
Beberapa hari setelah Rama melawan di kelas Bu Ani, dosen yang oleh anak-anak lingkungan teater dan mapala menyebutnya " Si Anying " Bunga datang ke sanggar menemui Rama.
Bunga memberanikan diri menemui berandalan kampus,begitu kata teman-temannya di HMJ.Bunga tidak ada pilihan. Bu Ani yang tersinggung pada peristiwa di kelas ekonomi makro minggu lalu, melalorkan Bunga dan Rama kepada pembimbing prodi, yang akhirnya memerintahkan mereka berdua untuk menghadap dan meminta maaf. 'Bunga bersekongkol dengan Rama untuk mempermalukan Bu Ani di depan para mahasiswa', begitu bunyi tuduhannya.
selain karena tekanan internal HMJ, memiliki catatan buruk terkait penyelenggaraan kuliah kampus adalah juga merupakan sebuah aib yang tak sepele lagi bagi mahasiswa terbaik di kampus itu, maka tidak bisa tidak, bagaimanapun caranya Bunga harus menemui Rama dan mengajaknya menghadap Bu Ani.
"Rama", kata Bunga kepada Rama yang sedang berjinjit di atas kursi mencari-cari kunci sanggar yang biasa ia letakkan di lubang ventilasi di atas pintu.
Rama tidak mendengar sapaan Bunga, namun dari pantulan kaca jendela ruang Mapala di depan sanggar, Rama tau seseorang mendekat di belakangnya. Hanya, saat Rama turun dari kursi dengan sebuah kunci ditangannya, Bunga sudah pergi dari sanggar.
Rama sudah di dalam sanggar saat Bunga kembali datang dengan dua cangkir kopi di tangannya. Bunga berdiri dan kembali memanggil Rama dari depan pintu. Sama seperti sebelumnya, kali ini Rama yang sedang berbaring membaca buku dan mendengarkan musik dengan headset di telinganya, tidak mendengar oanggilan Bunga.
Lurah, anak mapala yang ruang sekretnya persis di depan sanggar Teater, masuk ke dalam sanggar menghampiri Rama.
"orang atas, Rama. Ketua HMJ," kata lurah.
Rama meletakkan buku dan headsetnya.
"Ada yang nyari," kata lurah lagi sambil menunjuk ke arah pintu, "*****. cantik sekali, aku mau terim dia kalau kamu tidak mau Rama"
Rama berjaalan ke pintu menghampiri Bunga.
"Bunga," Bunga tersenyum menyapa Rama. " Bunga Indurasmi ".
__ADS_1
Dengan tatapan dingin, Rama pandangi Bunga dari ujung sepatu sampai ujung rambut. Dari cara memandang yang seperti itu, seseorang akan menjadi tahu betul apa simpul tali yang diikat Bunga di sepatunya, ukuran lingkar kakinya, bahkan jumlah kancing kemeja yang dikenakan Bunga.
" k-k-kopi... " Bunga memberikan secangkir kopi.
Rama menyambutnya. Bunga tersenyum untuk itu. Dengan membawa kopi, Bunga berharap obrolan dan perkenalannya dengan Rama akan menjadi lebih santai.
Lurah pamit pergi, ia merasa tidak enak berada di sanggar.
"Lur" Rama memanggik Lurah sebelum ia pergi ke sekret, "mau sirup gk nih," kata Rama lagi sambil mengayunkan cangkirnya.
Bunga kaget, ia tengik cangkirnya. "kopi kok" batinnya.
"kopi... Rama," kata Lurah sesampai cangkir itu di tangannya.
"sirup rasanya apa?" kata Rama
"teh?"
"sepat"
"kopi?"
"pahit"
__ADS_1
"nah, itu rasanya apa?" tanya Rama lagi.
Lurah menyesap kopi dalam cangkir berbahan styrofoam di tangannya.
"hee,manis..." Lurah tertawa kecil, "kopi manis" lanjunya.
"udah bawa sana," tutup Ram.
menyaksikan semua itu, Bunga yang sudah berusaha keras untuk terus memberikan senyum terbaik dan membangun sikap santai, hancur seketika. tambah tatapan Rama yang selalu saja tajam, sungguh membuat Bunga seperti tidak sanggup bergerak. kakinya terpaku, bibirnya membeku, sepasang mata indahnya berupa telaga sunyi kini.
gambaran sosok rama yang keras dan tak bersahabat yang telah ditanamkan kawan-kawan Bunga di kepalanya, benar-benar menyempurnakan ketakutan Bunga di hadapan Rama.
"nona..." kata Rama membuyarkan pikiran Bunga.
Bunga terkejut mendengarnya. Cangkir kopi ditangannya terlepas dari genggaman dan jatuh tepat di atas sneaker kesayangannya. Bunga tidak sanggup lagi menahan semuanya. Seketika ia hamburkan tubuhnya pergi meninggalkan sanggar.
"Ketua HMJ kamu kayak gituin" teriak lurah dari sekret.
"kayak gituin gimana?"
"kayak..." Lurah mencari kata hingga ke depan pintu sekret.
"kayak kuda meninggalkan lapangan becek," ucap Rama menyaksikan langkah cepat perempuan berkuncir yang meninggalkan jejak-jejak kopi yang dicetak alas sepatu.
__ADS_1
"Kudanya cantik, kan?" Lurah menggoda
"Kuda nyampah," Balas Rama lagi sambil membersihkan sampah cangkir dan tumpahan kopi di muka sanggar