
Selamat Membaca! Semoga terhibur🤗🤗
--------------------------------------------------------------------------
"Nih!" Ibu mertua melempariku dengan uang 25 ribu."Itu upahmu hari ini, kerjakan isi dalam rumah ini hingga tuntas."Katanya tidak berperasa'an.
Aku yang sedang menimang Bayiku di dapur tak habis pikir dengan perbuatan Ibu Mas Galih. anakku yang tadinya tidur nyenyak, kaget dan menangis keras kala uang yang di lempar oleh Ibu mertua mengenai wajahnya. Aku yang tidak mau terjadi sesuatu pada anakku langsung saja kuperiksa wajahnya.
"Ya ampun bu, apa yang ibu lakukan! lihat wajah Abi terluka karena ulah ibu."Lantas ku ambil uang itu dan membantingnya di atas meja makan tepat di hadapannya.
"Alah hanya tergores sedikit itu, ntar juga sembuh." katanya enteng. "kerjakan tugasmu! Jangan sampai tidak selesai ya!" ucap Ibu Mas Galih tegas lalu melenggang pergi meninggalkan aku dan Abi anakku.
Ku usap dadaku kasar!,"Sabar Runi sabar! kamu adalah wanita kuat Jangan karena hanya mendengar wanita tua bermulut lemes itu pikiranmu menjadi terbebani." ucapku menyemangati diri sendiri.
kuperhatikan wajah Bayiku yang baru berumur hampir 2 bulan ini, wajahnya yang tadi masih mulus putih kemerah-merahan kini sudah ternoda dengan goresan luka kecil di pipinya. kuberikan anakku ASI dan menepuk pelan pantatnya, pelan-pelan dia kembali menutup mata dengan mulutnya yang masih ******* didadaku! Kasihan juga lihat wajahnya yang sudah bertambah memerah karena kelamaan menangis. dasar Mak Lampir bisa-bisanya dia membuat tato di wajah mulus anakku dengan uang 25 ribu.
Aku sangat geram dengan perlakuan ibu mertuaku yang semena-mena itu. Apa dia tidak berpikir kalau dirinya hanya menumpang di sini, rumah ini di beli dengan dengan uang hasil jualan rumah orang tuaku?
Semenjak Mas Galih membawa ibu masuk di rumah ini, semuanya jadi berubah! Bahkan gaji mas Gallihpun,Ibu yang mengelonyanya.
"Galih gajimu nanti kasih ke ibu saja! kalau sama istrimu, takut belum sampai waktu gaji berikutnya, uangnya sudah habis! Berapa hari ibu tinggal di sini, ibu perhatikan istrimu sangat boros! Apalagi minggu depan adikmu sudah ikut tinggal di sini!kita harus berhemat,"
"Aku sempat protes, tapi mas Galih yang notabenenya anak penurut dan Takut dimarahi ibunya, dengan enteng dia berkata! "Nggak apa-apa Runi, gajiku biar ibu yang kelola! Nanti kan kita ada penambahan anggota baru lagi di rumah, takutnya yang dikatakan ibu itu benar."
Keputusan yang di ambil Mas Galih tidak bisa diganggu gugat! aku hanya pasrah mengikuti kemauannya.
__ADS_1
Awal pertama ibu mengambil alih gaji mas Galih, per hari Ibu memberku 50 ribu tanpa menyuruhku ini dan itu! semakin kesini kok semakin berkurang yang tadinya 50 ribu menjadi 40 ribu!, turun lagi jadi 30 ribu dan sekarang 25 ribu, itupun aku harus membayarnya dengan tenagaku.
Beruntung, aku masih punya tabungan yang lumayan banyak hasil kerja Aku sebelum menikah dengan mas Galih. sehingga aku bisa memakainya untuk membeli kebutuhan aku dan Abi! 25 ribu bisa pake beli apa? Bahkan untuk membeli susu Abi pun tidak putus.
Iya anakku ku berikan susu formula juga! Tidak kenyang jika hanya meminum ASI ku saja. Aku memiliki dada yang lumayan tapi entah kenapa ASInya yang keluar sedikit saja. Padahal semua saran dokter sudah aku ikuti, harus makan yang begini, harus minum yang begitu, dan bla bla bla... dan hasilnya adalah????? tidak ada perubahan.
Setelah kutidurkan Abi, aku segera mulai dengan rutinitasku! menyapu, mengepel, mencuci piring kotor. Sengaja tidak kubersihkan kamar ibu mertua dan kamar Rena adik iparku! Enak aja emang mereka pikir aku babu di sini? sudah menumpang di rumahku,berlagak seperti yang punya rumah saja! Kali ini aku tidak akan mengalah lagi! Cukup sudah aku sabar selama hampir 2 tahun ini.
sekitar pukul 5 sore mas Galih tiba di rumah! Aku tidak menyambutnya seperti yang sudah biasa aku lakukan selama ini. "Rupanya kalian Disini, Kukira nggak ada orang di rumah." Aku tidak merespon ucapannya. "Sudah mandi ya anak ayah! wangi amat," Dia menghampiriku dan anak kami di tempat tidur! kutepis tangannya ketika hendak menyentuh pipi Abi. "Cuci tangan sana mas!"
Mas Galih tergelak mendengar ucapanku! Bukannya aku tidak mau Mas Galih menyentuh anaknya! seharian kan Mas Galih di kantor, dan pastinya berinteraksi dengan banyak orang! Aku harus menjaga jaga, seperti orang bilang sedia payung sebelum hujan! Apalagi bayi yang baru lahir kan rentan kulitnya.
Beberapa saat kemudian, Mas Galih keluar dari kamar mandi! Ternyata dia sudah mandi. "Pakaian ganti ku mana Run?" tanya Mas Galih padaku. "Ambil aja sendiri Mas! Capek aku kerja seharian." Mas Galih tidak banyak protes.
Mengurus seorang bayi, dan mengerjakan pekerjaan rumah sendirian tidaklah gampang. Setelah memakai pakaian, Mas Galih kembali mendekatiku dan Abi! "Sudah boleh pegang Kan, sudah boleh gendong kan, ayah sudah bersih ini."
Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap! kulihat Mas Galih menatapku dengan tajam! "Ada apa mas? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kenapa di pipi Abi ada lukanya, seharian kamu ngapain saja sampai membiarkan pipi anak mu sendiri terluka!" Apa, apa dia bilang? ngajak ribut ya orang ini!, "Bilang sekali lagi Mas! aku tidak mendengar kata-katamu yang terakhir."
"Seharian ini kamu ngapain aja! lihat ini kenapa sampai terluka begini." Tunjuk Mas Galih di pipi Abi.
"Sebelum bicara pikir dulu pake otak Mas, jangan Tengkuk saja kau andelin! berapa pembantu yang kau sewa di rumah ini untuk membantuku mengerjakan pekerjaan rumah? Kau pikir menjaga seorang bayi dan melakukan pekerjaan rumah seorang diri itu gampang? kalau soal pipi Abi yang terluka, Mas tanyakan saja pada ibu! apa yang sudah ibu lakukan sehingga menyebabkan luka di pipi anak kamu!" ucapku berapi-api.
Mas Galih yang hendak berkata lagi terjeda dengan teriakan Ibu dari luar. sontak kami berdua sama-sama keluar dengan Abi yang masih ada dalam gendongan Mas Galih!
__ADS_1
"Ada apa Bu? kenapa teriak-teriak!."
"Ada apa, Ada apa, heh Runi Kenapa kamar Ibu masih berantakan, dan ini! Kenapa pakaian ibu belum kamu cuci?" ibu mertua menunjukkan se'ember kecil penuh Pakaian kotor terletak di lantai.
Beberapa saat kemudian Rena pun muncul. Mungkin dia baru bangun tidur kaget juga mendengar teriakan ibunya. Terlihat dari matanya yang memerah dan sedikit membengkak. "Kamar aku juga Bu, mbak Runi tidak membereskannya."
Kulihat mata tua itu melototiku "Sudah selesai bicaranya? kalau sudah aku mau kembali ke kamar." Malas sekali aku mendengar ocehannya yang tidak berfaedah itu.untung tidak, rugi malah!Aku menengadahkan tangan pada masa Galih! "Sini Mas! Abinya aku bawa masuk ke kamar ya, kasihan anakku masih kecil tapi harus mendengar teriakan dari neneknya."
Mas Galih yang pada dasarnya takut sama ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Aku pun tidak berharap banyak untuk dia membela ku.
"Lihatlah Galih kelakuan istrimu, dia sama sekali tidak menghormati ibu." ucap Ibu Mertua bermaksud melaporkanku kepada anaknya. "Sudahlah bu! Lagian Kenapa Ibu dan Rena tidak membereskan kamar dan mencuci pakaian sendiri sih,"
"Enak aja kau menyuruh ibu mencuci sendiri. Apa gunanya punya menantu! jika hanya mencuci pakaian mertuanya pun tidak bisa?"
"Betul itu mas! Seharusnya mas Galih lebih tegas lagi sama Mbak Runi."
Aku yang belum sempat mengambil Abi dari gedongan Mas Galih, sangat marah mendengar penuturan Rena! Aku memandang Rena tajam!
"Tegas katamu?tegas dengan memperlakukan aku seperti babu di rumahku sendiri dan memberiku upah sebanyak Rp25.000! Aku sudah berbaik hati ya, membiarkan gaji mas Galih dikelola sama ibu! Aku mencoba bersabar menghadapi kelakuan ibu dan kamu Rena." Tunjukku kepada ibu Mertua dan Rena.
Ibu dan Rena tak bergeming di tempat.Mereka berdua tidak percaya bahwa yang berdiri di hadapan mereka adalah aku! Aku yang diperbudak oleh ibu dan Rena tanpa sepengetahuan Mas Galih, tiba-tiba berani dan bicara lantang di hadapan mereka! Kurasa mereka berdua sangat syok sehingga untuk mengeluarkan sepatah kata pun sulit.
Berbeda dengan mas Galih! Dia memandangku dengan wajah bingung!, "Jelaskan padaku Runi Apa maksudmu di'upah dengan harga Rp25.000?"
"Kenapa aku harus menjelaskan lagi padamu mas! Bukannya kamu sendiri ya, yang nyuruh Ibu memberiku nafkah sebesar 25 ribu per hari?" Dalam hatiku tertawa terbahak-bahak. Aku tahu Mas Galih tidak mungkin melakukan itu! menyuruh ibunya memberiku uang hanya 25 ribu saja.Dan akupun tahu ini semua adalah permainan ibu mertua.
__ADS_1
Jangan lupakan like dan komennya ya Kak! Biar Authornya semangat update setiap hari. Terima kasih🙏🙏