
Kelas Penganggaran
Sebab Bunga bangun sedikit terlalu siang dan terlambat beberapa menit masuk kelas, maka kali ini dia tidak duduk berdampingan dengan dua rekannya di HMJ, yaitu Rais dan Meli seperti biasanya. Usai melewati pintu dan kontak mata penanda maaf kepada dosen, Bunga duduk di bangku sedapatnya dan secepatnya.
"Maaf, mbak sudah sampai di bagian mana?" kepada seorang perempuan di sampingnya, Bunga bertanya sambil memeriksa helai per helai lembar kerja yang baru ia keluarkan.
Mata kuliah penganggaran memang kompleks. Sekali tertinggal mengikuti pengisian lembar kerja akan sangat sulit dan terhambat untuk dapat melanjutkan mengikuti ke pengisian lembar kerja berikutnya.
"Kalem, mbak. Dari tadi baru ngomong-ngomong aja Si barbar," jawab perempuan itu.
"Barbar?" tanya Bunga.
"Pak Barudin," sahut laki-laki disamping perempuan yang ditanya sekar.
Bunga tertawa kecil mendengar keduanya menyebut pak Barudin dengan panggilan 'Barbar'.
Bunga menghembuskan nafasnya, berusaha untuk mengendalikan diri dan degub jantungnya. Sepagi itu, Bunga dipaksa berlari tergesa dari basement menuju kelas yang berada di lantai tiga.
"Air mbak," perempuan itu menawarkan tumbler minumnya kepada Bunga. "Gratis," tekannya.
"Terima kasih mbak," Bunga menyambut tumbler.
"Kencing," kata perempuan di Bunga.
__ADS_1
"Hah?" Bunga tersedak. Ia telusuri body botol minum di tangannya.
"Namaku Kencing."
"Kencing?" spontan Bunga mempertanyakan nama perempuan di sampingnya sambil menahan tawa dan menutup bibirnya yang kebasahaan.
"Aku Pejoh," sahut laki-laki disamping kencing.
"Apa?" lagi, Bunga tersedak dan kaget.
"Pejoh namanya," Kencing menengahi. "Kamu Bunga kan?"
"Oh iya. Namaku Bunga," Bunga menyalami keduanya sambil masih kesulitan membenahi nada bicaranya katena tertawa.
"Mukanya sering nongol di web kampus," jawab Kencing.
"Ketua HMJ ya?" tanya Kencing pada Bunga.
Bunga mengangguk. Pejoh ikut mengangguk.
"Kalian mapala ya?" tanya Bunga setelah matanya menangkap stiker-stiker bergambar gunung di tumbler dan binder Kencing.
"Yak. Mahasiswa paling lama," canda Kencing.
__ADS_1
"Masih pada lajang," Pejoh menyambung.
"Oh kamu masih lajaaaaang?" sahut Kencing sambil memberikan ancaman dengan cubitan kecil ke tangan Pejoh.
"Nggak Cing. anak-anak mapala lain maksudnya, kita mah nggak, aku kan sudah kepadamu dan kamu sudah kepadaku," Pejoh menenangkan Kencing, kekasihnya.
"Wah, Kencing dan Pejoh ini sepasang ya? Pacaran ya? serunya..," Bunga merespon dengan apresiasi dan senyum. "Pejoh dan Kencing," Bunga berkata-kata lagi. Ia tertawa-tawa sendiri.
Sepanjang jam kelas, selingah patahan fan celetukan kerap kali di ciptakan oleh Kencing dan Pejoh. Kelas menjadi lebih menyenangkan bagi Bunga. Tentunya Bunga menyikapinya dengan seimbang, sehingga ia tidak tertinggal untuk melanjutkan lembar kerja dan memahami materi yang diberikan dosen.
"Dewi Larasati Ningrum," pak Barudin mengecek kehadiran mahasiswa.
"Hadir pak," kata Kencing.
Pak Barudin adalah dosen yang cukup ketat. Tak ingin ada kasus 'titip tanda tangan', ia selalu memanggil satu persatu nama yang di tanda tangani di presensi.
Tak lama, pak Barudin menyebut satu nama lagi.
"Rismanto..."
"Hadir," kata Pejoh sambil mengangkat tangannya malas.
Sebelum pak Batudin memanggil nama-nama mahasiswa, di sela Bunga mengerjakan lembar kerja penganggaran, sering ia tertawa sendiri karena terlintas di pikirannya tentang bagaimana bisa sepasang di sampingnya itu bernama Kencing dan Pejoh.
__ADS_1
Kencing menjelaskan pada Bunga bahwa nama Kencing dan Pejoh adalah nama lapangan, Itu nama khusus keanggotaan, sebuah ciri khas yang menggambarkan solid dan keakrabannya orang-orang di lingkungan organisasi tertentu, salah satunya Mapala.