
Lantai Dua Kampus, Ruang Sekret HMJ
Di jeda pergantian kelas, Bunga bercerita terkait masalahnya di kelas Bu Ani seminggu yang lalu kepada mas Dani, kakak angkatan dan pembinanya di HMJ.
Kawan- kawan Bunga di unit himpunan mahasiswa itu, termasuk juga mas Dani cukup kaget akan apa yang Bunga lakukan di kelas Bu Ani. Prestasi dan rekam jejak Bunga yang bersih, membuat sesuatu yang terjadi di kelas Bu Ani tempo lalu menjadi terasa sebagai sesuatu yang sangat membuat mereka bertanya-tanya. Perbuatan Bunga adalah sesuatu yang asing dan cenderung aneh, itu bukan seperti Bunga-tepatnya, itu bukan seperti sikap dari seorang dengan keanggotaan dan posisi penting di HMJ.
"Aku tidak tahu. Aku beranjak dan meninggalkan kelas itu begitu saja," Bunga bercerita pada mas Dani. "Sejujurnya aku takut, aku tidak berani menatap wajah Bu Ani. Jantungku berdegup cukup kencang, hanya..."
"Apapun itu," mas Dani memotong. Ia menunduk memutar-mutar ponselnya. "Ingat kamu ketua HMJ. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan," katanya lagi sebelum mengangkat ponselnya yang berdering.
Suara langkah sepatu mendekat, pintu sekret HMJ terbuka, Rais memperlihatkan kepala dan dua genggam tangannya di sisi pintu.
"Ayo masuk lebih awal, nanti telat lagi, walk out lagi," Rais bercanda pada Bunga. Mas Dani berdehem kecil di sela percakapannya di ponsel."Eh mas Dani. Maaf saya gak lihat," spontan Rais membuka sepatunya dan masuk menyalami mas Dani.
Selesai dengan ponselnya mas Dani pamit pulang oleh karena sesuatu urusan, selain itu mas Dani juga tidak ingin mengganggu jadwal kuliah Bunga.
"Mas mau dengar perkembangannya, besok saat rapat, kita lanjutkan," mas Dani menawarkan tangannya untuk di salami.
Setalah mas Dani, Rais turut pergi juga meninggalkan Bunga dan menuju kelas kuliah Bu Ani. Bunga yang takut dan malu pada Bu Ani, memilih untuk tak ingin masuk kelas
sekar sendirian di sekret HMJ. Tak lama, Rama nampak berhalan menuju gedung perkuliahan. Bunga berjalan ke depan pintu untuk memastikan bahwa laki-laki yang dilihatnya adalah Rama.
"Rama," kata Bunga spontan, kedua tangannya menyulang menutupi mulutnya, lalu secepat kilat ia tarik tubuhnya sendiri untuk kembali masuk kedalam sekret.
Rama menoleh memindai suara yang memanggilnya, hanya kemudian ia lanjutkan langkahnya lagi okeh sebab tak ada siapapun yang ia lihat di belakangnya.
Sesampai di depan kelas, Rama menengok jam di tangannya. 'jam sepuluh kurang,' batin Rama, ia merasa terlalu cepat memasuki kelas. Dan karena masih ada waktu, sebelum masuk kelas yang menurutnya membosankan itu, Rama putuskan untuk ke toilet belakang guna menghisap rokok terlebih dahulu barang sebatang dua batang.
sementara Bunga, di dalam sekret, ia dilanda kebingungan. Rama yang baru saja dilihatnya, langsung atau tidak, telah menularkan keberanian kepada Bunga untuk tetap masuk di kelas Bu Ani. 'harus berani,' batin Bunga. ia pun akhirnya memutuskan untuk masuk.
Jam sepuluh tepat Bunga sampai di depan kelas. ia pandangi gagang pintu kelasnya dengan degub jantung yang luar biasa. ia hembuskan nafasnya dengan kencang sebagai aba-aba. Ia dorong pintu, Bunga masuk kelas.
__ADS_1
'Sial,' batin Bunga. Kelas memang belum di mulai, namun Bu Ani ternyata sudah duduk di kursinya. Bunga masih berdiri dan belum menutup pintu, tatapan Bu Ani dan seisi kelas benar-benar melemaskan dan menahan langkahnya. bunga menundukkan kepalanya, pandangannya tepat ke ujung sepatunya sendiri. Dari situ, Bunga melihat sepasang sepatu lain tepat di belakangnya, dan ketika Bunga menolehkan kepalanya, Rama yang baru saja kembali dari toilet belakang kini berdiri tepat di belakang Bunga.
"kamu!". Entah siapa terlebih dahulu mengucapkan kata itu, keduanya sama-sama terkejut, sama-sama mengucapkannya. Bunga semakin bingung, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia lihat lagi wajah Bu Ani dan seisi kelasnya, 'tidak, ini tidak seperti yang kalian fikirkan!' batinnya keras.
Kesialan Bunga belum usai, susunan tempat duduk di kelas hari ini berbeda. Dari situ Bunga ingat sesuatu. 'kelompo!' batinnya.
Rais tempo hari berkata minggu lalu saat Rama dan Bunga keluar dari kelas, Bu Ani meminta para mahasiswa untuk membentuk kelompok presentasi beranggotakan tiga orang per kelompoknya. seluruh kelas sudah mendapatkan kelompok, kecuali empat orang, dua di antaranya adalah Rama dan Bunga, sedang sisanya adalah dua orang yang hampir tiap hari tidak pernah masuk kelas. keadaan itu sama artinya dengan tidak bisa tidak, Rama dan Bunga tergabung dalam satu kelompok presentasi dan duduk berdampingan untuk kemudahan diskusi dan klasifikasi.
"kita perlu bicara," kata Bunga setengah berbisik kepada Rama di penghujung waktu kelas Bu Ani.
Bunga berpura-pura sibuk merapikan buku ketika Bu Ani lewat di depan meja mereka untuk meninggalkan kelas. segaris wajah sarat perang dikirimkan Bu Ani kepada Rama dan Bunga yang ia beri sebutan ; Sepasang Melawan.
Rama berdiri beranjak meninggalkan kelas. Bunga memanggilnya, namun Rama keburu hilang dari balik pintu. Bunga berlari keluar, dilihatnya Rama berjalan menuju tangga. Bunga mengejarnya, 'dapat!' kata Bunga dalam hati saat Rama berhenti usai Bunga meraih tasnya dari belakang.
"Wah,wah,wah, sepasang yang selalu ibu nanti-nantikan akhirnya ada di kampus ini," Bu Inggrid, Dosen Pancasila, menyapa Bunga dan Rama ketika mereka bertemu di tangga. "Sepasang Melawan" kata Bu Inggrid lagi.
Bunga tak tahu ekspresi apa lagi yang harus iya tunjukkan untuk kesekian kalinya hari ini, ia dilanda kebungungan lagi. Rama menyalami Bu Inggrid dengan oenuh respek. Spontan Bunga mengikuti.
"Mau pada kemana, Rama?sanggar?" tanya Bu Inggrid. "nggak Bu, saya mau ketaman depan perpus."
"Oh nggak Bu, saya ke lobby," jawab Bunga sekenanya.
"Wah, kebetulan, sini bareng ibu, ibu juga mau ke lobby,"
"nghhh i-i-iya Bu, mari."
Bu Inggrid mengayunkan tangannya merangkul lengan Bunga.
"Saya duluan, Bu," Rama berpamitan.
"Iya Rama. O iya, mengenai permasalahan kalian," kata Bu Inggrid. "Ibu di pihak kalian, sepasang melawan!," Bu Inggrid memberi kode dengan jari dan senyuman yang bersahabat.
__ADS_1
"Sepasang Melawan?" spontan Bunga mengulangi kata-kata Bu Inggrid.
"Itu dari Bu Ani. Obrolan tentang kalian, belakangan cukup ramai di ruang dosen."
"Ah sudahlah, yang penting kalian tetap tenang," Bu Inggrid menepuk pundak Bunga, "dan, laki-lakimu itu, Bunga. Seorang yang otentik. Seorang yang pantas di dapatkan oleh perempuan secantik kamu," Bu Inggrid menunjuk Rama yang berjalan menuruni tangga meninggalkan mereka berdua.
"Bu, aku dan Rama hanya..."
"Hanya masih saling mengenal," Bu Inggrid memotong. "tidak masalah. semua percintaan melewati fase itu. Hanya, Ibu berani bertaruh, kamu sedang mengenal orang yang tepat."
"nghhh, bb-bb-bbu Ing..."
"Ngomong-ngomong. Awal kamu menyukai Rama dari mana?" tanya Bu Inggrid.
"Maaf, Bu?"
"Iya. kamu suka Rama dari wajahnya? Karyanya? kamu membaca blognya? atau kamu suka pribadinya yang humanis, atau?"
"Blog? humanis? Bunga bertanya.
"Oh, dari blognya, blog pejalan anarki itu ya," Bu Inggrid mengangguk-angguk. "Bagus, dari sika dan catatan Rama di sana, kamu bisa mengenal jiwanya. Tidak seperti kawan-kawan mu yang lain dalam memilih pasangan, mereka melihat badan saja. Tidak sesuai dengan Indonesia Raya. Sudah bagus yang kamu lakukan ke Rama itu, membangun jiwanya dulu, baru bangunlah badannya."
"Berasa kuliah kita Bu," Bunga tertawa kacil.
"Loh iya bagusnya begini. Belajar itu dari mana saja, dari cinta, dari alam, dari lingkungan dan dari mana saja," Bu Inggrid menanggapi serius, " jangan berhenti belajar. Belajar itu selamanya, seumur hidup, bukan hanya sembilan tahun, dan bukan hanya ketika kamu duduk di bangku kelas kuliahmu."
"Iya Bu."
"Terlebih kuliah Ibu, pancasila. Makanya kalau Ibu ngajar jarang bawa buku, nyatat atau apa. Ibu lebih sering cerita, pancasila itu ada disetiap kita kok, ga perlu lagi di tambah banyak-banyak ngapal teori kayak matakuliah lainnya, tugas Ibu hanya mengajak mahasiswa untuk merawat nilai-nilai yang sudah ada di dalam diri mereka, ya itu tadi, Pancasila.
Nah, lelakimu itu, Rama. Mahasiswa favorit Ibu, wajar kalau dia berhasil mengalahkan kawan-kawan HMJ mu dalam debat tahunan terakhir kemarin. la wong dia bergaulnya di desa-desa, di lereng gunung, di pasar-pasar tradisional, dan semacamnya. Uniknya, selain kreatif, pikirannya terbuka. Jadi konsep ekonomi yang dia pelajari disini dia saring, dia kawinkan dengan nilai-nilai lokal. Dalam bahasa Ibu, namanya ekonomi Pancasila. Meskipun Ibu tahu argumen Rama bukan dari tatanan yang ada di buku-buku ibu, toh outputnya ternyata oke. Yaudah ibu kasih dia nilai yang baik. Kawan-kawanmu yang hanya modal teori angka-angka gan hafalan ekonomi enternesionil, keok lah di debatnya.
__ADS_1
Hanya, Rama kadang kurang luwes, emosinya kadang kurang matang. Padahal ibu sudah nasehati dia satu hal ; bahwa kematangan emosional itu berdiri setingkat diatas idealisme," kata Bu Inggrid lagi lantas menghentikan langkahnya yang tak terasa sudah sampai di lobby. "itulah sebabnya ia punya banyak masalah dengan dosen-dosen yang secara rujukan atau referensi keilmuan memang bersebrangan dengan ideologi Rama," lanjut Bu Inggrid.
Bu Inggrid kemudian pamit meninggalkan Bunga untuk pergi menghampiri beberapa mahasiswa yang sudah menungggunya. Sedang Bunga yang memang tidak ada rencana untuk ke lobby, memilih untuk duduk di kursi lobby. Bunga terdiam memikirkan Rama. Telah masuk menyita tempat kecil di kepala Bunga apa-apa yang dibilang Bu Inggrid tentang Rama di sepanjang jalan tadi.