
Kelas penganggaran selesai. Bunga bergegas mencari Rama setelah
sempat lebih dahulu mampir di kantin bersama Rais dan Meli.
Di sana ia diingatkan oleh kedua rekannya di HMJ itu mengenai
kelanjutan masalahnya dengan Bu Ani. ‘Senior HMJ, dosen pem-
bina, dan banyak orang menanti penyelesaian kasusmu!’ Rais ber-
pesan pada Bunga.
Merasa terganggu dan terbebani, Bunga pun pergi.
Setelah tidak menemukan Rama di sanggar, Bunga akhirnya mene-
mukan Rama di taman depan perpustakaan. Rama sendirian, duduknya
membelakangi jalan. Bunga yang mendekat dari belakang semakin yakin bahwa lelaki yang sedang menulis atau sibuk mengerjakan
sesuatu di sana itu adalah Rama.
“Rama” Bunga mengeluarkan kata. Rama menghentikan laju pena
di tangannya. Kepalanya menoleh ke arah Bunga. “Kalau sudah tidak sibuk, bisa kita bicara?” kata Bunga lagi.
“Oh kamu,” Rama menatap Bunga, “Bunga. Bunga Indurasmi.
Iya bisa. Mau di sini atau?” kata Rama lagi sambil menggeser letak duduknya dan mempersilahkan Bunga duduk.
“Terima kasih. Di sini saja. Gak lama kok,” Bunga memilih
untuk tidak duduk.
__ADS_1
“Mengenai kita dan Bu Ani,” katanya lagi.
“Oh Si Anying,” sahut Rama santai.
“Apa katamu?”
“Iya, bagaimana?” kata Rama lagi.
“Boleh dikecilkan gak volume musiknya?” pinta Bunga.
Dari sikap dan kata yang keluar dari , Rama bisa membaca bahwa ia diajak untuk membangun suasana serius. Rama mengabulkannya.
Ia letakkan pena, menutup bukunya, lalu mematikan musiknya.
“Sudah. Silahkan,” kata Rama.
“Tidakkah kamu serius kuliah di sini?” Bunga memulai.
“Maksudmu?”
sudah itu masalahmu. Lakukan itu sendiri, jangan sertakan aku.”
“Ada bahasa yang lebih mudah gak?” kata Rama.
“Bu Ani ingin kita menghadap, Rama!”Bunga meletakkan dua
tangannya di meja bak seorang interogator kepada tersangka
suatu kasus. “Tolonglah, Rama!. Permasalahan kita..”
“Kita?” Rama memotong.
“Ya. Kita, aku dan kamu, siapa lagi?” Bunga menunjuk dirinya dan Rama. “Semua karena ulahmu, ulah kita. Kini kita jadi perbin-
__ADS_1
cangan dosen dan mahasiswa.”
“Bukan kita. Tapi Anda, ketua HMJ yang terhormat. Posisi dan keadaanmu yang terhormat itu membuat sekecil apapun
perbuatanmu menjadi bahan perbincangan. Tidak ada aku di
dalam kita yang kamu maksud,” Rama mulai tersinggung atas sikap dan argumentasi Bunha, “dan lagi, kenapa kamu sudutkan aku?” Rama melanjutkan sudut pandangnya.
“Aku ingin kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Kamu gak boleh egois!”
“Aku keluar dari kelas Bu Ani saat itu adalah aku dan
keputusanku, aku tidak mengajakmu. Tidak menyertakanmu. Aku
keluar kelas adalah sesuatu, kamu ikut-ikut keluar kelas adalah
sesuatu yang lain. Aku dan kamu adalah bukan kita. Berhentilah
menyudutkanku dengan kata; ki… ta…,” jelas Rama.
Emosi Bunga semakin menjadi. Nalurinya memberontak untuk membalas. Bunga alirkan emosinya lewat kata-kata untuk menyerang Rama.
“Aku dengar kamu suka baca buku, bermain di desa dan gunung-gunung, seharusnya kamu terbentuk menjadi seorang yang bijak nan penuh cinta,” Bunga dekatkan tubuhnya selangkah kepada El, “rupanya palsu! Wajar jika engkau selalu kesepian!”
Bunga tidak bisa mengendalikan emosinya. Argumennya keluar
dari subtansi pembicaraan. Setelah menghakimi Rama, ia tak bisa ber kata-kata lagi dan memutuskan untuk melangkah pergi.
“Yang terhormat, Bunga Indurasmi!” Rama berteriak.
Bunga menghentikan langkahnya.
“Nanti malam, dalam kesepianmu yang kau lemparkan padaku,” kata Rama sambil berdiri, “Satu, kau renungkan lagi, sebenarnya apa salahnya aku dan kau kepada Bu Ani. Dua, Bakar lembar IPKmu dan bacalah buku di luar yang itu-itu, buka mata, hati, pikiranmu, baru kita bicara apa itu cinta dan bijaksana,” kata Rama lagi.
__ADS_1
Sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkan Rama, Bunga tolehkan kepalanya, ia kirimkan kepada Rama sebuah wajah dengan amarah, wajah yang masih saja cantik.