun berjalan bersama menuju kelas. Rama melangkah dengan tenang dan biasa, meski semua yang ditemuinya di jalan memperlihatkan wajah memendam terka dan duga yang luar biasa. Sementara Bunga yang sedang berusaha mengabaikan segalanya dengan musik dari Rama di telinganya, akhirnya dapat melangkah dengan perasaan yang sama seperti Rama.Melewati pintu kelas, Bunga melepas headset di telinganya lalu duduk bersama Rama di bangku paling belakang. Tanpa musik di telinganya, suara-suara dan kenyataan kembali menjatuhkan mental Bunga. Ia merasa takut pada semua orang. Rais datang, Meli datang, orang-orang satu per satu datang. Bunga terus menunduk dan menyibukkan diri dengan berpura-pura membuka buku-buku.


Saat masuk kelas, dari pintu sampai tempat duduk, Rais terus saja melihat ke arah Bunga. Setelah meletakkan tas dan minuman kemasannya, Rais hampiri Bunga dan mengajaknya keluar sebentar. ‘Ada


kepentingan yang harus dibicarakan’, katanya. Dan oleh sebab kelas belum dimulai, Bunga menuruti Rais.


Bunga dan Rais pun bicara di luar kelas, sampai akhirnya Bu Ani datang.


“Selamat pagi,” Bu Ani melintas tak lama setelah Bunga dan Rais sudah kembali ke tempat duduknya masing-masing. “Presentasi kelompok enam ya,” kata Bu Ani lagi sesampainya di meja.


Bu Ani mengambil daftar presensi lalu berjalan ke deretan meja tengah terdepan. Sekilas ia tengok isi kelas, pandangannya berhenti dan menajam ke sudut belakang, tempat Rama dan Bunga duduk pagi itu.


“Orang dengan kebenaran, tidak ada alasan untuk tidak tenang.”


“Itu tidak berlaku di negara ini,” balas Bunga sambil melepaskan tangannya dari genggaman Rama.


Kelompok presentasi maju ke depan. Lembar presensi diberikan Bu Ani untuk seperti biasa digilir memutar kelas guna ditandatangani oleh mahasiswa yang hadir.


“Asu!” kata Rama pelan setelah lembar presensi sampai di tangannya.

__ADS_1


“Rama?” ucap Bunga spontan. Wajahnya penuh tanya.


Rama menunjukkan lembar presensi kepada Bunga.


Nama Rama dan Bunga dicoret Bu Ani dari daftar. Bunga terkejut dan bingung melihatnya. Matanya memerah berkaca-kaca, ia tak tahu harus berbuat apa.


“Punya tip-ex?” tanya Rama pada Bunga.


“Hah?” Bunga masih bingung.


Rama membuka kotak pensil Bunga. Ia tip-ex namanya di lembar presensi yang dicoret Bu Ani. Kemudian ia tulis ulang lagi namanya di


absensi dengan pulpen.


“Ini. Dengarkan hati nuranimu,” kata Rama sambil mengangkat tip-ex dan menawarkannya kepada Bunga. “Socrates,” kata Rama lagi sambil menatap mata Bunga dan menanamkan kekuatan didalamnya.


Bunga pejamkan matanya beberapa saat. Dan dengan sedikit keraguan, akhirnya Bunga meraihnya juga. Dia timpa coretan Bu Ani


dengan tip-ex. Melihat Bunga yang masih sedikit takut, Rama membantunya. Rama tuliskan nama Bunga kembali di Absensi.

__ADS_1


‘Bunga Indurasmi,’ tulis Rama.


__ADS_2