
Di Jogja, itu seperti Bukit Bintang. Di Bandung, itu seperti Bukit Moko. Di sana, itu bukit berbunga atau entah apa namanya, tempat sepasang dengan gelora, Rama menyaksi mega-mega merah muda jatuh dengan puitik di langit senja mereka berdua.
Dan malam jatuh juga. Di bawah Cemara, daun gugur di antara Rama dan Bunga yang saling berpegang tangan menatap nyala kerlip lelampu kota. Burung-burung pulang dan tidur selepas senja, kicaunya tinggal di setiap kata yang diucap Rama dan Bunga. Di langit, Bulan muncul sepertiga, sisanya bersemayam di mata mereka berdua.
Suara pohon dan sungai yang mengalir pelan, melagukan sepasang yang saling menukar tatap mata menjadi mantra. Bunga jatuhkan kepalanya di pundak Rama.
“Maaf,” Bunga bicara lirih di sana.
Tangan Rama melingkar merangkul Bunga. Rama tandangkan kecupan dikening sang kinasihnya. Rama pejamkan mata, meletakkan segalanya dalam jiwa. Bunga-bunga tak bernama dengan keharuman, merekah di dalamnya.
Angin masuk membelai tubuh Rama. Udara semakin dingin sesaat sebelum akhirnya Rama membuka matanya kembali. Merah lampu tenda menyapanya.
‘Hah?’ batin Rama terkejut. Di pundaknya, Rara membaringkan kepalanya.
“Rara?” Spontan Rama menggeser tubuhnya ke belakang.
Rara tetap dalam lelapnya sambil sesekali membenahi letak kepalanya.
Rama hembuskan nafasnya kencang untuk mengembalikan sadarnya dari mimpi indah bersama Bunga yang baru saja terjadi di tidurnya. Ia bertanya-tanya sendiri sambil memandang lelangit tenda.
Rama bangkit, duduk, dan melipat lututnya merapat ke tubuhnya. Ia peluk dirinya sendiri kuat-kuat.
“Bunga,” kata Rama lirih.
Di luar tenda. Danau tertidur cantik di pangkuan Rinjani tengah malam. Di tubuhnya, bulan bundar jatuh mengambang di tengah-tengah. Berbaris pohon, bunga, dan rerumputan berdandan dan berkaca di pinggir-pinggirnya.
Air terjun di balik belasuk perbatasan, melagu lebih merdu dari biasanya, mengiringi angin mengusapi tidur hutan. Lembut gemericik air menabraki bebatuan, memanggili ikan-ikan berkecipak gembira di permukaan.
Rama keluar tenda. Di dekat api dan sesapan kopi panas di tangannya, ia pecahkan kebekuan pikirannya.
“Pesta purnama belantara sedang berlangsung di Segara Anak,” kata Rara. Ia terbangun dan menyusul Rama keluar tenda.
Rama tersenyum mengapresiasi kata-kata Rara. Rara mendekat. Disambutnya secangkir kopi yang ditawarkan Rama.
“Maaf,” kata Rara.
Rama membeku kembali seketika. Rara bicara seperti Bunga berbicara
dalam mimpinya. ‘Maaf?’ batin Rama.
Dalam gerak yang sangat hati-hati, Rama tolehkan kepalanya menghadap Rara. ‘Ah, perempuan di sampingku kali ini Rara, dan ini nyata,’ batinnya.
“Rama,” kata Rara sambil melambai-lambaikan tangannya di
depan wajah melamun Rama.
Rama mengembalikan kesadarannya.
“Maaf, aku pindah ke tendamu,” kata Rara lagi.
“Oh, tidak apa-apa,”
“Semalam aku sangat kedinginan di dalam tenda.”
“Wajar, bulan sedang penuh.”
“Aku berpikir jika aku saja yang di dalam tenda kedi-mnginan, bagaimana Pak Bondan yang tidur dengan bivak seperti
itu. Tanpa sleeping bag pula,” jelas Rara sambil menunjuk tenda tradisional yang kerap dibuat porter Rinjani seperti Pak Bondan.
“Oh, jadi sekarang Pak Bondan di tendamu?”
“Iya, aku keluar dan meminta Pak Bondan pindah ke tendaku. Kemudian aku pindah ke tendamu,” jelas Rara lagi.
“Sebenarnya tidak perlu. Pak Bondan sudah terbentuk kekuatannya untuk tanpa fasilitas seperti kita. Tapi tidak apa-apa, Rara. Santai aja.”
“Iya terima kasih. Aku tidak tega. Aku ingat Bapaku. Dan, aku merasa perlu untuk mengklarifikasi ini. Takutnya…” Rara menahan dan memanjangkan ujung kalimatnya. “Ada yang marah,”
lanjutnya.
“Haha. Aku sendirian, Ra. Tidak ada yang peduli aku ada atau tiada. Apalagi hanya sekedar setenda dengan siapa-siapa,” Rama
menjelaskan agar membuat Rara nyaman.
“Lantas Bunga?” tanya Rara cepat.
“Hah?” lagi, Rama terkejut.
“Bunga. Kau memanggili nama itu berulang kali dalam tidurmu,“ Rara memperjelas.
Yogyakarta.
Bunga menghabiskan malam di kedai kesenangan Rama. Waktu sudah sangat larut untuk seorang yang teratur seperti Bunga, hanya ia mulai terbiasa dengan pola hidupnya yang baru ini. Terlebih, sejak ia memutuskan untuk memaksa diri menjadi pribadi yang gemar membaca.
‘Kejahatan dan kesia-siaan ada, sebab manusia tidak sibuk dengan kopi, buku, dan cinta.’
Bunga membaca kutipan di atas lemari buku-buku yang disediakan kedai. Bunga tertawa sendiri. Tawanya tawa setuju. Dari
Mas Dewo pemilik kedai sekaligus kawan dekat Rama, Bunga tahu bahwa itu adalah kata-kata Rama. Mas Dewo bercerita bahwa desain, referensi buku-buku dan lelagu yang diputar di kedai ini pun katanya adalah konsep Rama.
Djeladjah memang tempat yang nyaman dan otentik. Dari sini pula Bunga mengenal kopi selangkah lebih dalam, tepatnya dari edukasi yang diberikan Mas Dewo pada beberapa pengunjungnya, termasuk Bunga. Kepekaannya terhadap kopi meningkat. Ia telah mengerti kenapa Rama dulu menolak kopi yang diberikannya dan malah memberikannya kepada Lurah. ‘Bicara kopi memang bicara selera, namun kalau mau menikmati kandungannya dengan lebih
detail, kita akan menyadari bahwa kopi yang terlalu manis atau terlalu banyak gula dapat membuat sisi otentik dari kopi menjadi
hilang,’ Jelas Mas Dewo pernah pada suatu ketika. Selain belajar kopi, sudah tentu Bunga belajar tentang Rama. Bunga merasa bahwa Djeladjah adalah Rama dalam bentuk yang lain. Kopi, buku, cinta. Tiga Kata untuk Djeladjah dan Rama. Bunga merangkumnya dari Mas Dewo. Makin banyak hal diceritakan Mas Dewo seiring Bunga yang belakangan makin sering datang ke kedai itu.
Setelah sesesap Gayo Arabika membelai langit-langit mulutnya, sambil menunggu Kencing yang katanya mau datang menemani, Bunga duduk di bangku dekat kasir. Di bawah lelampu temaram
yang pas untuk membaca, ia buka lagi catatan dari blog Rama.
Bunga membaca catatan Rama dengan sangat khusyuk. Itu seakan mampu menghadirkan Rama di sana, Rama sedang duduk di satu bangku, dikelilingi teman-temannya, berargumentasi dan sesekali menghentikan kata-katanya, tersenyum, menatap Bunga yang duduk
sendirian di djeladjah. Hingga akhirnya datang Kencing. Dengan mengendap-endap dari belakang Bunga yang duduk membelakangi pintu, Kencing lingkarkan kedua tangannya menutup mata Bunga.
Kencing mengunci rapat-rapat mulutnya untuk menjaga kesenyapan, matanya menangkapi rambut halus Bunga, secangkir kopi di meja, dan…
“Bunga!” Kencing melepaskan tangannya, ada sesuatu yang lebih membuat ia terkejut.
Kencing beranjak duduk di kursi kosong depan Bunga, ia tundukan kepalanya dekat-dekat ke sebundel catatan kertas yang tak lain adalah catatan Rama yang diprint oleh Bunga.
“Ini skripsi atau apalah namanya punya Rama ini, kamu baca semua?”
Bunga tersenyum mengangguk-angguk menanggapi Kencing. Kencing memangku kepalanya dengan tangan di atas meja, ditatapnya Bunga dengan decak dan senyum yang sarat duga.
”Ishh, Kencing. Sudahlah, kayak apa aja,” kata Bunga sambil mencoba merapikan beberapa catatan Rama yang tercecer di mejanya. “Pesan sana, Cing. Close order sebentar lagi,” katanya lagi.
Seusai memesan dan sedikit berbincang-bincang dengan Mas
Dewo di kasir, Kencing kembali ke meja Bunga. Mulanya, keduanya masih kaku, saling menukar rasa maaf atas sikap saling diam yang sempat terjadi di antara mereka. Seiring malam berjalan, keduanya mengalir dan berbincang-bincang dengan hangat. Mereka
saling bertukar cerita-cerita untuk saling membahagiakan. Keduanya saling mendapatkan. Pengunjung kedai tinggal beberapa orang. Di jeda pembicaraan
mereka, lagu Iwan Fals - Bongkar, mengalun mengisi keheningan.
“Asem, aku kangen Rama,” kata Kencing pada Bunga seketika ia ingat Rama saat mendengar lelagu Djeladjah.Bunga mengangguk setuju, sebab Bunga pun tahu lagu-lagu kesukaan Rama. MP3 Portable Rama masih ada padanya. Bunga mendengarkan semua isi di dalamnya, beberapa sama dengan lagu-lagu yang
diputar di Djeladjah. Lagu-lagu Iwan Fals, Ebiet, Slank, Arwana, Boomerang, dan beberapa lagu dari musisi-musisi mandiri nan penuh sikap yang menolak tunduk pada pasar-pasar yang mendikte musikalitas dan karya mereka ada di Mp3 Rama.
Sebenarnya tidak hanya itu saja lagu-lagu yang didengarkan Rama. Baik indie pun major, baik lokal maupun luar, dalam memaknai sebuah lagu, Rama masuk ke dalam, menyelami musikalitas, lirik, dan
segenap proses di balik lagu itu tercipta, dan ia suka.
__ADS_1
Bunga ingat kata-kata Rama di blognya,
Berproses adalah belajar dan belajar adalah berproses.
Masih dengan iringan lelagu Djeladjah yang sarat Rama, Bunga berdiri dan berjalan memperhatikan frame-frame foto perjalanan yang terpajang di sekeliling ruang Djeladjah.
“Rinjani,” kata Kencing saat melihat Bunga menyentuh kaca frame berisikan foto Segara Anak itu dengan kekhusyukan tersendiri. “Itu waktu dulu Rama naik sama Pejoh.”
Bunga tolehkan wajahnya ke Kencing. Ada yang masih Kencing ingin katakan, pikirnya.
“Rama,” kata Kencing lagi. “Semua frame di ruangan ini adalah Rama, meski tidak ada satupun gambar yang memperlihatkan wajahnya,” lanjutnya.
Bunga dan Kencing kembali duduk. Bunga tundukkan kepalanya. Kencing buka genggaman tangan Bunga yang merapat. Ia genggam jemari kawannya itu. Dari sikap Bunga, Kencing membaca ada sesuatu yang Bunga sesali. Kencing mungkin sudah tahu beberapa hal, hanya kali ini ia merasa wajib membuat nyaman Bunga agar kawannya itu mau mencurahkan semua permasalahannya.
Kencing berhasil, Bunga bercerita.
“Baiklah, akan ku ceritakan yang sebenarnya terjadi. Aku tidak peduli jika selepas ini kau akan menghinaku atau apa,” kata Bunga kepada Kencing.
“Sudah, cerita saja. Lepaskan semuanya. Aku tahu apa yang harus kulakukan padamu nanti,” Kencing menanggapi. Bunga melepas kedua tangan yang menyangga kepalanya, ia hembuskan nafas panjang dan membenahi letak duduknya. Ia telah siap kini.
“Pagi itu aku berjalan dari parkiran basement menuju kelas bu Ani bersama Rama. Sebelum kelas dimulai. Rais menarikku ke luar kelas, ia ingin bicara. Aku turuti.”
Bunga tatap mimik wajah Kencing, menduga-duga emosi apa yang keluar dari wajahnya. Kencing tersenyum, mengisyaratkan sesuatu. Bunga menangkapnya dengan anggukan kecil.
“Rais menyudutkan aku, ia hujani aku dengan begitu banyak pernyataan masalah sejak aku menghilang. Rais tidak tahu perihal aku sakit dan dirawat.Aku tahu Rais menyukaiku. Dan sebab seisi kampus telah melihat aku datang dan berjalan bersama Rama, Rais marah. Rais mencoba menyadarkan aku dengan terus menerus menjelek-jelekkan nama Rama. Dikatakan oleh Rais bahwa Rama itu urakan, pemberontak, tukang buat onar, dan lain sebagainya. Aku tak mau mendengarkannya sebab kukira semua yang keluar dari mulutnya semata hanyalah pandangan subjektif dan sangat tendensius dari
seorang laki-laki yang sedang cemburu.
Sejujurnya aku rindu kepada Rais dan kawan-kawan lain. Aku sangat butuh dukungannya untuk bertahan di situasi yang gila itu. Hanya, seharusnya Rais tidak perlu menghitamkan nama Rama di depanku seperti itu, sebab antara aku dan Rama memang tidak memiliki hubungan apa-apa.
Melihatku tidak begitu mendengarkannya, Rais memanggil Meli. Ketika Meli datang, ia diminta Rais untuk bercerita sesuatu. “To the point saja, Mel. Kita tak punya banyak waktu,” kata Rais pagi itu.
“Rama. Pemabuk berat,” itulah kata pertama yang diucapkan Meli. Mataku terbelalak. Katanya, seisi kampus tahu bahwa Rama itu
kerap mabuk-mabukan di depan Sanggar. Rais dan Meli tahu betul kebencianku terhadap para pemabuk. Panjang ceritanya, pokoknya aku punya pengalaman traumatis dengan pemabuk. Diungkapkan Meli lagi bahwa Mas Wisnu, mantan ketua
HMJ sebelum aku, pernah dipukuli Rama yang mabuk, itu Rama lakukan di lapangan auditorium saat kompetisi liga futsal antar UKM & HMJ.
Pagi itu Bu Ani keburu datang. Akhir kata, Rais dan Meli mengatakan bahwa mereka ingin menyelamatkan aku dari semua
permasalahanku. Setelah itu aku pun kembali ke kelas. Di kelas, perkataan-perkataan Rais dan Meli berhasil membuatku sedikit takut dengan Rama. Telah kutempeli stigma di tubuh laki-laki yang duduk disebelahku itu.
Hingga akhirnya, terjadilah momen itu. Bu Ani marah sebab aku dan Rama yang telah dicoret dari absensi ternyata berani
menulis ulang namanya lagi dengan pulpen.
Saat aku dan Rama hendak diusir dari kelas, Rais berdiri di kelas membelaku. Rais katakan bahwa semua adalah perbuatan Rama. Rais terus menyudutkan Rama dengan tuduhan-tuduhannya. Ia bicara bak pahlawan tanpa rasa takut, terlebih setelah hampir seisi kelas mendukung pernyataannya.
Bu Ani bertanya padaku, ‘Apakah benar semua yang dikatakan Rais?’ Aku terdiam. Aku benar-benar bimbang. Jujur,
sebelum Rais mengajakku ke luar pagi itu, aku sudah mulai nyaman berdekatan dengan ‘penculikku’ itu. Semacam Stockholm syndrome. Hingga akhirnya Meli mendekatiku dan memelukku. Dibisikkan aku olehnya, ‘Ibumu menelpon aku, Bunga. Ia khawatir
dan menanyakan kabarmu padaku. Aku jawab padanya bahwa kau baik-baik saja, aku bilang bahwa kau hanya sedang sibuk belajar dan fokus membanggakan Ibu.’ Sempurna betul keadaan itu.
Pertama mereka hancurkan respekku pada Rama, kedua mereka bawa Ibuku ke telingaku. Tak lama. Bu Ani ulangi pertanyaannya lagi tentang apakah
benar semua yang dikatakan Rais. Aku buka mulutku dan berkata,
‘Iya, benar!. Ini semua perbuatan Rama’. Dan disitulah awal semua kehancuran yang terjadi. Baik kehancuran Rama, pun kehancuranku,”
Bunga menutup ceritanya dengan mata memerah menyala.Mendengar cerita Bunga. Kencing membisu beberapa saat. Ia hempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.
“Setidaknya jika memang aku kau tinggalkan, Cing. Setidaknya tidak ada dusta dan tanya yang kusimpan,” air mata Bunga menetes di pipinya. “Dan sekarang aku terima apapun yang ingin kau lakukan padaku,” kata Bunga lagi.
Kencing bangkitkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Bunga.
Bunga menunduk dan memejamkan mata. Ia kuatkan dirinya baik-baik. Ia sudah tahu ini akan terjadi; Kencing akan membencinya.
Di tempat Bunga, keheningan kembali diisi oleh lelagu Djeladjah.
Kala itu “Slank - Lorong Hitam” tiba-tiba terhenti, berganti menjadi “Iwan Fals - Untukmu terkasih”. Meski konteksnya berbeda, namun lirik lagunya juga masuk jika dimaknai untuk mengiringi
tangisan Bunga. Seseorang seperti sengaja memainkannya.
Kasih
Ini nyanyian cinta untukmu
Yang entah ada di mana kini
Biar engkau mengerti apa yang terjadi
Dalam hidupku
Kabut sunyi mulai merayap di hati
Bayangmu semakin sulit kucari
Aku tak tahu harus berbuat apa
Angin dan burung-burung pun membisu
Ketika kutanya tentangmu
Tentang getaran hatimu
Tentang apa saja
Yang bertalian dengan jiwamu
Seseorang mendekati Bunga.
“Gayo arabika, Mbak Bunga,” kata seorang buruh seduh Djeladjah sambil meletakkan secangkir kopi di meja Bunga.
Tangis Bunga mereda, ia bingung dan bertanya-tanya Sendiri. ‘Siapa yang pesan kopi?’ batinnya. Kencing datang dari pintu arah toilet dan berjalan kembali ke meja Bunga.
“Masalah selalu ada, akan aku selesaikan satu, dua, tiga masalah dan lain sebagainya. Hanya pertama, kopi dulu. Rama sering
bilang begitu kalo aku lagi dapet masalah hehe,” kata Kencing sambil tersenyum. Dipegangnya dengan lembut tangan Bunga.
Sekali lagi Kencing buktikan apa itu ‘tidak palsu’. Ia tidak ke manamana, ia tetap di sana bersama Bunga. Menghibur, mengawani,
melakukan hal-hal yang dulu Rama lakukan pada kawan-kawannya yang bersedih.
“Terima kasih, Kencing,” kata Bunga, masih tersisa beberapa sengguk tangisnya, ”lagu barusan juga pasti kam...”
“Aduh, Rama. Apa yang sudah kau lakukan pada mahasiswa terbaik di kampus kita ini,” Kencing gemas. Ia hadapkan kepalanya
ke langit-langit Djeladjah. Bunga yang menyesap kopi, tersedak mendengarnya.
“Rama,” kata Bunga pelan.
“Tapi…” Kencing ayunkan kepalanya ke hadapan Bunga.
“Setelah semuanya. Kenapa kau bersedih? Kenapa kau menangis?
Lihat, nama baikmu pulih, posisimu di HMJ aman, semuanya sudah kembali seperti semula,” Kencing penasaran.
“Aku pikir masalahnya tidak akan serumit ini. Pikirku Rama hanya diusir dari kelas Bu Ani. Aku merasa bersalah,” kata Bunga.
“Baiklah, ceritakan lagi. Aku disini,” Kencing mengubah letak duduknya. Meyakinkan Bunga bahwa Kencing tidak bosan mendengarkan cerita Bunga.
__ADS_1
“Aku merasa bersalah. Beberapa hari setelah kejadian itu, aku mencari Rama. Selain ingin mengembalikan mp3 Portablenya, aku
ingin minta maaf kepadanya. Hanya, ya sampai dengan hari ini Aku tetap tidak tahu di mana dia. Tidak ada yang tahu”
“Bener kan lagu tadi,” Kencing memotong. “Kabuuut sunyi mulai merayap di hatiii, baaayangmu semakin sulit kucariii, Aku
tak tahu harus berbuat apa,”
Bunga tersenyum mendengar Kencing melagu.
“Hehe, lanjut, lanjutin ceritanya,” pinta Kencing.
“Jadi, semakin aku mencari Rama, semakin aku bertemu dengan banyak orang-orang yang memberikanku perspektif baru
tentang Rama. Dari mereka aku mendapatkan gambaran sosok Rama yang lain, sosok yang berbeda dengan apa yang kudapat dari kawan-kawan HMJ dan mayoritas dosen-dosen kampus. Dari perspektif yang baru itu, aku bertanya-tanya sendiri,
apakah yang dituduhkan Rais, Meli, dan kampus kepada Rama adalah benar adanya? Entah mengapa, hati kecilku menolak percaya…“
“Baik,” Kencing kembali memotong cerita Bunga. “Rasanya ini waktu yang tepat untuk aku bicara. Terkait Rama,” kata Kencing lagi.
Di kepalanya terdapat banyak klarifikasi yang akan ia ceritakan pada Bunga.
“Iya, Cing. Aku mendengarkan,” balas Bunga.
“Satu. Rama urakan. Standar dan korelasi urakan atau tidak urakan, baik atau buruk itu seperti apa sih? Salah jika tolak ukurnya hanya dilihat dari gaya atau caranya berpakaian. Aku tidak tahu apakah Rama menulis ini di blognya atau tidak, tapi yang aku tahu, Rama itu sangat membenci kemunafikan. Sebagaimana juga
aku. Aku lebih memilih tampil urakan, atau setidaknya ya tampil apa adanya lah. Tapi satu, hatiku rapi, hatiku klimis, tidak kering.
Itu sikap kami. Kami lebih memilih mengutamakan jiwa. Ya iya, bagusnya
sih jiwanya bagus, badannya bagus. Tapi lantas bukan berarti standar baik buruk seorang hanya dilihat dari badan, kan? Aku setuju sama kata-kata Rama yang ini, bahwa badan atau bentuk pasti musnah, gedung bisa runtuh, ijazah bisa dibakar, kecantikan bisa menua. Sekali lagi, bentuk pasti musnah.
Maaf ya, Bunga, kalau aku terlalu semangat. Masalahnya aku juga banyak dijudge sebagai anak tidak baik hanya karena pakaianku urakan e, jadi argumenku mungkin sangat tendensius dan menggebu-gebu. Hehe,” Kencing mengatur suasana.
“Ga masalah. Teruskan lagi,” Bunga antusias.
“Oke yang kedua,” Kencing melanjutkan. “Rama pemberontak. Kata pemberontak itu terdengar lumayan agak gimana gitu ya.
Hanya, kita perlu pelajari juga, perlu cari tahu, seseorang dilabeli pemberontak itu karena apa? Apa yang ia berontak? Rama, menurutku fine-fine aja. Cari tahu deh apa yang ia berontak, pasti pada akhirnya kamu malah ikut setuju padanya, mengawaninya, atau malah berpegangan tangan dan turut dalam satu barisan berontak bersamanya.
Di kampus neolib kita itu, satu-satunya orang yang ikut demo ke jalan itu cuma Rama. Dia bergabung dengan temen-temen UIN, UGM,
dll. Apa yang ia demo? Apa yang ia berontak? Subsidi dicabut SBY, rakyat susah, dia berontak. Lapindo dibor sembarangan sama Bakrie, dia berontak. Kasus Century ga jelas arahnya, dia berontak.
Munir, Marsinah, Wiji Thukul gak pernah jelas kasusnya, dia berontak. Nah kalau bukan kita yang terpelajar ini, lalu siapa yang
berani berontak? Semua yang Rama lakukan adalah bentuk sikapnya sebagai seorang terpelajar. Selama ini kita di kampus kan dibentuk pandangannya agar hanya mikir kuliah, belajar yang bener, nyenengin orang tua, dan lain sebagainya. Dengan kuliah yang bener katanya kita membantu pembangunan negara, Normatif, Bullshit, Lanjut. Di konteks kampus. Dulu kampus kita dapat hibah
sepuluh milyar dari pemerintah. Sama kampus gak jelas duitnya dipake apa, ya Si Rama berontak, dia lawan. Taman belakang dan ruang-ruang terbuka di kampus digusur diganti gedung-gedung ga jelas, Rama berontak.
Terakhir di kasus Si Anying. Rama salah apa? Rama berontak karena haknya diusik. Kalau Rama salah dia pasti diem, tapi kalau dia bener masa iya tetep diem. Si Anying bawa sentimen pribadi ke dalam kelas, mana bisa itu didiemin. Seseorang harus memberontak. Harus melawan.
Terus selanjutnya. Rama pemabuk berat dan tukang buat onar,” Kencing menggaruk-garuk kepalanya. “Yang ini aku bingung
jelasinnya nih,” kata Kencing lagi.
“Aku sudah dijelasin Mas Dewo kok,” kata Bunga.
“Iya, Mas Dewo kan pembina teaternya Rama di kampus. Dia tahu Rama banget,” Kencing tersenyum lega. “Gimana katanya?”
“Rama pemabuk berat, sulit membantah itu, kata Mas Dewo.
Dulu Rama memang hobi minum. Rama kan aktif perform sana-sini, hobi nggambar dan nulis juga. Katanya dulu kalau Rama ga minum tuh mentalnya gak keluar, inspirasinya gak ada. Dan karena Rama hampir setiap hari
berkesenian, maka hampir setiap hari juga dia minum,” jelas Bunga
“Lucunya nih. Rama minum ya minum, tapi denger adzan dia naik ke mushala lantai tiga. Shalat. Sumpah. Aku gak bohong. Haha,
gila emang dia,” kata Kencing.
“Aduh, Rama. Memang ya. Ck,” Bunga gemas sendiri. “Dan kata Mas Dewo, puncak kegilaan Rama minum adalah ketika kamarnya kemalingan.”
“Oh iya, semua anak UKM bawah tahu banget kayak apa gilanya Rama di jaman itu,” sahut Kencing.
“Kata Mas Dewo, komputernya Rama yang paling berharga ilang. Bukan harga fisik komputernya, tapi data-data di harddisknya. Di sana tersimpan data novel yang sudah hampir ia terbitkan, selain itu di sana juga ada foto-foto, dan catatan-catatannya
dari pertama kali ia gemar menulis,” jelas Bunga.
“Aku ga tahu sedetail itu sih, cuman kata temen kosnya. Pas tahu kamarnya kemalingan, Rama tuh cuma diem, abis itu jalan keluar minta dianterin temennya. Temennya pikir dia mau ke kantor polisi, eh ternyata. Dia beli anggur. Haha. cen asu’og si Rama pas jaman itu,”
kata Kencing sambil tertawa mengenang Rama.
“Hingga akhirnya Rama berhenti minum. Kamu tahu, Cing?” tanya Bunga.
“Sebab harga anggur melonjak tinggi. Awalnya tahun 2008 tuh Cuma 7000an, naik 11.000, naik jadi 13.000, naik lagi 19.000,
terus dyarrr naik ke 38.000,”
“Kenciiiing!” Bunga tertawa lepas. “Serius karena itu?”
“Kebanyakan anak-anak berhenti minum karena itu.
Hehe,” jawab Kencing santai. “Selain takut sama aku, Pejoh berhenti minum juga karena itu,” lanjut Kencing.
“Kata Mas Dewo, Rama berhenti minum sejak ia merasa Tuhan sayang sama dia,” kata Bunga.
“Ya gimana Tuhan gak sayang. Mabok aja si Rama tetep shalat.
Tetep inget Tuhan. Kurang gila apa itu anak,” Kencing meledek.
“Haha, bukan itu, Cing.”
“Terus?”
“Aku diceritain. Bermula dari ketika Rama sedang sedih, dan akhirnya ia memutuskan berperjalanan ke Ijen. Sendirian. Di lereng dia ketemu dan ngobrol sama petani kopi di sana. Dia ditawarin kopi apa ya namanya…”
“Ijen?” sahut Kencing. “Java Blawan.”
“Nah iya, Java Blawan,” Bunga melanjutkan ceritanya. Varian yang arabika, kata Bapak yang ngasih, kopi ini bisa ngilangin
rasa sedih kalau yang minum mau. mendalaminya dan diminum tanpa gula. Rama coba, tapi dia cuma dapet pahitnya. Rama penasaran, dia merasa bapak petani ini gak mungkin bohong, bahkan katanya
di setiap sesap kopi arabika itu katanya ada rasa buahnya, ada rasa tanahnya, kayunya, dan lain sebagainya.
Rama yang emang katanya orangnya serba pengen tahu, dia bawa pulang tuh kopi arabikanya. Setiap hari dia biasakan diri dengan rasa pahitnya, terus, terus, dan terus dia asah kepekaan lidahnya untuk mendalami seluk beluk rasa kopi. Hingga akhirnya
lama kelamaan Rama sampai di titik itu. Titik di mana ia merasa semua efek yang dulu diberikan alkohol, kini ia dapatkan berkali-kali lipat dalam secangkir kopi. Candunya Rama beralih. Sejak itu, kopi harus selalu ada ketika Rama menulis, menggambar, berkesenian dan lain sebagainya. Kalau gak ada, buntu katanya. Persis seperti apa yang dulu alkohol lakukan pada dirinya.
Itulah kenapa Rama bilang; selain dapat bermain musik dan gemar membaca buku, mendapatkan kepekaan untuk dapat mendalami nikmatnya kopi adalah anugerah Tuhan. Adalah bentuk cinta Tuhan agar orang sisa-sisa yang seperti Rama itu, betah di kehidupan yang semakin memuakkan ini,“ Bunga mengakhiri ceritanya tentang Rama dan kopi.
“Kamu tahu Rama banget sih?” Kencing heran.
“Nggak,” Bunga merentangkan tangan dan membuka jari-jarinya. “Aku diceritain Mas Dewo,” Bunga mencoba mengelak.
“Terus kamu tahu cerita tentang El mukul Wisnu?” tanya Kencing.
“Dikit. Gimana emang?”
“Wisnunya emang tengil sih. Ketika Rama memukulnya, sebenarnya dia telah mewakili banyak orang,” jelas Kencing singkat.
Bunga mengangguk dan tak memperpanjang. Keduanya terus bercengkerama. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Keduanya beranjak pulang. Sebab masih banyak yang ingin mereka bagi tukar bersama-sama. Kencing memutuskan untuk menginap di rumah Bunga.
__ADS_1