
‘Dalam kesepianmu yang kau lemparkan padaku’ kata-kata Rama menuruti Bunga ke kamarnya. Berkali Bunga menolak memikirkan apa yang dibilang Rama tadi siang tentang dua hal yang harus Bunga
lakukan malam ini. Hanya, berkali Bunga berkata tidak, berkali itu pula kata-kata Rama semakin menguasai malamnya.
Dan Bunga menyerah juga, ia mulai membuka percakapan dengan dirinya sendiri. ‘Apa sebenarnya salahku dan Rama kepada Bu Ani?’.
Bunga tidak menemukan jawabannya. Ia merasa tidak ada kesalahan yang ia lakukan. Juga Rama. Bunga berpikir, Rama diusir dari kelas karena pakaian gunungnya tidak disenangi Bu Ani. Lalu Rama melawannya dengan argumen bahwa bukan hak Bu Ani untuk membentuk karakter dan pakaian apa yang harus dipakai mahasiswa. Kemudian Bu Ani mengusirnya dengan alasan Rama terlambat masuk kelas. Bunga yang juga terlambat, bahkan melebihi terlambatnya
Rama, memutuskan diri untuk keluar kelas juga. Suatu sikap yang jika dilihat secara obyektif sebenarnya cukup fair.
“Sudah betul yang aku dan Rama lakukan. Justru aku sedang mencoba fair, kan? Aku sedang mentaati peraturan yang Bu Ani
buat,” kata Bunga sendirian.
Bunga merasa bahwa semua ini lebih kepada sentimen yang didramatisir oleh Bu Ani menjadi sebuah masalah, yang tentunya
sebagai dosen di PI, tidak bisa tidak, dosen selalu pemenangnya. Wajar jika ada satu yang seperti Rama yang memutuskan melawan, habislah ia. Saat itu Rama jadi ingat kata-kata Soe Hok Gie yang dikutip Rama dalam blognya; Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau yang selalu salah Mengingat kutipan itu, Bunga jadi ingat tentang blog Rama. Lebih detail, Bunga ingat tentang; Bakar lembar IPKmu dan bacalah buku di luar yang itu-itu, buka mata, hati, pikiranmu, baru kita bicara apa itu cinta dan bijaksana. Bunga bergerak ke komputernya, beberapa keyword ia luncurkan ke mesin pencari google. Mulanya ia melakukan itu semata untuk memenuhi permintaan pertahanan di dalam dirinya jika esok ia
bertemu dan harus kembali ribut dengan Rama, namun semakin lama, Bunga berselancar semakin jauh. ‘Cinta’ dan ‘Bijaksana’ akhirnya membuatnya terdampar di sebuah pulau bernama ‘Socrates’.
Socrates, seorang filosof yang paling berpengaruh di dunia.
Seorang yang secara sikap dianggap menjengkelkan bagi banyak orang di lingkungan dan masanya dahulu.
Socrates tidak seperti seorang pada umumnya yang merasa berilmu. Ia tidak menggurui, ia hanya bertanya dan menjawab
kata-kata yang orang lemparkan kepadanya. Socrates tidak menyerang, ia membuat orang yang menyerangnya merasa terserang sendiri dengan tanggapan yang logis dan tidak bisa
dibantah sesiapa yang menggunakan akal sehatnya. Socrates ‘mempermalukan’ banyak orang yang mendebatnya. Keunikan dari caranya mengemukakan kebenaran-kebenaran yang filosofis, membuat resah petinggi Athena yang lebih dulu membuat standar tentang kebenaran-kebenaran. 399 Sebelum Masehi. Socrates didakwa bersalah. Ia dianggap
merusak tatanan dan kepercayaan masyarakat tentang dewa-dewa yang ada. Socrates merasa tidak melakukan kesalahan. Socrates mengemukakan bahwa apa-apa yang selama ini ia sampaikan adalah sesuatu yang berasal dari hati nurani dan dapat
diterima dengan akal sehat mana pun.
Socrates sebenarnya bisa memilih untuk meminta belas kasihan dan pergi dari Athena, hanya akhirnya ia memilih tetap di sana
guna mempertahankan hati nurani/kebenaran. Socrates mati setelah dipaksa minum racun cemara oleh para pengadil Athena. Socrates—sebuah nama yang akhirnya disebut oleh seluruh rakyat Athena ketika ditanya, “siapa orang yang paling bijaksana?” Seperti malam-malam sebelumnya, Bunga terlarut menelusuri
jawaban dari apa-apa yang ia baca. Ia dapati maksud Rama; Bunga harus mendengarkan nurani dan akal sehatnya tentang apa yang
salah dengan dia kepada Bu Ani.
Sudah hampir pukul 3 pagi. Bunga yang memang pada dasarnya tidak terbiasa terjaga selarut itu, akhirnya kelelahan dan tertidur
di meja komputernya.
Banyaknya pikiran, kerap tidur larut malam, dan tidak teraturnya, pola makan belakangan ini, membuat Bunga merasa tak enak badan. Pagi itu, Bunga terbangun tepat pukul sepuluh. Pada waktu yang sama, di kampus, perkuliahan ekonomi makro Bu Ani kelas
Bunga sedang berlangsung. ‘Mati!’ batin Bunga. Ia panik bukan kepalang. Tanpa mandi, Bunga basahi wajah sekenanya. Meraih buku, mengenakan jeans kemarin, kaos oblong, dan meraih kemeja flanelnya. Ia lesakkan kakinya ke sepatu dan berangkat secepat yang ia bisa menuju kampus.
Sesampainya di kampus, ia lanjut berlari dari parkiran basement menuju lantai tiga. Kepalanya semakin pusing, di perjalanan ia
benar-benar merasa tubuhnya sedang tidak sehat. Pukul sepuluh lebih dua puluh lima, Bunga mematung di depan pintu
kelas. Ia lupakan keluhan seputar kesehatan tubuhnya. Kini kepalanya penuh dengan tanya dan rasa panik. Terlambat dua puluh lima
menit adalah sebuah tinta merah dalam sejarah perkuliahannya. Sialnya lagi, ini adalah kelas Bu Ani. Batinnya bertempur tentang pilihan untuk maju meraih gagang
pintu dan masuk, atau mundur. Bunga tak bergerak sedikit pun hingga akhirnya ponsel berdering. Sebuah pesan masuk dari Rais.
__ADS_1
“Kalian kemana?” kata Rais dalam ponsel Bunga.
“Kalian?” Bunga tak mengerti apa yang dimaksud ‘kalian’
dalam pertanyaan Rais.
“Kalian; kamu dan Rama kemana?” balas Rais lagi.
‘Sempurna. Mati aku,’ batin Bunga. Matanya membelalak kosong. Badannya melemas seketika. Rupanya Rama tidak masuk kelas juga. Bunga tidak bisa membayangkan apa yang ada di pikiran kawan-kawannya tentang keadaan yang di luar rencananya ini. Terlebih Bu Ani. Setelah ‘sepasang melawan’, akan ada ungkapan apa lagi yang ia berikan pada Bunga dan Rama yang bolos kuliah bersama.
Pilihan untuk membuat semua itu tidak terjadi sebenarnya ada, yaitu Bunga harus masuk kelas. Hanya, itu sama dengan Bunga
menjadi mahasiswa terbodoh pertama yang berani masuk di kelas Bu Ani setelah kini ia terlambat hampir tiga puluh menit.
Pusing di kepalanya semakin menjadi. Bunga memundurkan langkahkan kakinya menjauhi pintu. Ponsel yang baru saja menyampaikan
pesan dari Rais itu belum juga turun dari tangan Bunga. Pikirannya pun masih penuh dan kalut saat akhirnya ia antarkan tubuhnya
untuk melunglai duduk di kursi panjang dekat loker di sisi kelas.
“Lihat apa yang kau lakukan padaku,” lirih Bunga bicara,
entah pada siapa. Sebab ia merasa tidak enak badan, Bunga berniat untuk pulang.
Mencoba menghindar dari kawan-kawan dan ruangan HMJ, Bunga pulang memutar lewat pintu dekat taman. Bunha bertemu dengan
Kencing di jalan menuju taman. ‘Habis ngehibur temen, kasihan dapet musibah,’ kata Kencing sambil menunjuk seorang laki-laki yang dari kejauhan Bunga melihatnya duduk sendirian di taman dekat
gedung perpustakaan.
‘Rama?’ batin Bunga.
Tidak membaca buku, tidak mendengarkan musik, Rama terduduk sendirian di taman dekat perpus. Matanya redup, tubuhnya
ia hembuskan asap-asap itu seketika dan tanpa irama.
“Kenapa tidak menangis saja,” naluri kasih dan kelembutan Bunnga keluar seketika. Ia menyapa Rama yang jelas terlihat sangat
kacau dan berantakan.Dari tampilannya, siapapun yang mengenal Rama pasti tahu, sesuatu yang berat sedang terjadi pada laki-laki pecandu kretek itu.
“Semua orang menangis ketika sedih, dan itu tidak ada
kaitannya dengan kekuatan seseorang. Kamu tidak serta merta ke-
hilangan kelelakianmu ketika menangis,” kata Bunga lagi.
“Semua orang menangis ketika sedih?” tanya Rama. Ia menoleh ke arah Bunga. Rama tersenyum, matanya yang menggenang dan
merah memandangi Bunga dari rambut sampai sepatu. Bunga mengangguk, kali ini bahkan ia beranjak duduk di bangku
sebelah Rama.
“Kapan kamu sedih dan menangis?” tanya Rama.
“Banyak. Aku menangis ketika aku dimarahi Ayah, dapat nilai jelek juga aku menangis, ketika dulu disakiti kekasihku juga
menangis, kasus Bu Ani juga aku menangis,” Bunga tersenyum mengakrabkan diri. “Aku perempuan, aku lumayan sering menangis. Ketika bersedih aku menangis.” Bunga menjelaskan sambil menggoyang-goyangkan kakinya agar tetap merasa santai.
Keduanya hening beberapa saat. Daun-daun di taman berguguran mengisi jeda di antara mereka.
__ADS_1
“Palsu,” kata Rama mengembalikan percakapannya.
“Palsu?” Bunga mengulangi.
“Di jalan ada rumah-rumah digusur, di stasiun ada pedagang-pedagang diusir, di jembatan ada anak-anak kecil kelaparan,
di gunung ada sampah berserakan, di Facebook dan Youtube ada sesaudara diadu domba dan perang, kamu tidak sedih melihat itu semua?” tanya Rama. Bunga menghentikan goyangan kakinya.
“Maksudmu apa?” Bunga menolehkan kepala menuju Rama.
“Maksudku, ya itu, kamu tidak sedih melihat itu semua?”
“Iya sedih. Lalu?” jawab Bunga sambil tetap bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya maksud Rama menanyakan itu.
“Lalu apakah kamu menangis?” kata Rama.
Bunga terhenyak mendengarnya.
“Kemungkinan besar kamu mungkin sama dengan kebanyakan orang,” kata Rama lagi. “Bahwa kamu mengaku merasa sedih
tapi tidak menangis melihat itu semua. Kamu dan kebanyakan orang hanya menangis ketika diri disakiti, dikhianati, atau apa-apa
yang buruk menimpamu.”
“Apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya?” Bunga mulai tidak nyaman meski telah ia ubah letak duduknya berkali-kali.
“Orang-orang tidak fair. Tidak bersungguh-sungguh merasa sedih pada banyak hal. Kecuali jika sesuatu menimpa dirinya barulah mereka benar-benar merasa sedih, lalu menangis. Apa yang lebih egois dari orang-orang itu. Orang-orang berpura-pura. Termasuk ketika bersedih, mereka tidak benar-benar merasakannya,” lanjut Rama.
Bunga tersinggung dan spontan beranjak meninggalkan Rama.
“Aku wajib malu pada kehidupan, jika merasa bersedih dan bisa menangis saat diri disakiti namun baik-baik saja melihat segala kekeliruan yang menyedihkan di dunia,” lanjut Rama.
“Mungkin benar…” kata Bunga sambil menahan sejenak langkahnya, “kamu sakit, Rama.” lanjutnya sebelum pergi dengan cepat.
“Mungkin benar..,” kata Rama sendirian. “Soe HokGie. Dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda,” ‘Selamat jalan, Mbah. Titip salam untuk Bapak di sana, bilang, aku akan tepati janjiku. Aku akan lulus,’ Batin Rama yang sedang bersedih sebab nenek yang merawatnya dari kecil meninggal dunia hari ini.
Hari berlalu. Berita mengenai perilaku ‘tidak patut’ Bunga bersama Rama tersebar semakin luas dan menjadi topik asyik untuk gosip-gosip di kantin dan gelanggang mahasiswa. Selain ungkapan ‘Sepasang melawan’ yang menjadi headline, entah siapa yang mengambilnya, foto Bunga dan Rama duduk berdampingan di taman perpus
menjadi gambar yang menyita banyak perhatian di mading dan buletin mingguan UKM Jurnalistik kampus.Selain badannya yang semakin tidak sehat, atas semua yang terjadi, Bunga merasa tidak mungkin bisa memberi argumentasi logis pada senior dan anggota HMJ. Bunga memilih untuk menghindar dari dunia kampus dan mengistiraharatkan diri. Berkali kuliah dan
dua rapat kepengurusan ia tidak hadiri.
Kesempatan itu digunakan beberapa ‘musuh’; baik musuh Rama di kampus pun musuh Bunga di HMJ untuk mengkudeta dan menyuarakan isu untuk memaksa Sekar mundur dari jabatan ketua HMJ.
Sementara Rais dan Meli yang ia harapkan dapat memberinya dukungan moril malah turut serta menyudutkannya lewat kata dan
perilaku tersurat maupun tersirat. Bunga jatuh pingsan di rumah sakit saat ia hanya berniat untuk sekedar periksa dan meminta resep obat. ‘Typhus,’ kata dokter.
Demi kebaikannya, Bunga dipaksa untuk tinggal dan dirawat beberapa hari. Selama hari-hari itu, tidak ada satupun kawan-kawan
Bunga yang tahu mengenai keadaannya.
Sebelum Bunga akhirnya memutuskan untuk mematikan ponsel-mnya, sebenarnya Bunga tidak benar-benar sendirian. Ia kerap di berikan perhatian, salam, dan semangat oleh beberapa rekan HMJ
dan kawan lainnya. Hanya, Bunga merasa semua hanya basa- basi. Semua tidak sedang benar-benar peduli, terlebih kebanyakan dari
mereka adalah laki-laki, yang Bunga ketahui semuanya memiliki kepentingan dengannya, entah itu asmara, studi, pun terkait posisi
HMJ. Tidak ada cinta, menurut Bunga.
__ADS_1
Selain IPK yang tinggi, Bunga menyadari bahwa potensi di dirinya ada pada jabatan dan kecantikannya. Bunga merasa bahwa laki-laki manapun pasti akan melakukan itu; memberi perhatian, mencuri kesempatan dalam kesempitan untuk mendekat dan
berharap dianggap pahlawan. Hanya, sepenakut-penakutnya dan sebagaimanapun sepinya Bunga, hati kecilnya masih bisa berkata tidak untuk kemunafikan. Dan kini, tidak ada pilihan lain yang bisa ia dengarkan melainkan suara hatinya sendiri. Bunga sudah siap jika keputusannya itu sama dengan berarti Bunga harus kesepian.