
Peristiwa yang terjadi di kelas Bu Ani berbuntut panjang. Rama dilaporkan ke ketua yayasan kampus, ia disidangkan bersama PUKET (pembantu umum ketua kampus) dan beberapa dosen saksi. Kasusnya diakumulasi dengan pelanggaran-pelanggaran Rama yang lampau. Rama mendapat skorsing penuh satu semester. Semua mata kuliahnya di semester berjalan itu digugurkan. Rama juga dilarang untuk mengikuti seluruh kegiatan unit mahasiswa. UKM Teater diminta untuk membuat musyawarah luar biasa guna mencari pengganti Rama. Rama benar-benar patah hati. Ia yang juga dilarang ke sanggar, nyaris menjalani hari tanpa aktivitas yang menurutnya produktif dan berguna. Di pikiran Rama, berada di kota senyaman Yogya tanpa aktivitas produktif adalah sama dengan bunuh diri. Sebab perkuliahan semester baru masih harus menunggu tiga bulan lamanya, dan juga produksi dagangan kaosnyapun sedang vakum, maka Rama memutuskan untuk menggunakan waktu skorsingnya guna meremajakan batinnya, merawat nurani dan hatinya yang dipenuhi kebencian akan realitas kota.
Rama pergi ke Rinjani.
Pelawangan Sembalun
“Mampir, Pak,” sapa Rama pada seorang porter yang melintas di dekat tempatnya beristirahat.
“Iya…,” jawab porter tersebut spontan.
“Pak Bondan?” sapa Rama lagi.
Porter itu memutar badannya yang memanggul dua buah bakul dengan kayu penyangga di antara pundaknya.
“Rama Jogja?” kata Pak Bondan lagi setelah melihat Rama.
Pak Bondan mendekat dan merendahkan badannya guna memastikan orang yang menyapanya.
“Wah benar. Rama Jogja,” kata Pak Bondan lagi sambil menurunkan bakul logistik di pundaknya.
“Pak Bondan ini, Ck,” kata Rama usai membantu meletakkan bakul yang dibawa Pak Bondan.
Rama membuka kedua tangannya lebar-lebar. Pak Bondan menyambutnya. Kedua sahabat lintas generasi itu berpelukan melampiaskan kelelahan dan kerinduan.
“Rama Jogja… Rama Jogja…,” kata Pak Bondan. Tangan kanannya menjabat erat Rama sedang tangan kirinya menepuk lengan anakmuda itu berkali- kali. “Apa kabar kamu?”
“Alhamdulillah. Baik, Pak,” jawab Rama sambil beranjak mencari posisi duduk yang nyaman untuk berbincang-bincang dengan
Pak Bondan, “bawa berapa tamu, Pak?” kata Rama sambil membuka head carriernya.
Rama mengeluarkan botol air dan beberapa potong roti.
“Silahkan, Pak, ” kata Rama lagi.
“Empat orang,” Pak Bondan bergerak menuju bakul logistiknya. “Ini…,” katanya lagi sambil mengeluarkan seplastik bekal kuenya. “Kesukaanmu kan.”
“Wah, kue nanas buatan Si Ibu,” kata Rama. “Saya ambil satu Pak. Kangen sama Si Ibu jadinya.”
__ADS_1
“Ambil. Bawa aja semua,” kata Pak Bondan, “itu kamu dicariin anak-anak. ‘Kangen Bang Rama Jogja, kangen Bang Rama jogja,’ gitu
terus katanya,” lanjut Pak Bondan dengan tawa keakrabannya.
“Saya juga kangen mereka, Pak. Besok deh Insya Allah mampir.”
“Rismanto ikut?” Pak Bondan menanyakan Pejoh.
“Saya sendirian, Pak.”
“Oalah sendiri. Ini kamu mau turun apa naik?”
“Naik,Pak. Saya naik dari Senaru. Semalem sudah camp di danau, ini baru aja sampe sini. Pengen aja ke sini.”
“Tumben naik dari sana? Biasanya naik dari Sembalun.
Apa jangan-jangan kamu masih kesal dengan jalur Sembalun yang tidak sebersih Senaru?”
“Ah bukan begitu, Pak. Saya lagi pengen saja lewat Senaru. Mengenai sampah, itu mungkin karena jalur Sembalun lebih
Dari kejauhan, riuh rendah pendaki tamu Pak Bondan mulai terdengar mendekat.
“Sudah, Pak. Kita jangan saling mencari siapa yang salah.
Gimana kalau kita salahkan mereka saja, Pak. Haha,” kata Rama sambil menunjuk sekelompok turis pendaki.
“Aduh, jangan. Mereka sumber penghasilan saya,” Pak Bondan membalas candaan Rama dengan tertawa.
“Hello,” salah seorang tamu Pak Bondan menyapa Rama. Empat orang. Dua pria, dua wanita, kesemuanya menggendong daypack dan menggenggam sebuah trekking pole di tangan kirinya.
“Hello,” Pak Bondan berdiri dan menyapa tamunya, “please introduce, the man who saved my life years ago. His name is Rama,”
Pak Bondan memperkenalkan Rama.
Satu persatu tamu Pak Bondan menyalami Rama. Setelah sedikit menceritakan Rama kepada para tamunya, Pak Bondan bergegas bangkit untuk melanjutkan perjalanan.
“Okay, we have to go,” kata Pak Bondan.
__ADS_1
“No, santai dulu. Take a rest for a minute,” seorang tamu yang lain meminta Pak Bondan untuk tetap beristirahat.
“No, we have to move. Sunset, sunset,” Pak Bondan memerintahkan tamunya untuk terus berjalan, “Our camp ground
is there, dekat,” katanya lagi sambil menunjuk letak mereka akan mendirikan tenda.
“Duh, sebenarnya Bapak ingin sekali ngobrol lebih lama dengan kamu,” Pak Bondan bangkit dari tempatnya bersandar.
“Santai saja, Pak. Saya sepertinya akan lama di sini.”
“Berapa lama?”
“Gak tahu Pak, saya sedang tidak terikat apa-apa di kota. Saya akan sangat lama disini, mungkin.”
“Sudah, nanti kita lanjut lagi. Bapak nge-camp di dekat belokan ke mata air sana, nanti kita lanjut lagi ngobrolnya kalau ketemu,” kata Pak Bondan lagi sambil mengangkat bakul logistik ke pundaknya dan bergegas berjalan melanjutkan tugasnya. Pak Bondan melangkah melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan, ia menoleh ke arah Rama dan memberi kode dengan tunjukkan jarinya
bahwa ia menunggu Rama di camp ground.
Tak lama. Rama pun turut bergegas menyiapkan diri menyambut sore
di Rinjani. Rama mendirikan tenda di lahan landai tak jauh dari tempatnya beristirahat tadi. Ia hadapkan tendanya menghadap matahari senja yang turun ke belakang bukit, di serong kiri bawah nampak Segara Anak mempertontonkan keindahannya dari kejauhan. Rama memilih tidak mendekat dengan tenda Pak Bondan sebab ia
tidak mau mengganggu pekerjaan Pak Bondan. Lagi pula, orang-orang yang luar biasa seperti Pak Bondan itu, yang beralaskan sandal jepit, berselimut kaos oblong dengan balutan sarung yang multifungsi bisa sebagai handuk, alas, selimut dan lain sebagainya biasanya sehabis mereka mendirikan tenda, membuatkan toilet temporer dan memasak makanan bagi para tamunya,
mereka langsung tidur guna mengistirahatkan badan setelah menempuh perjalanan dua hari, memanggul dua bakul dari basecamp ke pelawangan Sembalun dengan berat masing-masing sisi bakul sekurangnya sama dengan carrier 80L yang dipakai Rama.
Hubungan keluarga di antara Pak Bondan dan Rama bermula dari saat Rama menolong Pak Bondan di peristiwa 2008 lalu. Pak Bondan
terperosok ke dalam jurang di jalur Senaru. Selain jalur yang sulit dan licin, kala itu beban di bakul Pak Bondan melebihi batas
yang biasa ia bawa. Pada peristiwa itu, bakul logistik Pak Bondan
jatuh ke dasar jurang, sementara Pak Bondan masih bertahan tertahan akar dan bebatuan yang diraihnya. Rama bersama Pejoh, kala
itu kebetulan berada tak jauh dari tempat Pak Bondan jatuh. Mereka turun menyelamatkan Pak Bondan dengan tali temali yang
dibawanya. Rama membopong Pak Bondan sampai basecamp Senaru, sementara Pejoh berjalan turun terlebih dahulu menggantikan tugas Pak Bondan untuk memandu dua tamunya turun kala itu.
__ADS_1