Sepasang Melawan

Sepasang Melawan
SORE DI RUMAH SAKIT, HARI KE ENAM BUNGA DI RAWAT


__ADS_3

“Bunga?” terdengar suara yang tidak asing memanggil dari depan pintu kamar inapnya yang baru saja terbuka.


“K-K-Kencing…!” Bunga terkejut dan merasa sangat senang.


“Halo, Bungq,” Pejoh menyapa usai menutup pintu.


“Pejoh...!” Bunga balas menyapa.


Diterimanya tubuh Kencing yang bergegas menghampirinya dengan pelukan. Bunga sangat senang bertemu Kencing dan pejoh.


“Tahu dari mana aku disini?” tanya Bunga.


“Kita habis donor, ga sengaja melihat namamu di daftar pasien di papan informasi depan sana,” Kencing menjelaskan.


“Bunha Indurasmi, tertulis di sana. Ya sudah kita iseng ngecek, ternyata benar kamu,” lanjutnya.


“Oh. Donor apa disini? Darah?”


“Donor hati,” sahut Pejoh.


“Hah? Serius?” Bunga keheranan.


“Wo iya, Hatiku turah-turah nih. Bunga mau? Aku kasih


satu,”

__ADS_1


Pejoh bercanda. Bunga tertawa akan kelucuan Pejoh.


“Woo, kamu satu tubuh utuh dari kaki, ************, ketek, sampai rambutmu kudonorin nanti lama-lama,” Kencing


meresponnya dengan cubitan sebagai peringatan. “Mau?”


“Duh. Nggak, Kencing sayangku. Ampun,” jawab Pejoh sambil menyilangkan tangan dan mempertemukannya di resleting


celana jeansnya yang sobek-sobek.


“Iya, Bunga, donor darah,” kata Kencing lagi kepada Bunga.


“Donor darah,” Bunga mengulangi.


Mereka berdua, seakan mengklarifikasi tanpa kata-kata—bahwa mereka bersih dari segala obat-obatan terlarang.


‘Persepsi orang-orang di jaman sekarang memang jauh lebih bisa membunuh seorang ketimbang peluru atau apa-apa,’ batin Bunga.


“Pantas gak keliatan di kelas penganggaran,” kata Kencing.


“Dicariin orang-orang kamu,” sahut Pejoh.


“Sakit apa, Bunga? Sudah berapa lama?” tanya Kencing.


“Iya nih. Typhus kambuh,” Bunga mencoba bangkit dan duduk. Kencing membantunya. “Kemarin Penganggaran ngerjain lembar kerja apa?” tanya Bunga lagi.

__ADS_1


“Buset dah Bunga ya, Sakit begini masih mikirin lembar kerja kuliah penganggaran,” Pejoh menggeleng-gelengkan kepala,


“santai, besok aku ajarin,” lanjutnya.


“Halah, Joh. Ck. Kamu aja nyontek aku,” kata Kencing pada Pejoh. “Jangan mikirin itu, Bunga. Besok kubantu ngejar ketinggalannya,” kata Kencing pada Bunga dengan senyum yang bersahabat.


“Rama juga jago penganggaran loh,” Pejoh menyahut. Kencing melotot dan menginjak kaki Pejoh seketika. Pejoh menangkap maksud Kencing agar ia lebih berhati-hati ketika bercanda tentang Rama dan Bunga.


Bunga terdiam menghening mendengar candaan Pejoh yang tak tahu apa-apa tentang ia dan Rama.


“Maaf, Bunga. Keceplosan,” kata Pejoh.


Bungq berlagak tersenyum untuk mencairkan keadaan.


“Makasih ya, kalian baik banget,” kata Bunga. “Aku ke mana aja selama ini kok baru kenal kalian,”


Mereka bertiga terlibat sebuah percakapan yang hangat. Saling memperhatikan dan berkata tentang apa-apa. Hingga malam,


Kencing menyuruh Pejoh pulang dan membiarkan Kencing tinggal


di rumah sakit untuk menemani Bunga.


Bersama Kencing, untuk pertama kalinya di rumah sakit itu, Bunga baru benar-benar merasakan bahwa dia sedang mendapatkan


pemulihan dan perawatan.

__ADS_1


__ADS_2