Sepasang Melawan

Sepasang Melawan
SABTU SORE, RAPAT ANGGOTA DI SEKRET HMJ


__ADS_3

Setelah yang terjadi pada kelas Bu Ani—insiden tip-ex—beberapa waktu yang lalu, perlahan nama baik Bunga kembali pulih.


Kawan-kawannya yang dulu hilang kini kembali dengan pelukan dan jabat tangan yang hangat kepada Bunga. Tidak ada lagi cibiran-cibiran dan pandangan tajam yang menghampiri Bunga lagi.


‘Bunga kembali’ begitulah headline di buletin mingguan kampus itu.


“Dari awal, saya sudah yakin Bunga bisa menyelesaikan masalah ini,” Mas Dani mengapresiasi. “Saya itu kenal Bunga, kok. Dia itu anak baik, kalau tidak baik tidak mungkin dia bisa duduk di sini sebagai ketua kita.”


“Terima kasih, Mas,” kata Bunga pelan dengan kepala yang terus menunduk.


“Iya, Mas, Bunga itu orang baik, kita semua tahu itu,” Rais menyambung Mas Dani.


“Rais!” Bunga menolak ditinggikan.


“Semua masalah yang kemarin-kemarin itu, memang lagi sialnya Si Bunga saja yang bertemu dengan Rama. Semua itu ulah Si Rama urakan itu,” kata Rais dengan percaya dirinya di lingkaran kawan-kawan HMJ. “Ah, andai Mas Dani dan semua yang di sini melihat wajah Rama di kelas itu,” lanjutnya.


“Sudah, Rais,” Bunga mencoba memotong.


“Baru pertama kali aku lihat Rama tersudut dan tidak berkata-kata seperti itu,” Meli menyambung Rais.


Seluruh anggota yang hadir di pertemuan itu penasaran. Dan oleh karena sudah tidak ada agenda yang dibahas, Rais diminta menceritakan kejadian terakhir di kelas Bu Ani terkait Rama dan Bunga.

__ADS_1


“Presensi kelas itu kembali ke Bu Ani,” Rais bercerita dengan antusias. “Beliau marah dan meneriaki nama Rama dan Bunga. Bu Ani yang sangat tersinggung, memerintahkan Rama dan Bunga keluar dari kelas, tapi ya seperti biasa…”


“Rama Melawan,” Meli menyambung mendukung Rais.


“Rama mempertanyakan alasan Bu Ani kenapa namanya dan Bunga dicoret dan kenapa Dia dan Bunga diusir dari kelas,” Rais


melanjutkan ceritanya. “Bu Ani tidak mau menjawabnya, la wong sudah jelas, seluruh kampus tahu kesalahan Rama dan Bunga. Yang ada, Bu Ani semakin marah dan kembali meminta Rama dan Bunga keluar dari kelasnya,” lanjut Rais lagi.


“Aku dengar, ini semua berkat kalian berdua,” kata Mas Dani kepada Rais dan Meli. “Kok bisa? Bagaimana ceritanya?”


“Sekali lagi, seperti halnya Mas Dani, aku juga yakin bahwa Bunga itu orang yang baik,” kata Rais sambil melemparkan senyumnya kepada Bunga yang sedari tadi hanya menunduk dan tak banyak bicara.


“Waktu itu, aku merasa perlu untuk berdiri dan bicara,”


Bunga ini sama sekali tidak terlibat. Bunga dijebak Rama. Mengenai mereka bolos bersama, isu mereka saling jatuh cinta, dan mengenai foto mereka berdua yang dipakai untuk kawan-kawan jurnalistik itu pun semua adalah perbuatan Rama. Mana mungkin Bunga mau sama Rama.


Kusampaikan pada Bu Ani bahwa mengenai coretan yang ditulis ulang di absensi itupun adalah juga sama, semua perbuatan Rama. Aku meminta Bu Ani untuk berpikir kembali dan mengingat tentang siapa Bunga dan Siapa Rama. Aku minta Bu Ani melihat track record mereka. Aku katakan bahwa tidak mungkin Bunga melakukan semua ini atas kemauannya. Sekali lagi kusampaikan; ini semua perbuatan Rama.Mendengar penjelasanku, Bu Ani bertanya kebenarannya


kepada Bunga. Tapi Bunga diam saja.”


“Mungkin karena Bunga takut,” sahut Meli. “Sebab waktu itu ia duduk di sebelah Rama.”

__ADS_1


“Ya,” Rais mengambil alih ceritanya kembali. “Tapi aku tidak tinggal diam. Aku terus bicara meyakinkan Bu Ani. Meski berkali-kali Rama menunjuk-nunjukku dan mengancamku, tapi aku tidak takut, aku tidak berhenti. Bahkan di kelas itu aku mendapatkan dukungan dan kesaksian. Seorang mahasiswa yang duduk di samping Bunga ikut bicara, katanya ia melihat Rama menggenggam tangan Bunga, namun Bunga tak mau dan menarik tangannya kembali. Selain itu ia juga


pernah mendengar Rama bicara kasar pada Bunga, saksi itu bilang ia mendengar Rama berkata ‘asu’ pada Bunga di sana.


Semua yang ada di kelas mendukung Bunga. Aku buka satu hal lagi ke Bu Ani. Aku katakan pada Bu Ani bahwa Si Rama itu, di luar kelas, selalu menyebut Bu Ani dengan sebutan Si Anying. Aku minta dukungan kelas untuk menguatkan tuduhanku. Seluruh kelas


tertawa dan mengangguk-angguk. Rama tidak bisa berkata-kata kala itu. Di waktu yang sama, Meli berjalan menghampiri Bunga untuk memberikan dukungan dan membujuknya untuk bicara.


Dan akhirnya, Bu Ani yang sudah teramat kesal, bertanya lagi kepada Bunga, ‘Apakah betul semua itu, Bunga?’.


Alhamdulillah, Bunga pun bicara. ’Ya, ini semua perbuatan Rama’. Yah singkatnya, begitulah cerita pada pagi yang menakjubkan itu,” Rais menutup ceritanya.


“Hebat kamu Rais,” kata salah seorang anggota di sana.


“Sungguh berani,” sahut anggota lainnya.


“Semua sudah lewat,” kata Rais lagi. “Yang terjadi, di sore yang bahagia ini, Bunga kembali di antara kita. Bunga kembali,” kata


Rais lagi mengakhiri ceritanya yang dramatis.


“Luar biasa. Kami semua berhutang padamu,” kata Mas

__ADS_1


Dani kepada Rais. “Juga pada Meli. Kalian tidak hanya menyelamatkan Bunga, melainkan juga menyelamatkan muka HMJ.”


Kecuali Bunga, semua yang hadir di sana bertepuk tangan dan mengapresiasi Rais dan Meli. Dua orang itu dianggap telah menunjukkan sosok keberanian dan solidaritas yang luar biasa.


__ADS_2