
Bunga membaca catatan Rama;
Kalau negara gak bisa ngasih buku anak-anak pelosok, ayo kita yang kasih.
Kalau negara ga bisa merawat alam dan lingkungan, ayo kita yang rawat.
Kalau negara ga bisa memelihara pedagang kecil, ayo kita yang pelihara.
Kalau negara ga bisa ngelindungi hak minoritas, ayo kita yang lindungi.
Ayo rame-rame lakukan yang tidak dilakukan negara. Ayo rame-rame gantikan peran negara.
Jangan berharap pada negara.
Sejak menghilangnya Rama, Bunga menjadi pribadi yang gemar membaca. Bacaan utamanya adalah catatan-catatan dari blog Rama yang sudah ia salin dan cetak sendiri agar bisa ia baca di mana-mana. Bunga merasa sangat bersalah. Telah ia cari Rama di mana-mana. Bunga temui kawan-kawan Rama, ia datangi rumah kontrakkan Rama, warung kopi kesukaan Rama, outlet tempat Rama menitipkan kaos, hingga ke sekolah
informal binaan Rama. Semua tidak tahu kemana perginya Rama. Mereka hanya meyakini bahwa Rama sedang berada di suatu tempat yang bukan kota, hanya tidak ada yang tahu dimana Rama berada.
Sesuatu yang menyinggung relung hati Rama sedang terjadi, dan Bunga mempunyai andil besar dalam permasalahan itu, Bunga menyadari itu. Karena itulah ia mencari Rama. Secara natural, seiring usahanya
mencari, Bunga telah selangkah lebih dalam mengenal Rama. Dari orang-orang yang mengenal Rama, Bunga mendapatkan begitu banyak perspektif baru. Bunga tahu, ia telah salah menilai laki-laki itu. Pagi menjelang siang itu, Bunga duduk di kursi panjang yang dulu biasa Rama tempati. Kencing dan Pejoh lewat dari belakang, mereka menuju perpustakaan. Sepasang itu sebenarnya sudah menyadari keberadaan Bunga di sana, namun Pejoh meminta Kencing untuk
mengabaikan Bunga. Pejoh yang tidak lain adalah kawan Rama, merasa kesal dan sudah kehilangan respek pada apa yang telah Bunga lakukan kepada Rama. Bunga merasa seperti de javu. Beberapa hari sebelumnya, ia merasakan yang terjadi hari ini, di mana Kencing dan Pejoh mendiamkannya seperti ini, di tempat yang sama, posisi yang sama. Kencing dan Pejoh selalu lewat begitu saja seakan tidak ada Bunga di sana.
Bunga pun juga sama pengecutnya, tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya sebagai upaya untuk membuat Kencing dan Pejoh
berhenti dan menghampirinya.
“Rama,” kata Bunga sendirian saat Kencing dan Pejoh menghilang dari pandangannya dan masuk ke ruang perpus.
Bunga buka kembali catatan-catatan Rama di tangannya;
barang kali kau lelah, ini aku yang tidak mudah lelah
barang kali kau kesepian, ini aku, kesepian yang lainnya.
aku kehabisan tempat di kota sana.
Sertakan aku di silabusmu
tugaskan aku untuk mengibarkan, mengobarkan, menyebarkan,
menebarkan, mendebarkan, mengaburkan
__ADS_1
mungkin tugasku mengitari pelawangan,
memuncak menyiuli para pejalan
meninggi membenahi taburan bintang
atau menukik membelai Segara Anak dari dalam Angin Rinjani,katakanlah
“kemari kau manusia sisa-sisa”
aku akan tepat di antaramu,
kan kuhembuskan apa yang kupunya
Apa?
“Rama, ini aku, Bunga Indurasmi, sebuah kesepian yang lainnya,” kata Bunga lirih pada apa yang ia baca.
Bunga buka lagi lembaran catatan Rama berikutnya;
Individu itu
khas, unik, satu.
matahari bukanlah apa-apa
jika jumlahnya ada seribu
Kau,
jadilah dirimu sendiri.
yang satu.
Membaca catatan Rama tersebut, Bunga buka kembali halaman pertama catatan Rama, ia ingat satu kutipan pembuka di blog Rama;
Manusia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba waktu di mana
ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri.
Bunga buka lagi catatan Rama yang lain;
Ada yang mencoba menasihatiku dalam dingin peluk ini,
__ADS_1
“Pulanglah sesekali kepada Bunda, Nak. Namun jangan singkirkan takdir bahwa tempat segala kenyataanmu ada pada kota.
Jangan lari,” katanya. Dan udara semakin dingin.
“Katamu, Rama. Tempat segala kenyataanmu ada pada kota,”
kata Bunga sendirian lagi. “Maka pulanglah,” katanya lagi.
Bunga meletakkan kepalanya di atas meja, tepatnya diatas sebundel catatan tentang Rama yang selalu ia baca, matanya berkaca-kaca di dalamnya. Suara langkah orang-orang yang datang dan pergi
berulang ia dengar, Bunga seperti tak peduli.
Pejoh masih di dalam perpustakaan. Ia tidur. Kencing meninggalkannya dan keluar sendirian. Sesampainya Kencing di depan
pintu perpustakaan, ia terdiam. Dilihatnya, Bunga masih terduduk di tempat yang sama saat ia dan Pejoh berlalu mengabaikannya
beberapa jam yang lalu.
Hatinya bergetar seketika. Sekeras-kerasnya ia dibentuk alam, Kencing tahu betul bagaimana rasanya menjadi perempuan.
Di balik besarnya nama seorang Bunga sebagai ketua HMJ dan mahasiswa dengan IPK 3,9, Bunga adalah seorang yang kesepian. Kencing mengetahui itu sejak mereka saling mengenal dekat saat Bunga dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu. Bahkan belakangan, berkali Kencing dihubungi Bunga untuk minta ditemani dan mendengarkan curahan hatinya, namun Kencing mengabaikannya.Pengabaian Kencing kepada Bunga itu dilakukannya sebab ia merasa perlu menjaga respek pada Pejoh kekasihnya yang menolak percaya kepada apa kata Bunga, Rais, dan kampus. Pejoh mengenal Rama. Pejoh merasa Rama tidak seperti apa yang telah dipersangkakan
mereka di kasus kelas Bu Ani lalu.
Kencing kuatkan dirinya untuk berjalan melewati Bunga. Jantungnya berdegup kencang, ia tidak berani melirik Bunga sedikitpun. Ia berusaha keras menolak merasakan apa yang dirasakan Bunga.
Satu, dua, tiga langkah, Kencing berhasil lewat dan membelakangi Bunga. Merasa aman, Kencing hentikan langkahnya sejenak, ia elus dadanya guna meredakan degup jantungnya, ia hembuskan nafas
kelegaannya. Hanya, sebelum bergegas melanjutkan langkah, ia dengar suara langkah dan dedaunan kering yang terinjak, seorang
tengah berdiri dan menatapnya dari belakang.
“Rama bersama orang-orang yang melawan,” Bunga bersuara.
“Tidakkah engkau bersamaku, Cing?” katanya lagi.
Kencing membalikkan badan perlahan. Ia tetap belum mengeluarkan kata. Ia masih mencari apa.
“Aku akan mengundurkan diri dari ketua HMJ. Aku tidak peduli pada jabatan, beasiswa atau angka-angka. Jika menurutku sesuatu itu benar, maka aku akan berkata benar. Jika menurutku sesuatu itu salah, maka aku akan berkata salah,” kata Bunga lagi. Mata Kencing membelalak usai mendengarnya.
“Akan aku tebus kesalahanku. Aku akan melawan. Dan Setelah semua itu, Cing …,” Bunga menahan kalimatnya. Ia melangkah mendekati Kencing. “Tidakkah engkau bersamaku?” Bunga
mengulangi kata-katanya. Kencing membuka tubuhnya dan membiarkan Bunga menghamburkan pelukannya ke sana. Pecah juga kedua tangis perempuan itu di taman sana.
__ADS_1