
Rumah Bunga.
Kebosanan melanda Bunga. Sejak semalam, teman-teman HMJnya pergi berlibur ke kaliurang. sedang Bunga, hari minggunya ini ia lewati dengan hanya tidur seharian. Malam harinya, tanpa rasa kantuk, Bunga menjadi sangat merasa kosong. Pikirannya yang mengembara kemana-mana akhirnya membawanya untuk mengingat sesuatu yang di katakan Bu Inggrid beberapa hari lalu. 'pejalan anarki. Blog Rama,' batin Bunga.
Lewat google, tak butuh waktu lama untuk Bunga menemukan blog milik Rama. Ia mulai membaca salah satu catatan Rama di dalamnya :
*Aku berada di tempat dimana aku bisa menjadi seorang yang berjalan di atas kakinya sendiri. Aku berada di tempat dimana aku bisa menjadi seorang yang berkeputusan dengan kepalanya sendiri. Aku berada di tempat dimana aku bisa menjadi seorang yang mendapatkan kekuasaan atas tubuhnya sendiri.
Aku berada di tempat dimana aku bisa menjadi seorang yang tidak menemukan kekuatan harta, tahta, dan tentara*.
"Memang selama ini kamu berjalan di kaki siapa hah? selama ini kamu berkeputusan dengan kepala siapa?" kata Bunga sendirian didepan layar komputer di kamarnya.
__ADS_1
Bunga terus mengejek catatan-catatan Rama yang ia pilih secara acak. Meski beremosi, Bunga terus saja membaca catatan-catatan Rama lainnya. Awalnya ia hanya iseng, namun Bunga terlihat lebih dari sekedar itu
Bunga perlahan membenahi letak duduknya, ia lingkarkan jari di dagunya dengan telunjuk di ujung bibir, wajahnya yang putih semakin bercahaya sebab Bunga mencondongkan kepalanya semakin dekat ke layar monitor.
*Aku beritahu kepadamu, Dik. Akan tiba banyak situasi seperti sore ini, dimana tidak ada seorang pun yang datang untuk menawarkan pelukan atau ketiaknya ketika kau memanggil 'mama'.
Nasibmu ada di tanganmu. --
"Adiknya yang masih SD, diajak naik Merbabu?" Bunga menggelengkan kepala menanggapi catatan dalam sebuah foto yang di unggah Rama di blognya. "Orang gila," katanya lagi sambil kembali melanjutkan bacaannya.
*Mereka (anak-anak/adik-adik kita) adalah bayangan akan bagaimana nasib negeri ini kelak. Mereka harus belajar menyeimbangkan atau membiasakan diri untuk mampu bertahan hidup di luar fasilitas yang biasa mereka 'Tuhan' kan.
__ADS_1
Dari kesenian dan alam. Anak-anak akan 'digurui' oleh pengalaman-pengalaman, bahwa menikmati proses adalah hal utama di balik segala pencapaian*.
Bunga terdiam sejenak. Tak ada kritik dari bibirnya. Tak lama, ia arahkan lagi pointer komputernya untuk bergerak ke cacatan lain.
Seorang yang oleh Tuhan di beri anugrah berupa antusiasme berkegiatan alam dan/atau kepekaan untuk dapat mendalami nikmatnya kretek dan kopi , tidak ada alasan untuk ia tidak mencintai nusantara.
"Kenapa kamu menolak kopi pemberianku? Mau manis, asin, asem, sekali kopi tetap kopi kan?" katanya lagi.
Bunga membalikkan badan dengan memutar kursi belajarnya yang beroda. Ia letakkan kembali jari-jari tangannya di ujung bibirnya, mengetuk-ngetuknya beberapa kali. Kutipan dari catatan Rama yang terakhir membuatnya berfikir atau mengingat sesuatu. Tak lama, ia bangkitkan tubuhnya untuk berjalan menuju dapur dan membuat secangkir kopi.
Bersama secangkir kopi di samoing speaker yang sedari tadi memutar lelagu kesayangannya, Bunga terlarut hingga tengah malam. Lewat membaca, seorang peremouan nomor satu di kampus itu terbawa untuk menjelajahi seluk beluk seorang laki-laki yang belakangan merepotkan hidupnya; Rama.
__ADS_1